MENGALAP SURGA DEVISA PARIWISATA

WISATA DI KOTA BESAR

Modernisasi infrastruktur serta pembangunan sarana hiburan yang biasanya disediakan oleh sektor privat, dapat menarik wisatawan, khususnya wisatawan domestik, selain kawasan bersejarah serta budaya di kota-kota besar sebuah negara.

  • Suasana kota Jakarta di malam hari. Validnews/Don Peter
    Suasana kota Jakarta di malam hari. Validnews/Don Peter

    Oleh: *Sita Wardhani S, SE, MSc

    Saat ini, sebagian besar penduduk di dunia tinggal di daerah perkotaan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh United Nation (UN), di tahun 2016, sebanyak 54.5% penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan (urban), dan angka ini terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2050, 60% penduduk dunia tinggal di daerah urban.

    Pertumbuhan daerah urban dan pertumbuhan populasi urban ini turut mendorong peningkatan infrastruktur serta sarana hiburan. Modernisasi infrastruktur serta pembangunan sarana hiburan yang biasanya disediakan oleh sektor privat inilah yang dapat menarik wisatawan, khususnya wisatawan domestik, selain kawasan bersejarah dan budaya di kota-kota besar sebuah negara.

    Infrastruktur yang modern pulalah yang menjadi alasan berbagai pertunjukan hiburan, seperti konser musik atau pertandingan-pertandingan olahraga besar terselenggara di sebuah kota. Salah satu pertandingan olahraga yang cukup menarik perhatian wisatawan, dan diselenggarakan di berbagai kota di dunia adalah pertandingan balap mobil formula 1 (F1). Singapura merupakan salah satu kota penyelenggara balap F1 di dunia.

    Pada tahun 2008, F1 menyelenggarakan balapan yang dilaksanakan malam hari untuk pertama kali, dan penyelenggaranya adalah Singapura. Acara tersebut menarik sebanyak 100 ribu penunjung, dimana 40%-nya adalah wisatawan asing (Singapore Tourism Board Annual Report, 2009). Bahkan sepanjang 2008 hingga 2015, acara ini telah menarik wisatawan asing total sebanyak 350 ribu. Acara ini juga telah menghasilkan pendapatan tambahan bagi sektor pariwisata hingga SG$150 juta, pertahunnya (Meng, 2017). Wisatawan yang datang untuk acara ini secara rata-rata tinggal selama 3.96 hari.

    Pertumbuhan Pendapatan Mendorong Pariwisata
    Kawasan Asia Pasifik merupakan salah satu kawasan yang mengalami pertumbuhan yang tinggi dari sektor pariwisata. World Travel and Tourism Council (WTTC) mencatat bahwa kontribusi ekonomi kawasan Asia Pasifik dari sektor pariwisata mencapai US$174 miliar, atau sebesar 2.8% dari PDB kawasan ini. WTTC  pada tahun 2017 mengeluarkan laporan studi pariwisata yang dilakukan di 65 kota besar dunia, 21 diantaranya dilakukan di kota besar- kota besar di kawasan Asia Pasifik.

    Pertumbuhan ekonomi serta pendapatan masyarakat di kawasan Asia Pasifik, terutama China, telah mendorong pertumbuhan wisatawan dari kawasan ini. Bahkan terdapat beberapa kota yang memiliki kontribusi lebih dari 25% terhadap sektor pariwisata di negaranya. Kota-kota tersebut adalah Bangkok, Kuala Lumpur, Jakarta, Auckland, Ho Chi Minh City, Manila, Seoul dan Sydney. Selain itu, kota yang memiliki kontribusi tinggi juga adalah Singapura, Macau dan Hongkong.

    China merupakan negara dengan kota yang mengalami pertumbuhan di bidang pariwisata secara pesat. Dari 10 kota yang memiliki kontribusi terhadap PDB daerah terbesar, empat diantaranya adalah kota-kota di Cina. Hal ini dapat dilihat pada gambar pertama. Pertumbuhan wisata di China, terutama wisata di kota-kota besarnya didorong oleh wisatawan domestik. Contohnya Chongqing dan Guangzhou. Kontribusi sektor pariwisata kedua kota ini, secara berturut-turut, 94.5% dan 89.1% pendapatan sector pariwisatanya berasal dari pengeluaran wisatawan domestic. Hal ini disebabkan oleh kenaikan pendapatan perekonomian China, serta pertumbuhan investasi infrastruktur. Selain itu, penyelenggaraan Shanghai World Expo di tahun 2010 juga menjadi faktor pendorong kenaikan pariwisata di China.

    Penyelenggaraan kegiatan komersil atau kegiatan besar seperti Shanghai World Expo di tahun 2010 serta Olimpiade di Beijing pada tahun 2008 telah berkontribusi dalam mendorong pariwisata di kota tersebut. Meskipun jumlah wisatawan tidak sebesar pada saat penyelenggaraan acara, namun pembangunan infrastruktur yang semula bertujuan untuk penyelenggaraan acara kemudian mendorong kenaikan wisatawan di kota tersebut pada tahun-tahun berikutnya. Sebagai contoh sepuluh tahun yang lalu, Shanghai menduduki peringkat ke -6, sebagai kota dimana wisatawan melakukan pengeluaran terbesar. Namun saat ini, shanghai menduduki peringkat pertama.

    Pariwisata di kota besar biasanya tidak hanya didorong oleh kegiatan liburan murni semata, namun juga didorong oleh aktivitas bisnis. Kegiatan seminar atau pameran yang bertujuan untuk bisnis mendorong pembangunan fasilitas MICE, atau meeting, incentives, conventions and events. MICE dapat dikatakan sebuah aktivitas pariwisata untuk kelompok besar, untuk kegiatan bisnis yang kemudian dapat dipadukan dengan kegiatan pariwisata, sambil mengenalkan potensi wisata lokasi penyelenggaraan kegiatan. Kota-kota besar biasanya memiliki keuntungan dari segi infrastruktur, dan jika kemudian kota tersebut memiliki potensi pariwisata, maka kota tersebut dapat dikembangkan sebagai lokasi MICE ini.

    Infrastruktur sebagai pembuka potensi pariwisata juga terjadi di Hongkong dan Bangkok. Hongkong merupakan destinasi wisata sebab menjadi gerbang untuk masuk ke daratan utama Cina. Seiring dengan terbukanya Cina dan daerah-daerah di daratan utama Cina, maka kedatangan turis ke Hongkong pun turun (World Travel and Tourism Council, 2017). Demikian juga Bangkok. Sejak lama, Bangkok merupakan gerbang utama bagi wisatawan yang hendak mengunjungi Thailand, sebab bandara internasional hanya ada di Bangkok. Namun kemudian seiring dengan peningkatan konektivitas di berbagai daerah lain di Thailand, maka terjadi penurunan jumlah wisatawan ke Bangkok. Kontribusi pariwisata Bangkok turun dari 60% di tahun 2006 menjadi 50% di tahun 2016.

    Ketersediaan Data dan Potensi Wisata
    Beberapa kota di Indonesia memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan, terutama wisatawan domestic. Bagi orang-orang dari daerah rural, berwisata ke kota merupakan sebuah daya tarik. Jika tujuan wisata di daerah lebih ke alam, maka tujuan wisata ke perkotaan adalah seperti pusat perbelanjaan, wisata kuliner, serta wahana wisata.

    Sebagai contoh, Jakarta memiliki Taman Mini Indonesia Indah, Dunia Fantasi, berbagai museum, waterpark dan pusat perbelanjaan. Pemerintah Jakarta memiliki rencana untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat destinasi belanja. Hal tersebut dilakukan diantaranya dengan membuat acara diskon tahunan, Jakarta Great Sale (JGS), yang melibatkan berbagai pengusaha retail dan pusat perbelanjaan yang biasanya juga diselenggarakan bersamaan dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Program ini mengikuti program diskon tahunan yang diselenggarakan negara tetangga, Great Singapore Sale(GSS).

    JGS diselenggarakan salah satunya adalah untuk mengundang orang Indonesia yang suka berbelanja di negara tetangga untuk berbelanja di dalam negeri saja. Hal ini dapat dilihat dari penerimaan sektor pariwisata Singapura di tahun 2016 yang mencapai SG$20,243 miliar (STB, 2016).  Dari jumlah ini, Indonesia merupakan penyumbang penerimaan sektor wisata kedua terbesar bagi Singapura setelah China. Hal ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

    Selain program JGS, sektor privat pun memiliki rencana untuk menjadikan Jalan Casablanca – Jalan Dr. Satrio di daerah Jakarta Selatan sebagai Orchard Road-nya Jakarta. Hal ini sudah terlihat dari banyaknya mall yang berdiri sepanjang jalan tersebut. Namun sayangnya tidak ada data yang menyatakan seberapa besar acara tersebut dapat menarik wisatawan domestik untuk datang dan berbelanja di Jakarta. Singapura sendiri dalam website resminya Singaporean Tourism Board, tercatat bahwa GSS pertama kali diselenggarakan pada tahun 1994, dan berhasil menarik pendatang sebanyak 664 ribu pengunjung selama satu bulan. Berdasarkan data inilah, kemudian GSS diputuskan untuk diadakan secara tahunan, bahkan saat ini berlangsung selama 3 bulan, Juni hingga Agustus.

    Indonesia memiliki potensi wisata, tidak hanya wisata alam serta budaya, tetapi juga di perkotaan. Sektor pariwisata dapat dijadikan sumber investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah, namun jika pengelolaan data belum memadai, maka hal tersebut dapat menghambat pemerintah daerah untuk menjual potensi daerahnya. Untuk itu, pemerintah harus dapat mulai serius dalam mengumpulkan data terkait potensi pariwisata daerahnya, untuk membuktikan kepada investor mengenai potensi yang dimiliki oleh daerahnya.

    *Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Pengajar FEB UI