Van der Tuuk Penerjemah Alkitab Bagi Bangsa Batak

Karena kecerdasannya Van der Took mampu menguasai berbagai bahasa daerah di Indonesia

  • Van Der Tuuk. Ist
    Van Der Tuuk. Ist

    JAKARTA – Bagi Bangsa Batak, namanya tidak lebih tenar dari Ingwer Ludwig Nommensen atau Nommensen. Peranannya bagi perkembangan penyebaran ajaran Kristen di tanah Batak pun mungkin tidak banyak diketahui oleh orang-orang Batak saat ini. Padahal pria bernama lengkap Herman Neubronner Van Der Tuuk ini lebih dulu menginjakkan kaki di tanah Batak, bahkan sejumlah literasi menyebut bahwa dia adalah orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Danau Toba, bahkan bertemu dengan Si Singamangaraja.

    Keberadaan Van der Tuuk di tanah Batak memang bukan secara khusus menjalankan misi penginjilan atau misionari seperti misi yang dibawa oleh Nommensen atau Samuel Munson dan Henry Lyman atau sejumlah misionaris lain yang pernah datang ke tanah Batak. Namun kedatangan Van der Tuuk di tanah Batak memiliki peranan penting bagi pekerjaan misi di wilayah yang dulunya disebut sebagai wilayah barbar tersebut. Dialah orang yang menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak yang kini dikenal orang Batak dengan sebutan Bibel. Dia juga orang yang mengajarkan Bahasa Batak kepada para misionaris yang ingin menginjili tanah Batak.

    Van der Tuuk lahir di Malaka, 23 Februari 1824 di Malaka. Ia merupakan anak sulung dari Sefridus Van der Tuuk (1776-1853) yang berasal dari Friesland di Belanda Utara dan Louise Neubronner (1795-1845). Perjuangan Van der Tuuk di tanah Batak bukanlah perkara mudah. Dia seorang diri berada di tanah Batak, di tengah-tengah stigma masyarakat yang menganggapnya bagian dari kompeni.

    Dalam surat-suratnya yang menceritakan perjalanannya di tanah Batak, Van der Tuuk mengungkapkan banyak keluhannya. Dia bercerita betapa dia tidak nyaman dengan segala situasi di wilayah tersebut, meski pada akhirnya dia berhasil mempelajari Bahasa Batak yang kini dampaknya dirasakan oleh orang Batak sendiri.

    Kemampuan Van der Tuuk menguasai bahasa daerah di Indonesia ini bukan tanpa alasan. Saat berusia 16 tahun, Van der Tuuk mengikuti ujian seleksi untuk Universitas Groningen, Belanda pada 6 Juli 1840. Di universitas ini, ia terdaftar sebagai mahasiswa fakultas sastra dan hukum. Tiga tahun belajar, akhirnya Van der Tuuk mengikuti ujian untuk menjadi sarjana muda untuk fakultas sastra. 

    Sejak awal mengemban ilmu di Universitas Groningen, ia membangun hubungan persahabatan dengan mahasiswa Teknologi dan bahasa-bahasa klasik, Jacob Roos dengan Willem Doorenbos mahasiwa Teknologi dan Sastra Semit. Pada tahun 1894 Doorenbos pernah mengungkapkan, setelah tahun 1843 Van Der Tuuk hampir tak mengikuti kuliah hukumnya lagi, melainkan menyibukkan diri dengan studi ilmu bahasa, Bahasa Arab, Persia, Portugis, dan Inggris. Dari Doorenbos sendiri, Van Der Tuuk mempelajari bahasa Arab. Ia juga mengikuti kuliah bahasa Arab di Persia dari guru besar bahasa Semit, Th.W.J Juynboll.

    Lambat laun, Van Der Tuuk mulai terinspirasi dengan Juynboll. Itu sebabnya, pada 1845 saat Juynboll diangkat menjadi guru besar di Leiden, ia pun ikut menetap di sana. Di Leidenlah, ia fokus mempelajari bahasa Arab dan Persia dari Juynboll. Di tempat itu pula, ia mempelajari bahasa Sansekerta dari guru besar bahasa Ibrani A. Rutgers.

    Setahun kemudian, pada 1846 Van Der Tuuk mulai mengalakukan studi yang mendalam mengenai bahasa Melayu. Kecerdasannya membuat dia dapat mempublikasikan suatu telaah mengenai naskah Melayu yang ditulis oleh J.J de Hollander, dosen bahasa Melayu di Breda. Publikasi ini memperlihatkan dirinya mengetahui seluruh terbitan berbahasa melayu.

    Sejak tahun 1814 Persekutuan Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootshap/ NBG) telah melakukan penyebaran Alkitab di seluruh koloni Belanda. Untuk Hindia-Belanda (Indonesia), Persekutuan Alkitab telah menghasilkan terjemahan bahasa Melayu. Lalu pada tahun 1845 mereka memutuskan untuk membuat terjemahan Alkitab dalam bahasa Dayak, Makasar, Bugis, dan Bahasa Batak. Kemudian pada tahun 1848 NBG mengirim B.F Matthes ke Makassar, diikuti Van Der Tuuk ke darah Batak.

    Tak lama usai pengangkatannya ini, Van der Tuuk mulai meneliti seluruh bahan mengenai daerah Batak dan menyusun daftar kosakata bahasa Batak dengan mempelajari dua naskah tulisan tangan berbahasa Batak yang ada di Belanda. Di tahun itu pula, Van der Tuuk merencanakan untuk berangkat menuju Batavia (Jakarta). Namun, ia sendiri menunda keberangkatanya itu lantaran ingin menyalin beberapa naskah Batak di London. Akhirnya, awal bulan Juni 1849 ia berangkat dengan kapal Prinses Shophia dari pulau Texel.

    Perjalanan yang panjang selama tiga bulan akhirnya berakhir. Pada 2 September 1949 ia tiba di Batavia. Setibanya di Batavia, Van der Tuuk langsung mengujungi perpustakaan Bataviaasch Genootschap Van Kusten en Wetenschappen. Ia terkejut dengan buku yang dimiliki perpustakaan ini. Di perpustakaan ini, banyak buku serta naskah yang hilang.

    Tak lama sampai di Batavia, ia pergi menyambangi keluarganya di kota Surabaya. Ayah Van der Tuuk menyarankannya untuk tak menetap di Tapanuli dan menyarankannya untuk ke Panyabungan atau Kota Nopan, pusat pemerintahan Mandailing dan Angkola. Akhirnya, tahun 1849 ia kembali ke Batavia dan tinggal di rumah adiknya. Menunggu keberangkatannya, Van der Tuuk sempat menulis ‘sentralisasi Melayu’ yaitu bahasa Melayu yang banyak digunakan orang Melayu terpelajar di sekitar Selat Malaka. Ia berpendapat seharusnya Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa tersebut.  

    Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1851, Van der Tuuk berangkat menggunkan kapal ke Padang, Sumatera Barat (Sumbar) untuk meneruskan perjalannya ke Tapanuli. Akhirnya, ia menetap di Sibolga di Keresidenan Tapanuli. Sebenarnya, Van der Tuuk menilai, tempat tersebut tak cocok untuk studi yang dilakukannya.

    Atas dasar itu, ia membangun rumah kecil di Barus yang terletak sekitar 50 kilometer di sebelah utara Sibolga. Di Sibolga dan Baruslah ia kemudian mendalami bahasa Batak guna menyelesaikan tugas utamanya.

    Secara perlahan, Van der Tuuk mulai melaksanakan tugas utamanya. Sebelum menerjemahkan Alkitab ke bahasa Batak, Van der Tuuk menyusun daftar kata bahasa Batak dengan benar guna mencari terjemahan yang baik. Caranya, ia berkomunikasi langsung dengan masyarakat sekitar. Kelak, komunikasi yang dilakukannya menjadi dasar untuk menerjemahkan injil. 

    Selama berada di tanah Batak, Van der Tuuk telah menerjemahkan sebagian dari Alkitab ke dalam bahasa Toba, menyusun kamus bahasa Batak Maindailing, Toba dan Pakpak. Penyusunan tata bahasa Toba ini dikenal dengan bahasa ilmiah pertama di Hidia Belanda. Karena kehebatannya dapat menggunakan bahasa Batak dengan fasih, warga setempat memberikan julukan kepada Van der Tuuk.  Mereka menjuluki Van der Tuuk dijuluki Si Pan Dor Toek (Pandortuk), Si Radja Toek atau Si Balga Igung (Si hidung besar).

    Rumah Bambu Van der Tuuk di Singaradja. File Leiden

    Kanibal
    Meski begitu pekerjaan Van der Tuuk di tanah Batak bukanlah hal mudah. Ada banyak situasi yang dihadapi dia yang membuatnya mengeluh kepada NBG. Dalam sebuah jurnal berjudul “Dari Radja Toek Sampai Goesti Dertik” yang ditulis oleh Dr.Kees Groeneboer dan diterbitkan dalam Jurnal Humaniora Universitas Gajah Mada, terdapat sejumlah kutipan dari surat yang ditulis kepada NBG. Surat-surat tersebut sedikit mengungkapkan keluhan Van der Tuuk terkait pekerjaannya di tanah Batak.

    Dalam korespondensinya kepada NBG dia menceritakan bagaimana perjalanannya menuju pedalaman tanah Batak hampir membawanya pada petaka. Van der Tuuk bercerita bahwa dirinya hampir dimakan orang Batak. Pengalaman mengerikan itu membuat dia trauma dan membuat dia tidak berani kembali menginjakkan kakinya di wilayah pedalaman.

    “Orang belum dapat memikirkan untuk tinggal di daerah Batak yang belum dikuasai oleh Pemerintah Hindia-Belanda: di mana  pun saya mengajukannya, selalu ditolak karena orang Batak di sana melihat saya  tidak  lain  sebagai seekor serigala berbulu domba, yang bersama dengan kawan-kawan saya (Kompeni) akan menghabisi mereka,” kata Van der Tuuk dalam suratnya kepda NBG.

    Van der Tuuk selama hidupnya dikenal berjasa dalam mempelajari dan menerjemahkan banyak bahasa pribumi di wilayah Hindia-Belanda pada saat itu. Dia tercatat mampu mendalami Bahasa Bali, Lampung, Sunda, dan sejumlah Bahasa lainnya. Namun kepada NBG dia mengakui kesulitannya menerjemahkan Bahasa Batak, terlebih jika harus menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak.

    “Apabila orang menemui banyak  kesulitan dalam menerjemahkan Alkitab ke  dalam bahasa Melayu, kesulitan menerjemahkan ke  dalam bahasa Batak  lebih  besar  lagi karena tidak ada kata yang dapat ditemukan  dalam bahasa ini,  misalnya, untuk menjelaskan kata  yang  menggambarkan surga, neraka, dan keabadian. Saya merasa bahwa suatu  terjemahan Alkitab baru membuahkan hasil setelah ada pengaruh dari para zendeling (misionaris),” jelas Van der Tuuk dalam suratnya.

    Selain itu dia menyebutkan bahwa meminta saran pada orang Batak dalam menerjemahkan tidaklah memberi manfaat apa pun. Bahkan dalam suratnya dia menyebutkan bahwa begitu sulitnya menerjemahkan Alkitab dikarenakan berkonsultasi dengan orang Batak pada saat itu seperti bertanya kepada kucing atau anjing. Menurut dia, mempelajari naskah-naskah Batak jauh lebih bermanfaat ketimbang berdiskusi dengan orang Batak itu sendiri.

    Dia pun melaporkan kesulitannya untuk mengambil uang di daerah terpencil seperti Barus, sementara biaya hidup di Sumatera jauh lebih mahal ketimbang biaya hidup di Jawa. Kemudian kurangnya penulis yang andal di tanah Batak, dan kurangnya pembantu yang baik sehingga dia tidak diurus dengan benar dan rumahnya selalu saja menjadi kendang binatang.

    Van der Tuuk juga mengeluhkan cuaca yang tak bersahabat dan serangga yang sangat menggangu sehingga dia harus mengulang menyalin naskah. Dia juga mengeluhkan kurangnya percakapan intelektual, dan perasaan kesepiannya. Dia juga merasa terganggu dengan apa yang disebutnya dengan kemalasan, kejorokan, dan keserakahan orang Batak.

    Namun segala keluhan dan situasi yang dialami Van der Tuuk tidak membuat dia meninggalkan tanah Batak. Dia justru bergaul karib dengan orang Batak hingga akhirnya dia mendapat kepercayaan orang Batak. Dari kepercayaan itu dia mendapat cerita dari rakyat Batak bagaimana mereka mengalami pemerasan dan penindasan pemerintah pada saat itu. Van der Tuuk pun berulang kali membela kepentingan orang Batak. Komunikasi dan kepercayaan yang dia dapat dari orang Batak membuat dia mendapat banyak pemahaman tentang Bahasa Batak yang nantinya dia pakai untuk menerjemahkan Alkitab dan membagikannya kepada sejumlah misionaris.

    Menolak Kerohanian
    Meski misi utamanya adalah menerjemahkan Alkitab, namun Van der Tuuk bisa dikatakan bukan orang yang mau digolongkan sebagai bagian dari para misionaris. Dia bahkan sebenarnya sempat menolak tugas menerjemahkan Alkitab yang diembankan kepadanya. Sebelum akhirnya dia tetap berangkan ke tanah Batak, kepada NBG dia menyampaikan bahwa dirinya tidak cocok untuk menerjemahkan Alkitab dan meminta agar NBG memecat dia dari jabatannya.

    “Pecatlah saya demi kepentingan anda. Berikan saya pekerjaan yang memberikan saya kekuatan kepada saya untuk hidup di tengah-tengah rakyat. Jadi jangan berikan saya tugas kerohanian, seperti menerjemahkan Alkitab ke dalamBahasa Batak. Berikan saya pekerjaan yang bersifat duniawi. Apakah saya mulai berdusta ketika saya mulai bekerja untuk anda, meskipun saya bukan telog, dan tidak akan pernah menjadi teolog,” ucap dia dalam surat kepada NBG.

    Namun permintaan Van der Tuuk tidak dikabulkan oleh NBG. Dia tetap diberangkatkan menuju tanah Batak hingga akhirnya dia berhasil mempelajari Bahasa Batak dengan segala situasi sulit yang dihadapinya. Dia tetap berangkat dan melakukan tugasnya, meski dalam surat-suratnya dia dengan tegas memosisikan dirinya bukanlah bagian dari pekerjaan misi.

    Setelah bekal di tanah Batak cukup, Van der Tuuk kembali ke Eropa. Pada tahun 1857 Van der Tuuk tiba di Belanda, dan menetap di Amsterdam. Di tempat ini pula, ia mengolah bahan yang telah berhasil di kumpulkannya selama enam tahun di daerah Batak, dan mempublikasikan karyanya tentang bahasa Batak.

    Di Amstedam, Van der Tuuk berjuang untuk menyelesaikan tugasnya. Pada tahun 1859, terjemahan Injil Yohanes, Kitab Kejadian dan Keluaran, dan Injil Lukas diterbitkan. Pada Agustus 1959 sebagian dari kamus bahasa Bataknya dicetak. Tahun 1861, Van der TUuk memberikan pelajaran bahasa Batak di Amsterdam kepada Zendeling dari Rheinische Missionsgesellchaft L.I. Nomensen yang tahun 1862 berangkat ke daerah Batak. Pada tahun 1865 ia memberikan pelajaran bahasa Batak kepada zendeling, A.W. Schreiber. Tahun 1866 Schreiber mempublikasikan sebuah tata bahasa Batak ringkas dalam bahasa Jerman berdasarkan diktat yang diberikan Van der Tuuk kepadanya.

    Atas jasanya di bidang bahasa dan sastra HIndia-Belanda pada 17 Juni 1861 Van der Tuuk yang saat itu berusia 37 tahun menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Utrecht. Van der Tuuk tutup di usianya pada 17 Agustus 1894, dalam usia 70 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Militer di Surabaya. Ia dimakamkan di pemakaman Belanda, Peneleh, Surabaya. Hingga akhir hayatnya Van der Tuuk tidak menikah.

    Dari kisah Van der Tuuk dapat dilihat bahwa penyebaran injil bisa terjadi dengan berbagai macam cara. Bahkan mereka yang tidak menyukai pekerjaan misi bisa dipakai Tuhan sebagai alat yang memiliki peran penting dalam penyebaran injil. (James Manullang)