MENGULIK POLEMIK PLASTIK

Trik Eks Buruh Migran Kelola Sampah Plastik

Di Indonesia, plastik banyak digunakan untuk kemasan (40%) dan produk rumah tangga (20%)

  • Ilustrasi bank sampah. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah.
    Ilustrasi bank sampah. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah.

    JAKARTA – Di hari itu Sarno (42) tampak antusias menggenggam sampah di hadapan sejumlah ibu-ibu. Sarno sadar, ketertarikan mereka untuk melihat proses pengolahan sampah dari dekat harus dimanfaatkan maksimal. Momen itu merupakan kesempatan terbaik buat menyosialisasikan bahwa sampah sebenarnya tetap dapat dimanfaatkan.

    Sarno merupakan salah satu petugas di Masaro (Manajemen Sampah Zero) PT Polytama. Bukan tanpa sebab Sarno turut aktif di program ini. Dirinya sangat ingin melihat budaya bersih terbangun di masyarakat sehingga ruas-ruas jalan di tempat tinggalnya, Desa Tinumpuk, Indramayu, Jawa Barat bersih dari sampah.  

    Memang, jika tak diperlakukan dengan tepat, sampah dapat menjadi bumerang dalam kehidupan dan lingkungan masyarakat itu sendiri, termasuk sampah plastik. Untuk mengatasi hal inilah Desa Tinumpuk dijadikan wilayah penerapan program Masaro.

    Masaro sendiri adalah konsep pengelolaan dan pengolahan sampah yang dianggap paling solutif oleh para ahli dalam menanggulangi sampah di Indonesia. Dalam konsep ini, baik sampah yang bisa membusuk maupun tidak, bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi baik. Hingga saat ini, Masaro sudah dicoba di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Indramayu, Majalengka, Cirebon, Karawang, Solo, Anambas, Pekanbaru.

     

    Inovasi penanganan sampah plastik di Indonesia memang diperlukan. Seperti diketahui di Indonesia, plastik paling banyak kegunaannya, sekitar 40% digunakan untuk kemasan dan produk rumah tangga (20%). Dari keseluruhan barang plastik yang diproduksi setiap tahunnya, yang kemudian menjadi sampah komposisinya adalah sebesar 46,8%. Namun dari jumlah tersebut hanya sebesar 17,4% didaur ulang kembali, sedangkan sebanyak 29,4% (atau sebesar 1,692 juta ton persegi) berakhir menjadi sampah.

    Hingga saat ini, tingkat kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah memang masih sangat minim. Stigma negatif bahwa sampah tidak memiliki nilai ekonomis membuat mayoritas warga memperlakukan sampah tidak dengan semestinya. Akhirnya yang terjadi lingkungan sekitar menjadi terganggu akibat yang dari tumpukan dan bau yang ditimbulkan dari sampah.

    Kondisi inilah yang awalnya juga terjadi di Desa Tinumpuk Indramayu, Jawa Barat. Manajemen sampah yang tercampur dan hanya memindahkan sampah dari rumah ke tempat pembuangan sampah (TPS) lalu ke dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA, akhirnya telah berdampak buruk pada citra plastik sebagai bahan yang tidak ramah lingkungan.

    Misalnya, banyak orang kemudian percaya bahwa styrofoam (kemasan makanan berbahan polistirena) menjadi penyebab polusi di daratan maupun lautan. Sebab, polistirena membutuhkan waktu yang lama untuk terurai alami.

    Padahal, kenyataannya kebiasaan manusia dan manajemen sampah yang buruklah yang menyebabkannya. Sebab dengan penanganan yang tepat polistirena sebetulnya bisa didaur ulang.

    Hal-hal inilah kemudian mempengaruhi kesadaran para mantan buruh migran dan keluarga yang tergabung dalam Community Based Organization (CBO) Ikatan Buruh Migran Tinumpuk (Ibu Tin) Bersih, Sehat, Rapi, Indah (Berseri), Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.

    Di mulai dari lingkungan sendiri, mereka mulai peduli pada masalah sampah dengan mendirikan bank sampah pada akhir 2013 lalu.

    Sebagaimana pantauan langsung tim Validnews, Selasa (10/4), bank sampah itu juga dijadikan sebagai salah satu wadah untuk pemberdayaan para mantan buruh migran dan keluarga buruh migran yang menjadi anggota CBO Ibu Tin Berseri. Tujuannya, agar para mantan buruh migran itu bisa memiliki usaha sendiri sehingga tak perlu berangkat lagi ke luar negeri.

    Lewat bank sampah itu, para anggota akhirnya mau memilah sampah yang bernilai ekonomis seperti sampah plastik ataupun botol.

    Ada yang menarik dari proses mengumpulkan dan menabung sampah di CBO Ibu Tin Berseri. Para anggota dilarang untuk mengambil hasil tabungan selama satu tahun dan baru boleh diambil pada saat hari raya Lebaran. Meskipun demikian aturan menjadi lebih cair apabila ada anggota yang membutuhkan uang mendesak.

     

    Tak membutuhkan waktu yang lama, program penanggulangan sampah yang dibuat oleh komunitas CBO dilirik oleh perusahaan Polytama Propindo, yang merupakan produsen terbesar di Indonesia yang memproduksi resin polipropilena. Kebetulan perusahaan itu juga memiliki program CSR yang diberi nama Masaro.

    Dengan menggandeng pihak Laboratorium Teknologi Polimer Membran ITB dan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, program itu dirancang untuk mengatasi masalah sampah. Pada akhirnya program tersebut difokuskan di Desa Tinumpuk melalui komunitas CBO Ibu Tin Berseri.

    Program Masaro ini dimulai dengan memberikan bimbingan, edukasi dan sosialisasi secara intensif kepada warga desa, sekolah dan madrasah di desa tersebut. Dalam sosialisasi itu, warga dan anak-anak diajarkan untuk memanajemen dan mengelola sampah sehingga tercapai zero sampah.

    Dalam program tersebut warga diajarkan untuk memilah sampah antara sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, sampah membusuk/organik dan sampah B3. Untuk sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, akan masuk dalam bank sampah. Semua penghasilan dari sampah yang disetorkan warga akan dicatat dalam buku tabungan.

    Berdasarkan pengakuan Kepala Laboratorium Polimer dan Membran ITB Akhmad Zainal Abidin, pemilahan sudah dilakukan di tingkat rumah tangga sesuai golongan sampah. Setelah dipilah, sampah diambil setiap hari Senin dan Kamis untuk dibawa oleh para pengepul ke lokasi Industri Pengolahan Sampah (IPS).

    Di lokasi pengolahan, selanjutnya Zainal menerangkan, bahwa sampah membusuk dan plastik dapat didaur ulang menggunakan alat pengolahan yang tersedia. Sampah lainnya terdiri dari kertas, logam, dan kaca.

    Sampah kertas yang masih bersih, logam, dan kaca dikatakannya juga dapat dijual kembali. Sementara sampah kertas yang telah kotor (seperti kertas/tisu kotor dan popok/pembalut bekas) dapat dikategorikan menjadi sampah bakar, sedangkan yang dalam kondisi baik dapat dijual.

    “Bersama sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan (sampah bakar) lainnya, sampah jenis ini dibakar menggunakan insenerator,” katanya.

    Untuk membakar itu, diakuinya ada alat berupa insenerator sederhana yang digunakan untuk membakar residu sampah yang sudah dipilah sebelumnya dari sampah-sampah lain yang masih dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.

    Selain itu, ada juga yang dapat digunakan untuk membakar berbagai macam sampah tanpa perlu dipilah sebelumnya, yang mana membutuhkan pembiayaan yang lebih tinggi

    Mengatasi Kendala
    Sama seperti proses pembatasan sampah, karena terjadi di tingkat sumber sampah, seperti rumah tangga, industri, ataupun pertokoan, proses pemilahan sampah memiliki kendala terkait manajemen pemilahan sampah. Langkah utama untuk mengatasi kendala ini adalah melalui sosialisasi dan edukasi, baik terkait pengelolaan sampah secara umum hingga khusus pada proses pemilahan.

    Sedangkan, sampah membusuk di lingkungan warga, seperti sisa makanan maupun dedaunan, akan dikumpulkan dalam wadah drum dan digiling serta difermentasi. Hasilnya, akan tercipta pupuk cair dan bahan bakar pengganti minyak tanah.

    Sementara sampah khusus kemasan makanan berbahan polistirena memiliki nilai yang tinggi karena kemampuannya didaur-ulang secara maksimal. Kemasan ini dapat dipecah dan diubah menjadi produk baru yang dapat berguna untuk kemasan elektronik.

    Selain itu, di Indonesia, sudah ada yang memanfaatkan sampah kemasan makanan polistirena menjadi beton ringan dan absorber atau pembersih senyawa sulfur. Absorber sulfur sangat berguna untuk meningkatkan kualitas bahan bakar Pertamina sehingga kandungan sulfur bahan bakar tersebut semakin kecil.

    Sebagai contoh yang diterapkan oleh Masaro. Dalam program tersebut, sampah kemasan makanan polistirena dapat juga diubah menjadi BBM.

    Masaro melibatkan perangkat yang sudah ada seperti bank sampah, pelapak sampah, pengangkut sampah, pendaur ulang sampah dan aplikasi teknologi digital untuk membangun sinergi dan meningkatkan efektivitas pengolahan sampah.

    Hingga April 2018, Program Masaro sudah diikuti 210 kepala keluarga sebagai peserta atau sejumlah 50% dari jumlah penduduk Desa Tinumpuk. CSR yang berupa pengelolaan dan pengolahan sampah desa ini bekerja sama juga dengan Laboratorium Polimer dan Membran ITB yang dikepalai langsung oleh Zainal.

    Kemudian, salah satu proyek percontohan Masaro, yaitu di Indramayu telah membuktikan bahwa semua sampah termasuk kantong belanja Plastik bekas, sampah rumah tangga atau sampah pasar yang membusuk, mempunyai nilai ekonomi yang bisa ditingkatkan menjadi produk yang lebih berharga sehingga menguntungkan secara finansial.

    Perlu diketahui Investasi yang ditanamkan untuk menjalankan Program Masaro terkait peralatan bernilai Rp300-500 juta untuk menangani satu desa yakni 400 rumah tangga. Peralatan-peralatan ini mencakup berbagai alat dan mesin daur ulang, tangki-tangki penyimpanan produk, dan insenerator. Selain peralatan pengolahan, Program Masaro juga membutuhkan lahan untuk IPS seluas lebih kurang 1.000 meter persegi.

    Program pengolahan sampah yang dilaksanakan CBO IBU TIN Berseri ini mampu membuka peluang ekonomi dari terciptanya produk-produk baru hasil daur ulang yang memiliki nilai jual serta penghematan biaya pertanian bagi masyarakat pengguna pupuk hasil daur ulang. Selain itu, sistem Masaro juga menguntungkan masyarakat dalam hal penghematan biaya pengurus sampah. Retribusi yang sebelumnya dapat mencapai Rp60 ribu/bulan untuk setiap kepala keluarga, menjadi hanya Rp10 ribu. (Fuad Rizky)