Tinggi, Animo Wisatawan RI Gunakan Teknologi Digital

Sektor pariwisata Indonesia bertumbuh 25,68 persen sepanjang tahun ini, melampaui kawasan Asia Pasifik dan pasar negara berkembang lainnya.

  • Ilustrasi ponsel mengubah interaksi sosial. Validnews/faisal.rachman
    Ilustrasi ponsel mengubah interaksi sosial. Validnews/faisal.rachman

    JAKARTA – Animo pelancong asal Indonesia untuk menggunakan berbagai inovasi teknologi digital dalam berwisata cukup tinggi. Warga Indonesia menduduki peringkat tiga besar dunia untuk pemanfaatan alat digital saat merencanakan, memesan, dan melakukan perjalanan.

    Platform travel niaga terkemuka di dunia, Travelport di Jakarta, Selasa (14/11) menyatakannya.

    "Ini hasil survei terhadap wisatawan global dengan 11.000 responden di seluruh dunia," kata Managing Director Asia Pacific Travelport, Mark Meehan, yang dilansir Antara.

    Dari survei terungkap, wisatawan Indonesia sangat menyukai dan menghargai pengalaman digital yang baik, yang disediakan oleh maskapai penerbangan. Dijelaskan Mark, survei wisatawan global ini dilakukan terhadap mereka yang tahun lalu setidaknya telah melakukan minimal satu kali perjalanan pulang pergi menggunakan moda transportasi udara.

    Mark memberikan contoh, saat merencanakan perjalanan, wisatawan Indonesia menyukai kegiatan penelitian untuk membuat rencana perjalanan, 93% menggunakan video dan foto dari media sosial (rata-rata Asia Pasifik adalah 76%), 71% menggunakan pencarian suara atau voice search (kedua setelah China di 72 persen). Dan, didapat juga bahwa 84% masih lebih memilih untuk berkonsultasi dengan agen perjalanan profesional.

    Bertumbuh Pesat
    Mark juga menyebut, peringkat wisawatan digital tersebut mencakup peringkat wisatawan digital, yakni India, Cina dan Indonesia berada di puncak klasemen sebagai negara dengan pelancong paling bergantung pada alat digital di seluruh dunia.

    "Temuan ini menunjukkan pentingnya alat digital bagi wisatawan sepanjang perjalanan mereka. Kami mengidentifikasi, adanya kebutuhan bagi industri perjalanan dan perhotelan global senilai 7,6 triliun dolar AS ini, untuk beradaptasi secara terus menerus untuk memberikan layanan yang responsif, relevan dan tepat waktu bagi pelanggan," katanya.

    Sektor pariwisata Indonesia sendiri, tambah Mark, bertumbuh 25,68% sepanjang tahun ini, melampaui kawasan Asia Pasifik dan pasar negara berkembang lainnya.

     

    Terhadap industri pariwisata,  Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat total kunjungan wisatawan dari Januari hingga Oktober 2017 mencapai 3.780.577 jiwa yang datang dari berbagai negara dan daerah. Angka ini diyakini setengah dari jumlah riil yang datang. Kemungkinan, jika data jumlah wisatawan yang datang dari seluruh pengelola objek wisata dilaporkan ke dinas pariwisata maka jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat dari data yang dimiliki kantor Dinas Pariwisata.

    "Untuk wisatawan mancanegara yang datang pada tahun ini sudah mencapai 122.810 jiwa dan sisanya dari nusantara," kata Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Yudi Panca Yoga di Sukabumi, Selasa (14/11).

    Yudi, yang dikutip Antara, mengatakan bahwa jumlah tersebut hanya yang terdata pihaknya. Ini tidak berbanding lurus dengan nilai restribusi. Selain itu, tidak seluruh objek wisata di Kabupaten Sukabumi dikelola pemerintah, ada juga yang dikelola oleh masyarakat dan pihak swasta.

    Tak Lagi Di Pabrik
    Namun demikian, pihaknya tetap berupaya meningkatkan kedatangan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Apalagi saat ini Kabupaten Sukabumi tengah gencar melakukan promosi keberadaan objek wisata Geopark Ciletuh Palabuhan Ratu.

    "Walaupun objek wisata tidak dikelola sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi tujuan pengembangan lokasi wisata itu selain untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) juga untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," tambahnya.

    Yudi mengatakan sektor pariwisata saat ini merupakan salah satu penyumbang terbesar PAD.

    Di kesempatan terpisah, Bupati Sukabumi Marwan Hamami mengarahkan warganya agar tidak lagi bekerja di pabrik tetapi memanfaatkan sektor industri pariwisata untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pihaknya sengaja mendorong dan terus mempromosikan keberadaan objek wisata ini tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Apalagi salah satu syarat yang diberikan UNESCO adanya keterlibatan warga khususnya 30% gender dalam pengelolaan geopark ini.

    "Kita sekarang mendorong Geopark Ciletuh Palabuhanratu ini untuk segera ditetapkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai geoprak dunia. Sehingga nantinya masyarakat bisa memanfaatkan dan mengelola sektor pariwisata ini dan tidak lagi bekerja di pabrik," katanya di Sukabumi, Senin.

    Rencananya,  pada April 2018 pihaknya akan berangkat ke Prancis untuk melakukan desertasi dan disampaikan ke pihak UNESCO yang nantinya bisa menunjang keberadaan Geopark Ciletuh Palabuhanratu ini.

    "Kondisi ini tentunya harus dimanfaatkan oleh warga bisa menjadi guide turis asing, usaha kuliner, penginapan dan lain-lain. Dan tetunya tidak harus bekerja di pabrik," tambahnya.

    Marwan optimistis, jika pengelolaan pariwisata ini sepenuhnya dikelola oleh masyarakat sekitar maka pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan warga semakin meningkat. (Rikando Somba)