Teungku Tjhik Di Tiro Momok Maut Belanda

  • Teuku Cik Di Tiro. Ist
    Teuku Cik Di Tiro. Ist

    JAKARTA- Aceh merupakan salah satu palagan yang melahirkan pahlawan-pahlawan besar pada saat perang kemerdekaan melawan kolonialisme di bumi nusantara. Deretan nama patriot yang oleh pemerintah Indonesia kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional, seperti Tjut Nyak Dien, Tjut Meutia, Teungku Umar, Panglima Polim adalah diantara para pejuang Aceh yang diperkenalkan pemerintah ke masyarakat luas lewat buku-buku sejarah.

    Tapi ada satu nama yang tak kalah heroiknya, bahkan dianggap Belanda sebagai tokoh pejuang Aceh yang paling ditakuti dan tak pernah mampu ditaklukkan oleh bangsa penjajah itu. Teungku Tjhik Di Tiro namanya. Begitu hebat dan teguhnya pendirian seorang Teungku Tjhik Di Tiro akan makna kemerdekaan sampai-sampai Belanda harus memakai tangan orang Aceh sendiri untuk menghabisinya lewat racun.

    Ya, pejuang asal desa Cumbok Lamlo, Tiro, daerah Pidie, Aceh itu harus mengakhiri perjuangannya setelah pengkhianat bangsanya sendiri meracuni Teungku Tjhik Di Tiro lewat sebuah jamuan makan yang dirancang oleh Belanda.

    Ia terlahir dengan nama Muhammad Saman pada tahun 1836 silam. Ayahnya bernama Syekh Abdullah, guru agama di Garot, dekat Sigli. Adapun ibunya Siti Aisyah adalah adik dari Teungku Tjhik Dayah Tjut, seorang ulama terkenal di Tiro.

    Tumbuh di lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai keislamannya, Saman menjalani masa kecilnya bergaul dengan para santri. Ayahnyalah yang mula-mula memperkenalkan Islam kepada Saman, yang kemudian dilanjutkan oleh pamannya. Sedang Ibunya mengajarinya menulis huruf Arab.

    Lingkungan keluarga membentuk Saman menjadi sosok yang sangat perhatian terhadap buku-buku tasawuf Imam Ghazali. Karena itu pula Saman yang merasa tak puas dengan ilmu agamanya, kemudian memperkaya keislamannya dengan dari beberapa guru seperi Teungku Tjhik Di Yan Di Ie Lebeu, Teungku Abdullah Dayah Meunasah Blang, Teungku Tjhik di Tanjung Bungong, dan terakhir berguru pada Teungku Tjhik Di Lamkrak.

    Begitulah hari-hari Saman dilaluinya dengan berbagi ilmu kepada orang-orang di sekitaran kampungnya. Sekali waktu kerinduannya menunaikan ibadah haji membuncah. Namun sebelum niat suci itu dilaksanakan Saman memutuskan terlebih dulu mengunjungi bekas guru-gurunya untuk memohon doa restu.

    Teungku Tjhik Di Lamkrak adalah guru yang terakhir dikunjunginya. Sayang disayang restu itu tak pernah diperolehnya sebab sang guru telah meninggal dunia. Kekecewaan Saman tak berhenti sampai di situ, ia menyaksikan suatu dimana para santri hanya belajar pada siang hari. Di malam harinya mereka turut bergerilya menyerang pos-pos tentara Belanda sebagaimana dikisahkan pada laman www.pahlawancenter.com.

    Situasi perang dibangun oleh reaksi para santri yang enggan ditindas Belanda. Maka terpanggillah Saman bergabung dengan para santri memerangi Belanda. Cukup lama Saman larut dan terlibat dalam aksi-aksi gerilya para santri sehingga ia hampir lupa tujuan utamannya datang ke Lamrak, yakni meminta restu.

    Kala itu perang masyarakat Aceh melawan Belanda pada titik tersuram. Daerah Aceh Besar seluruhnya sudah jatuh di tangan Belanda. Pejuang-pejuang Aceh banyak yang bersembunyi di daerah pedalaman, dan tetap melakukan serangan kecil-kecilan yang kurang terorganisasi.

    Pada awal Perang Aceh-Belanda tahun 1873 rakyat Aceh berhasil menggagalkan pasukan ekspedisi pertama Belanda, bahkan pimpinan ekspedisi Mayor Jenderal Kohler tewas, namun mereka tidak mampu menghalau ekspedisi Belanda yang kedua. Istana jatuh ke tangan Belanda, tetapi beberapa hari sebelumnya, Sultan Aceh sudah menyingkir. Ia meninggal dalam perjalanan karena serangan kolera. Kedudukannya digantikan oleh puteranya yang masih kecil. Sultan baru dan seluruh kelurga istana lalu menyingkir ke Keumala Dalam, jauh di daerah pedalaman.

    Pemimpin-pemimpin Aceh yang terkenal berani, lambat laun menghentikan kegiatannya. Panglima Polim menghindar dan tidak bersedia ditemui oleh siapa pun. Ia kecewa, karena di kalangan pejuang Aceh sendiri timbul perpecahan. Ada pula pemimpin yang memihak Belanda.

    Perlawanan semakin surut. Keadaan itulah yang disaksikan Saman sewaktu di Lamkrak. Namun serangan gerilya dilancarkan oleh para santri  tidak banyak membuahkan hasil, bahkan menambahkan penderitaan rakyat. Bila suatu malam sebuah pos Belanda diserang, tak ayal besoknya Belanda mengadakan pembalasan dengan cara membakar kampung-kampung yang ada disekitarnya.

    Saman menyadari hal itu dan ia mulai berfikir bagaimana mengatasinya. Akan tetapi dari Tiro pesan bertubi-tubi menyarankan agar Saman segera pulang. Pamannya, Teungku Tjik Dayah Tjut, amat mendesak agar Saman segera kembali ke Tiro agar dirinya berangkat ke Mekah.

    Saman pada akhirnya pulang ke Tiro dan mempersiapkan keberangkatannya ke Tanah Suci. Kesempatan berkunjung ke tanah suci dimanfaatkannya untuk bertukar pikiran dengan ulama-ulama terkemuka dan menambah ilmu pengetahuan, termasuk bertukar pikiran perihal masalah perang Aceh-Belanda.

    Benteng Aneuk Galong (1897). Ist

    Angkatan Perang Sabil
    Sepulang dari Mekah, perhatian saman tidak sepenuhnya tertumpah kepada tugas-tugas mengajar di pesantren. Pikirannya kerap teralihkan kepada perjuangan bangsanya, apalagi Saman tahu persis perlawanan rakyat semakin menurun. Ia berniat membangun kembali semangat perjuangan Aceh.

    Suatu ketika datanglah di Tiro beberapa orang utusan dari Gunung Biram, tempat sebagian kecil gerilya Aceh bermarkas. Mereka mengharapkan agar salah seorang ulama Tiro bersedia memimpin mereka mengobarkan kembali semangat perang melawan Belanda. Teungku Tjhik Dayah Tjut sudah tua, dan karena itu ia tak mungkin melakukan tugas tersebut.

    Saman memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia mengungkapkan kesediaannya memenuhi permintaan utusan dari Gunung Biram, apalagi pamannya merestui niat tersebut.

    Ketika itu Mohammad Saman berusia 44 tahun, berbadan gemuk dan sedikit rabun, sehinga para utusan itu pada awalnya menyangsikan kemampuan Saman, namun ia mengabaikan kesangsian itu. Segera Saman berangkat ke Biram bersama para utusan itu. Satu pesannya adalah agar kepergiannya dirahasiakan.

    Langkah pertama yang dilakukan Saman adalah menghubungi beberapa tokoh yang dianggapnya mampu membantu perjuangannya. Berkat bantuan Tuanku Mahmud, keluarga Sultan Aceh, ia berhasil menghubungi Panglima Polim, tokoh yang sudah putus asa meneruskan perjuangannya melawan Belanda.

    Panglima Polim sebenarnya tidak bersedia menerima sembarang orang, terlebih Saman yang tidak pernah mencuat namanya pada pertempuran di sejumlah wilayah di Aceh.  Namun kali ini ia mau mengulurkan bantuan berjanji memerintahkan para ulebalang agar membantu perjuangan.

    Langkah taktis Saman berikutnya adalah mengumpulkan pejuang-pejuang yang tersebar di beberapa tempat. Gabungan para pejuang inilah nantinya membentuk sebuah pasukan yang dikenal dengan Angkatan Perang Sabil.

    Saman paham secara psikologis masyarakat Aceh yang islami akan menumpahkan darahnya bagi agama yang mereka anut. Ia lalu mengumumkan bahwa perang yang akan dilancarkan adalah perang sabil melawan kaum kafir.

    Di sekeliling Mereu didirikan benteng-benteng pertahanan. Senjata-senjata dikumpulkan dan diangkat pula orang yang akan mengepalai tiap-tiap pasukan. Saman pun mengundang Syekh Pante Kulu untuk membantunya, sosok yang dikenal pandai membacakan syair karangannya sendiri yang berjudul “Hikayat Perang Sabil”.

    Isinya hikayat itu berupa anjuran agar rakyat berperang melawan kaum kafir. Orang yang tewas dalam perang itu akan diterima Tuhan di surga. Pengaruh syair itu cukup besar dan mampu menggerakkan semangat rakyat.

    Sementara itu, pada bulan April 1881, di Banda Aceh dilangsungkan serah terima pimpinan penguasa Belanda dari van der Heyden yang terkenal bertangan besi, kepada Pruys van der Hoeven. Pejabat baru ini ingin menyelesaikan masalah Aceh secara damai. Dalam laporan Pruys van der Hoeven tanggal 10 Mei 1881 dikatakan, bahwa keadaan di Aceh cukup tenang. Laporan itu membuktikan, bahwa Belanda tidak mengetahui sama sekali adanya persiapan-persiapan di sekitar Mereu.

    Pada bulan itu pula benteng Belanda di Indrapuri direbut oleh Angkatan Perang Sabil. Belanda terkejut dengan aksi penyerangan ini.  Selanjutnya mereka meneruskan ke Samahani yang berhasil mereka kuasai pasa akhir tahun 1881, menyusul benteng Aneuk Galong. Dengan jatuhnya benteng ini, berarti Belanda sudah jauh mundur ke tangan Aceh Besar.

    Capaian besar memompa semangat Pasukan Salsabilah di bawah Saman untuk terus bergerak mengusir Belanda dari Tanah Rencong.  Saman menargetkan pada akhir tahun 1883 Belanda sudah terusir dari bumi Aceh. Meski rencana itu kemudian tidak tercapai, namun sebagian besar daerah Sagi dapat dibersihkan dari pasukan Belanda.

    Belanda terus terdesak dan mundur dari Aneuk Galong ke Lambaro, dari Sagi mundur ke Lamyong, dan Keutapang. Kekuatan Angkatan Perang Sabil telah menjadi kekuatan yang nyata dan  diperhitungkan Belanda dengan sungguh-sungguh.

    Kali ini Saman mengubah siasatnya dengan maksud mengadakan serangan yang lebih besar, langsung Banda Aceh. Pada tanggal 12 Juni 1882 pasukan rakyat dipecah menjadi tiga bagian dan digerakkan ke Ulehleh ke Lok Ngha dan di Lamtong. Dari tiga jurusan itulah Banda Aceh akan diserang.

    Sayang rencana itu tercium Belanda. Mereka lalu mengerahkan kekuatan besar untuk menghadang barisan rakyat. Pertempuran sengit berkobar dan Saman terkepung di Gle Tarom. Waktu pasukan Mayor Rheumpol mau menjebaknya, Haji Saman dan pasukannya berhasil meloloskan diri ke Krueng Pinang.

    Pasukan Belanda lalu menyerang Pulau Breuh, namun mengalami kekalahan. Seluruh pasukan dan komandannya tewas. Kemudian dikirim bantuan di bawah komando Kapten Segov, tetapi pasukan Saman sudah meninggalkan pulau itu. Selama pertempuran itu Saman dikenal dengan gelar Teungku Tjhik Di Tiro oleh pasukan, rakyat, termasuk Belanda.

    Ilustrasi Perang di Aceh. Ist

    Jamuan Maut
    Pertempuran fisik ternyata bukan jalan yang tepat untuk menaklukkan seorang Tengku Tjhik Di Tiro. Maka Belanda pun merubah siasatnya dengan memecah belah dan menghasut. Teungku Aris diangkat menjadi panglima perang untuk menghadapi Teungku Tjhik di Tiro, tetapi usaha itu tidak berhasil sama sekali.

    Sultan dihasut dengan mengatakan bahwa ia tidak berkuasa lagi. Teungku Tjhik di Tiro-lah yang menguasai rakyat. Sultan sempat termakan oleh hasutan itu dan pada bulan April 1884 ia mengeluarkan maklumat, bahwa dia masih menjadi sultan yang berkuasa.

    Teungku Tjhik Di Tiro sadar dirinya sedang diadu domba dengan sultan. Makai a kemudian mengumumpakan bahwa dirinya tidak bermaksud menduduki singgasana kesultanan, tetapi ia berjuang untuk mempertahankan agama Islam dan mengusir ”Ulanda” alias Belanda. Pesan ini sampai ke telinga sultan yang juga segera menyadari hasutan itu.

    Kegeraman atas siasat licik Belanda ini berujung pada tahun 1885 dimana  Teungku Tjhik Di Tiro berhasil merebut benteng Aneuk Galong. Benteng di Lambaro yang jaraknya hanya 8 km dari Banda Aceh diserang pula, namun tidak berhasil. Tentara Belanda mundur ke benteng-bentengnya dan tak berani keluar. Banda Aceh dipertahankan dengan sistem berbenteng-benteng, yaitu membangun benteng berlapis-lapis. Untuk merebut Banda Aceh, pasukan Sabil harus merebut beberapa benteng yang dipertahankan sekuat-kuatnya.

    Jelas Belanda menyadari  tak mungkin mematahkan perlawanan Teungku Tjik di Tiro dengan kekuatan senjata. Mereka tahu jalan perdamaian hanya terbuka sesuai syarat Teungku Tjhik Di Tiro, yakni semua orang Belanda masuk Islam.

    Persyaratan itu dimanfaatkan pula oleh Belanda. beberapa orang Belanda menghadap Teungku Tjhik di Tiro menyatakan bersedia masuk Islam, tetapi sebenarnya memata-matai keadaan kekuatan Angkatan Perang Sabil.

    Mengetahui kenyataan ini Teungku Tjhik di Tiro murka. Dalam kmerahannya ia berkata, ”Saya mau membunuh semua orang Belanda yang ada di negeri ini”.

    Mendengar ancaman itu Belanda menjadi ngeri. Dengan segala daya upaya mereka mengadakan pendekatan karena menyadari orang-orang Aceh tidak dapat dihadapi dengan perang saja. Sultan didekatinya hingga ia bernafsu mengadakan perdamaian dengan Belanda dan mencoba mempengaruhi Teungku Tjhik di Tiro, namun Panglima Perang Sabil itu tetap tidak bersedia dan berkata, ”…Damai berarti kalah…”.

    Belanda akhirnya orang yang berambisi menjadi kepala Sagi Mukim. Kebetulan kepala Sagi itu, Panglima Polim Muda Kuala, sudah berusia lanjut. Anaknya yang mengikuti sultan mendapat janji Belanda akan dijadikan penggantinya, asal dia dapat membunuh Teungku Tjhik di Tiro.

    Pengkhianatan pun dirancang. Waktu Teungku Tjhik di Tiro datang di benteng Tui Suilemeng ia pergi ke mesjid. Di sana ia dijamu oleh Nyak Ubit, seorang perempuan yang diperalat calon pengganti kepala Sagi untuk meracuni Panglima Besar Angkatan Perang Sabil.

    Nyak Ubit menghidangkan kepada Teungku makanan yang sudah dicampur racun. Setelah memakan hidangan itu tanpa curiga, Teungku Tjhik di Tiro tiba-tiba merasa sakit. Ia dibawa ke benteng Aneuk Galong untuk diobati, namun nyawanya tidak tertolong. Teungku Tjhik di Tiro wafat pada bulan Januari 1891.

    Kematian Teungku Tjhik Di Tiro membuat Aceh kehilangan tokoh perjuangannya. Teungku Tjhik di Tiro pada hakekatnya tidak pernah takluk oleh Belanda, namun oleh pengkhianatan bangsanya sendiri.(Rafael Sebayang)