Tertinggal Jauh, Pemuliaan dan Pembenihan Ikan Perlu Insentif Pajak

Di 2017, dari total produksi perikanan yang diperkirakan mencapai 23,26 juta ton, sebanyak 74,03% atau 17,22 juta ton disumbang oleh perikanan budidaya. Sisanya 25,96% atau 6,04 juta ton disumbang oleh perikanan tangkap

  • Warga menggunakan perahu rakit menjaring ikan di Tempat Wisata Situ Gede, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/4). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprioritaskan program dukungan langsung bagi pembudidaya ikan dalam pagu indikatif APBN tahun anggaran 2018 mencapai Rp944,85 miliar. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
    Warga menggunakan perahu rakit menjaring ikan di Tempat Wisata Situ Gede, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (16/4). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprioritaskan program dukungan langsung bagi pembudidaya ikan dalam pagu indikatif APBN tahun anggaran 2018 mencapai Rp944,85 miliar. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    MANADO – Industri budidaya perikanan sukses mencatatkan pertumbuhan di 2017 lalu. Namun, potensi belum sepenuhnya tercapai. Pasalnya, terdapat ketimpangan antara pertumbuhan usaha pembesaran ikan yang tidak diikuti dengan pemuliaan induk (roodstock center) dan pembenihan (hatchery) ikan.

    Karena itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pun mengusulkan ke Menteri Keuangan untuk memberikan pembebasan pajak bagi sektor budidaya perikanan, khususnya pemuliaan dan pembenihan.

    “Salah satu kendala peningkatan ekspor produk perikanan budidaya Indonesia adalah kurangnya benih unggul,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Kelautan dan Perikanan Kadin, Yugi Prayanto di Jakarta, seperti dilansir Antara, Kamis (17/05).

    Menurut Yugi, lini usaha ini memiliki omset paling kecil dari seluruh mata rantai usaha perikanan budidaya. Karena itu, penerimaan pajaknya juga kecil. Diharapkan pembebasan pajak dapat mengakselerasi pertumbuhan sub-sektor perikanan budidaya yang saat ini 85% produknya berorientasi ekspor.

    Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan sektor perikanan budidaya mendominasi produksi perikanan nusantara. Di 2017, dari total produksi perikanan yang diperkirakan mencapai 23,26 juta ton, sebanyak 74,03% atau 17,22 juta ton disumbang oleh perikanan budidaya. Sisanya 25,96% atau 6,04 juta ton disumbang oleh perikanan tangkap.

    Secara makro ekonomi, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan PDB Nasional sektor perikanan tahun 2017 sebesar 6,75 % atau naik sebesar 31% dari tahun 2016. Angka PDB tersebut tercacat paling progresif dan berada diatas rata-rata pertumbuhan PDB Nasional yang hanya 5,03%.

    Kinerja PDB Sektor perikanan, ditopang oleh volume produksi perikanan budidaya, dalam 5 (lima) tahun terakhir (2013-2017) tercatat tumbuh rata-rata sebesar 5,11%.

    Dari sisi penerimaan negara, sektor budidaya ikan pada 2017 menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp. 18,56 milyar. Angka ini melampaui target penerimaan yang dipatok sebesar Rp. 17,92 milyar. Sumber PNBP tersebut sebagian besar berasal dari pelayanan uji laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan; penjualan benih dan ikan hasil kegiatan fungsional.

    Neraca perdagangan sub sektor perikanan budidaya juga mencatatkan surplus. Data BPS mencatat hingga September tahun 2017 nilai ekspor produk perikanan budidaya Indonesia mencapai sebesar US$1,29 milyar, atau naik 5% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara nilai impor perikanan budidaya hingga September di 2017 mencapai US$17,06 juta, atau menurun sebesar 14% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

    Sementara, di sisi pembudidaya, hasil survey nasional menunjukkan rata-rata pendapatan pembudidaya ikan Tahun 2017 berada pada angka Rp. 3,3 juta per bulan atau naik dibanding tahun 2016 yang mencapai Rp. 3,021 juta per bulan.

    Produksi perikanan budidaya di 2018 ditargetkan tumbuh 39,83% atau 24,08 juta ton dari total target produksi perikanan nasional sebesar 33,53 juta ton. Target produksi ini meliputi 7,91 juta ton ikan dan 16,17 juta ton rumput laut.  

     

    Baca Juga:

     

    Namun, lanjut Yugi, tantangan saat ini cukup tinggi untuk bisa menghasilkan benih unggul. Padahal benih unggul memiliki dampak sangat besar di sisi kinerja usaha di hilirnya, yakni pembesaran ikan. Dengan benih unggul, ikan akan lebih tahan penyakit, cepat besar dan irit pakan.

    Selain tertinggalnya lini pemuliaan induk dan pembenihan, KKP mengakui tantangan lain yang dihadapi perikanan budidaya adalah ketergantungan pada bahan baku pakan impor. Data KKP diketahui sekitar 80% dari kandungan pakan merupakan bahan baku impor seperti tepung ikan, tepung jagung, tepung kedelai, tepung ragi dan tepung gandum. Ketergantungan terhadap impor menyebabkan harga pakan ikan akan semakin tinggi seiring dengan penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah.

    Sementara, pakan adalah komponen biaya penting dalam usaha perikanan budidaya. Tak kurang dari 60% biaya produksi berupa biaya pakan ikan. Lalu, kualitas dan kuantitas pakan ikan sangat menentukan hasil produksi serta keuntungan usaha pembudidayaan ikan.

    Peningkatan harga pakan ikan diperparah oleh semakin berkurangnya pasokan di saat permintaan bahan baku pakan ikan meningkat dari berbagai negara di dunia yang berupaya meningkatkan produksi perikanan budidaya. Kondisi ini memberikan ketidakpastian dalam usaha pembudidayaan ikan.

    Demi mengatasi persoalan tersebut, KKP telah meluncurkan program gerakan pakan ikan mandiri 2018. Lewat program ini, diharapkan adanya peningkatan pembuatan dan pemanfaatan pakan ikan secara mandiri dari berbagai jenis bahan baku lokal. Targetnya sendiri mencapai 30 ribu ton per tahun untuk 2018.

    Program ini juga diharapkan mampu mengurangi biaya produksi usaha budidaya perikanan dan meningkatkan margin keuntungan budidaya ikan air tawar sebesar 28%.

    Total bantuan yang diberikan adalah 250 paket mesin pembuat pakan ikan dan 250 paket bahan baku pakan ikan.  (Mahatma D Putra)