Tan Joe Hok, Menggaet Prestasi Saat Payah Membayangi

  • Tan Joe Hok. Ist
    Tan Joe Hok. Ist

    JAKARTA – 'Dengan mengucapkan bismilah, saya mengucapkan Asian Games ke-IV tahun 1962 di Jakarta dibuka'. Begitulah kata yang diucapkan oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno saat membuka Asian Games ke-IV di Jakarta untuk pertama kalinya pada 24 Agustus 1962.

    Acara ini digelar bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Indonesia ke-17. Pesta olahraga pertama yang diselenggarakan di Indonesia ini merupakan salah satu puncak kejayaan dunia olahraga tanah air.

    Pertandingan olahraga ini diikuti oleh 17 negara dan mempertandingkan 15 cabang olahraga. Sebagai Tuan Rumah Indonesia mampu berada di urutan kedua klasemen umum, di bawah Jepang, mengungguli Korea Selatan, India, Thailand, dan negara besar Asia lainnya.

    Hebatnya, saat menjadi tuan rumah, Indonesia mampu mendapatkan medali emas pertamanya di cabang olahraga bulu tangkis setelah menjadi peserta Asian Games sejak 1951. Prestasi yang membanggakan ini dipersembahkan oleh Tan Joe Hok atau Hendra Kartanegara. Tan mendapatkan medali emas setelah sukses mengalahkan pebulutangkis asal Malaysia, The Kew San di final.

    Tan lahir di Sumedang, 11 Agustus 1937. Dia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Tahun kelahiran Tan bertepatan saat periode malaise, atau era resesi ekonomi dunia yang hebat (1929-1939) terjadi.

    Periode malaise ini tak hanya memukul nusantara, Indonesia sebelum merdeka. Dasawarsa krisis ekonomi dunia itu ditandai dengan jatuhnya pasar saham di New York Stock Exchange.

    Selain itu volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

    Kota-kota besar di seluruh dunia terpukul, terutama kota yang pendapatannya bergantung pada industri berat. Kegiatan pembangunan gedung-gedung terhenti. Wilayah pedesaan yang hidup dari hasil pertanian juga tak luput terkena dampaknya karena harga produk pertanian turun 40% hingga 60%.

    Resesi ekonomi itu berakhir. Namun, nusantara belum bisa bangkit. Lantaran wilayah jajahan Hindia Belanda beralih ke penjajah Jepang pada 1942. Dunia pun terpuruk akibat Perang Dunia II.

    Keluarga Tan mencoba untuk mencari kehidupan lebih baik dengan pindah ke Bandung. Tak hanya satu tempat keluarga besar itu tinggal, melainkan di beberapa tempat di Bandung.

    Bakat Tan bermain bulu tangkis muncul sejak ia masih berusia 13 tahun. Ketika keluarganya menempati sebuah rumah sederhana di Gang Kote, Karanganyar, Astanaanyar, Bandung. Menariknya, bakat Tan muncul karena melihat tetangganya bermain bulu tangkis.

    Melihat bakat Tan, ketika berpindah ke kawasan Cicendo, Bandung dengan tempat tinggal berpekarangan luas, Ayahnya membuatkan sebuah lapangan bulu tangkis sederhana tepat di halaman rumah mereka. Lapangan bulu tangkis buatan ayahnya hanya membuat garis pembatas dari bambu.

    Ternyata, lapangan sederhana ini mengundang banyak minat baik dari keluarga Tan hingga warga sekitar. Bisa dikatakan, lapangan ini tak pernah sepi pengunjung. Sejak pagi sampai malam, keluarga Tan dan para tetangga bergantian bermain badminton di sana.

    Pembawa Shuttlecock
    Meski memiliki lapangan badminton di perkarangan rumahnya, bukan membuat Tan kecil bisa seenaknya bermain atau berlatih di tempat itu. Tan yang sudah berusia 13 tahun hanya berperan sebagai pembawa shuttlecock dan raket saudara-saudaranya maupun orang lain.

    Karena peran itu, Tan selalu berada di lapangan menonton pertandingan demi pertandingan.

    Keseringan menonton keluarga dan tetangganya bermain badminton memancing keinginan dirinya untuk tampil di lapangan badminton dan berlaga melawan lawan. Meski semangat terpancing, apa daya raket tak punya.

    Meski raket tak dimiliki, bukan berarti dia tak bisa berlatih. Putar otak bagaimana bermain dia lakukan. Jadi, dia ambil kelom (sandal dari kayu) milik ibunya yang digunakannya sebagai raket. Bermodalkan kelom dan shuttlecock bekas yang tersisa tiga lembar bulu angsa, ia sering mengajak pembantu bermain badminton.

    Bukan banyak cibiran yang dia terima tatkala bermain bulu tangkis menggunakan kelom milik ibunya. Tan malah menuai pujian dari banyak orang. Pujian yang datang kepada Tan lantaran ketika bermain, ia bisa menggerakan kaki dan tangannya dengan cepat.

    Dengan kemampuan ini, orang yang telah memiliki pengalaman bermain bulu tangkis, mudah dia kalahkan. Padahal, Tan sama sekali tak mengerti teknik dasar bermain badminton. Ia hanya belajar mengenai gerakan kaki dari pertandingan tinju yang sering dia saksikan di Bandung.

    Kemampuan Tan menarik perhatian seorang pebulutangkis Bandung, Lie Tjoe Kong. Lie memuji bakat Tan bermain bulu tangkis. Pujian itu dia lanjutkan dengan mengajak Tan masuk suatu klub bulu tangkis terkuat di Bandung yakni Blue White. Untuk diketahui, Blue White merupakan cikal-bakal klub Mutiara yang di masa depan menghasilkan pemain hebat, seperti Chirstian Hadinata, Imelda Wigoena, dan Ivanna Lie.

    Kesempatan yang diberikan oleh Lie Tjoe Kong tak disia-siakannya. Memang benar, pemain hebat selalu kebulatan tekad dan ketekunan saat latihan. Setiap hari Tan harus bangun pukul 5.00 pagi. Ia harus berlatih di lapangan bulu tangkis PB Pusaka di Jalan Kiara Condong, Bandung. Meski bangunannya terbuat dari bilik, lapangannya cukup bagus karena sudah dilapisi semen.

    Mulai dari lapangan ini, karier Tan di dunia bulu tangkis mulai moncer. Tak sampai dua tahun bermain bulu tangkis, Tan sudah berkali-kali ikut kejuaraan dan menjadi juara pertama. Tatkala berusia 15 tahun, Tan remaja sudah menang di Kejuaraan Bandung.

    Gelar Internasional
    Pertandingan demi pertandingan dia ikuti. Tan banyak memenangkan kejuaraan dan membawa pulang piala. Prestasi tersebut menimbulkan keberanian Tan remaja mulai mengikuti kejuaraan nasional. Hanya butuh dua tahun, Tan menjadi juara Indonesia mengalahkan Njoo Kim Bie, pebulutangkis asal Surabaya pada Tahun 1954. Padahal, kala itu, Njoo Kim Bie terkenal dengan smash-nya yang mematikan. Selang dua tahun kemudian, giliran pemain terkenal Eddy Jusuf harus mengakui kehebatan Tan bermain bulu tangkis.

    Setelah berhasil menjadi pemenang di negeri sendiri. Tan memulai debut pertamannya di arena internasional. Pada pertengahan tahun 1956, turnamen Selangor dan Singapura bersama Eddy Jusuf dan Tan Thiam Beng dia ikuti.

    Karena prestasi yang dia bukukan, pada 1957, Tan kembali diundang untuk mengikuti pertandingan di India Timur, Bombay, New Delhi, Calcutta, Ghorapur, dan Jabalpur. Untuk pertama kalinnya, Tan menjadi juara di arena internasional dengan mengalahkan pemain nasional India, Amrit Dewan tanpa susah payah.

    Selain memenangkan pertandingan, di tempat ini Tan berjumpa dengan Ismail bin Marjan pemain asal Malaysia. Dalam perjalanan pulang dengan menggunakan kereta api, terjadi percakapan yang selalu terngiang di benak Tan.

    Ismail  melontarkan kata, “Kamu nanti akan menjadi pemain hebat. Kamu dapat menjadi pemain seperti saya, tetapi jangan seperti saya. Kamu harus sekolah.”

    Prestasi inilah yang membuat Tan, pada 1958 mendapatkan kesempatan untuk mendampingi Olich Solihin, Lie Po Djian, Tan King Gwan, dan Njoo Kim memperkuat tim Piala Thomas Indonesia di babak penyisihan di Auckland, Selandia Baru dan Melbourne, Australia sebagai pemain tunggal dan ganda.

    Dalam buku yang berjudul Baktiku Bagi Indonesia disebutkan, Tan Joe Hok, Ferry Sonneville, dan kawan-kawan sukses menggebuk juara bertahan Malaysia dengan skor 6-3. Dalam perebutan Piala Thomas tersebut, Tan Joe Hok bermain sebagai pemain tunggal sekaligus pemain ganda berpasangan dengan Lie Poo Djian.

    Untuk pertama kalinya, Indonesia menjuarai Piala Thomas. Kabar kemenangan di Thomas Cup pun disambut meriah dengan tabuhan beduk di masjid, dentangan lonceng di gereja, serta disiarkan di radio. Tak hanya itu saja, rasa bangga dengan prestasi ini membuat para atlet tersebut diarak dari Jakarta ke Bandung, melewati jalur Puncak.

    Setelah mengikuti kejuaraan piala Thomas dan memukau banyak penonton, Tan mulai terus mendapatkan undangan bertanding ke berbagai negara, antara lain, India. Di negeri ini, Tan mengikuti turnamen India Utara dan kembali keluar sebagai juara.

    Setahun berselang, Tan kembali berniat mengikuti turnamen All England pada tahun 1959 dan mencatatkan nama sebagai juara di turnamen itu. Tan terus menjuarai kejuaraan internasional secara berturut-turut. Pada 1961, Tan berhasil mempertahankan gelar juara bulu tangkis pada Piala Thomas.

    Pada 1962, untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Cabang olah raga bulu tangkis juga dipertandingkan. Kala itu, Tan dan kawan-kawan tampil militan di kejuaraan ini. Hasilnya, Tan berhasil bisa mempersembahkan medali emas pertama bagi Indonesia di ajang Asian Games. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan Indonesia mendapatkan lima medali emas di Asian Games 1962.

    Setelah memenangkan banyak pertandingan nasional dan internasional, nama Tan menjadi perbincangan di dunia internasional. Salah satu majalah olahraga terbesar di Amerika Sport Illustrated mengulas prestasi Tan, yang sewaktu itu berusia 22 tahun. Mereka pun menyebutnya sebagai pemain tak terkalahkan.

    Gantung Raket
    Kemenangan di berbagai turnamen dunia terus ditorehkan Tan. Setelah berturut-turut meraih kemenangan di kejuaraan All England, Kanada, dan Amerika Serikat, Tan memutuskan menggantung raket.

    Setelah juara di Amerika, Tan tak kembali ke Indonesia. Ia malah berangkat menuju Texas, Amerika Serikat karena mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Baylor University, jurusan Premedical Major in Chemistry and Biology.

    Guna memenuhi biaya hidup sehari-hari, dia harus bekerja secara serabutan. Juara dunia itu tak hidup dengan kemewahan hasil menjuarai beberapa turnamen dunia. Apa saja dia kerjakan untuk bisa memperoleh uang, termasuk menjadi petugas kebersihan kampus dengan upah 50 sen AS per jam.

    Saat studi di Baylor (1959-1963), Tan tak sepenuhnya enggan bermain bulu tangkis. Tercatat, dia sempat pulang ke Indonesia untuk mempertahankan Piala Thomas di Jakarta (1961) dan Tokyo (1964). Tercatat pula pada 1962, dia perkuat tim Indonesia untuk Asian Games.

    Kala itu, Presiden Soekarno mencanangkan Ganyang Malaysia dan Ganyang Antek Imperialis. Hal itu yang membuat Tan tak bisa balik menyelesaikan studi S-2 di Amerika.

    Peristiwa politik di dalam negeri di era Soekarno berkuasa menimbulkan kenangan tak menyenangkan bagi Tan dan keturunan China di Indonesia. Mereka mendapat perlakuan berbeda.

    Peristiwa Gerakan 30 September 1965 mengubah hidup Tan segalanya. Sebagai warga keturunan China, Tan dan teman-teman mulai mendapat perlakuan berbeda. Dia menilai seperti dianggap bukan bagian dari bangsa ini. Perlakuan yang tak dia terima saat melawan atlet-atlet mancanegara sebagai atlit Merah-Putih.

    Tahun 1967, Kolonel Mulyono dari CPM (Korps Polisi Militer) Guntur, mengumpulkan semua anggota tim Piala Thomas di mess atlet Senayan. Para atlet yang menggunakan nama berbau China diperintahkan mengganti nama. Kolonel Mulyono sudah menyiapkan nama pengganti masing-masing.

    Hari itu juga, anggota tim Piala Thomas menyandang nama baru. Ang Tjing Siang menjadi Mulyadi, Tan King Gwan menjadi Dharmawan Saputra, Lie Po Djian menjadi Pujianto, Lie Tjuan Sien menjadi Indra Gunawan, Wong Peks Sen menjadi Darmadi, Tjong Kie Nyan menjadi Mintarya, dan Tjia Kian Sien menjadi Indratno.

    Tan juga diubah menjadi Hendra Kartanegara. Nama Hendra diberikan oleh Panglima Kodam Siliwangi waktu itu, HR Dharsono. Nama Kartanegara dia cari sendiri meski dia akui pergantian nama itu amat menyakitkan.

    Situasi tersebut membuatnya meninggalkan Indonesia pada tahun 1969 untuk menjadi pelatih bulu tangkis di Meksiko dan Hong Kong. “Saya kembali ke Jakarta pada 1972 dan mendirikan usaha di bidang pest control, jasa pengendalian hama”, kata Tan.

    Namun kecintaan terhadap bulu tangkis tetap tak terbendung. Bersama Tahir Djide, dia menjadi pelatih tim Piala Thomas 1984. Tim Indonesia terdiri atas Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, Christian Hadinata, Hadibowo, dan Kartono akhirnya sukses mengalahkan Han Jian dan kawan-kawan dari China.

    Tapi perlakuan terhadap warga keturunan tak juga berakhir. Tan ingat, ketika kerusuhan melanda Jakarta pada Mei 1998. Waktu itu dia baru ditinggalkan istrinya yang meninggal dan kesulitan mencari tiket untuk anak-anaknya agar keluar dari Jakarta.

    Atas prestasinya SIWO/PWI Jaya menganugerahkan penghargaan sebagai Pelatih Olahraga Terbaik 1984. (Berbagai Sumber, James Manullang)