MENGULIK POLEMIK PLASTIK

Tak Dipilah, Sampah Tak Kan Berkah

Minimnya kesadaran untuk memilah sampah oleh rumah tangga Indonesia membuat sampah tak mudah untuk didaur ulang

  • Dua orang pelajar membuang sampah di tempat sampah yang telah ditentukan kategori sampahnya, Cikokol, Tangerang, Banten. ANTARA FOTO/Lucky R
    Dua orang pelajar membuang sampah di tempat sampah yang telah ditentukan kategori sampahnya, Cikokol, Tangerang, Banten. ANTARA FOTO/Lucky R

    JAKARTA – Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Tak heran jika populasi yang begitu besar ini menghasilkan berbagai sampah yang menggunung.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang termuat dalam Statistik Lingkungan Hidup 2017 menyebutkan, pertumbuhan penduduk menjadi salah satu penyebab meningkatnya limbah padat, beriringan dengan perkembangan industri, urbanisasi dan modernisasi.

    Bisa dikatakan, sampah yang dihasilkan dari rumah tangga akan berbanding lurus dengan total penduduk. Ini berarti, tiap peningkatan penduduk di setiap daerah maka menyebabkan jumlah sampah yang dihasilkan rumah tangga pun semakin bertambah.

    Sebagai informasi, BPS memproyeksikan jika penduduk Indonesia pada 2025 akan melonjak hingga mencapai 284,83 juta jiwa. Bahkan, jumlahnya akan menembus angka 305,65 juta jiwa pada 2035 mendatang.

    Masih dari statistik lingkungan hidup 2017, diperkirakan setiap penduduk di Indonesia dapat menghasilkan sampah hingga 0,52 kg per hari. Jika dikalkulasikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini sebanyak 258,7 juta jiwa, akan terdapat 134,5 ribu ton sampah dalam satu hari.

    Secara nasional, angka tertinggi bagi produksi sampah per hari terdapat di Pulau Jawa yang meliputi Jakarta, Surabaya dan Semarang. Sedangkan kota Makassar, Denpasar, Samarinda, dan Banjarmasin menjadi kontributor sampah terbanyak bagi regional luar Pulau Jawa.

    Lebih rinci, Surabaya menjadi juara pertama penyumbang sampah terbesar nasional. Tercatat, pada tahun 2015 kota ini mampu menghasilkan 9.475 meter kubiksampah per harinya dan meningkat hingga 9.710 m3/hari pada 2016.

    Peringkat ini disusul oleh Provinsi DKI Jakarta yang memproduksi sampah sebanyak 7.046 m3/hari pada 2015, dan mencapai 7.099 m3/hari di tahun 2016. Selanjutnya ada Semarang dengan angka produksi sampah sebesar 4.998 m3/hari (2015) dan sebanyak 5.080 m3/hari pada 2016.

    Dalam buku yang dikeluarkan oleh PT Unilever Indonesia mengenai panduan sistem bank sampah, komposisi sampah rumah tangga didominasi oleh sampah organik dengan persentase mencapai 67%. Sampah organik ini meliputi sisa makanan dan sisa organisme yang nantinya dapat didaur ulang menjadi kompos, ataupun terurai secara alami.

    Sedangkan untuk sampah non-organik persentasenya sebesar 32,8%, yang mencakup sampah kaca, metal, kertas, dan plastik.

    Terkait sampah non organik ini, perubahan gaya hidup dinilai turut menjadi penyumbang adanya sampah yang tak bisa diurai mikro-organisme ini.

    “Peningkatan jumlah sampah plastik itu bisa jadi terjadi dari pola konsumsi yang mengalami perubahan. Pola konsumsi dengan Go-Food dan sebagainya itu menambah plastik, kita juga tanpa beban meminta plastik ketika ke ritel,” ungkap Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novirzal Tahar kepada Validnews, Kamis (7/6).

     

     

    Tak Terangkut
    Volume sampah yang dihasilkan penduduk ini tak diikuti oleh kemampuan pengelolaan yang mumpuni. Salah satunya terlihat dari persentase volume sampah yang mampu diangkut tiap harinya. Dinas Kebersihan Kota tahun 2017 mencatat, hanya ada lima ibu kota provinsi  saja yang persentase volume sampah terangkutnya mencapai 90%, yakni Denpasar yang mampu mengangkut 97,4% sampah per hari.

    Selanjutnya, Kota Padang dengan persentase sampah yang mampu diangkut sebesar 97,2%. Diikuti Banjarmasin (95,9%), Makassar (94,81%), dan kota Medan yang hanya mampu mengangkut 92,0% dari total sampah yang dihasilkan tiap hari.

    Secara tidak langsung, ini memberikan gambaran mengenai kesiapan masing-masing daerah dalam menangani sampah, yang termasuk sampah rumah tangga.

    Namun, sesungguhnya masalah tak dimulai dari kemampuan angkut yang minim. Lebih dari itu, budaya untuk mengelola sampah belum dimiliki oleh masyarakat di Indonesia.

    Sejauh ini, umumnya rumah tangga memiliki tempat sampah yang dipakai untuk membuang apa saja.  Mulai dari barang rusak, kemasan produk yang telah habis isinya, hingga sisa makanan. Lantas, setelah penuh atau menjelang sore, kantong plastik yang digunakan melapisi tempat sampah diikat, lalu kantong plastik itu dilemparkan ke tempat sampah di luar rumah untuk diangkut dinas kebersihan. Atau lebih buruk lagi, dilempar ke pinggir jalan atau bantaran sungai.

    Belum ada kesadaran mengenai pentingnya pemilahan sampah oleh rumah tangga-rumah tangga di Indonesia. Karena itu, meskipun gunungan sampah di berbagai TPA semisal Bantar Gebang terlihat didominasi oleh plastik, namun nyatanya plastik hanyalah pembungkus sampah. 

    “Kita membuangnya tidak dipilah-pilah, kita tinggal buang. Kalau di luar negeri semua dipisah. Memang kelihatannya paling banyak sampah plastik, tapi itu di dalamnya sampah organik semua, sisa nasi, kulit duren, macam-macam,” terang Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas), kepada Validnews beberapa waktu lalu.

    Padahal, pemilahan sampah perlu dilakukan agar sampah-sampah yang ada bisa didaur ulang atau dibuat menjadi kompos, dalam kata lain dapat diproses secara efisien dan tidak harus dikirim ke tempat pembuangan sampah akhir.

    Fajar menambahkan, prioritas pertama dalam pengelolaan sampah adalah dari sisi manajemen, yang meliputi pemilahan, edukasi, dan pengawasan.

    Pemikiran Fajar mengenai pemilahan adalah hal yang patut menjadi prioritas pertama ini juga disepakati oleh Deputi Sumber Daya Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Safri Burhanuddin.

    “Idealnya memang dipisahkan, begitu sampah dibuang langsung dipisahkan. Selection yang terbaik ada di rumah, setiap pemilik rumah itu memisahkan, yang bisa dimanfaatkan kembali dan yang tidak,” kata Safri kepada Validnews, Selasa (5/6).

    Bukan sekadar omongan belaka, namun penilaian dari Fajar dan Safri ini nyatanya didukung oleh data yang kuat. Ditinjau dari persentase rumah tangga dalam memilah sampah mudah membusuk (organik) dan tidak mudah membusuk (non-organik), pemahaman rakyat Indonesia cukup memprihatinkan.

    Pada tahun 2013 saja, secara nasional BPS mencatat sebanyak 76,31% rumah tangga di Indonesia tidak melakukan proses pemilahan, sisanya yaitu 23,69% di antaranya sudah menerapkan hal ini.

    Di tahun 2014 pencapaian ini malah lebih buruk, di mana hanya sebanyak 18,8% rumah tangga Indonesia yang melakukan pemilahan.

     

    Pemerintah tak Siap
    Pengamat lingkungan dari Indonesia Environmentals Scientists Association Lina Mugi Astuti kepada Validnews memaparkan bahwa sebetulnya sudah ada banyak kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatur pemilahan sampah ini.

    “Pemilahan sampah regulasinya ada diatur dari Undang-Undang (UU), ada UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, kemudian Perpres No. 97 tahun 2018, serta UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” rinci Lina.

    Pemilahan sampah ini memang sudah mulai diterapkan di Indonesia sejak lama, ditandai dengan tersebarnya dua macam tempat sampah terpisah - untuk sampah organik dan sampah nonorganik - yang menghiasi berbagai sudut wilayah.

    Jauh dari tujuan awalnya, kini keberlanjutan dan manfaat dari keberadaan tempat sampah ini belum dirasakan secara nyata. Bahkan, justru terlihat seperti hiasan usang. Mirisnya, mayoritas dari tempat sampah terpisah tersebut saat ini akhirnya terisi oleh sampah yang bercampur, dan semua upaya pemilahan ini berakhir sia-sia.

    Dalam pandangan Lina, regulasi menjadi salah satu faktor yang memicu kegagalan dalam pengupayaan pemilahan sampah ini.

    “Masyarakat diminta untuk mengelola sampahnya dengan benar, tetapi regulasinya masih buruk, sementara masyarakat disuruh memilah tetapi pemerintah belum siap dengan sarana-prasarananya,” terang Lina.

    Lina melanjutkan, padahal proses pemilahan ini adalah langkah awal untuk pengolahan sampah lebih lanjut.

    “Ada yang mengatakan diolah menjadi energi listrik, padahal kalau kita mau sebenarnya untuk kualitas listrik pun atau kualitas energi pun seharusnya sampah-sampah itu sudah terpilah dengan baik juga,” kata Lina.

    Senada, Novrizal juga mengungkapkan bahwa ketika masyarakat bisa memilah sampah, maka istilahnya ada “garansi” bagi sampah-sampah ini untuk bisa berlanjut ke industri daur ulang.

     

    Tertinggal
    Minimnya budaya memilah sampah ini membuat Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara lain dalam hal mengelola sampah. Hal ini mengingat di negara ini yang hanya menerapkan dua jenis pemisahan, dan itu pun masih sulit dilakukan. Sebagai contoh Jerman, yang mewajibkan setiap warga negaranya untuk mengaplikasikan proses pemilahan yang sangat kompleks.

    Lebih spesifik, Jerman memiliki kategori pemisahan sampah yang lebih banyak, yaitu sampah kaleng dan plastik yang dapat ditempatkan dalam satu wadah, menempatkan majalah bekas ataupun karton bekas di sebuah paper barrel tersendiri, hingga pemisahan sampah kaca berwarna putih, hijau, ataupun cokelat.

    Bahkan kategori sampah, seperti limbah cairan, sisa rokok dan popok tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam tempat pembuangan sampah organik, namun dibuang terpisah dalam golongan residual waste. Sedangkan untuk sampah seperti baterai perlu dikumpulkan ke dalam kotak kecil terpisah sebelum dibuang.

    Ada juga Jepang, selain menerapkan pemilahan sampah yang kompleks, di negara ini petugas kebersihan memiliki hak untuk tidak mengangkut sampah jika dirinya menilai sang pemilik sampah tidak melakukan pemilahan dengan benar.

    Karena itu, demi mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat, Safri menilai perlu adanya upaya dari segala pihak. Komunitas-komunitas lingkungan perlu dirangkul karena menjadi motor penggerak bagi sosialisasi pengelolaan sampah.

    “Sejauh ini sudah ada 10 ribu komunitas yang digandeng, tersebar seluruh Indonesia. Enam ribu di antaranya tersebar di Pulau Jawa. Kita harapkan mereka jadi penggeraknya untuk mengedukasi masyarakat, mereka lebih baik jadi ujung tombak kita untuk mengubah mindset masyarakat,” kata Safri.

    Terkait dengan pendanaan, Safri menjelaskan bahwa sumber dana dapat di peroleh dari berbagai sumber, termasuk program corporate social responsibility yang dimiliki oleh BUMN maupun perusahaan swasta.

    Diakui perusahaan swasta juga sudah mulai menjalankan program ini. Selain PT Unilever dengan gerakan bank sampahnya, PT Enviro Total Solusi juga mulai secara aktif merangkul masyarakat untuk memahami pemilahan sampah.

    “Kita sudah mencoba sampai ke level rumah tangga, kita berdayakan dari level rumah tangga. Kita akan mencoba pilot project di setiap RT/RW memberikan pendekatan bagaimana masyarakat lebih bijak. Semua sampah bisa dijadikan sesuatu, bagaimana caranya kita mengelola sampah tadi menjadi daya guna,” terang Chief Operating Officer PT Enviro Total Solusi Hendra Triana kepada Validnews, Kamis (31/5).

    Selain upaya menumbuhkan kesadaran dan peran masyarakat dalam mengelola sampah, Novrizal menilai, perlu adanya sinergitas antara berbagai pihak untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik lagi.

    “Pengolaan sampah itu dari hulu sampai hilir, ada kebijakan hulunya ada kebijakan hilirnya. Dinas kebersihan kita dorong dengan meningkatkan sarana prasarana, TPA juga harus ditingkatkan kapasitasnya, tempat pembuangan sementara di daerah-daerah juga harus didorong lebih maksimal,” pungkasnya. (Shanies Tri Pinasthi, Dimas Satrio Sudewo, Mahatma Dania Putra, Teodora Nirmala Fau, Muhammad Fauzi, Fin harini)

     

    Baca Juga: