TUJUAN KUNJUNGAN MUSEUM: EKSISTENSI DIRI ATAU ESENSI KOLEKSI?

Revitalisasi menciptakan dilema karena juga telah mengubah fungsi museum sendiri

  • Pengunjung berfoto di Museum Balla Lompoa, Jl. Sultan Hasanuddin, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Validnews/Agung Natanael
    Pengunjung berfoto di Museum Balla Lompoa, Jl. Sultan Hasanuddin, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Validnews/Agung Natanael

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Sebagai bangsa yang sangat multikultural, Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat bervariasi yang diharapkan menjadi acuan setiap generasi, sebagai simbol hakikat kebangsaan. Oleh karena itu, museum hadir sebagai lembaga dengan fungsi dokumentasi, inventarisasi, serta pengenalan pada khalayak dari berbagai daerah.

    Dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut, Direktorat Permuseuman mengalami beberapa kendala dalam pembangunan dan pengembangan museum, di antaranya dalam bidang ketenagaan, peraturan, koleksi, fisik bangunan, sarana penunjang, sumber dana, dan terutama sekali apresiasi masyarakat (Tjahjopurnomo, et.al, 2011: 50-54).

    Dengan mempertimbangkan segala kendala dan potensi museum sebagai tempat pelestarian, lembaga pendidikan nonformal, serta sumber berbagai data penelitian, akhirnya melalui Inpres nomor 1 tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan, Presiden Republik Indonesia saat itu yakni Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan revitalisasi museum sebagai program prioritas pembangunan nasional. Khususnya dalam Prioritas 11, yaitu kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi.

    Revitalisasi terbukti efektif dalam membangun kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap lembaga permuseuman. Dari data Badan Pusat Statistik, terlihat bahwa di tahun pelaksanaan program ini yakni 2010, terjadi kenaikan jumlah kunjungan yang cukup signifikan pada tiga museum yang masuk ke dalam obyek wisata unggulan Indonesia, yaitu Museum Nasional, Museum Satria Mandala, dan Museum Sejarah Jakarta.

    Jumlah pengunjung Museum Nasional meningkat dari 165.907 pengunjung pada tahun 2009 menjadi 375.710 pada tahun 2010. Pertumbuhan yang lebih drastis ditunjukkan oleh Museum Sejarah Jakarta yang melonjak jauh dari 245.682 pengunjung di tahun 2009 menjadi 724.082 di tahun revitalisasi. Selain itu, meski tak sedrastis dua museum lainnya, Museum Satria Mandala juga mengalami peningkatan jumlah pengunjung di periode yang sama yaitu dari 53.769 menjadi 63.797 pengunjung.

     

     

    Meskipun memiliki dampak positif karena berhasil meningkatkan jumlah pengunjung pada beberapa museum unggulan, yang berarti turut membangun kesadaran masyarakat akan budaya nusantara, revitalisasi ini menciptakan dilema karena juga telah mengubah fungsi museum sendiri. Perbaikan lembaga ini, terutama dari segi fisik bangunan, menggeser tujuan utama museum sebagai pusat informasi dan pendidikan budaya dan sejarah, menjadi pusat eksistensi diri, terutama bagi para generasi milenial.

    Tren museum sebagai pusat eksistensi diri salah satunya terlihat dari maraknya kunjungan pada Museum MACAN (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) yang baru saja dibuka pada 4 November 2017 lalu. Dengan konsep modern dan kontemporer, museum ini kemudian digadang-gadang sebagai museum instagramable oleh berbagai media karena memiliki daya tarik tersendiri bagi anak-anak muda yang ingin berburu foto sebagai bahan unggahan di media sosialnya. Jumlah pengunjung museum ini pun mencapai ribuan setiap harinya semenjak dibuka.

    Fenomena serupa tak hanya terjadi pada Museum MACAN saja. Dari 428 museum di Indonesia yang tercatat dalam situs Asosiasi Museum Indonesia, museum yang dipilih untuk dikunjungi masyarakat hanya beberapa saja. Umumnya, museum-museum yang menyediakan tempat-tempat yang dianggap indah untuk berfoto akan menuai daya tarik yang lebih besar, sebut saja Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) yang cukup estetik berkat bangunan-bangunan tuanya.

    Dengan mengunggah foto-foto estetik diri yang berlokasi di museum, seseorang menunjukkan bahwa dirinya termasuk kelompok intelektual. Hal ini terkait erat dengan tiga struktur konsumsi yang dikatakan Bourdieu (dalam Haryatmoko, 2015: 47) dapat digunakan untuk membedakan seseorang dari kelas lainnya, yaitu makanan, budaya, dan penampilan. Kunjungan ke museum merupakan salah satu bentuk pengeluaran untuk menunjukkan selera budaya, dan dengan begitu mengarahkan diri seseorang ke dalam posisi sosial tertentu.

    Bagaimanapun, upaya dan perhatian Pemerintah terhadap isu permuseuman telah cukup berperan dalam meningkatkan apresiasi masyarakat akan berbagai karya dan koleksi. Paling tidak, masyarakat sudah mulai menyadari pentingnya kehadiran museum sebagai sarana pelestarian sejarah.

    Sangat disayangkan apabila karya seni maupun koleksi sejarah yang seharusnya dapat menjadi pusat informasi dan pendidikan, justru hanya menjadi latar belakang foto yang ditujukan untuk eksistensi diri di media sosial. Perlu ada strategi lebih lanjut yang membuat para pengunjung tertarik lebih mendalam pada esensi koleksi-koleksi dalam museum dan menjadikannya sumber pengetahuan.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

    Referensi:

    Haryatmoko. (2015). Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

    Tjahjopurnomo, et.al. (2011) Sejarah Permuseuman di Indonesia. Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    asosiasimuseumindonesia.org 

    www.museummacan.org