TELEVISI MENDADAK ISLAM DI BULAN RAMADAN

Kini bukan lagi agama yang mencari jalan dan sarana untuk disampaikan ajarannya, namun justru berbagai media yang mencari-cari unsur agama untuk mendomplang keuntungan tertentu.

  • Ilustrasi program Ramadhan di televisi. ist
    Ilustrasi program Ramadhan di televisi. ist

    Oleh: Novelia, M.Si*

    “Azan Magrib untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.”

    Kalimat tersebut tertulis dalam layar kaca pada salah satu stasiun televisi, disambung kemudian azan magrib dan doa berbuka puasa. Seorang ibu yang sebelumnya tengah menonton sinetron religi, langsung menaruh remote control dan mengambil makanan untuk berbuka. Lalu dengan sepiring lauk di tangannya, ia kembali duduk di sofa, siap menyambut lanjutan cerita sinetron.

    Beberapa ibu rumah tangga bisa saja mengalami hal seperti ini, terutama di bulan Ramadan yang akan disambut pekan ini. Di bulan di mana para penganut Islam menjalankan ibadah puasa ini, berbagai acara dan konten di berbagai media dibalut dengan nuansa religi. Bulan Ramadan dianggap sebagai kesempatan besar untuk meraih keuntungan bagi pasar media, mengingat penduduk Indonesia yang didominasi penganut agama Islam.

    Dominasi penganut Islam di Indonesia terbukti dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Pew Research Center, sebuah lembaga riset independen, pada tahun 2009 terhadap 200 negara. Dari studi tersebut ditemukan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar, dengan jumlah yang mencapai 88% dari total penduduk Indonesia. Angka ini didapat berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan BPS pada tahun 2000. Berdasarkan informasi ini pula, Indonesia kemudian selalu digadang-gadangkan sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar.


     

    Ramadan dan Komodifikasi Agama
    Selama kurang lebih sebulan, umat muslim berupaya membangkitkan suasana yang selaras dengan suasana Ramadan. Bermunculan hidangan khas untuk berbuka puasa yang dijual di hampir setiap pinggir jalan. Di lingkup pendidikan, diadakan berbagai pesantren kilat, tradisi pengisian agenda Ramadan di sekolah-sekolah, serta banyak kegiatan keagamaan lainnya.

    Hawa istimewa bulan ini rupa-rupanya juga tidak luput dari berbagai tayangan di televisi. Tak ayal, dari waktu sahur sampai menjelang tengah malam masyarakat tidak henti-hentinya disuguhkan acara yang didominasi label islami edisi Ramadan. Acara-acara itu di antaranya mencakup hiburan-hiburan menjelang waktu imsak ataupun berbuka puasa, wisata kuliner khas buka puasa, sinetron-sinetron Ramadan, sampai kehidupan artis di hari-hari berpuasanya.

    Pada mulanya nilai-nilai religi yang sengaja disisipkan di berbagai media memang bertujuan ke arah pengembangan penyiaran ajaran agama. Namun seiring berjalannya waktu, tidak bisa kita pungkiri bahwa niat baik fungsi tersebut mengalami beberapa komodifikasi, sehingga lebih berkembang ke arah komersial, terutama memanfaatkan momentum bulan yang dianggap suci ini. Kini bukan lagi agama yang mencari jalan dan sarana untuk disampaikan ajarannya, namun justru berbagai media yang mencari-cari unsur agama untuk mendomplang keuntungan tertentu.

    Dalam bukunya yang berjudul The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal, Vincent Mosco (1996) menyebutkan konsep komodifikasi sebagai proses transformasi nilai guna menjadi nilai tukar. Bila dikaitkan dengan isu-isu keagamaan secara lebih sederhana, komodifikasi menjelaskan bagaimana berbagai hal bernuansa religi seperti dakwah dan lain-lain diproduksi untuk akhirnya disulap menjadi berbagai program televisi yang menjadi bahan jualan para pengusaha media.

    Mosco (1996) membagi tiga macam komodifikasi dalam industri komunikasi, yaitu komodifikasi konten, komodifikasi audiens, dan komodifikasi buruh. Komodifikasi konten menjelaskan bagaimana transformasi pesan dikemas dalam produk komersial, komodifikasi audiens melihat penonton sebagai komoditas utama penghasil rating, sementara komodifikasi buruh terkait dengan melihat berbagai profesi sebagai komoditas dalam proses konsepsi, imajinasi, dan perancangan produk komunikasi.

    Pendangkalan Konten, Kebiri Makna Religi
    Tujuan utama penyertaan hal-hal keagamaan di layar kaca saat bulan Ramadan mungkin saja memanfaatkan momentum untuk secara kolektif mengejar pahala dengan berdakwah. Pada kenyataannya, tak jarang simbol-simbol religi ini hanya sekadar diselipkan untuk mengikuti suasana keagamaan di tengah masyarakat yang sedang bereuforia.

    Di bulan Ramadan khususnya, masyarakat muslim menjadi sasaran para pengusaha media untuk menikmati tayangan berbau islam. Memerhatikan pasar targetnya ini, pesan agama yang diproduksi dalam bentuk berbagai tayangan televisi menggunakan bahasa dan simbol-simbol yang dianggap mudah dimengerti. Akhirnya pengemasan pun terbatas pada isu-isu populer yang menjadi konsumsi keseharian masyarakat.

    Pada berbagai sinetron Ramadan, kisah terbatas pada problema keluarga dan romantisme, meski dengan sentuhan agama. Akhirnya tayangan drama semacam ini hanya mengalami standardisasi konten dengan sinetron-sinetron yang sebelumnya telah sukses di Indonesia. Kisah-kisahnya berkisar antara percintaan, perebutan warisan, anak yang ditukar, dan sebagainya. Yang berbeda hanya dominasi para aktor yang memakai pakaian muslim ‘kekinian’.

     Sebenarnya tidak hanya di bulan Ramadan, komodifikasi agama tak jarang juga terjadi dalam sinetron-sinetron secara umum dan menciptakan logika yang salah. Pernahkah kita saksikan adegan di mana salah satu tokoh protagonis yang dalam keadaan tertekan menjalankan ibadat dan menangis tersedu-sedu sambil menengadakan tangannya ke atas seraya berkali-kali menyebut nama Tuhannya? Kemudian, bam! Di akhir musim tayangan, tokoh tersebut mendapatkan apa yang ia inginkan. Kisah semacam ini menuntun penontonnya berpikir seolah kesusahan dapat diatasi hanya dengan berdoa, tanpa perlu usaha lain. Ada pula sinetron yang sudah tayang sebelum bulan Ramadan, namun ketika memasuki bulan suci tersebut mendadak melekatkan berbagai elemen keagamaan.

    Tak hanya sinetron, berbagai jenis tayangan lain yang mendadak Islam juga menghiasi layar kaca selama bulan Ramadan. Sebut saja Opera Van Java di stasiun televisi Trans7 yang pada bulan Ramadan di tahun 2009 mengeluarkan duplikat tayangan di jam sahur, yang diberikan nama Opera Van Java Sahur. Tayangan ini terus diproduksi di tahun-tahun berikutnya dan sempat berganti nama menjadi OVJ Sahurnya Indonesia pada tahun 2012. Tak jarang tayang pula acara berkonsep ‘ngabuburit’ dan wisata kuliner untuk menu berbuka puasa, yang dipandu oleh para selebriti yang sedang naik daun.

    Meski melekatkan simbol-simbol religi, pesan yang disampaikan berbagai tayangan Ramadan cenderung banal. Hukum dan perspektif keagamaan justru tak terlalu nampak. Tayangan hiburan pada jam sahur dan berbuka puasa umumnya hanya berisi banyolan tanpa amanat religius berarti. Komersialisasi terasa dengan hadirnya berbagai merek yang menjadi sponsor kuis-kuis berhadiah yang diselipkan di acara-acara tersebut. Bahkan untuk acara-acara ceramah sendiri, di mana kekhasan pendakwah menjadi nilai tambah, penyampaian pesan religi tak jarang disampaikan terlalu ringan dan menyelipkan lebih banyak candaan dibandingkan isu keagamaan yang semestinya dibahas.

    Audiens dan Jualan Spot Iklan
    Selain konten, komodifikasi audiens juga terjadi karena adanya persaingan di antara tayangan-tayangan yang ada di televisi dalam merebut perhatian pemirsa. Penonton dilihat sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Setiap acara akan berusaha mendapatkan rating setinggi-tingginya untuk kemudian dijual lagi kepada pihak yang ingin mengiklankan produknya melalui Television Commercial (TVC).

    Semakin tinggi rating suatu acara, maka akan semakin mahal harga pemasangan iklan di sela-sela acara tersebut. Hal ini dikarenakan para pengiklan memperkirakan bahwa TVC yang mereka pasang di acara dengan rating tinggi juga akan memiliki peluang yang lebih besar untuk diingat para pemirsa televisi, sehingga peminatnya pun banyak. Rating selanjutnya juga menjadi alat ukur apakah program akan dilanjutkan atau tidak (Meehan dalam Mosco, 1996).

    Hubungan antara media, pengiklan, dengan audiens semestinya logis dan saling menguntungkan. Namun terjadinya komodifikasi menjadikan hubungan trikonomi ini tidak berjalan semestinya. Relasi ketiganya menempatkan media dan pengiklan di tempat yang lebih tinggi. Sementara media dan pengiklan mendapatkan keuntungan, audiens meski mendapatkan informasi dan hiburan, tidak keseluruhannya bermanfaat.

    Profesi Lampaui Fungsi
    Pada berbagai tayangan Ramadan, komodifikasi buruh menjadi hal yang paling sering terjadi di antara komodifikasi lainnya. Salah satunya pada tayangan sinetron.

    Bukan hal yang asing lagi apabila kita melihat ada beberapa figur publik yang profesi pokoknya bukan sebagai aktor tiba-tiba muncul di berbagai sinetron. Dalam sinetron religi, ustaz-ustaz yang profesi utamanya menjadi pendakwah malahan melakoni suatu peran yang memaksanya untuk ikut syuting berkali-kali. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya keterusan menjadi selebriti. Hal sebaliknya juga terjadi. Dalam aktingnya, banyak artis yang kebagian lakon sebagai ustaz/ustazah padahal mereka bukan merupakan orang yang terlalu mengerti ilmu agama.

    Tidak hanya ditambah tugasnya sebagai selebriti, di berbagai tayangan televisi selama bulan Ramadan profesi ustaz juga digunakan sebagai alat pemasaran lewat penampilannya. Komersialisasi tidak hanya dilakukan lewat pemberian hadiah berbagai kuis saat sahur, namun juga simbol para pendakwah yang dikomoditaskan. Di layar kaca, busana ustaz/ustazah pun tak luput menjadi sponsor berbagai tayangan.

     

    Hampir setiap tayangan religi di bulan Ramadan menjalankan komodifikasi yang sama. Dari mulai konten, audiens, terlebih lagi pada buruh. Itulah sebabnya kemudian terjadi standardisasi pada ketiganya. Terjadinya komodifikasi-komodifikasi telah mengakibatkan banyak perubahan fungsi dari satu hal kepada hal lain yang lebih komersial. Berbagai hal diproduksi dengan tujuan memperoleh keuntungan pada pelaksanaannya.

    Islam, sebagai agama paling mendominasi di Indonesia, telah mengalami politisasi lewat berbagai konten media, televisi salah satunya. Tujuan utama penyebaran dakwah dan ajaran positif agama melalui media terkikis oleh improvisasi konten yang ditujukan mendatangkan keuntungan. Alhasil, setiap tayangan hanya menambahkan embel-embel Islam tanpa mendalami konten-konten yang sebenarnya esensial.

    *)Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Mosco, Vincent. The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal. London: Sage Publications, 1996.