Syekh Yusuf Al Makassari; Pejuang Agama, Pahlawan Dua Bangsa

  • Syekh Yusuf al-Makassari. Ist
    Syekh Yusuf al-Makassari. Ist

    JAKARTA- Tak banyak orang yang jasanya diakui oleh beragam suku bangsa. Apalagi sampai suku bangsa-suku bangsa tersebut merasa ‘memiliki’ dan memberinya gelar pahlawan nasional.

    Hal inilah yang terjadi pada diri Tuanta’ Salama’ ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni alias Syeikh Yusuf Al Makassari. Putera asli Makassar, Sulawesi Selatan ini mendapat gelar Pahlawan dari Indonesia dan Asia Selatan.

    Seperti yang disampaikan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma saat bertemu Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta, awal tahun 2017 ini. Saat itu Zuma mengatakan, gelar pahlawan diberikan kepada Syekh Yusuf karena ia ikut berjuang bersama masyarakat Afrika Selatan.

    Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela bahkan menyebut Syekh Yusuf sebagai 'Salah Seorang Putra Afrika Terbaik'. Sementara Indonesia, tanah kelahiranya sendiri menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf pada Agustus 1995.

    Pada zamannya (abad ke 17), Syekh Yusuf dikenal hingga empat negeri, yakni Makkah (Saudi Arabia), Banten dan Sulawesi Selatan (Indonesia), Ceylon (Srilangka) dan Capetown (Afrika Selatan).

    Ia disebut-sebut sebagai peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Afrika Selatan dan Ceylon. Di Afrika Selatan, ia pun dianggap Bapak Bangsa rakyat Afrika Selatan, karena perjuangannya mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan warna kulit.

    Menurut Lontara warisan kerajaan kembar Gowa dan Tallo, masa kelahiran Syekh Yusuf adalah pada 3 Juli 1628 M, bertepatan dengan 8 Syawal 1036 H. Penetapan tanggal tersebut telah menjadi riwayat tradisi lisan masyarakat di Sulawesi Selatan, sehingga sudah menjadi kesepakatan untuk semua kajian tentangnya.

    Jika merunut sejarah, Syekh Yusuf lahir setelah dua puluh tahun pengislaman kerajaan Gowa dan Tallo oleh seorang ulama dari Minangkabau, Sumatera Barat, yaitu Abdul Makmur Khatib Tunggal yang digelari dengan Datuk ri Bandang.

    Dalam “Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa”, dinyatakan dengan jelas ayahnya bernama Gallarang Moncongloe, saudara seibu dengan Raja Gowa Sultan Alauddin Imanga‘rang’ Daeng Marabbia, Raja Gowa yang paling awal masuk Islam dan menetapkannya sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1603 M.

    Sedang ibunya bernama Aminah binti Dampang Ko’mara, seorang keturunan bangsawan dari Kerajaan Tallo, kerajaan kembar dengan Kerajaan Gowa. Dalam lontara itu dijelaskan nama ayahnya Gallareng Mongcongloe, diberi nama Islam yaitu Abdullah Khaidir.

    Pengembara Ilmu
    Sejak agama Islam menjadi pegangan masyarakat di tanah Bugis, sistem pendidikan awal kepada anak-anak disana adalah menyampaikan ayat-ayat al-Quran melalui cara tradisional dalam pengajaran baca tulis al-Quran. Maka Syekh Yusuf al-Makassari pun tidak lepas dari sistem itu.

    Beliau mendapatkan pendidikan mengenai bacaan al-Quran melalui seorang guru mengaji yang bernama Daeng ri Tasammang. Setelah fasih membaca al-Quran, beliau dibawa oleh orang tuanya ke pondok Pesantren Bontoala untuk menuntut ilmu-ilmu Islam dan ilmu alat, seperti Nahw, Sarf, Balaghah, dan Mantiq.

    Pondok atau pusat pendidikan Bontoala yang didirikan pada tahun 1634, pada masa itu dipimpin oleh seorang ulama yang berasal dari Yaman yang bernama Syed Ba’Alawy bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-Allamah Tahir.

    Setelah beliau menamatkan pelajarannya di pondok pesantren Bontoala, gurunya Syed Ba’ Alawy menyarankan kepadanya agar terus melanjutkan pengajian di pondok Cikoang, pondok pesantren ini cukup maju dan terkenal dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh gurunya, yaitu Syekh Jalaluddin al-Aidid, seorang ulama dari Aceh yang mengembara ke tanah Bugis.

    Karena kecerdasan otaknya dalam mengikuti pengajian, akhirnya ia disarankan oleh gurunya untuk meneruskan pelajarannya di Jazirah Arab. Pada tanggal 22 September 1644 M, beliau berangkat dengan menumpang kapal dengan tujuan menuntut ilmu-ilmu Islam di Jazirah Arabia terutama di Mekah dan Madinah sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu.

    Dalam perjalanannya ia transit di Banten, Jawa Barat, tepatnya di pusat bandara kesultanan Banten. Dalam persinggahan inilah ia berkenalan dengan ulama dan tokoh agama serta orang-orang besar di Banten, termasuk Abdul Fattah (putra mahkota), anak Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), Sultan kerajaan Banten pada masa itu.

    Setelah beberapa lama berada di Banten, kemudian beliau meneruskan perjalanannya ke Aceh Darussalam sebelum melanjutkan perjalanannya ke Jazirah Arabia. Di Aceh ia berkenalan dengan seorang tokoh ulama dan pemimpin serta khalifah “Tariqah al-Qadiriyyah” di Aceh, yaitu Syekh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniriy. Ia menerima ijazah tarekat Qadariyah, seperti yang ditulis olehnya dalam risalah “Safinat an-Naja”

    Syekh Yusuf al-Makassari menghabiskan waktunya selama transit di Banten dan di Aceh lebih kurang lima tahun. Sehingga diperkirakan ia berangkat ke Jazirah Arabia pada pertengahan tahun 1649 M.

    Perjalanan beliau selanjutnya adalah menuju Yaman. Di Hadramaut (Yaman) beliau berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugrahi ijasah tarekat Naqsabandiah.

    Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Bandara al-Zubaid dan berguru pada Syed Ali al-Zubaidiy (w.1084). Gurunya yang kedua ini adalah seorang muhaddits dan tokoh sufi, dan beliau lebih dikenal sebagai ulama Ahl al-Sunnah  wa al-Jamâ’ah di negeri Yaman pada zamannya. Dari gurunya ini, Syekh Yusuf menerima ijazah tarekat al-Baalawiyah.

    Setelah musim haji, ia ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah untut menuntut ilmu. Di Madinah, ia menjumpai Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani yang merupakan guru Syekh Abdurrauf Singkel. Dari syekh ini, ia diberi ijasah tarekat Syattariyah.

    Selanjutnya, ia ke Madinah dan beliau berguru pada Syekh Ahmad Qusysyiy (w.1661), Mullah Ibrahim al-Kawraniy (w.1690) dan Hassan al-Ajamiy (w.1701). Tiga ulama inilah yang amat masyhur ketika itu di Madinah dan menjadi tumpuan para penuntut untuk berguru, terutama yang berasal dari kepulauan Nusantara.

    Selepas mengikuti pengajian di Madinah dan mendapatkan penghargaan dari guru-gurunya, ia meneruskan pengembaraannya ke negeri Syam (Damshiq). Di sana ia berguru dengan ulama Sufi serta pakar hadits yang amat masyhur di zamannya, yaitu Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwatiy al-Qurashiy.

    Sang guru memberi ijasah tarekat Khalwatiyah, dan mengukuhkannya dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah. Dalam Risalah Syekh Yusuf Safinat an-Naja, selain lima tarekat tadi, ia juga mempelajari tarekat Dasuqiyah, Syadziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, Makhduniyah dan lain-lain.

    Untuk melengkapi pengalamannya, beliau melanjutkan perjalanan ke Istambul (Turki) untuk kemudian kembali ke Mekah dan tinggal beberapa lama di sana. Pada masa inilah ia juga mengajar pelajar-pelajar yang berasal dari Nusantara dan memberi pengajian umum di masjid al-Haram pada musim haji kepada jamaah haji, terutama mereka yang berasal dari tanah Bugis (Sulawesi Selatan).

    Di antara murid-murid beliau yang mendapat kepercayaan mengajarkan ilmu-ilmu yang diterimanya di Mekah ialah Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuang Rappang), Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng. Mereka inilah yang menghidup suburkan tarekat Khalwatiyyah Syekh Yusuf di tanah Bugis.

     

    Plang informasi di Makam Syekh Yusuf al-Makassari di Kabupaten Gowa. Ist

     

    Diasingkan dan Dibuang
    Pelbagai jenis aliran tarekat yang pernah dipelajarinya membuktikan Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam. Betapa tidak, ia jelajahi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu tasawuf, di Timur Tengah sekitar 15 tahun, dan berkenalan dengan berguru pada syekh termasyhur di zamannya.

    Sekembalinya dari Makkah, Syekh Yusuf berdiam diri di Banten dan menikah dengan seorang bangsawan puteri Sultan Banten Tirtayasa. Selama berada di Banten sekitar 20 tahun, Syekh Yusuf diangkat sebagai mufti kerajaan, guru bagi Sultan dan keluarganya, serta syeikh tarikat bagi penduduk. Ia mengajar selama 18 tahun.

    Dari segi ketokohannya, ia bukan hanya ulama syariat, tapi juga sufi, pemimpin tarikat, pengarang, pejuang, dan musuh besar penjajah Belanda. Ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Banten dengan kompeni Belanda, misalnya, Syekh Yusuf berpihak pada Sultan Ageng Tirtayasa.

    Saat Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap Belanda, Syekh Yusuf menggantikannya, ia memimpin pasukan dengan gagah berani, bergerilya melawan kompeni di hutan rimba Jawa Barat hampir dua tahun lamanya.

    Perlawanan Syekh Yusuf bersama Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan kompeni, diuraikan F. de Haan dalam bukunya “Priangan Jilid III”. Ia menceritakan tentang pengepungan dan pengejaran laskar-laskar Banten, termasuk Syekh Yusuf saat melakukan taktik perang gerilya.

    Disebutkan, pada bulan Januari 1683, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Kidul mengadakan perang gerilya di daerah Tangerang. Dari Tangerang kemudian ke Cimuncang, lalu ke Jasinga dan terus menyusuri Sungai Cidurian.

    Dari daerah Jasinga, Syekh Yusuf menuju ke arah timur, tepatnya Jakarta Selatan untuk tujuan ke Cirebon. Pada tanggal 11 Februari 1683, Syekh Yusuf bersama Pangeran Kidul dan pasukannya menuju Cikaniki, hingga tak terkejar oleh kompeni karena rintangan alam.

    Dari daerah Cikaniki, Syekh Yusuf menuju Cianten lewat Cisarua dengan membawa pasukan kurang lebih 5.000 orang, termasuk 1.000 orang Makassar, Bugis dan Melayu. Pada tanggal 25 September 1683 di Padaherang, istri serta puteri Syekh Yusuf ditangkap kompeni, sedangkan Pangeran Kidul beserta pembesar Banten lainnya gugur di medan peperangan.

    Menyusul putrinya yang bernama Asma ditangkap. Akhirnya pada tanggal 14 Desember, setelah Syekh Yusuf membuat pertahanan di daerah Mandala, Van Happel dengan berpakaian Islam menggunakan putri Syekh Yusuf yang dijadikan tawanan sebagai siasat.

    Atas desakan Van Happel, putrinya diminta untuk membujuk Syekh Yusuf agar keluar dari persembunyiannya. Alhasil, Syeikh Yusuf menebus putrinya dengan menunjukkan batang hidungnya.

    Saat itu pula Van Happel menangkap Syekh Yusuf untuk segera dibawa ke Cirebon, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Betawi (Jakarta). Sementara itu pasukannya yang terdiri dari orang-orang Makassar dan Bugis dikembalikan ke Sulawesi.

    Pada tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon (Srilangka). Selama pengasingannya di Ceylon, ia isi waktunya dengan menulis karangan-karangannya yang dikirim melalui jamaah haji ke Indonesia.

    Ia juga mengajar tarekat Khalwatiyah. Kini, murid-muridnya tersebar mulai dari Banten, Sulawesi Selatan, Caylon, hingga Cape Town. Sayangnya, tak banyak riwayat hidup Syekh Yusuf yang terungkap ketika berada di Ceylon.

    Kampung Macassar
    Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India Syekh Ibrahim ibn Mi'an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

    Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, ke Cape Town pada 7 Juli 1694, bersama 49 orang pengikutnya. Di sana pula, Syekh Yusuf menghabiskan waktunya dengan menulis.

    Riwayat hidup Syekh Yusuf di Cape Town (Afrika Selatan) mulai diceritakan oleh I.D du Plessis dalam bukunya Die Bydrae van die Kaapse Maleier tot die Afrikaanse Volkslied tahun 1935. Di buku itu disebutkan, Syekh Yusuf adalah peletak dasar dari keberadaan Islam di Afrika Selatan.

    Bagi warga Cape Town, ia tidak hanya diakui sebagai ulama, namun juga pejuang bagi rakyat Afrika Selatan. Daerah tempat tinggal Syekh Yusuf di Cape Town diberi nama sebagai kawasan Macassar untuk menghormati tempat asalnya.

    Diantara pemikirannya soal tasawufnya tidak menjauhkan dari masalah-masalah keduniawian. Ajaran dan amalan-amalannya menunjukan aktivitas yang berjangkauan luas.

    Konsep Utama Tasawuf Syekh Yusuf Al-makassari adalah pemurnian kepercayaan (aqidah) pada keesaan Tuhan. Ini merupakan usahanya dalam menjelaskan transendensi Tuhan atas ciphtaan-Nya. Ciri yang menonjol dari teologi al-Makassari mengenai keesaan Tuhan adalah usahannya untuk mendamaikan sifat-sifat Tuhan yang tampaknya saling bertentangan.

    Sejak pengasingannya dipindahkan dari Ceylon ke Afrika Selatan, ketika itu pula penguasa kompeni Belanda berusaha mengikis habis pengaruh Syekh Yusuf di Makassar dan Banten. Berbagai cara dilakukan untuk memalingkan perhatian rakyat, terutama bekas anak buahnya di Priangan dan yang dikembalikan ke Sulawesi setelah Syekh Yusuf ditangkap.

    Ketika murid-murid tarekat Yusuf amat menghormati gurunya itu, penguasa kompeni mulai melancarkan siasahnya dengan mengaburkan ide perjuangan Syekh Yusuf, bahkan namanya diedarkan di kalangan rakyat dengan segala macam cerita kegaiban, dibungkus dengan berbagai paham-paham mistis, seolah-olah kegigihan Syekh Yusuf melawan kompeni tak pernah ada.

    Belanda menggunakan taktik untuk menekan pergolakan dan permusuhan terhadap kompeni atas pengaruh sebuah nama. Oleh pembawa kisah, Syekh Yusuf digambarkan sebagai sosok yang memiliki kesaktian mampu terbang melayang dan berjalan di atas lautan.

    Pemerintah kolonial sengaja membesar-besarkan berbagai dongeng tanpa dasar. Syekh Yusuf diredusir kebesaran pribadinya yang sejati.

    Kedalaman ilmunya sebagai ulama dan kepemimpinan anti-kolonialnya yang gagah berani, diperkecil sehingga cukuplah semata-mata menjadi tokoh keramat yang kabur sosok teladannya. Padahal seorang Nelson Mandela pernah menyebut tokoh besar ini sebagai putera Afrika, pejuang teladan.

     

    Situs yang dipercaya sebagai makam Syekh Yusuf al-Makassari di Cape Town. Ist

     

    Syekh Yusuf wafat 23 Mei 1699 wafat di desa Maccasar, 40 km dari Cape Town dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan dibukit desa yang terletak di Teluk False. Masyarakat setempat menyebutnya makam Tuanta Salamuka.

    Ada pula yang menyebutnya Tuan Karamat. Setelah dibangun kubah, masyarakat menyebutnya Kobangga. Karena desakan keluarga, maka 6 tahun kemudian VOC membawa keranda beliau menyeberangi samudera lalu dimakamkan di kampung halamannya di Lakiung.

    Setelah disemayamkan di Istana Raja Gowa selama sehari semalam untuk memberi kesempatan kepada sanak keluarganya mengucapkan doa perpisahan terakhir, keesokan harinya, Syekh Yusuf dimakamkan di Lakiung pada hari Selasa, 6 April 1705 dengan upacara kebesaran kaum bangsawan.

    Pada 2009, Syekh Yusuf mendapatkan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan ini diberikan atas jasa besarnya dan menjadi inspirasi warga.

    Presiden Afrika Selatan kala itu, Thabo Mbeki, menyerahkan penghargaan langsung kepada tiga ahli warisnya, di antaranya Andi Makmun dan Syachib Sulton. Wapres Jusuf Kalla pun menyaksikan langsung prosesi penyerahan penghargaan ini, di Union Building, Pretoria, Afrika Utara. (Faisal Rachman, dituliskan kembali dari beragam sumber)