Suster Virgula, Kasih Bagi Penderita Kusta

  • Sr Virgula Schmitt SSpS. Istimewa
    Sr Virgula Schmitt SSpS. Istimewa

    JAKARTA – Kusta atau lepra tak ubahnya momok mengerikan. Betapa tidak, dari yang awal mula hanya berupa bercak putih mati rasa, lantas berkembang menjadi luka bernanah membusuk. Kelemahan otot penderita juga bisa menyebabkan kelumpuhan, terutama otot kaki dan tangan.

    Mata penderita kusta pun mengering dan jarang mengedip sehingga bisa menyebabkan kebutaan. Tak jarang penderita kusta kehilangan jari jemarinya.

    Ketua Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia, Hariadi Wibisono, menjelaskan mati rasa sama sekali (anestesi) maupun kurang rasa (hipoestesi) adalah ciri khas mendasar dari kusta. Ini sebabnya, penderita kusta tak merasakan sakit meskipun jemarinya putus.

    Hariadi menambahkan, penyakit kusta terdiri dari dua jenis, yaitu kusta kering atau pausi basiler (PB) dan kusta basah atau multi basiler (MB). Gejala bercak putih seperti panu biasanya merupakan ciri umum gejala kusta kering. Sedangkan gejala kusta basah lebih mirip kadas, yakni bercak kemerahan dan disertai penebalan pada kulit.

    Fisik penuh luka penderita kusta tak hanya membuat orang memalingkan muka. Di masa pengobatan kusta belum dikenal secara luas, penderita kusta kerap dibuang dan diasingkan bahkan oleh keluarganya sendiri. Kengerian pada angota tubuh yang terputus dan kekhawatiran penularan penyakit yang satu ini menjadi alasan keluarga untuk mengabaikan sanak saudaranya yang menderita.

    Tak cukup hanya menghukum si sakit dengan mengasingkannya, tudingan tengah terkena azab yang Mahakuasa pun kerap dialamatkan pada penderita kusta.

    Praktik penelantaran penderita kusta ini mengawali kisah pelayanan seorang biarawati Katolik asal Jerman, Sr. Virgula Schmitt SSpS di Cancar, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 1965-an lalu.

    Kisah ini bermula saat seorang penderita kusta yang diasingkan oleh keluarganya di sebuah lahan bekas kebun. Tradisi yang berkembang di Manggarai saat itu menyebutkan kusta sebagai kutukan karena itu penderita kusta dianggap sebagai aib yang sangat memalukan.  Si penderita kusta ini pun sudah diasingkan selama lima belas tahun.

    “Menurut sanak familinya, ia mengidap penyakit kulit bernanah yang sangat parah. Penyakit itu selain menyebabkan sekujur tubuhnya berbau busuk juga dikuatirkan akan menular. Karena itu ia ‘dibuang’ ke hutan (bekas kebun),” demikian kutipan Suster Virgula mengenai awal persinggungan hidupnya dengan penderita kusta dalam buku Ziarah Pembebasan – Mengenang 50 Tahun Pusat Rehabilitasi Kusta-Cacat St Damian (2016).

    Menurut Virgula, kala itu keluarga si penderita kusta hanya memberi makan dari jarak jauh. Sebuah bambu panjang digunakan untuk mengulurkan periuk berisi makanan. Dengan begitu, keluarga tak perlu bersinggungan dekat dengan penderita.

    Suatu hari, penderita kusta itu ditemukan oleh seorang misionaris Fransiskan, sebuah Ordo di Katolik, yang tengah melewati lokasi itu. Melihat kondisi yang mengibakan, sang pastor yang tak sampai hati lantas membawa si penderita kusta ke poliklinik St. Rafael Cancar, tempat Virgula bekerja.

    “Saat pastor itu membawa pasien itu ke hadapan saya, saya kaget dan tertegun tubuhnya penuh luka dan rambutnya panjang tak terurus,” ungkap Virgula pada sebuah wawancara dengan Floresa.co.

    Virgula mengaku tak tahu harus berbuat apa dengan penderita kusta itu. Namun, belas kasihan mendorongnya untuk menerima si penderita dan merawatnya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

    Sebuah rumah bambu lantas didirikan untuk menampung pasien kusta dan mengobatinya. Rumah bambu inilah cikal bakal Pusat Rehabilitasi Kusta-Cacat St Damian di Cancar, ibu kota Kecamatan Ruteng, Manggarai.

    Meski tampak kebetulan, sesungguhnya panggilan untuk mengabdikan diri pada para penderita kusta sudah muncul pada diri Virgula sejak masih muda. Bahkan, sebelum ia mengucapkan kaulnya menjadi biarawati.

    Disebutkan Virgula muda kerap dihadapkan dengan bayangan penderita kusta. Namun, ia tak menyadari hal itu bakal menjadi ladang pengabdiannya kelak. Setelah ia masuk Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus (SSpS) dan dikirim bertugas di Manggarai, barulah ia sadar akan panggilan tersebut.

    Perempuan kelahiran 3 September 1929 itu memutuskan bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster Abdi Roh Kudus pada usia 28 tahun. Delapan tahun kemudian, tepatnya tahun 1965, Virgula diutus untuk menjalankan misi di Indonesia, tepatnya di Manggarai, Flores.

     

    Sr Virgula Schmitt SSpS, perintis Panti Pusat Rehabilitasi Kaum Difabel dan Kusta St Damian. (floresa.co)

     

    Jalan Terjal
    Menyembuhkan penyakit kusta bukanlah hasil akhir yang ingin dicapai oleh Virgula. Pembekalan ketrampilan agar mantan penderita kusta hidup mandiri menjadi tujuan berikutnya. Karena itu, pusat rehabilitasi St Damian pun memberikan pelatihan-pelatihan ketrampilan. Dengan begitu, para penyandang disabilitas dan mantan penderita kusta itu mampu membantu dirinya sendiri.

    “Saya tidak mau orang-orang kusta dan yang difabel menjadi pengemis atau bergantung pada orang lain,” tegas Mama Lula, begitu ia kerap disapa.

    Upaya membangun kegembiraan dan optimisme dalam diri penderita kusta dan penyandang disabilitas dilakukan Virgula. Salah satu caranya adalah meminta setiap orang untuk berpartisipasi saat acara rekreasi digelar.

    “Setiap orang diharap bisa menyumbangkan acara, apa pun bentuknya. Dengan demikian, setiap orang bisa berbuat sesuatu untuk menggembirakan orang lain, walaupun hanya dengan ‘meraung’ sambil tetap berbaring di kereta,” ujarnya.

    Rekreasi ini dianggap penting oleh Virgula sebagai bagian dari terapi. Karena itu, ia pernah membawa seluruh pasien untuk menyaksikan sirkus yang digelar di Ruteng.

    Mengabdikan diri di lahan yang sulit, sudah terbayangkan putri bungsu pasangan Yoseph Schmitt dan Ana ini seringkali melewati jalur terjal. Tak hanya kendala bahasa di awal masa tugasnya dan kondisi yang serba minim fasilitas dan dana. Penolakan kerap ia alami.

    Penolakan berdatangan, baik dari masyarakat maupun dari pejabat pemerintah yang berpandangan penyakit kusta adalah kutukan dan mematikan, karena itu harus disingkirkan. Penolakan juga datang dari para pasien yang ia rawat. Berbagai cemoohan yang dilontarkan kepada para penderita kusta membuat mereka menolak rangkulan biarawati kelahiran Jerman ini.

    Namun, Mama Lula pun tak patah arang menghadapi penolakan yang datang dari segala penjuru ini. Upaya penyadaran pun terus ia lakukan baik di lingkungan masyarakat maupun gereja. Salah satunya adalah usai misa di gereja, Virgula akan naik ke mimbar dan berbicara mengenai kusta. Ia berulang kali meyakinkan bahwa penyakit kusta tidak akan menular karena para pasien diberi obat secara teratur.

    Tak hanya menunggu pasien kusta dibawa ke St Damian, Virgula kerap berkunjung dari kampung ke kampung mengendarai kuda. Lewat kunjungannya, ia mencari orang-orang yang ditengarai mengidap kusta.

    Lewat kunjungannya, ia juga menyebarkan pesan agar penderita kusta tak diasingkan. Menurutnya, justru orang-orang yang menolak kehadiran penderita kusta yang tak berada dalam kondisi sehat dan perlu disembuhkan.

    “Semua orang kusta dan cacat adalah milik Tuhan. Kita harus berjuang bersama mereka untuk memperoleh haknya untuk hidup secara layak,” begitu kerap Virgula berpesan.

    Kesadaran masyarakat pun lambat laun terbentuk. Anggapan kusta sebagai jurak atau penyakit kutukan pun berkurang.

    Kepercayaan masyarakat pada Mama Lula, demikian ia kerap disapa, pun semakin bertumbuh. Tak hanya penderita kusta, banyak penyandang disabilitas dibawa ke St Damian. Virgula pun bahkan membuka klinik serupa di Binongko, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Klinik rehabilitasi disabilitas dan kusta di Binongko juga diberi nama yang sama dengan yang ada di Ruteng, St Damian.

     

    Pusat Rehabilitasi Kaum Difabel dan Kusta St Damian dan Rumah Sakit St Rafael – keduanya terletak di Cancar, ibukota Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. (ossaainc.org.au)

     

    Karya Tuhan
    Kekuatan Virgula menghadapi beratnya medan pelayanan diakui bersumber dari doa dan kepasrahannya pada Sang Khalik yang mengirimkannya ke Ruteng. Ia pun beranggapan apa yang ia lakukan merupakan karya Tuhan.

    “Saya bukanlah orang hebat atau orang pintar yang layak dibukukan. Saya melaksanakan apa yang Tuhan mau,” katanya.

    Karena itu, setiap hari ia mengawali hari dengan doa untuk mohon petunjuk apa yang harus ia lakukan hari itu. Juga kekuatan untuk melaksanakan.

    “Jadi, kalau Tuhan mau, kita tidak mampu menolaknya. Saya tidak merasa cemas atau takut sedikitpun, karena saya yakin Tuhan ada bersama saya. Saya yakin dan alami sendiri bahwa Tuhan tidak mungkin melepas kita,” katanya perihal mujizat demi muzijat ia rasakan dalam menjalankan pekerjaannya.

    Pandangan hidup ini membuat Virgula yakin, ia tidak berkekurangan di tengah keterbatasan yang ada. Keterbatasan itu justru menjadi ajang baginya untuk menjadi kreatif mengolah sumber daya yang ada. Salah satunya adalah memakai bambu sebagai alat terapi untuk meluruskan kaki dan punggung, di tengah ketiadaan gips.

    “Fasilitas sederhana kami tetap pakai untuk membantu orang-orang sakit dan difabel. Dan berhasil,” kata Virgula.

    Tak hanya bambu sebagai pengganti gips. Air hujan yang disaring pun digunakan sebagai penganti infus.

    Sikap mandiri dan kreatif ini juga muncul saat pemerintah Indonesia melarang bantuan dari Eropa yang selama ini menjadi tulang punggung pelayanan Virgula. St Damian lantas mengontrak lahan pertanian dan menanam berbagai bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

    “Usahakan supaya Lembaga St Damian ini bisa mandiri. Tuhan membantu kita,” begitu pesannya kepada para penerusnya.

    Sikap tegas mengenai kemandirian dan kreatifitasnya ini berakar dari ajaran orang tuanya. 

    “Walau serba kekurangan, satu prinsip yang saya dapatkan dari ibu saya adalah tidak boleh berutang, hiduplah dari kekurangan dengan penuh rasa syukur,” ujar satu-satunya anak perempuan dari sepuluh bersaudara ini.

    Prinsip yang ditanamkan ibunya itu pun ia terapkan dalam pengelolaan baik pusat rehabilitasi kusta dan penyandang disabilitas, maupun panti asuhan yang ia dirikan kemudian. Ia mengajarkan pada para stafnya untuk menikmati yang ada, pada saat yang sama menjaga kejujuran dan kepercayaan orang-orang yang mengulurkan tangan memberikan bantuan. Laporan penggunaan dana lengkap dengan kuitansinya wajib disusun.

    Kini, Mama Lula menghabiskan masa tuanya di Belanda. Pilihan yang ia buat ini bukan lantaran ia tak mencintai St Damian dan segala hal yang telah ia bangun. Keinginan untuk tak merepotkan orang lain di masa tuanya lebih kuat ketimbang keinginannya untuk tetap tinggal di Ruteng. Karena alasan usia dan kesehatan, pada tahun 2014, ia kembali ke biara induk SSpS di Steyl, Belanda, tempat ia menetap hingga kini.

    Meski tak lagi menghabiskan hari-hari di Ruteng, jejak-jejak Virgula Schmitt selama 43 tahun menyapa para penderita kusta tetap nyata. (Fin Harini)