Surabaya Terapkan Sistem Pendeteksi Kegiatan Teroris

Sistem ini akan mendeteksi kegiatan para pendatang atau warga baru yang tinggal di Surabaya

  • Warga melintas di dekat spanduk penolakan terhadap teroris di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5). Hal tersebut guna menyuarakan sikap masyarakat menolak terorisme radikalisme serta dukungan untuk kepolisian dalam memberantas terorisme. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
    Warga melintas di dekat spanduk penolakan terhadap teroris di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5). Hal tersebut guna menyuarakan sikap masyarakat menolak terorisme radikalisme serta dukungan untuk kepolisian dalam memberantas terorisme. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    SURABAYAPemerintah Kota Surabaya akan menerapkan sistem yang dapat mendeteksi kegiatan terorisme bagi setiap warga pendatang yang menetap secara musiman dengan cara indekos atau mengontrak rumah di perkampungan. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut adanya serangan bom bunuh diri yang terjadi di beberapa wilayah Kota Surabaya tersebut.

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, sistem pendeteksi ini mulai diterapkan pada Kamis (17/5) besok. Risma mengaku tidak mau kebobolan lagi dengan kejadian serupa. Risma memastikan, dari beberapa pengalaman terduga teroris kerap bersembunyi dan beraktivitas di rumah kos atau kontrakan, mulai besok akan diterapkan sistem yang dapat mendeteksi kegiatan mereka.

    "Kami punya alat untuk mendeteksinya. Kita juga telah punya sistem dan peraturan daerah yang mengatur tentang warga pendatang," kata Risma seperti dilansir Antara, Rabu (16/5).

    Sistem dengan alat untuk mendeteksi kegiatan warga pendatang ini, lanjut dia, akan segera disosialisasikan ke setiap Ketua Rukun Wilayah (RW) dan Rukun Tetangga (RT) di seluruh wilayah Kota Surabaya.

    "Saya akan buat surat edaran kepada RT/ RW agar menerapkan sistem yang mendeteksi kegiatan warga pendatang. Nanti akan ada report dan jika ada aktivitas yang mencurigakan biar langsung kami tangani," ujarnya.

    Ciri-ciri Pelaku Bom
    Akhir pekan lalu, serangan teror bom bunuh diri mulai merajalela di Surabaya, Jawa Timur. Dimulai pada Minggu (13/5) pagi, bom meledak di tiga Gereja di kota Pahlawan. Malam harinya, bom meledak di bangunan rumah susun di Sidoarjo. Kemudian pada Senin (14/5), kantor Polwiltabes Surabaya juga tak luput dari serangan keji serupa. Aksi tersebut pun dinyatakan sebagai serangan khas yang dilakukan oleh teroris.

    Sejumlah peringatan dari aparat terkait diumumkan agar masyarakat menghindari sejumlah tempat atau lokasi yang dianggap berpotensi menjadi target ledakan bom. Selain itu polisi juga menghimbau agar masyarakat melaporkan setiap gerak-gerik dari orang yang mencurigakan. Ini semata-mata untuk mencegah serangan bom.

    Nah, belakangan pakar terorisme ternyata berhasil mengumpulkan ciri-ciri umum yang menandai calon pengebom bunuh diri dari pelbagai insiden. Panduan ini kemudian sempat dikompilasi oleh Departemen Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pedoman ini bahkan diterbitkan pada bulan Juli tahun lalu, utamanya untuk anggota PBB yang bekerja di Afrika pasca-serangan bom bunuh diri di Nigeria yang menewaskan 14 orang dan melukai 70 orang.

    Berikut ciri-ciri orang yang akan melakukan bunuh diri versi PBB yang dikutip Ibtimes. Calon pelaku berusia 16-40 tahun, baik perempuan maupun laki-laki atau anak-anak berusia 8 -15 tahun. Bercukur jenggot dan kumis sebelum menjalankan serangan di ruang publik. Bisa berbaur dengan kerumunan, memakai parfum tak biasa yang diyakini sebagai bagian dari ritual persiapan ke surga.

    Lalu, memakai baju ukuran besar dan tas ransel besar kendati dalam cuaca panas, untuk menyembunyikan bom. Calon pelaku bom bunuh diri biasanya berkeringat banyak kendati dalam cuaca dingin, karena tegang.

    Terakhir, pelaku sering berbicara sendiri dan pandangan sangat fokus pada satu titik yang merupakan target serangan. (Benny Silalahi)