MENGULIK POLEMIK PLASTIK

Sulitnya Pindah Ke Lain Hati Dari Plastik

Kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahun

  • lustrasi. Kantong plastik belanja. (www.irishmirror.ie)
    lustrasi. Kantong plastik belanja. (www.irishmirror.ie)

    JAKARTA – Setiap hari, Tini, ibu rumah tangga di kawasan Palmerah, Jakarta Barat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti belanja untuk kebutuhan keluarga. Belanja sayur-mayur, lauk-pauk dan kebutuhan dapur lain. Dia memilih belanja ke tukang sayur keliling yang rajin melewati rumah dia tinggal bersama suami dan anak.

    Setiap belanja Tini tidak pernah membawa tas belanja untuk menaruh barang belanjaan. Meski jarak begitu dekat, Tini lebih memilih menggunakan kantong plastik untuk belanja.

    Berbica kantong plastik, selain dapat dari tukang sayur, dia juga peroleh saat belanja di minimarket. Sepekan, setidaknya dia datang ke minimarket untuk belanja kebutuhan rumah tangga, seperti pasta gigi, sabun mandi, sampo maupun keperluan lain.

    Barang belanja yang dia bawa dari minimarket, dia bawa pulang dalam wadah kantong plastik. Tentu, ukuran kantong plastik yang besar untuk membawa barang belanjaannya. Lagi-lagi, Tini bawa pulang kantong plastik.

    Menurut dia menggunakan kantong plastik adalah hal yang paling praktis dan efisien. Jadi tidak harus repot membawa tas belanja.

    Banyak masyarakat di Indonesia yang tidak bisa lepas dari penggunaan kantong plastik bahkan sudah mulai ketergantungan. Pada umumya plastik digunakan untuk memudahkan membawa barang belanjaan.

    Kantong plastik digunakan untuk macam-macam keperluan, salah satunya bagi pedagang untuk barang yang mereka jajakan. Kantong plastik dinilai lebih efektif untuk wadah pembelian barang dalam jumlah banyak maupun sedikit. Satu hal lagi, harga kantong plastik yang terjangkau.

    Keuntungan lain memakai kantong plastik adalah mudah digunakan dan disimpan. Kantong plastik dengan harga efisien bagi pedagang karena jumlah yang didapat lebih banyak dibanding kantong terbuat dari kertas.

    Konsumen maupun pembeli merasa lebih praktis menggunakan tas berbahan plastik daripada kertas. Tas plastik lebih tahan lama karena tidak mudah sobek dan bermanfaat saat hujan. Selain itu, kantong plastik bekas juga bisa digunakan lagi untuk keperluan yang lain, misalnya untuk melapisi tempat sampah atau menyimpan barang-barang yang tidak digunakan. 

    “Untuk membawa tas belanja suka lupa, awal-awal regulasi bawa tas belanja beberapa kali abis itu tidak membawa lagi. Karena regulasi tentang tidak diperbolehkan menggunakan plastik itu kurang efektif apalagi dengan harga 200 perak tidak bikin orang kapok buat belanja menggunakan  plastik,” ujar Wildiya salah satu perantau dari Padang yang kos di Jakarta, Rabu (6/6).

    Alumni sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini menambahkan, apabila pemakaian kantong plastik dilarang, seharusnya pedagang maupun pasar modern tidak menyediakan benda itu. “Kecuali, kantong plastik sudah diubah menjadi kantong plastik yang eco-friendly, larangan itu akan efektif,” lanjut Wildiya.

    Konsumsi Berlebihan
    Konsumsi plastik yang berlebihan dapat menyebabkan perubahan iklim. Proses produksi untuk membuat plastik menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Maka dari itu, berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Plastik bersumber dari minyak bumi, yang tergolong sebagai sumber daya alam tak terbarukan. Konsumsi bahan bakar yang berasal dari fosil terbukti mengakibatkan pencemaran lingkungan. Minyak bumi, karena mengandung gas metana jika dibakar mengakibatkan emisi karbon dan mencemari udara.

    Begitu pula dengan kantong plastik, yang masuk golongan barang sekali pakai. Jika kantong plastik yang dibuang sembarangan bisa menyebabkan tersumbatnya selokan dan badan air, termakan oleh hewan bisa menyebabkan kematian, atau rusaknya ekosistem di sungai dan laut.

    Berdasarkan penelusuran media, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Posisi pertama adalah China yang menghasilkan sembilan juta metrik ton sampah plastik dalam setahun.

    Kantong plastik juga berbahaya bagi manusia karena plastik yang dibakar dapat menyebabkan pencemaran udara dan gangguan pernapasan. Selain itu, kantong plastik yang digunakan sebagai wadah makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia karena racun pada kantong plastik bisa berpindah ke makanan.

    Jika kantong plastik dipakai dalam jumlah banyak, tentu akan membahayakan ekosistem bagi mahluk hidup termasuk manusia. Bayangkan, kantong plastik yang terbuang akan sulit terurai oleh bakteri pengurai di dalam tanah. Penyebabnya, plastik memiliki karbon yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme.

    Kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian. Kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan pun akan terurai lama dan tetap akan menjadi sampah. Terlebih lagi karena sifatnya yang cepat terurai menjadi mikro plastik, akan lebih mudah untuk mencemari lingkungan.

    Sampah Plastik
    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah timbulan sampah plastik diperkirakan sebesar 14% dari total jumlah timbulan harian atau 24.500 ton per hari setara 8,96 juta ton per tahun. Sedangkan jumlah timbulan sampah kantong plastik yang terus meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir.

    Kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahun. Dari jumlah tersebut hampir 95% kantong plastik telah menjadi sampah.

    Salah satu penelitian mengenai laju timbunan sampah kemasan di Bali yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) menemukan, bahwa jumlah sampah plastik yang tidak terkelola sebanyak 92,4 ton/hari dari total timbulan sampah plastik sebesar 267,6 ton/hari.

    Data dari Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, kontribusi sampah plastik berkisar 14%-16% dari total 62 juta ton per tahun. Dari 14% itu, 50% di antaranya adalah sampah plastik. Coba saja tilik ke tempat pembuangan akhir (TPA) sekitar 45%-50% pasti pertama kali terlihat adalah kantong plastik.

    Hal ini menjadi permasalahan untuk sampah plastik. Kalau untuk botol plastik dapat didaur ulang, tetapi hampir tidak pernah terlihat ada botol plastik di TPA. Hal ini dikarenakan sudah diambil dengan pemulung atau belum sampai ke TPA sudah masuk ke daur ulang.

    “Penanganan sampah tidak berubah, masih dibuang ke tempat sampah lalu di bawa ke TPS dan TPA. Sekarang tingkat daur ulang plastik itu hanya 7% dari total sampah plastik yang ada,” ujar Tizza Mafira, Direktur Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, kepadaValidnews, Selasa (5/6).

    Tizza mengatakan, data tersebut dia dapat dari Asosiasi Daur Ulang Indonesia.Jadi, lanjut dia, 93% sampah plastik tidak didaur ulang dan masih ada di TPA.

    Faktanya, sampah berupa kantong plastik ditemukan di banyak tempat. Mulai dari pemukiman, sungai, danau, bahkan hingga ke laut. Tentu, hal tersebut menjadi masalah.

    Dia menambahkan, organisasi yang dia pimpin pernah membuat survei tentang pemanfaatan kantong plastik. Berdasarkan survei tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat punya kepedulian terhadap masalah sampah kantong plastik.

    Berdasarkan survei, mayoritas, atau sekira 87% responden bersedia tidak menggunakan kantong plastik. “Bahkan, mayoritas responden bersedia untuk membatasi penggunaan kantong plastik,” ujar Tizza.

    Selanjutnya, Tizza memaparkan, mayoritas responden bersedia membawa tas sendiri ketimbang memanfaatkan kantong plastik saat berbelanja. “Ada 90% responden mau menggunakan tas belanja sendiri dan 70% responden mau menggunakan tas yang dapat didaur ulang,” imbuh dia.

    Menurut Tizza, secara umum, pandangan masyarakat sudah cukup bagus untuk memahami permasalahan kantong plastik. Tetapi, menurut dia, jika masyarakat sudah memandang positif untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, pertanyaan berikut adalah bagaimana sarana pendukungnya? Baik dari sisi regulasi, penegakan aturan, dan ketersediaan barang pengganti kantong plastik.

    Perlu juga diketahui tentang fakta sampah plastik. Salah satu sampah plastik terbanyak di dunia adalah dalam bentuk sedotan. Diperkirakan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya capai 93.244.847 batang. Kesemuanya berasal dari restoran, minuman kemasan serta sumber yang lain.

    Bila puluhan ribu batang sedotan itu disambung, akan menghasilkan panjang antara Jakarta ke Mexico City. Jika dihitung per minggu, pemakaian sedotan mencapai 117.449 kilometer.

    Apresiasi
    Berbagai upaya menurunkan konsumsi plastik diterapkan pemerintah. Semisal dengan menerapkan kantong plastik berbayar di gerai mini market, sejak 17 Februari 2016 berdasarkan Surat Edaran Dirjen PSLB3 KLHK yang ditandatangani Tuti Hendrawati Mintarsih, Dirjen PSLB3.

    Meski di beberapa daerah, anjuran itu tak berlangsung lama, beberapa daerah menindaklanjuti dengan membuat peraturan daerah setempat.

    Pengganti Tuti Hendrawati sebagai Dirjen PSLB3, Rosa Vivien Ratnawati memberikan apresiasi pada Kotamadya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, karena mengeluarkan kebijakan pengurangan kantong plastik.

    "Pemerintah kota Banjarmasin konsisten selama dua tahun ini melarang penggunaan kantong plastik di gerai modern," ujar Vivien, Jakarta, Selasa (5/6).

    Larangan itu tertuang dalam Peraturan Walikota Banjarmasin Nomor 18 Tahun 2016 yang berlaku sejak 1 Juni 2016 tentang Pengurangan Kantong Plastik. Menurut Vivien, dengan peraturan wali kota itu, perilaku masyarakat telah berubah jika berbelanja di gerai pasar modern.

    "Masyarakat kota Banjarmasin sudah terbiasa untuk tidak meminta kantong plastik saat belanja di gerai pasar modern," ujar Vivien.

    Kota Banjarmasin masih terus memberlakukan pelarangan tersebut, dan perubahan perilaku masyarakat yang sudah mulai menunjukkan hasil. Dalam hal ini masyarakat untuk tidak meminta kantong plastik saat belanja.

    Melalui program ini Pemkot Banjarmasin berhasil mengurangi penggunaan kantong plastik sebesar 51,3 juta lembar per bulan atau setara pengurangan timbulan sampah kantong plastik sebesar 513 ton per bulan atau 16,8% dari total timbulan sampah plastik.

    Menyusul keberhasilan Kota Banjarmasin, tiga bulan setelahnya jatuh pada tanggal 3 April 2018, Pemerintah Kota Balikpapan menertibkan Peraturan Walikota Nomor 8 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan timbunan sampah kantong plastik. 

    Peraturan ini akan memberlakukan pelarangan penggunaan kantong plastik di gerai modern khususnya di Kota Balikpapan.

    Memilah sampah
    Pada 2017 saja Indonesia telah menghasilkan sampah darat seberat 64 juta ton. Sampah ini didominasi oleh kemasan dan peralatan plastik yang berasal dari sampah rumah tangga yang menggunakan produk industri.

    Untuk mengurangi sampah, harus diawali oleh tindakan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dengan cara dipilih dahulu sebelum dimasukkan ke tempat sampah. Perubahan perilaku masyarakat yang mempunyai gaya hidup tanpa plastik sangat diharapkan sudah mulai berkembang.

    Pengurangan kantong plastik juga dapat dimulai dengan mengganti kantong plastik dengan kantong belanja. Kantong tersebut dapat digunakan berulang kali jadi sudah tidak menggunakan plastik sekali pakai.

    Wildiya punya pengalaman. “Hampir setiap belanja pakai kantong plastik, tapi ada beberapa gerai yang mengganti plastiknya dengan paperbag atau totebag jadi bisa belanja tidak menggunakan kantong plastik,” ujar dia.

    Vivien mengatakan bahwa ada dua cara mengelola sampah, yaitu mengurangi dan menangani. Menurut dia, cara tepat untuk mengurangi sampah harus dimulai dari diri masing-masing.

    Kemudian, cara menangani sampah yang bagus adalah memilah sampah dari rumah antara anorganik dan organik. Kalau organik itu nanti bagusnya membuat kompos. Sedangkan yang anorganik seperti plastik, kemasan sebaiknya dibawa ke bak sampah.

    Sampah, lanjut Vivien bisa punya nilai ekonomi. Setelah dipilah, kemudian di bawa ke bank sampah yang oleh pengurus sampah tersebut dapat dinilai uang untuk ditabung. Bank sampah juga harus mempunyai koneksi dengan perusahaan-perusahaan daur ulang.

    Tugas bank sampah seperti yang dikerjakan pemulung. Bertugas mengambil plastik botol dan sampah lainnya. Kemudian setelah dikumpulkan lalu diberikan ke perusahaan yang membutuhkan.

    Vivien menilai upaya mengurangi sampah melalui bank sampah harus lebih gencar dari sisi sosialisasi. Dia mengatakan, pendirian bank sampah sekarang ini menunjukkan peningkatan. “Sekarang ada sekitar lima ribu bank sampah menyebar di seluruh Indonesia,” aku Vivien.

    Dia mengingatkan, konsumsi plastik yang berlebihan akan mengakibatkan jumlah sampah plastik bertambah besar. Dampaknya juga besar karena bukan berasal dari senyawa biologis.

    Plastik memiliki sifat sulit terurai (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100–500 tahun hingga dapat terurai dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

    “Kita ingin mendorong pemanfaatan bahan biodegradable 100%, seperti dari nabati sebagai salah satu opsi,“ ujar Novrizal Tahar selaku Direktur Pengelolaan Sampah, Selasa (5/6) kepada Validnews.

    Untuk menanggulangi sampah plastik, beberapa ada pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna sehingga akan menjadi racun di udara.

    Udara yang tercemar, akan memicu manusia rentan terhadap berbagai penyakit seperti kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis dan pembengkakan hati. Selain itu, plastik yang dibakar tidak benar-benar hilang melainkan meleleh dan berubah bentuk.

    Plastik yang berubah bentuk tersebut tetap ada dan mengendap di dalam tanah. Pada akhirnya plastik tersebut akan mengurangi kualitas tanah yang telah dicemarinya.

    Gerakan bijak untuk menghapus penggunaan kantong plastik 100%, mungkin sulit. Tapi, tetapi yang memungkinkan adalah memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce) dan mendaur ulang sampah plastik (recycle).

    Dari Lingkungan Keluarga
    Vivien menegaskan bahwa ibu rumah tangga adalah agen untuk mengurangi sampah plastik. Karena dari ibu rumah tangga bisa menerapkan kepada anggota keluarganya.

    "Di tangan ibu-ibu rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dimulai. Ibu-ibu bisa mengkompos sampah-sampah organik, dan mulai menggunakan keranjang serta menolak kantong kresek saat berbelanja," ujar Vivien di Jakarta, Selasa (5/6).

    Dia mengatakan peran ibu rumah tangga bisa diperkuat dengan keberpihakan organisasi kemasyarakatan. Oleh sebab itu, pemerintah memberi apresiasi Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk mendukung gerakan peduli untuk mengurangi konsumsi plastik.

    Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU Fitria mengatakan NU telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi sampah plastik, salah satunya membuat ecobrick.

    “Kami mengadakan pengajian secara streaming tentang sampah, agar masyarakat dapat memulai mengelola sampah,” ujar Fitria.

    Sementara itu Lembaga Lingkungan Hidup Aisyiyah, sebagai organisasi perempuan ortonom Muhammadiyah juga melakukan hal yang sama. Yaitu melakukan pengajian tentang dampak sampah.

    "Kami melakukan sosialisasi tentang sampah plastik dari taman kanak-kanak hingga kelompok pengajian ibu-ibu," ujar Aisyiyah.

    Dia melanjutkan, ada program Sedekah Sampah berupa mengumpulkan sampah lalu ditempatkan di bank sampah. Selanjutnya sampah plastik tersebut dijadikan bernilai ekonomi dan hasilnya untuk menghidupi organisasi.

    Dengan organisasi-organisasi keagamaan ini adalah tindak lanjut kunjungan ibu mentri ke beberapa organisasi keagamaan.

    “Disadari bahwa masalah sampah itu adalah masalah sehari-hari dan masyarakat di Indonesia itu kebanyakan masyarakat yang religius kedekatan dengan agamanya,” ujar Vivien.

    Jadi dengan peraturan agama itu dianggap akan lebih efektif dan bisa memberikan penyadaran tentang permasalahan pengelolaan sampah.

    Sudah ada MOU antara NU dengan KLH dan Muhammadiyah dengan KLH beberapa memang yang akan ditindaklanjuti. Selain sampah adalah perhutanan sosial. Jadi di dirjen PSKL itu terkait dengan bagaimana bisa menyejahterakan masyarakat dengan memberikan akses kepada perhutanan sosial.

    Per tahunnya, setiap orang rata-rata menggunakan 700 kantong plastik. Kalau saja peraturan membayar Rp200 untuk setiap satu kantong plastik masih berlaku, itu artinya kita sudah mengeluarkan Rp140 ribu secara total. 

    Dengan kita mengurangi pemakaian kantong plastik maka kita bisa menyelamatkan dunia dari pencemaran lingkungan. Hal ini dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan balik lagi ke pemikiran masyarakat. Mari kita menjaga lingkungan dari kantong plastik dan sampah plastik. (Annisa Dewi Meifira)