Struktur Ekspor Perlu Diperbaiki Hadapi Perang Dagang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan Indonesia hingga April 2018 telah mencapai US$1,31 miliar

  • Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) menyalami Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah) disaksikan Menteri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri), Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya (kedua kiri), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menekan tombol ketika melepas ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa ke sejumlah negara di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5). Kapal berkapasitas sekitar 10.000 TEUs yang melayani rute langsung (direct call) rute Tanjung Priok Jakarta-Los Angeles, Amerika Serikat tersebut dapat meringankan biaya logistik bagi pelaku industri serta mendorong ekspor produk Indonesia. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
    Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) menyalami Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah) disaksikan Menteri Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri), Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya (kedua kiri), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menekan tombol ketika melepas ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa ke sejumlah negara di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5). Kapal berkapasitas sekitar 10.000 TEUs yang melayani rute langsung (direct call) rute Tanjung Priok Jakarta-Los Angeles, Amerika Serikat tersebut dapat meringankan biaya logistik bagi pelaku industri serta mendorong ekspor produk Indonesia. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    JAKARTA – Perang dagang antara dua negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan China, kian meruncing. Dampaknya terhadap berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia, pun kian terasa. Terkait hal ini, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menegaskan, diperlukan perbaikan struktur ekpor nasional untuk bisa meminimalkan dampak potensi perang dagang yang dilakukan negara-negara maju tersebut.

    "Kita harus susun kebijakan, baik dari industri atau sumber daya alam untuk perbaiki ekspor kita," tegas Darmin di Jakarta, Kamis (21/6), seperti dilansir Antara.

    Perbaikan struktur ekspor nasional menjadi urgen untuk bisa meningkatkan kinerja perdagangan nasional. Apalagi mengingat di kuartal I tahun ini, neraca perdagangan Indonesia terus mengalami defisit.

    Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan Indonesia hingga April 2018 telah mencapai US$1,31 miliar. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$5,43 miliar.

    Di balik nilai impor yang terus menanjak, defisit perdagangan disebabkan karena nilai ekspor yang sulit terangkat. Pada April lalu, diketahui nilai ekspor Indonesia bahkan menurun 7,19% dibandingkan pada Maret 2018. Di bulan keempat tahun ini tersebut, nilai ekspor Indonesia berada di angka US$14,47 miliar. Sementara itu, pada bulan Maret nilainya bertengger di nominal US$15,58 miliar.

    Penyebab penurunan tersebut terjadi karena merosotnya nilai ekspor nonmigas hingga 6,80% secara month to month. Angkanya sendiri terpatok di US$13,28 miliar. Penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2018 terhadap Maret 2018 terjadi pada bahan bakar mineral yang merosot hingga 18,18% atau nilainya setara dengan US$416,4 juta.

     

    Darmin pun menegaskan untuk fokus mengurusi transaksi berjalan tersebut. Jangan sampai terlalu mengambil pusing masalah perang dagang dunia yang pada akhirnya perbaikan struktur di dalam negeri menjadi terabaikan.

    “Kita fokus pada urusan kita saja. Artinya, kita harus cari jalan untuk kembalikan transaksi berjalan yang negatif karena impornya naik tajam," tuturnya.

    Sebelumnya pada Senin (18/6), AS mengancam menerapkan tarif 10% terhadap berbagai produk China yang nilainya mencapai US$200 miliar. Hal ini ibarat pembalasan setelah Beijing memutuskan menaikkan tarif pada berbagai produk Negeri Paman yang nilainya mencapai US$50 miliar.

    Hanya saja, sebenarnya ketegangan perdagangan kedua negara mulai sedikit mereda setelah penasihat perdagangan Gedung Putih mengatakan, China telah mengabaikan keputusan AS untuk menerapkan tarif lebih besar. Respons China tersebut juga sempat membuat pergerakan saham di Asia mengalami rebound pada pembukaan perdagangan di Rabu (20/6) pagi.

    Mengenai perang dagang ini, Darmin memastikan, Indonesia akan terus mencari peluang dari perang dagang tersebut. Tujuannya jelas supaya kinerja perdagangan nasional tidak mengganggu proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

    Merujuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pertumbuhan ekonomi nusantara ditargetkan mencapai 5,4%. Angka tersebut sayangnya dianggap kian sulit tercapai dengan terus terdepresiasinya rupiah dan neraca perdagangan yang kian mengalami defisit.

    Kepada Validnews, peneliti Institute for Development for Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira melihat, pemerintah mesti lebih memperhatikan insentif untuk para eksportir. Diharapkan dengan insentif yang lebih banyak, geliat ekspor pun akan lebih tajam.

    Karena memang mesti diakui, Indonesia akan menjadi pihak yang terdampak besar jika perang dagang AS-China terus berlanjut. Pasalnya, posisi Indonesia saat ini mesti berada di rantai pasok terendah sebab mayoritas hanya mengirim bahan baku mentah.

    “Kalau karena perang dagang AS-China akhirnya mengurangi produksi mereka, permintaan ekspor bahan baku mentah dari Indonesia pun akan berkurang,” simpulnya.

    Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang diolah oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dalam lima tahun terakhir neraca perdagangan Indonesia-China selalu defisit. Rata-ratanya dalam periode 2013—2017 mencapai US$12,27 miliar.

    Terbaru pada tahun 2017 kemarin, defisit neraca perdagangan Indonesia-China berada di angka US$12,72 miliar. Itu diperoleh total transaksi perdagangan kedua negara yang nilainya mencapai  US$58,82 miliar.

    Sementara itu, AS tak lain menjadi negara yang menjadi kontributor terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia. Pada 2017 saja, saja neraca perdagangan Indonesia-AS surplus sebesar US$9,66 miliar. Nilai transaksi perdagangan kedua negara sendiri mencapai US$25,91 miliar. (Teodora Nirmala Fau)