RISALAH PERGANTIAN TAHUN

Siasat Transportasi Nyaman di Penghujung Tahun

Terjadi lonjakan penumpang sejak Natal dan diprediksi akan berlangsung hingga tahun baru

  • Ratusan calon penumpang mengantre untuk masuk ke ruang pelaporan diri di Terminal 1 B Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (29/12). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
    Ratusan calon penumpang mengantre untuk masuk ke ruang pelaporan diri di Terminal 1 B Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (29/12). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

    JAKARTA – Akhir tahun 2017 di ambang mata. Pergantian tahun adalah momen dimana masyarakat di pelbagai belahan dunia, termasuk Indonesia merayakannya dengan berbagai cara.  Kebiasaan menyambangi tempat wisata atau pulang ke kampung halaman menjadi pilihan yang umum dilakukan masyarakat kita.

    Tradisi perayaan pergantian tahun ini sudah barang tentu berdampak signifikan pada meningkatnya arus transportasi baik darat, laut maupun udara. Dengan kata lain diperlukan persiapan yang matang agar mimpi buruk kemacetan tidak berulang seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Kementerian Perhubungan yang menjadi salah satu garda terdepan mempersiapkan moda transportasi yang memadai, nyaman, dan aman mengaku sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasinya. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiadi mengimbau pengecekan kendaraan atau ramp check menjadi prioritas yang patut diperhatikan bagi para pengendara kendaraan pribadi atau angkutan umum, termasuk pengecekan kendaraan jalur udara, pesawat terbang.

    “Kelaikan kendaraan menjadi salah satu fakta yang harus kami tangani dengan baik. Kami juga akan melakukan random check di hari-hari puncak libur,” kata Budi kepada Validnews, Jumat (29/12).

    Untuk kendaraan umum, dia berkata sejak libur Natal dimulai hingga saat ini, terdapat 31.856 kendaraan umum yang telah melalui pemeriksaan layak jalan. Rinciannya terdiri 19.841 bus AKAP (antarkota antarprovinsi), 11.550 bus AKDP (antarkota dalam provinsi) dan 465 bus pariwisata.

    Dari pemeriksaan tersebut, kata Budi ditemukan 22.274 bus yang dinyatakan laik jalan, meski 2.885 bus diantaranya dengan catatan diperbaiki terlebih dahulu. Sedangkan sebanyak 9.952 bus dinyatakan tidak laik beroperasi.

    Ia mengatakan jelang perayaan tahun ini pihaknya mendapati banyak kendaraan tak layak operasi karena terbukti melakukan pelanggaran atas pemeriksaan yang dilakukan di seluruh provinsi Indonesia. Selama sepekan ini, pelanggaran banyak terjadi karena masalah teknis. Tepatnya, pelanggaran terkait keselamatan penumpang.

    Kementerian Perhubungan menyoroti pemeriksaan ini lantaran penggunaan angkutan umum oleh masyarakat menunjukkan peningkatan saat libur Natal dan tahun baru 2018. Pemakaian angkutan umum naik 7,25% di akhir tahun 2017. Apabila jumlah armada pada tahun 2016 sebanyak 103.607 unit, di tahun ini berada di angka 111.348 unit.

    Selain itu, pelarangan operasi angkutan barang juga menjadi solusi untuk mengatasi kepadatan lalu lintas jelang perayaan tahun baru. Jalan tol dan non-tol akan terkonsentrasi sementara untuk para pengendara mobil pribadi. Peraturan mengenai pembatasan angkutan barang itu diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor: SK.674/A.201/DRDJ/2017.

    “Pemberlakuan tidak aktif angkutan barang dua hari, dari 29 Desember sampai 30 Desember. Karena puncak arus balik diperkirakan tanggal 1 Januari 2018,” kata Budi.

    Kementerian Perhubungan diucapkan Budi melakukan koordinasi dengan Korlantas Polri. Sebab cukup banyak masyarakat yang memanfaatkan tahun baru untuk mudik ke kampung halaman.

    Hanya saja, dia tak memungkiri kemungkinan kendala tetap akan dihadapi lalu lintas darat. Di antaranya karena sepanjang jalan tol masih terdapat penyempitan dan lubang yang belum diperbaiki, atau perilaku pengendara yang kurang baik, entah itu karena tidak sabar dan tidak taat peraturan lalu lintas.

    Kendala ini, katanya belum termasuk kemungkinan adanya operator yang masih mengedepankan ego bisnis, dibandingkan mementingkan kendaraan dan pengemudi. Kemudian terkait antisipasi maraknya masyarakat yang bepergian antarprovinsi menggunakan kendaraan roda dua.

    Kepadatan lalu lintas juga masih akan didominasi oleh pemudik asal Ibu Kota DKI Jakarta. Setahun belakangan, tepatnya pada akhir tahun, pemudik disebutkan Budi memang banyak yang berasal dari Jakarta. Tujuan mereka kebanyakan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    “Namun prediksi kami, akan ada penurunan jumlah volume kendaraan umum masuk ke Jakarta akhir tahun ini. Angkutan umum untuk akhir tahun 2017 ini hanya 2.486.083,” kata dia.

    Siaga 17 Hari
    Di sisi lain, penambahan rangkaian kereta api telah dilakukan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) sedari libur Natal 2017. Manager Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Edi Kuswoyo menyatakan antisipasi libur akhir tahun itu memang menjadi prioritas dari tahun ke tahun dan sejauh ini dapat diatasi.

    “Penambahan rangkaian kereta sudah kami lakukan sejak 22 Desember 2017  sampai 7 Januari 2018, 17 hari. Dari (stasiun) Gambir ada 12 kereta api tambahan, dari (stasiun) Senen ada 5 kereta api tambahan,” kata Edi kepada Validnews, Jumat (29/12).

    Mengenai lonjakan penumpang, Edi menyebut naik-turun volume penumpang dalam rangkaian libur Natal dan Tahun Baru biasa terjadi. Buktinya, setelah volume penumpang naik secara signifikan satu hari sebelum Hari Raya Natal, sejak kemarin Kamis (28/12), volume penumpang mengalami penurunan kembali pada Jumat (29/12).

    Meski cuti bersama Natal tidak sepanjang cuti bersama Lebaran, peningkatan jumlah penumpang akhir tahun kali ini cukup signifikan karena juga dibarengi dengan liburan sekolah. Penyebab lainnya karena bepergian ke luar kota dengan menumpangi kereta api, khususnya di Pulau Jawa, masih menjadi salah satu pilihan menarik bagi keluarga ketika menikmati liburan.

    “Kan ada dua kali antisipasi, yakni angkutan Natal dan angkutan tahun baru. Tanggal 30-31 Desember itu nanti akan mulai ramai lagi. Untuk tiket, seperti keberangkatan dari Stasiun Gambir masih tersedia, tapi tidak terlalu banyak,” kata dia.

    Ketersediaan tiket keberangkatan dari Stasiun Gambir itu juga hanya untuk beberapa tujuan, yaitu Gambir—Bandung atau Gambir—Cirebon untuk keberangkatan malam hari atau pagi hari. Masih tersisa, tapi kata Edi tidak terlalu banyak. Sedangkan untuk keberangkatan dari Stasiun Senen pada Sabtu (30/12), dengan tujuan Purwekerto dan Solo dipastikannya sudah habis.

    “Tapi kalau utaranya, Semarang atau Surabaya, itu masih tersisa. Tapi, juga tidak banyak. Ya, sekitar 5%,” kata dia.

    Tiket lebih cepat habis karena pembeliannya saat ini sudah dapat dilakukan 90 hari sebelum hari pemberangkatan melalui pembelian online. Edi menyatakan, pembelian tiket melalui loket di stasiun hanya sekisar 15% sekarang.

    Perubahan Rute
    Kesiapan menyediakan unit angkutan juga dilakukan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) untuk menyambut perayaan tahun baru 2018. Jika PT KAI memiliki persiapan selama 17 hari sejak libur Natal, PT Pelni bahkan mulai persiapan sedari 18 Desember 2017 dan akan berakhir pada 8 Januari 2018. Jadi, selama 22 hari Pelni siap melayani penumpang berlayar mengisi liburan Nusantara.

    “Pelni telah menyiapkan 73 armada, terdiri dari 26 kapal trayek Nusantara dan 47 kapal perintis. Itu untuk melayani angkutan Natal 2017 dan tahun baru 2018,” kata Manager PR PT Pelni Ahmad Sujadi kepada Validnews, Kamis (28/12).

    Pelni sendiri menambah armada karena kata Ahmad pihaknya menargetkan 21.543 penumpang sebelum Natal dan masa setelah Natal sekitar 20.515 penumpang. Dia menyebutkan, untuk tahun ini masih wilayah Indonesia Timur yang menguasai tingkat penggunaan transportasi laut. Sedangkan, keberangkatan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, jumlahnya hanya di bawah 4.000 penumpang

    “Sebaran untuk angkutan Natal, paling tinggi di Jayapura, yaitu 10.692 penumpang. Kedua, yaitu Sorong 9.711 penumpang, Manokwari 9.089 penumpang,” terang dia.

    Meski jumlah kapal yang disediakan Pelni telah ditambah pada akhir tahun ini, namun Pelni tetap merencanakan perubahan rute atau trayek pada sejumlah kapal. Pelni disebutkan Edi berencana akan menambah frekuensi di beberapa daerah dengan memanfaatkan jumlah armada yang tersedia sekarang.

    Edi tak memungkiri, rencana itu ada lantaran terdapat beberapa daerah memiliki penumpang dengan jumlah tinggi. Jadi, sebanyak 14 kapal, kata dia, akan dilakukan perubahan rute, dan 12 kapal regular saat ini telah disiapkan sebagai armada angkutan Natal dan tahun baru (Nataru).

    “Dua belas kapal itu akan tetap beroperasi sesuai rute. Ada kapal tipe 2000 pax KM Dobonsolo, KM Gunung Dempo. Kapal tipe 1000 pak, ada KM Tatamailau, Tilongkabila, dan lainnya,” kata dia. (Fuad Rizky, Denisa Tristianty)