LIMBUNG BERDAULAT DI DUNIA MAYA

Senjakala Bisnis Antivirus Lokal

Minimnya modal dan inovasi menjadi penyebab utama rontoknya pemain-pemain lokal yang bersaing di industri antivirus

  • Ilustrasi layar komputer yang terinfeksi serangan virus. AFP PHOTO / DAMIEN MEYER
    Ilustrasi layar komputer yang terinfeksi serangan virus. AFP PHOTO / DAMIEN MEYER

    JAKARTA – Ancaman keamanan pengguna internet semakin hari semakin rawan. Peretasan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja bagi pengguna internet. Peringatan akan ancaman bahaya peretasan dari pemerintah seolah menjadi imbauan yang tidak terlalu berdampak bagi pengguna internet.

    Malware adalah suatu program yang dirancang dengan tujuan merusak dengan menyusup ke dalam sistem komputer. Malware biasa dikenal dengan virus pada umumnya. Virus dunia maya ini dapat menghancurkan sistem, bahkan mencuri data pribadi seseorang saat berselancar atau online dengan klasifikasi berbeda.

    Derasnya serangan malware di sisi lain menumbuhkan bisnis antivirus di dunia. Beragam perusahaan antivirus menggurita perlahan demi menjawab kebutuhan keamanan dengan tingkat kepentingan yang berbeda bagi setiap pengguna internet.

    Sebagai gambaran, secara global berdasarkan IT Security Survey yang dilakukan oleh av-comparatives.org pada tahun 2016, ada sejumlah antivirus yang paling banyak digunakan, yaitu produk antivirus dari Kaspersky Lab, ESET, Bitdefender, AVIRA, dan Avast.

    Untuk wilayah Asia sendiri, produk antivirus yang paling banyak digunakan merupakan produk-produk dari ESET yang berhasil maju satu peringkat dari tahun 2015. Setelah ESET, di urutan kedua dengan ditempati produk antivirus dari perusahaan sekuritas siber asal Moscow, Kaspesky Lab.

    Posisi ketiga ditempati Bitdefender yang maju satu tingkat dari tahun kemarin dan mendorong Avast menempati urutan keempat. Sedangkan, di urutan kelima ditempati oleh AVIRA.

    Produk-produk antivirus lain yang umumnya digunakan di wilayah Asia adalah produk dari Microsoft, Tencent, Qihoo, Symantec, QuickHeal, dan Emsisoft.

    Bagaimana dengan produk antivirus buatan Indonesia? Meski berdasarkan lembaga riset pasar e-Marketer memperkirakan populasi pengguna internet di Indonesia bakal mencapai 112 juta orang pada tahun 2017 ini, produk antivirus dalam negeri nyatanya belum mampu memanfaatkannya.

    Modal Besar
    Di tengah makin besar penggunaan internet, pengamat sekuriti internet dari Vaksincom, Alfons Tanuwijaya mengatakan perusahaan antivirus yang dominan justru masih dipegang oleh perusahaan mancanegara. Sebab kehadiran perusahaan antivirus di Indonesia hingga tahun ini, masih belum tumbuh dengan baik.

    Sebutlah salah satu produk dalam negeri yang cukup menonjol, Smadav. Pertama kali Smadav ditemukan pada tahun 2006 oleh Zainudin Nafarin. Saat itu, pria asal Banjar, Kalimantan Selatan ini tengah mengemban bangku pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM).

    “Ya, Smadav dari Indonesia. Tapi, saya juga sudah lama tidak mendengar Smadav. Memang tidak mudah menjalani bisnis antivirus. Karena kalau kepingin keamanan kuat, setiap perusahaan antivirus harus memiliki SDM banyak untuk 24 jam keamanan. Dan itu tidak murah,” kata Alfons kepada Validnews, Kamis (9/11).

    SDM merupakan salah satu elemen paling penting dalam bisnis antivirus. Sebab keamanan antivirus ini perlu dikontrol seharian penuh. Masalahnya upah pengontrol sistem ini dikatanya memakan biaya tinggi. Pembiayaan inilah yang sering kali menjadi kendala perkembangan antivirus lokal.

    “Menurut saya, bisnis antivirus Indonesia sudah memasuki sunset, sudah sangat redup. Tak hanya biaya besar, tapi juga perlu inovasi,” kata Alfons.

    Tak heran, di tengah lesunya tumbuh kembang bisnis antivirus dalam negeri, saat ini produk Smadav pada akhirnya masih menjadi antivirus lokal yang paling diandalkan. Padahal dulu kata Alfon, ada Antav dan PC Mav.

    “Tapi sudah tidak terlihat ya mereka. Sekarang, Smadav yang masih memimpin untuk antivirus Indonesia,” ujar dia.

    Alfons mengatakan jika Smadav dimasukkan sebagai kategori antivirus lokal, penggunanya cukup banyak. Namun, persentasenya diperkirakan tak melebihi 10% dari dari total keseluruhan pengguna antivirus di Indonesia.

    Hingga dua tahun lalu, tepatnya tahun 2015, bos Smadav Zainudin menyatakan masih memiliki pendapatan puluhan juta rupiah dari bisnis itu. Dalam satu bulan, seperti dilansir Antara (25/11/2015), minimal omzet yang didapatnya mencapai Rp30 juta. Zainudin mengaku sebelumnya hanya memiliki pendapatan Rp5 juta per bulan sebagai pekerja di beberapa perusahaan.

    “Minimal dalam satu bulan saya mendapatkan Rp10 juta, dari usaha kreatif ini. Pada saat saya masih kuliah di UGM, melalui hobi saya ini, saya bekerja di beberapa perusahaan asing dan mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan,” kata Zainudin.

    Sayang meski masih menjadi antivirus buatan dalam negeri yang paling dominan, Smadav belum mampu menembus kancah dunia perindustrian antivirus.

    Masalahnya, software Smadav antivirus dinilai masih belum memiliki kekuatan penuh dalam menangkal ragam virus dari berbagai negara. Suatu virus dalam internet tidak dapat dibatasi batas wilayah negara, dan perlu awareness dari si pengguna internet itu sendiri.

    “Selain R&D (research and development) masih rendah, proteksi juga masih diperlukan bagi pengguna antivirus. Jadi, antivirus mancanegara juga masih diperlukan kalau sudah pakai Smadav,” kata Alfons.

    Bagusnya, di tengah muramnya perkembangan antivirus lokal, Alfons menyebut persaingan tidak sehat secara umum tak terjadi di tengah ketat persaingan bisnis antivirus ini. Meski begitu, sepengatahuannya, antarperusahaan antivirus memang terbiasa saling membajak karyawan perusahaan pesaing guna mendapatkan database pelanggan.

    “Pada umumnya tidak ada persaingan tidak sehat dalam industri antivirus, karena kebanyakan perusahaan antivirus tergabung dalam asosiasi antivirus dan saling berbagi sampel,” lanjut dia.

    Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), Muhammad Salahuddin Manggalany mengamini pernyataan Alfonso yang mengharuskan proteksi ganda dalam penggunaan antivirus. Sebab, saat ini katanya virus atau malware pada umumnya lebih memanfaatkan adware. Jenis tersebut sering digunakan perusahaan kategori shopping online, dan biasa berupa iklan suatu produk tertentu.

    Dengan keadaan seperti ini, makanya pengguna internet tak dapat mengandalkan Smadav semata.

    “Penggunaan antivirus itu juga sesuai kebutuhan. Tidak sama antivirus yang harus dipakai antara penggemar game dengan orang yang suka belanja online, misalnya. Begitu juga dengan perusahaan dengan ibu rumah tangga, kebutuhan mereka berbeda,” terang dia.

    Edukasi Masyarakat
    Buat bersaing, mau tak mau para penyedia antivirus lokal memang perlu berkaca pada terobosan dan inovasi berkelanjutan yang terus dilakukan produk antivirus mancanegara.

    Inovasi menjadi sangat perlu sebab kata Manajer Pembangunan Bisnis Lab Kaspersky untuk Indonesia, Donny Koesmandarin, jenis virus tiap tahun bertambah. Spesifikasi wilayah penyebaran virus dan jenisnya tak dapat diklasifikasikan, dan itu termasuk di Indonesia.

    “Sampai saat ini, kami (Kaspersky) dapat mendeteksi minimal 320 ribu malware varian baru,” kata Donny kepada Validnews, belum lama ini.

    Sejak berdiri tahun 1997, Kaspersky tetap berkomitmen terhadap antivirus security. Namun, Kaspersky tetap melakukan inovasi sebagai perusahaan berbasis antivirus. Prioritas antivirus milik Eugene Kaspersky ini lambat laun mengenalkan terobosan terkini kepada masyarakat. Kaspersky tidak hanya menonjolkan security internet.

    “Tapi sebetulnya kami punya divisi untuk edukasi. Tugas divisi ini memberikan pelatihan dan pelayanan. Jadi, (Kaspersky,red) tidak hanya berupa antivirus, tapi juga kami memiliki expert (ahli) yang dapat memberikan service kepada customer,” tegas dia.

    Testing analysist, kata dia, juga bagian dari prioritas Kaspersky. Terutama, testing analysist ini terkait ancaman kejahatan dunia siber (cybercrime).

    “Kami juga melakukan kerja sama, dan ini sudah kami lakukan di banyak negara,” ucap dia.

    Untuk menjaga ancaman kejahatan siber di Indonesia yang sudah mulai berkermbang pesat, pemerintah dinilainya sudah sepatutnya memberikan edukasi kepada khalayak melalui ragam informasi keamanan siber.

    Sayang sepengamatannya hingga tahun lalu pemerintah dianggapnya masih kurang perhatian terhadap beredarnya malware di Indonesia. Di sisi lain, untuk para pengguna internet, dia juga turut mengingatkan agar mengandalkan pemakaian software antivirus original. Sebab keamanan siber bukan dari software bajakan.

    “Malah bisa menambahkan malware, kalau yang dipakai itu software bajakan,” kata dia.

    Katanya, akibat penggunaan software antivirus yang tak asli, selama ini tak sedikit perusahaan menelan kerugian kala pemakaian internet pada satu perangkat. Risiko suatu perusahaan mengenai pemakaian software bajakan memiliki tiga dampak penting.

    Pertama, yaitu data dapat hilang dan itu sulit untuk didapatkan kembali. Kedua, yaitu operasional tersendat.

    “Bisa dibayangkan ada salah satu customer pabrik yang datanya di-block, tidak dapat dibukan karena ransomeware. Dia berhenti operasional, karena data mesin itu tidak dapat dibuka dan tidak bisa dibaca oleh sistem,” terang dia.

    Alhasil, perusahaan itu dapat berhenti beroperasi sekitar hampir delapan jam, dan kerugian mereka dari sisi materi dapat dihitung.

    Ketiga, yaitu reputasi perusahaan dipertaruhkan. Apalagi, bila terkait keuangan. Setiap perusahaan disarankan harus concern terhadap persoalan tersebut. Beda halnya dengan pengguna rumahan, sebab dia masih melihat data yang disimpan pada umumnya masih belum memasuki taraf besar. (Denisa Tristianty, Muhammad Fauzi)