MIMPI BERDIKARI OTOMOTIF DALAM NEGERI

Seni dan Investasi Utak-atik Mobil Klasik

Merawat mobil klasik layaknya sebuah investasi jangka panjang

  •  Ilustrasi. Pameran mobil klasik. (Pixabay)
    Ilustrasi. Pameran mobil klasik. (Pixabay)

    JAKARTA – Tua bukan berarti tak berguna. Itulah istilah yang disematkan para pencinta mobil klasik kepada mobil-mobil “jadul’ koleksi mereka. Semakin klasik maka makin tinggi pula daya tariknya untuk dimiliki.

    Apa itu definisi klasik? Seperti apa standar klasik? Pertanyaan ini pasti ada di benak kita. Namun hingga kini pun belum ada yang menyeragamkan definisi klasik itu sendiri. Tak satupun ahli otomotif yang sepakat mengenai arti atau definisi mobil klasik. Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya yang menjadi produsen, memiliki definisi berbeda.

    Sebagai contoh, Classic Car Club of America mendefinisikan mobil klasik adalah yang mobil buatan tahun 1925 hingga tahun 1948. Namun, Antique Automobile Club of America mendefinisikan mobil klasik adalah mobil yang berumur tidak lebih dari 45 tahun. Lebih dari itu maka mobil tersebut digolongkan sebagai mobil antik.

    Beda negara beda pula penilaian. Di Inggris, perusahan asuransi malah memiliki definisi tersendiri mengenai mobil klasik ini. Mereka berpandangan, mobil klasik merupakan mobil tua berusia 15—25 tahun. Karena usianya yang relatif muda, kemudian mobil-mobil ini digolongkan sebagai modern klasik dengan syarat, mobil-mobil tersebut memang layak untuk dikoleksi.

    Ragam definisi ini akhirya, mengembalikan definisi klasik kepada para pencita otomotif sesuai dengan selera masing-masing. Pastinya, mobil klasik merupakan kendaraan roda empat yang telah berumur, memiliki nilai lebih mulai dari histori hingga harga yang tinggi. 

    Minimnya parameter penilaian inilah yang membuat sebagian masyarakat Indonesia gemar menyebut mobil keluaran lama dengan sebutan klasik. Bagi Sekertaris Jenderal Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) Em Samudra, pemberian identitas klasik harus merujuk pada latar belakang produksi dari mobil, seperti segmen tempat mobil tersebut digunakan.    

    Oleh karenanya menurut Samudra, mobil keluaran lama yang tepat disebut mobil klasik adalah mobil yang segmennya ditujukan untuk kelas menengah ke atas alias mobil mewah, maupun yang diproduksi secara terbatas.

    Di mata Samudra, secara umum para pencinta otomotif berhasrat untuk mengkoleksi mobil ‘tua’ lantaran tertarik akan designnya. Itu sebabnya, kebanyakan orang melihat mobil klasik dari keunikannya dan yang terpenting dalam mengkoleksi mobil tua yakni bertatus limited edition.

    Pandangan inilah yang menarik minat Samudra untuk mengoleksi beberapa mobil ‘tua’. Sejak tahun 1999 hingga sekarang Samudra sudah memiliki tiga mobil klasik, diantaranya Volvo 145 Station Wagon tahun 1972, Mercedes Benz E200 tahun 1975, BMW E12 tahun 1976.

    Ketiga mobil milik Samudra ini mempunyai cerita tersendiri. Salah satunya, Volvo 145 Station Wagon keluaran tahun 1972. Mobil ini pernah digunakan oleh bintang iklan ternama Herman Husin. Kemudian, Mercedes Benz E200 Tahun 1975 adalah mobil yang dibelinnya dari Pejabat Bea Cukai.

    “Kalau yang BMW E12 itu memang enggak ada histori yang begitu menarik. Saya hanya menyukai modelnya saja,” kata Samudra kepada Validnews, Jumat (9/3).

    Meski kendaraan berusia lanjut, suku cadang ketiga mobil milik Samudra masih orisinal mulai dari mesin hingga interiorya. Menjaga keaslian mobil ini merupakan komitmennya beserta beberapa rekannya di PPMKI.

    “Saya dan beberapa teman di PPMKI memilih aliran mobil klasik orisinal agar menjaga keaslian mobil,” ungkapnya.

    Infografis Pemilik Mobil Klasik

    Investasi
    Sebagai kolektor, kata dia, merawat mobil klasik layaknya sebuah investasi jangka panjang. Alasannya, ketiga mobil yang dimilikinya dibeli dengan harga sangat murah. Namun untuk perawatannya, para pencinta mobil klasik harus rela merogoh kocek yang besar agar mobil dapat tampak seperti baru kembali. 

    Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mobil klasik ini lantaran kebanyakan para penjual memasarkan barang dagangannya dalam kondisi yang tak layak pakai. Makanya, sebagian pemilik mobil jor-joran menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk membeli mesin baru hingga bagian terpenting mobil lainnya.

    “Kebetulan mobil saya itu karena kondisinya baik, paling saya rapihin dikit saja kayak AC-nya perlu di servis. Paling menyiapkan 2 hingga 3 juta untuk ganti busi,” jelasnya.    

    Besaran pengeluaran ini sejalan dengan penghasilan yang diperoleh para kolektor ini. Tak sedikit dari pemilik mobil klasik meraup untung besar dengan menyewakan mobil untuk keperluan seperti pembuatan iklan hingga menjadi mobil pengantin. Pemilik mobil mengenakan tarif beragam untuk penyewaan ini. Setidaknya, mereka mematok harga mulai dari Rp2 juta hingga Rp12 juta.

    Begitu juga yang dirasakan oleh Stanley Setia Atmadja. Kecintaan Direktur Utama Mandiri Utama Finance ini pada mobil klasik bukan tanpa alasan. Bisa saja, ketertarikan ini menurun dari orang tuanya. Dahulu ayah dari Stanley merupakan seorang pengusaha otomotif. Tak ayal sewaktu kecil sekitar tahun 1970-an, ayahnya sering membawa Stanley berlibur menggunakan mobil ke beberapa daerah, seperti Bandung dan Bali.

    Pengaruh sang ayah-lah yang membuat Stanley sejak tahun 1986 mulai mencintai mobil klasik. Selain pengaruh sang Ayah, ketertarikan pada mobil-mobil klasik ini dikarenakan mobil-mobil tersebut memiliki nilai artistik dengan design yang unik. Umumnya mobil zaman dahulu dibuat dari bahan krom berbeda dengan mobil zaman ‘now’ yang diproduksi menggunakan bahan-bahan plastik.

    “Terus design lekukannya berbeda, kalau sekarang  flat-flat aja. Itulah menurut saya, mobil klasik itu memiliki aspek art-nya. Tentu saja, dari sisi ketertarikan mobil klasik punya daya pikat tersendiri karena tidak ada yang sama,” jelas Stanley.

    Dalam perjalanan yang panjang hingga sampai di era milenial ini, Stanley telah memiliki 50 mobil klasik dari berbagai merek dan jenis. Dari sekian banyak mobil klasik Stanley, hanya satu mobil yang memiliki historinya.

    Ya, mobil buatan Italia jenis Ferrari Dino Tahun 1972-lah memiliki histori yang menarik. Stanley menceritakan, munculnya mobil Ferarri jenis Dino ini dilatarbelakangi oleh meninggalnya anak Enzo Ferrari sang pembuat mobil.

    Sebelum meninggal dunia, kata Stanley, anak dari sang pembuat meminta kepada ayahnya untuk membuatkannya mobil dengan engine kecil. Namun, sang ayah menolak. Kala itu, Enzo hanya menciptakan mobil dengan engine yang besar antara 1000-4000 cc.

    “Nah, suatu hari anaknya meninggal karena kecelakaan. Nah, dia (Enzo-red) bikin itu Ferarri Dino. Kalau dilihat mobil ini tidak ada lambing Ferarri, tapi Dinonya kecil dengan mesin 2.400 enam silinder. Inilah yang buat saya kenapa salah satu mobil koleksi paling berkesan,” paparnya.

    Untungnya, di tahun 1988 hingga 1989 tak banyak orang menaruh perhatian pada mobil Ferrari Dino. Kebanyakan orang melihat mobil Ferarri Dino hanya mobil tua yang tak layak pakai. Oleh karena itu, Stanley bisa mendapatkan mobil itu dengan harga yang murah.

    “Enggak ada harganya, paling nyiapin uang Rp2 juta, Rp3 juta. Tapi, setelah saya bikin pameran pertama itu adira classic cars baru orang mengapresiasi. Sejak itu, saya ada senengnya, masing-masing orang mulai merawat mobil tuanya, itulah yang membuat harganya menjadi mahal,” jelasnya.

    Holden premier hq 72. (dok. Dewa Artur)

    Restorasi
    Tak hanya Ferarri Dino yang meninggalkan kesan. Bagi Stanley, mobil klasik lainnya tetap memiliki kesan tersendiri. Kesan ini dapat dilihat dari cara mendapatkan mobilnya. Untuk mobil lainnya, Stanley harus bolak-balik menjumpai saudaranya yang memiliki mobil klasik.  

    “Kalau dulu itu kan koleksi zaman orang-orang tua. Waktu satu saya masih muda mereka bilang kamu ngerti apa salah rawat ini itu. Jadi satu mobil harus lima sampai enam kali datengnya. Saya bilang enggak deh Om, nanti saya rawat, barulah dapat tuh mobil,” ungkapnya.

    Stanley berpandangan, para pencinta mobil klasik harus memiliki kesabaran yang tinggi saat merawat mobilnya. Sama seperti Samudra, Stanley juga menjumpai mobil tua dijual dalam kondisi tak layak pakai sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk merestorasi mobil.

    Mana lagi tak semua bengkel memiliki suku cadang mobil yang hendak diperbaiki. Panjangnya perjalanan merestorasi mobil ini membuat sebagian para pencinta mobil klasik sulit untuk menghitung biaya yang dikeluarkan ketika memperbaiki mobil. 

    “Mobil pertama saya itu BMW 2002 tahun 1970 yang saya beli harga Rp1,5 juta. Membangun mobilnya harus sabar bisa dua sampai tiga tahun. Tapi karena tidak bisa dapat suku cadang sekaligus jadi bertahap, list-nya dulu kerjain, cat biasalah baru dapat body part, ngurusinya bertahun-tahun jadi keluarnya tidak berasa. Entar dapat bemper, dapat lampu depan, dapat lampu belakang,” bebernya.

    Makanya perbaikan mobil tahap awal membutuhkan anggaran yang besar. Sebab, bila mobil telah siap pakai, kata dia, pemilik hanya mengeluarkan dana minim untuk keperluan perawatan mobil, seperti ganti oli, rem, aki dan suku cadang ringan lainnya.

    Untuk mendapatkan suku cadang mobil-mobil miliknya tidaklah sulit. Berkecimpung di dunia otomotif khususnya mobil klasik sering membuatnya mendapatkan informasi dari pencinta mobil ‘tua’ lainnya tentang tempat penyedia suku cadang yang ia butuhkan. 

    “Kalau suku cadang mobil mungkin tidak dibuat lagi pabrikan. Tapi ada yang disebut reproduction spare part dibuat oleh kompeni kecil, dia bikin lagi lampu sen, karet kaca, pintu, seperti original, tapi bukan pabriknya, perusahaan lain yang bikin,” ucapnya.

    Nah, atas dasar inilah ia menyarankan bagi para pencinta mobil klasik lainnya maupun calon kolektor untuk memulai mengkoleksi dari mobil yang gampang dirawat dan diperbaiki misalnya, morris mini cooper.

    “Jangan langsung Ferarri, 1970 sampai 1980. Karena enggak gampang. Apalagi sejarahnya di Indonesia tidak banyak sehingga perbaikannya akan susah,” tukasnya.

    Raup Keuntugan
    Hampir serupa dengan Stanley dan Samudra, Dewa Artur salah adalah salah satu anggota dari Holden Indonesia yang juga seorang pengkoleksi mobil klasik. Sedari kecil Dewa telah disuguhi oleh Kakeknya sebuah mobil Holden berjenis Premier hq tahun produksi 1972.

    Situasi inilah membuat Dewa sejak tahun 2000 menyukai mobil klasik. Hingga saat ini Dewa telah menambah sebanyak dua mobil Holden masing-masing berjenis Kingswood hq Wagon keluaran 1973 dan Holden torana lj 2250 tahun produksi 1973.

    “Sejak kelas 2 Sekolah Menangah Pertama (SMP) saya sudah memiliki ketertarikan terhadap mobil ini dan semakin lama makin mendalami,” tutur Dewa.

    Tak banyak alasan bagi Dewa untuk mencintai mobil klasik. Ia hanya berkeinginan untuk menggunakan barang yang tak digunakan orang lain. Apalagi, salah satu Holden miliknya jenis Torana Lj seperti ‘mayat’ sehingga jarang diminati oleh pencinta mobil lainnya.         

    Awalnya, untuk mendapatkan mobil ini Dewa menghabiskan uang Rp5 juta. Harga murah ini sejalan dengan kondisi mobil yang sudah tak layak pakai. Secara perlahan Dewa mulai membangun kembali mobil Holden tersebut sehingga layak pakai. Dikarenakan keterbatasan biaya dan sulitnya mendapatkan suku cadang membuat Dewa harus bersabar untuk menyelesaikan perbaikan mobilnya ini.   

    “Sebenarnya bukan karena mobil tua benerin terus, balik lagi ke perawatannya yang punya. Andaikata kita bangun total diganti A, B, C, D kalau beres sih kayaknya tidak ada masalah utuk kedepannya. Paling kayak mobil tua itu intinya cuma pengapian dan bensin,”

    Sesungguhnya, merawat mobil ‘tua’ tidak lah rumit. Sebagian pencinta mobil Holden hanya mengeluarkan kocek bekisar Rp20 juta saat membeli mobil. Hanya saja untuk melakukan perawatan mereka harus rela menghabiskan uang ratusan juta secara bertahap dengan jangka waktu yang panjang.

    “Jadi mendingan kalau menurut saya beli mobil setengah jadi atau barang komplit enggak ada PR nyari suku cadangnya. Tergantung, mau bangun kek gimana. Mau bangun serius atau asal rapih doang. Kalau yang serius banget itu lumayan banyak,”

    Ternyata memelihara mobil klasik memberikan keuntungan tersendiri bagi Dewa. Terkadang Dewa menyewakan mobilnya kepada orang yang hendak membuat video klip atau kepada pasangan yang hendak menggunakan untuk foto prewedding hingga wedding.  Biasanya Dewa mematok harga minimal Rp6 juta per 12 jam penyewaan.

    “Terakhir yang merah ada band indie Stellar, kalau buat launching album mereka setahun yang lalu. Lumayan dari mobil tua menghasilkan duit lumayan,” paparnya.

    Keuntungan lainnya, kata dia, agar menjadi pusat perhatian orang di jalan ketika menggunakan salah satu mobil Holden miliknya. Tujuannya menujukan ke banyak orang agar merhargai mobil klasik bukan menelantarkannya.  (James Manullang)