MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Sawit, Disayang dan Ditentang

Seberapa pentingnya kontribusi sawit dalam neraca ekspor Indonesia sejatinya bisa tergambar dari total ekspor Januari—September 2017. Dari data tersebut, sawit ternyata berkontribusi sekitar 13,53% dari total ekspor nonmigas yang bernominal US$111,91 miliar

  • Petani menurunkan Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari perahunya di Desa Kuala Tripa, Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya, Aceh, Kamis (19/10). Petani mengaku, sejak sepekan terakhir harga TBS kelapa sawit tingkat petani mulai membaik dari Rp 1.000 perkilogram menjadi Rp 1.350 per kilogram. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnnas/ama/17.
    Petani menurunkan Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari perahunya di Desa Kuala Tripa, Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya, Aceh, Kamis (19/10). Petani mengaku, sejak sepekan terakhir harga TBS kelapa sawit tingkat petani mulai membaik dari Rp 1.000 perkilogram menjadi Rp 1.350 per kilogram. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnnas/ama/17.

    JAKARTA – Gencarnya kampanye hitam terhadap sawit nyatanya tidak menyurutkan niat pemerintah untuk terus meningkatkan hasil dari produksi komoditas ini ke depannya. Bahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Kerja Sama Kemitraan ASEAN-Uni Eropa, Presiden Joko Widodo memberikan proteksi dengan memberikan peringatan keras kepada Uni Eropa untuk tidak mendiskriminasikan sawit Indonesia.

    Sampai kini, gempuran berita negatif tentang sawit Indonesia yang tidak ramah lingkungan masih kerap didengungkan oleh kumpulan negara di Benua Biru tersebut. Wajar jika pemerintah akhirnya geram. Pasalnya, meski bagaimanapun juga, sawit berkontribusi besar dalam perekonomian Indonesia.

    “Sejumlah sikap dan kebijakan yang dianggap merugikan kepentingan ekonomi dan merusak citra negara produsen sawit harus dihilangkan,” tegas sang kepala negara, awal November lalu seperti dilansir situs resmi Sekretariat Kabinet.

    Asal tahu saja, Parlemen Uni Eropa sebelumnya sudah menerbitkan resolusi Report Palm Oil and Deforestation on Rainforest. Resolusi tersebut mengatakan, kelapa sawit adalah penyebab jitu dalam mencetak deforestasi dunia.

    Pernyataan tersebut tentunya memantik kegeraman negara-negara penghasil sawit. Pasalnya, kampanye negatif tersebut berpotensi mengganggu perekenomian yang timbul dari komoditas ini sekaligus merusak citra negara produsen.

    Sebagai negara produsen sawit terbesar pun, tentu Indonesia merasa dirugikan. Bagaimana  tidak, dengan sentiment negatif terhadap sawit, pundi-pundi uang dari ekspor yang dihasilkan oleh sang emas hijau ini bisa menguap. Neraca dagang pun bakal tergerus.  

    Kuasai Nonmigas
    Seberapa pentingnya kontribusi sawit dalam neraca ekspor Indonesia sejatinya bisa tergambar dari total ekspor Januari—September 2017. Dari data tersebut, sawit ternyata berkontribusi sekitar 13,53% dari total ekspor nonmigas yang bernominal US$111,91 miliar.

    Pendeknya, nilai ekspor sawit hingga bulan kesembilan lalu mencapai US$15,15 miliar. Total volume ekspor sawit sendiri berada di angka 21,40 juta ton.

    Dalam Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui pula, ekspor nonmigas merupakan penopang utama perdagangan luar negeri. Kontribusinya mencapai 90,71% dari total ekspor sebesar US$123,37 miliar. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor minyak dan gas bumi.

    Kepada Validnews, Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati pun mengakui komoditas sawit merupakan salah golongan komoditas yang berperan cukup tinggi di dalam ekspor Indonesia. Untuk ekspor sawit sendiri, ia menjelaskan, yang tercatat diperkirakan lebih banyak dalam bentuk minyak atau Crude Palm Oil (CPO).

    “Karena kalau sawit itu, enam jam saja sudah rusak kualitasnya. Kalau diekspor kan butuh waktu ya. Jadi setahu saya, ekspor sawit itu di CPO-nya,” ucapnya, Selasa (5/12).

    Bukan tahun ini saja kelapa sawit berperan besar dalam perdagangan luar negeri Indonesia. Setidaknya dalam kurun 2012—2016 saja, rata-rata volume ekspor untuk komoditas ini mencapai 23,90 juta ton tiap tahunnya. Dengan produksi paling besar terjadi pada 2015 kemarin dengan angka 28,29 juta ton.

    Nilai nominalnya pun tidak kecil. Rata-rata ekspor kelapa sawit dalam kurun waktu serupa mencapai US$17,70 miliar. Nominal paling besar tergapai pada tahun 2014 dengan angka US$19,01 miliar.

    Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati pun sepakat, dengan pandangan soal besarnya peran sawit dalam membentuk perekonomian nasional. Ia bahkan dengan lantang menyebutkan sawit dapat menjadi masa depan Indonesia guna mengeruk pendapatan.

    “Sawit itu bisa menjadi modal kita menggerakkan industri yang kompetitif karena produksi sawit kita itu lebih dari 50—55% dari total produksi dunia,” ujarnya kepada Validnews, Senin (4/12).

    Perkataan ekonom tersebut sepertinya memang tidak berlebihan. Sebab pada kenyataannya pada tahun 2009 saja, dalam kajian berjudul Indonesian Palm Oil Benefits yang dikeluarkan World Growth dicatatkan bahwa produksi minyak sawit dunia pada 2009—2010 mencapai 45,1 juta ton. Dari angka tersebut, Indonesia dan Malaysia menjadi kontributor terbesar. Persentasenya mencapai 85%.

    Untuk diketahui pula pada kurun yang sama, kebutuhan minyak nabati dunia telah mencapai 50,3. juta ton. Itu satu windu yang lalu. Angka kebutuhannya tentu menjadi berlipat-lipat saat ini. Sebab masih berdasarkan kajian yang sama, dalam 30 tahun saja kebutuhan sawit bisa meningkat 10 kali lipat.

    Hingga saat ini pun, Indonesia masih merajai posisi sebagai produsen sawit terbesar di dunia. Pernyataan Enny pun senada dengan hasil catatan Indexmundi. Lembaga pemeringkat komoditas tersebut menyebutkan, produksi minyak sawit Indonesia pada 2017 diestimasi berada di kisaran angka 36 juta ton.

    Sementara itu, produksi sawit dunia pada periode yang sama diprediksi mencapai 66,865 juta ton yang berasal dari 28 negara. Dengan demikian, kontribusi Indonesia dalam produksi global tersebut mencapai 53,84%.

    Sementara itu berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan Kementerian Pertanian, produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2009 berada di angka 19,32 juta ton. Angkanya kemudian melonjak pesat menjadi sekitar 33,23 juta ton pada 2016.

    Besarnya pasokan minyak sawit dari nusantara inilah yang dipandang oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) sebagai sumber kecemburuan negara-negara lain. Tak heran, isu lingkungan untuk membendung laju minyak sawit nusantara menjadi marak.

    Akan tetapi, apapun bentuk kampanye hitamnya, Gapki tidak merasa risau. Togar mengklaim ekspor sawit tidak terganggu. Bahkan ekspor ke Benua Biru pun tidak banyak berubah.

    “Volume ekspor kita tetap tinggi. Volume ekspor kita itu ke Eropa tiap tahun naik,” ujarnya kepada Validnews, beberapa waktu lalu.

    Sebagai informasi, berdasarkan data BPS, Eropa memang bukan pasar nomor satu bagi ekspor sawit Indonesia. Tercatat pada 2016 kemarin, ekspor crude palm oil (CPO) ke benua tersebut hanya sebesar total 1,39 juta ton dengan nilai US$858,92 juta.

    Pasar ekspor terbesar untuk CPO Indonesia sebenarnya adalah wilayah Asia. Pada tahun 2015, nilai ekspornya mencapai US$2,33 miliar dengan volume ekspor total 3,71 juta ton. “Pasar sawit itu ada China, Pakistan, dan Amerika,” tegasnya.  

    Meskipun mengaku tidak berdampak apapun, nyatanya berdasarkan data BPS, terjadi penurunan ekspor CPO yang cukup besar ke Eropa antara tahun 2015 dan 2016. Sebab pada 2015, total berat ekspor CPO ke Benua Biru mencapai 2,44 juta ton dengan nilai sebesar US$1,42 miliar.

    Kontribusi bagi Negeri
    Tingginya kontribusi sawit dalam ekspor tak ayak juga meggelitik pernyataan akan seberapa besar sumbangsihnya bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Untuk diketahui, ekspor barang nonmigas hingga tiga triwulan tahun ini berkontribusi rata-rata 15,86%. Sawit sendiri mengambil peran 13,53% dari nilai ekspor nonmigas.

    Namun Sri mengingatkan, walaupun angka ekspornya tinggi, tidak serta-merta sumbangsih sawit juga melonjak naik. Tidak hanya ekspor, ada aspek-aspek lain yang membentuk PDB dan jika dibandingkan dengan seluruh aspek tersebut, keberadaan ekspor sawit hanyalah salah satu elemen.

    Melihat peran sawit dalam PDB tidak boleh dengan kacamata kuda dan mengandalkan ekspor. Pasalnya, ada juga minyak-minyak sawit dan terusannya yang dikonsumsi dalam negeri. Kontribusinya terhadap PDB lebih dilihat dari asumsi total produksi kelapa sawit.

    “Kalau kita lihat share-nya di PDB-nya sendiri nggak cukup signifikan. Karena kan memang semua di PDB harus dihitung. Di dalam PDB-nya sendiri enggak sampai 2%, kecil. Hitungan kita di PDB, sekitar 1,5%,” ucap perempuan yang juga merupa anggota Forum Masyarakat Statistik ini.

    Asal tahu saja, hingga pada tiga triwulan tahun ini PDB Indonesia telah berada di angka Rp10.094,73 triliun. Dengan kontribusinya yang berkisar 1,5%; setidaknya sawit sudah menyumbang Rp151,42 triliun bagi total produksi bruto Indonesia. Tentunya ini bukan angka yang sedikit meskipun tak bisa dibilang mendominasi.

    Tapi, Togar tetap menganggap sawit merupakan kunci perekonomian Indonesia. Tidak hanya dari devisa yang komoditas ini hasilkan, pertumbuhan ekonomi pun bisa terpacu dengan penyerapan tenaga kerja yang disediakan oleh industri ini.

    “Karena kalau dari segi devisanya sendiri, dari segi tenaga kerja, dari segi banyaknya masyarakat yang terlibat langsung terhadap sawit itu kan kunci perekonomian,” tegasnya.

    Sri tidak menyangkal hal tersebut. Ia mengaku sawit banyak menyumbang untuk pertumbuhan ekonomi. Dampak lanjutan dari komoditas ini jelas tidak sedikit.

    “Kan nanti juga bisa memberikan penghasilan ke masyarakat ya. Jadi, kan mempekerjakan orang, menghasilkan nilai tambah, orang punya nilai tambah,” imbuhnya.

    Ia menegaskan lagi jika lapangan kerja yang bisa dihasilkan dari sektor kelapa sawit sangat besar. Sehingga akan berpengaruh besar jika terjadi degradasi usaha akibat kampanye hitam terhadap sawit yang menyeruak belakangan ini.

    “Secara kasar saja nih, tiap 50 hektare sawit itu digarap dua pekerja. Sekarang kita punya berapa juta hektare sawit? Berapa pekerjanya? Banyak,” seru pria ini.

    Totalnya berdasarkan data Kementerian Pertanian, pada tahun 2016 jumlah tenaga kerja perkebunan kelapa sawit mencapai 3,26 juta jiwa. Luas perkebunan sawit sendiri hingga 2016 tercatat 11,91 juta hektare.

    Itu baru di perkebunan. Sebab jika berbincang tentang lapangan kerja dari sawit, mesti dhitung pula pekerja-pekerja yang bisa tercipta dari industri turunannya yang memanfaatkan komoditas ini.

    “Secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 16–20 juta orang mengandalkan penghidupan dari bisnis kelapa sawit hulu-hilir yang tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia (pada 2016),” tutur Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam siaran persnya, beberapa waktu lalu.

    Sekadar informasi, pada tahun 2016 jumlah partisipasi angkatan kerja di Indonesia berada di kisaran angka 90,79 juta jiwa.  Pertanian dan perkebunan merupakan sektor kedua terbanyak dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

    Menurut data BPS, 31,86% pekerja di Indonesia berada di sektor pertanian. Peringkat pertamanya adalah sektor jasa dengan persentase 47,65%.

    Jika disimulasikan, berarti ada sekitar 28,92 juta orang yang mengandalkan pertanian sebagai mata pencahariannya. Dari angka tersebut, pekerja di perkebunan sawit sekitar 11,27% dari total pekerja di sektor pertanian dan perkebunan.

    Berdasarkan penelitian Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), petani sawit merupakan sektor tenaga kerja terbesar di komoditas ini. Sebagai contoh, jika pada tahun 2015 jumlah pekerja sawit dari hulu ke hilir tercatat 8,4 juta orang, lebih dari 5 jutanya merupakan tenaga kerja petani sawit.

    Meskipun terlihat besar, namun Enny belum puas dengan lapangan kerja yang dihadirkan oleh kelapa sawit. Baginya, masih banyak potensi untuk produk hilir sawit yang nantinya bisa kian meluaskan lapangan kerja dari komoditas ini.

    “Jadi kalau kita lihat, industri sawit kita karena hilirisasinya belum banyak. Baru sekitar 17 juta tenaga kerja yang berada di sana. Nah, kalau ini bagus dikembangkan ada satu industri hilirasi, misalnya di farmasi,” tuturnya.

    Sri sepaham. Menurutnya, kontribusi sawit bagi negeri akan melaju lebih kencang apabila ke depannya industri hilir komoditas ini kian diragamkan. Sebab jika dibandingkan Malaysia, industri hilir sawit di Indonesia masih terbilang minim.

    Bahkan perbandingannya bisa mencapai 1:10. Ada sekitar 200 industri hilir sawit di negeri jiran, sedangkan di Indonesia baru berada di angka 20-an.

    Padahal tidak hanya menyediakan lapangan pekerjaan, berdasarkan penelitian PAPSI yang dikeluarkan pada tahun 2014, sawit dipercaya mampu memangkas persentase penduduk miskin di nusantara. Pasalnya, pendapatan petani sawit lebih tinggi dari pendapatan petani nonsawit.

    Pada tahun 2019 diketahui pendapatan petani sawit berkisar Rp14 juta per hektare tiap tahunnya. Angkanya kemudian naik lebih dari 200% menjadi Rp31 juta per hektare tiap tahunnya pada 2013.

    Bandingkan dengan pendapatan petani nonsawit pada 2009 yang hanya di kisaran Rp4,6 juta per hektare tiap tahunnya. Angkanya kemudian meningkat menjadi Rp7,2 juta hektare tiap tahunnya selang empat tahun kemudian.

    Mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus diakui, komoditas ini memang sangat berperan bagi ekonomi negeri. Kampanye-kampanye hitam yang terus menyeruak bukan tak mungkin lambat laun memengaruhi perdagangan si emas hijau, hingga berdampak langsung bagi neraca perdagangan hingga penyerapan tenaga kerja.

    Jika sudah demikian, pemerintah harus makin “menyayangi” sawit. Catatan dari kalangan pengusaha sawit, sejauh ini masih banyak regulasi yang menghambat perkembangan komoditas ini.

    “Begini, sawit itu dibenci iya, disayang iya. Kalau dilihat dari segi devisanya, diinginkan. Tapi kalau ada LSM teriak-teriak, didengarkan,” keluh Togar pada akhirnya. (Teodora Nirmala Fau, Rizal, M Nur Bachtiar)