SINEMA DAN REFLEKSI KEKERASAN DI RANAH PERSONAL

Masyarakat kini lebih jeli melihat berbagai karya seni sebagai cerminan fenomena sosial dalam masyarakat, bukan sekadar komoditas hiburan.

  • Ilustrasi kekerasan terhadap pasangan. goodhousekeeping.com
    Ilustrasi kekerasan terhadap pasangan. goodhousekeeping.com

    Oleh: Novelia, M.Si *

    “Ampun. La. Ampun..”

    Rintihan tersebut keluar dari mulut pemeran karakter Yudhis dalam film Posesif besutan sutradara Edwin. Dikisahkan Yudhis dalam adegan tersebut sedang berupaya meminta maaf sambil menggedor pintu rumah Lala, pacarnya, setelah pemuda SMA tersebut melakukan kekerasan fisik di tengah adu argumen mereka.

    Posesif, film yang telah rilis sejak 26 Oktober 2017 lalu ini dalam kacamata perfilman dapat dikategorikan sebagai karya Sinema Ketiga. Disebut Sinema Ketiga untuk membedakan model ini dengan Sinema Pertama (Hollywood, yang berorientasi pada keuntungan ekonomi) dan Sinema Kedua (Sinema Eropa yang berpendekatan estetika, dan Sinema Auteur). Solanas dan Getino (1969) menganggap Sinema Ketiga sebagai perlawanan terhadap Sinema Barat yang dominan dan cenderung berorientasi pada komersialitas semata. 

    Sinema Ketiga terlahir awalnya karena ketidaknyamanan atas dominasi kapitalisme terhadap khalayak yang merupakan gagasan Marxis melihat adanya dominasi kelompok tertentu, bagaimana kaum elit selalu berusaha mendominasi struktur. Marxisme ini kemudian dikembangkan lagi menjadi Neo-marxisme, di mana kekuasaan elit sangat bergantung pada ideologi yang disebarkannya.

    Kehadiran Sinema Ketiga seolah menjadi jembatan yang tepat untuk menyampaikan kedua gagasan ini, baik Marxis maupun Neo-Marxis. Sinema Ketiga ingin menyadarkan audiensnya untuk menyadari realitas bahwa terdapat kelompok marjinal yang terus didominasi dan dieksploitasi, baik dari segi base maupun superstructure, oleh kelompok tertentu. Bagaimana kaum borjuis terus menindas kaum pekerja, atau bagaimana kaum marjinal terus ditekan kaum dominan.

    Kelompok marjinal di sini tidak hanya merujuk kepada kaum pekerja yang tertindas oleh dominasi elit, namun juga merujuk kepada kelompok lain yang terpinggirkan, seperti homoseksual, etnis minoritas, dll. Inilah mengapa Gabriel (1982) melihat tema besar Sinema Ketiga adalah isu-isu kelas sosial ekonomi (base), etnis, budaya, agama, seks, dan integritas nasional (superstructure).

    Dominasi dan hirarki terkait seks dan gender merupakan isu yang dibahas oleh film Posesif. Adegan permintaan maaf yang mungkin tampak berlebihan bagi sebagian orang nyatanya merupakan salah satu potret alur kekerasan yang terjadi pada hubungan romantis personal, yang melibatkan remaja laki-laki dan perempuan di era ini. Edwin, sang sutradara sendiri, tampaknya berusaha memberikan ilustrasi sistem patriarki yang sudah sangat kental dilanggengkan dalam masyarakat melalui karyanya ini.

    Adegan tersebut berusaha menunjukkan bahwa pelaku kekerasan pada umumnya selalu melakukan permintaan maaf, yang kadang terasa berlebihan, setelah insiden dengan harapan korban dapat memaklumi perbuatannya. Hal ini menyebabkan kekerasan tersebut terjadi berulang kali. Dari bagaimana Yudhis berkali-kali berhasil meyakinkan Lala yang – berkali-kali pula – meminta untuk mengakhiri hubungan mereka, tergambar bagaimana sistem patriarki semakin dapat dibentuk oleh kekuasaan salah satu pihak.  

    Saat ini masyarakat sudah cukup jeli dengan tidak lagi melihat sinema sebagai hiburan maupun komoditas ekonomi semata, namun juga sebagai refleksi sosial terhadap fenomena-fenomena yang banyak terjadi di sekitar. Di luar cerita Posesif , kisah mirip-mirip Lala-Yudhis tak jarang ditemukan – kisah-kisah terkait toxic relationship – bahkan yang mencapai level kekerasan/penganiayaan.

    Maraknya kasus penganiayaan terhadap pasangan sendiri memang nyata terjadi dalam masyarakat. Menurut yang terlapor dalam Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2017, pada tahun 2016 terdapat 13.602 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani lembaga mitra pengada layanan, dengan kekerasan yang terjadi di ranah personal mendominasi dengan 75% dari jumlah tersebut atau sebanyak 10.205 kasus.

    Sementara kasus-kasus di ranah personal sendiri menempatkan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), yakni yang dilakukan terhadap istri (KTI) sebagai kasus terbanyak dengan jumlah 56% atau 5.784 kasus. Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), yang menjadi topik utama film Posesif, berada di posisi kedua dengan persentase 21% atau 2.171 kasus.

     

    Data Komnas Perempuan di atas menggambarkan bahwa kekerasan dalam ranah personal justru menjadi hal yang paling umum terjadi. Hal ini diprediksi dikarenakan fakta bahwa dalam kondisi ini korban seringkali tidak menganggap dirinya sebagai korban karena ikatan emosional dengan pelaku. Terlebih apabila hal ini coba dimaklumi korban karena pelaku penganiayaan memiliki motif yang membuatnya melakukan hal tersebut, seperti bagaimana Yudhis dalam Posesif dikisahkan memiliki perangai emosional sebagai hasil konstruksi dari ibunya yang juga bersikap kasar terhadapnya.

    CATAHU Komnas Perempuan Tahun 2017 memperlihatkan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan, namun perhitungan tersebut tidak dapat menjadi ukuran baku karena yang tercatat hanya jumlah kasus terlapor. Sementara dalam beberapa kondisi masih banyak korban yang tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya, diantaranya karena: (1) kurangnya pengetahuan tentang akses hukum yang tepat, (2) malu, atau (3) hubungan tidak diketahui keluarga/orangtua bagi yang berpacaran.

     

    Padahal sangat penting untuk mengetahui dan melaporkan segala tindak kekerasan ke pihak berwenang. Dalam KUHP sendiri ada tiga kategori kekerasan atau penganiayaan yang dapat dilaporkan, yaitu penganiayaan biasa, ringan, dan berat. Masing-masing diatur dalam pasal 351, 352, dan 354 KUHP.

    Selain membutuhkan perlindungan secara hukum, korban penganiayaan selayaknya didampingi secara psikologis karena umumnya menyisakan trauma. Tidak sedikit juga korban yang justru mencoba melindungi pelakunya karena menganggap pelaku memiliki alasan tertentu atas perbuatannya, misalnya kekerasan yang juga pernah dialaminya di masa lalu.

    Beberapa kasus kekerasan yang bermotif pelampiasan pengalaman masa lalu menggambarkan bahwa kerusakan yang terjadi sudah mengakar pada sistem dan memerlukan tanggung jawab berbagai pihak untuk memperbaiki. Permasalahan tidak selesai dengan menyalahkan pelakunya saja, namun perlu dilihat apa yang mengakibatkan ia memilih untuk berbuat demikian. Begitupun hal tersebut seharusnya tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan bentuk kekerasan yang sama terus berlanjut. Karena dengan alasan apapun, perbuatan kekerasan atau aniaya yang merugikan pihak lain merupakan hal yang tidak dibenarkan dan harus dengan tegas ditolak.

    *Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

    Referensi:

    Hayward, Susan. (2001). Cinema Studies The Key Concepts 2nd ed. New York : Routledge Taylor and Francis Group.

    Higbee & Hwee Lim. (2010). Concepts of Transnational Cinema: Towards a Critical Transnationalism in Film Studies. University of Exeter, Exeter UK : Transnational Cinemas Volume 1 Number 1, retrieved from https://www.ualberta.ca/~vruetalo/Sarli-Bo%20Research/52381952.pdf.