Romantisme Ala Betawi

Kebiasaan ngelancong kaum laki-laki ke rumah seorang perempuan ikut memengaruhi arsitektur rumah, khususnya dalam hal pembuatan jendela bujang dan trampa (ambang pintu)

  • Ilustrasi palang pintu saat kawinan adat Betawi. (palangpintubetawi.com)
    Ilustrasi palang pintu saat kawinan adat Betawi. (palangpintubetawi.com)

    JAKARTA – Pasangan muda berjalan bergandengan tangan melewati etalase demi etalase di sebuah mall di Jakarta Selatan. Mereka berjalan menuju bioskop yang berada di lantai tiga mall tersebut. Sesekali mereka tertawa sembari saling bertatap wajah. Si pria merangkul pinggang perempuan mungil itu. Dalam sekejap mereka saling rangkul, dan mengecup kening tanpa sungkan pada orang-orang di sekitar mereka.

    Orang-orang yang ada di mall itu seolah tidak melihat mereka. Atau mungkin melihat, namun menganggap biasa romantisme ala sepasang sejoli seperti itu. Karena itu tidak ada perhatian lebih kepada pasangan muda tersebut. Potret seperti itu boleh jadi potret yang memang lumrah dilakukan mereka yang jatuh cinta, khususnya di kota-kota besar di masa saat ini.

    Pemandangan tak jauh berbeda bisa ditemukan di sejumlah jembatan layang di Jakarta, di mana banyak muda-mudi yang memadu kasih, khususnya pada malam hari. Sepeda motor diparkir di sisi jalan, lalu sepasang kekasih duduk di atas sepeda motor itu sambil memandang ke banyak penjuru. Dalam posisi seperti itu si perempuan biasanya duduk di depan si pria yang memeluk dari belakang dan meletakkan tangannya di atas perut.

    Meski tidak saling memagut bibir, mereka saling meremas jemari, ada juga yang mencuri kesempatan untuk mengecup pipi, dan menikmati waktu berdua tanpa peduli angin malam dan kotornya udara yang bercampur asap knalpot kendaraan. Mereka juga tak peduli jika romantisme mereka itu diperhatikan banyak mata.

    Ya, ketika memadu kasih, dunia memang serasa milik berdua. Jadi tak perlu peduli pada apapun di sekitar. Pemandangan lampu-lampu di bawah jembatan seolah turut menyempurnakan indahnya memadu kasih malam itu.

    Ketika Valentine tiba pada tanggal 14 Februari, momen tersebut menjadi hari istimewa bagi banyak orang, terkhusus bagi para sejoli. Momen hari kasih sayang itu adalah momen di mana para kekasih saling mengekspresikan kasih sayang, entah itu memberi bunga, cokelat, atau pemberian lain yang menandakan kasih sayang.

    Pada momen seperti itu pula banyak pasangan menikmati waktu berdua, entah sekadar makan bersama, menonton bioskop atau mengunjungi tempat-tempat favorit dan dianggap romantis. Ya, itu semua adalah potret umum ketika Valentine tiba.

    Di tempat dan waktu terpisah, Lukman Hakim Satiri tidak bisa berbuat banyak ketika datang mengapel atau menyambangi pujaan hati ke rumahnya. Dia tidak ditemui langsung oleh sang pujaan hati, melainkan disambut dan ditemani oleh sang calon mertua. Jadi romantisme ala “Kids Zaman Now” tak bisa dirasakannya.

    “Ada tiga kali saya ngapel ke rumah pacar saya dan saya cuma ditemui sama babehnya (ayahnya) saja. Saya nggak ketemu sama pacar saya itu,” ungkap Lukman kepada Validnews saat ditemui di Sanggar Firman Muntaco, Condet, Jakarta Timur, Minggu (11/2).

    Lukman dan ayah dari pujaan hatinya pun berbincang santai di teras rumah, sedangkan pujaan hatinya tetap di dalam rumah, menguping apa yang mereka obrolkan hari itu. Awal bertemu dengan sang calon mertua Lukman tidak bisa ngobrol sesantai itu. Ayah kekasihnya dikenal galak dan ditakuti warga sekampung mereka di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan.

    Predikat galak itu tidak membuat Lukman ciut. Cintanya dan keinginan bertemu dengan pujaan hati memberikan kekuatan untuk melawan ketakutan akan sang calon mertua. Dia bercerita, saat pertama kali bertemu dengan ayah kekasihnya, dia langsung ditanya siapa orangtuanya.

    “Anak siapa lu,” ucap Lukman menirukan gaya bahasa sang calon mertua kepadanya.

    Setelah dua tiga kali apel ke rumah dan hanya ditemani sang calon mertua, akhirnya kekasih hati diizinkan untuk menemui dia. Mereka dibolehkan bercakap-cakap langsung di teras rumah tanpa didampingi oleh si babeh.

    Meski begitu, waktu panjang yang dinanti untuk segera berduaan tidak begitu saja bisa dimanfaatkan untuk sekadar duduk berdekatan, apalagi saling bersentuhan. Meski sama-sama berada di teras, Lukman dan kekasihnya harus duduk terpisah dari ujung teras yang satu dengan ujung teras yang lain. Ada aturan yang membuat mereka tidak boleh duduk berduaan.

    Di tambah perasaan rindu bertemu langsung dan rasa cinta yang besar membuat jantungnya berdegup kencang, seolah aliran darah mengalir dua kalih cepat dari biasanya. Jadi selain bercakap-cakap dengan jarak berjauhan, pasangan sejoli ini lebih sering menunduk saat saling bertanya dan menjawab pertanyaan dari pujaan hati.

    “Rumah dulu panjang. Dia di pojok sana, saya di pojok sini. Ngobrol juga nunduk-nunduk, malu-malu, dag-dig-dug,” ucap Lukman.

    Budaya Betawi
    Potret tersebut adalah situasi percintaan yang umum dirasakan pemuda-pemudi Betawi di masa lalu. Kebiasaan itu mungkin jarang atau bahkan mungkin tak lagi dijumpai dalam kehidupan masyarakat Betawi modern saat ini.

    Dikisahkan Lukman, situasi tersebut dialaminya pada tahun 1995. Dimana kala itu pun sesungguhnya percintaan ala budaya Betawi tak seketat sebelumnya. Banyak orang Betawi yang bisa saling menjalin cinta tanpa harus melalui pengalaman seperti yang ia rasakan.

    “Kebetulan aja mertua saya itu agak kolot dan memegang nilai-nilai itu. Jadi saya masih sempat merasakan,” ucap pria yang juga berprofesi sebagai Ustaz ini.

    Gaya pergaulan anak muda Betawi dulu menurut Lukman boleh dibilang menyenangkan, namun juga penuh tantangan. Hanya saja kebiasaan semacam itu mungkin sangat sulit diterima anak muda zaman sekarang.

    Pada masa dulu, muda-mudi yang ingin bergaul tidak begitu saja bisa langsung bertemu bertatap muka, apalagi jalan berduaan. Kalaupun ingin berkomunikasi, yang paling mungkin adalah menitip surat melalui perantaraan teman.

    Surat yang dibuat pun tidak sembarang dibuat. Menurut Lukman, umumnya surat yang ditulis orang Betawi dulu beraksara Arab dan berbahasa Melayu atau tulisan Arab Melayu yang juga dikenal dengan sebutan huruf Jawi. Jadi, tulisan yang dibuat menggunakan huruf Arab walau ejaannya adalah ejaan Melayu.

    Jika ingin bertemu, lanjut dia maka yang paling mungkin dimanfaatkan adalah waktu-waktu melihat sang pujaan hati berjalan pulang mengaji bersama teman-temannya.

    “Paling banter kita lihat dia lewat depan rumah, gerombolan sama temen-temennya. Itu pun mau ketemu enggak bisa begitu saja main samperin, semacam ada tabu,” kata pria berusia 47 tahun ini.

    Kalau pun ingin bertemu dan bercakap-cakap, ya cara paling mungkin adalah menyambangi ke rumah, dan harus memulai dari mengobrol dengan sang ayah sampai diizinkan untuk mengobrol langsung dengan pujaan hati.

    Bahkan jika pun diizinkan bercakap-cakap, dua pemuda Betawi tidak bisa duduk berdekatan. Mereka harus dipisah oleh jarak atau bilik. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan jendela bujang dalam arsitektur rumah Betawi.

    Dalam buku Ragam Seni Budaya Betawi yang ditulis oleh Tim Peneliti Kebudayaan Betawi FIB Universitas Indonesia, dijelaskan mengenai bentuk rumah Betawi yang banyak dipengaruhi kebiasaan orang Betawi. Disebutkan adanya kebiasaan ngelancong atau kunjungan pria ke rumah perempuan ikut memengaruhi arsitektur rumah dalam pembuatan jendela bujang dan trampa (ambang pintu).

    Disebutkan bahwa jika ada tamu pria yang berkunjung ke rumah atau ngelancong, maka percakapan tersebut tidak boleh dilakukan secara langsung. Si pria yang bertandang harus duduk atau tiduran di peluaran (ruang depan), sedangkan si perempuan duduk di dalam rumah, terpisah oleh jendela bujang tersebut (Harun, dkk., 1991: 26; Prisandhini, 2004: 14).

    Selain budaya ngelancong juga ada pantangan terkait trampa, yaitu gadis pemilik rumah tidak boleh duduk di trampa. Ada kepercayaan jika itu dilakukan, maka perempuan akan sulit bertemu dengan jodohnya kelak (pelamar balik jalan) karena dianggap memamerkan dirinya sendiri dan dinilai tak pantas bagi seorang gadis.

    Sebaliknya, jika si pria yang ngelancong melanggar trampa, ia akan dianggap sebagai orang yang bermaksud jahat. Ini terkait dengan istilah ngebruk (nyerah diri), ya itu seorang perjaka yang berani melangkahi trampa rumah yang ada anak perawannya, perjaka itu diharuskan mengawini perawan yang tinggal di rumah tersebut. Jika tidak dikawinkan, nama baik kedua pihak keluarga akan tercemar (Prisandhini, 2004: 15).

    Validnews pun mendatangi rumah Betawi yang masih terdapat jendela bujang sebagai bagian dari arsitektur rumah. Rumah tersebut adalah rumah H. Djaeran atau biasa disebut Ki Bajar yang ada di Jalan AMD, Balekambang, Condet, Jakarta Timur.

    Di rumah tersebut terlihat bagian teras rumah terdapat jendela bujang yang dicat dengan warna cokelat. Sekilas bentuknya seperti jeruji yang terbuat dari kayu yang masing-masing jarak jerujinya hanya muat dilewati ujung tangan atau beberapa jari.

    Menurut Nur yang kini menempati rumah tersebut, dia sendiri tidak lagi merasakan bagaimana rasanya memadu kasih dengan dipisah oleh jendela bujang. Namun berdasarkan cerita yang dia ketahui dari kedua orangtuanya, jendela bujang memang menjadi pembatas antara pria dan wanita yang memadu kasih di rumah.

    “Dia punya anak perawan pacarannya di sini. Itu katanya begitu,” ucap Nur yang tak lain adalah cucu dari Ki Bajar.

    Warga Balekambang bernama Darman mengaku mengetahui lucunya memadu kasih terpisah jendela bujang. Menurut pria berusia 79 tahun ini, beberapa pemuda yang mungkin tidak sabaran biasanya memasukkan jarinya melalui sela-sela jendela bujang, berharap saling bersentuhan dengan jemari sang kekasih.

    Atau jika tidak memungkinkan, maka biasanya sepasang kekasih menggunakan lidi yang dimasukkan melalui sela-sela, lalu terjadilah permainan tarik menarik lidi. Hal kecil seperti itu sudah sangat menyenangkan bagi para pemuda Betawi tempo dulu.

    Menariknya, meski sang pria tidak bertemu langsung dengan sang kekasih, atau bahkan hanya ditemani orangtua pujaan hati, hal tersebut tidak mengurangi rasa sayang si pria terhadap kekasihnya. Bahkan ada semacam kebiasaan, meski tidak diharuskan, yang mana si pria meninggalkan uang entah itu untuk orangtua pujaan hati, atau untuk pujaan hati.

    Uang tersebut biasanya tidak diberikan secara langsung melainkan diselipkan di bawah taplak meja atau di bawah toples kue.

    Nur menunjukkan Jendela Bujang yang ada di rumah mereka di Jalan AMD, Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Validnews/Jenda Munthe

    Lekat dengan Islam
    Kebiasaan dalam pergaulan muda-mudi Betawi menunjukkan betapa lekatnya budaya Betawi dengan nilai-nilai Islam. Tidak bolehnya pasangan muda-mudi berduaan atau bersentuhan, jelas menunjukkan hukum Islam yang mengatur mengenai pasangan bukan muhrim.

    Hal ini diakui oleh Lukman. Menurut dia, nilai-nilai Islam banyak memberikan pengaruh dalam kehidupan masyarakat ataupun budaya Betawi. Karena itu dalam hal bergaul, muda-mudinya mengaplikasikan nilai-nilai yang lekat dengan Islam.

    Selain terlihat dalam kebiasaan bergaul, kedekatan Betawi dengan Islam juga bisa dilihat dari aksara Arab yang dipakai dalam bersurat antara sepasang kekasih. Ia mengatakan, mereka yang mengetahui menulis dan membaca aksara Arab tentulah yang biasa mengaji. Bahkan menurutnya kebisaan mengaji adalah salah satu nilai plus yang bisa ditawarkan kepada keluarga perempuan yang ingin didekati.

    Menurut pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Karsono H Saputra sastra tulis Betawi yang dikenal menggunakan huruf Arab mulai diketahui ada pada pertengahan abad ke-19 di wilayah Pecenongan. Saat itu masyarakat dengan sadar menulis atau menyalin naskah lama untuk disewakan.

    Dia mengatakan, lantaran adanya perbedaan sifat bunyi bahasa Arab dan bunyi bahasa Melayu maka ada penyesuaian dalam penulisan.

    Dia menyebutkan, pembelajaran mengenai penggunaan huruf Arab dan penyesuaiannya dengan bahasa Melayu didapat dari sekolah-sekolah dan tempat-tempat pengajian. Dia mengatakan, orang Betawi yang berada di daerah pusat kota mendapat pembelajaran dari sekolah-sekolah resmi. Sedangkan orang Betawi di daerah pedalaman menurutnya lebih suka mengaji ketimbang sekolah. Namun, dari tempat pengajian ini pula orang Betawi mendapat pengajaran baik baca maupun tulis.

    “Ngaji itu adalah pendidikan. Pendidikan tidak formal,” ucap Karsono saat ditemui Validnews di kediamannya di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (13/2).

    Dia pun tidak menampik bahwa pendidikan yang didapat dari pengajian sedikit banyak memberikan dampak bagi gaya pergaulan muda-mudi Betawi saat itu.

    Pimpinan Sanggar Seni Betawi Firman Mutaco, Fifi Muntaco menambahkan, keengganan muda-mudi Betawi untuk bertemu secara langsung dikarenakan ketaatan orang Betawi kepada agama Islam. Dia menyebutkan, bahkan dalam Islam sebenarnya tidak ada istilah pacaran.

    Menurutnya yang ada hanyalah pengenalan antara pria dan wanita yang biasanya dilakukan di rumah, itu pun ada jamnya dan ditemani keluarga.

    “Larena itu laki-laki jadi sungkan. Lebih baik segera dilamar,” kata perempuan yang akrab disapa Mpok Fifi ini kepada Validnews.

    Dia menambahkan, pacaran semestinya dilakukan untuk benar-benar mencari istri, bukan buat kesenangan saja, terlebih bersentuhan memang dilarang agama.

    Ketua Asosiasi Silat Tradisi Betawi Indonesia (Astrabi) Anwar Al Batawi, menyebut bahwa orang Betawi lekat dengan dua hal, yakni agama dan silat. Hal ini bisa dilihat dalam salah satu falsafah orang Betawi, yakni “Duduk besile bace Qur’an, turun pelataran main pukulan (silat)”.

    Dalam salah satu prosesi pernikahan orang Betawi, ada yang dikenal dengan palang pintu. Menurut Anwar, palang pintu sendiri memiliki esensi untuk menghalangi mempelai pengantin pria masuk sebelum memenuhi syarat-syarat yang diminta wakil dari keluarga mempelai perempuan.

    Syarat pertama yakni membawa kekudang atau makanan kesukaan pengantin wanita. Kemudian mengalahkan jago silat dari pihak perempuan, dan syarat ketiga adalah bisa mengaji.

    “Jadi mempelai pria harus menyayangi dan memenuhi apa kesenangan calon istri. Bisa silat bisa jaga istrinya dari gangguan orang jahat karena zaman dulu masih rawan. Zaman sekarang tetap melindungi, dan bisa mengaji biar jadi contoh imam dalam keluarga,” papar Anwar.

    Romantisme Unik
    Budayawan Betawi yang juga Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Yahya Andi Saputra menjelaskan uniknya gaya percintaan muda-mudi Betawi tempo dulu. Menurutnya, muda-mudi saling mengenal biasanya di tempat mereka mengaji. Namun itu pun tidak berarti mereka saling bertegur sapa. Biasanya, kata dia, si pria memberikan pemberian yang bisa menjadi simbol atau sinyal tanda suka. Pemberian itu bisa berupa barang, atau kembang yang dititip melalui temannya.

    Dia juga menyebut, tidak ada istilah pacaran bagi anak Betawi zaman dulu, dan tidak ada acara berduaan bagi mereka yang saling suka. Dia mengungkapkan, kalaupun ada muda mudi yang memungkinkan untuk jalan ke luar rumah, biasanya harus ada yang menemani.

    “Selalu ada yang temenin, orang yang dipercaya. Entah dia punya sepupu, adik, ponakan. Itu saya ngalamin tahun 70-an,” terang Yahya saat dihubungi Validnews melalui telepon selulernya, Selasa (13/2).

    Di dalam bukunya berjudul Upacara Daur Hidup Adat Betawi yang diterbitkan Wedatama Widya Sastra, Yahya menceritakan bagaimana kisah cinta sejoli Betawi ketika akan masuk dalam tahapan pernikahan. Di buku itu disebutkan bahwa pada saat pra-akad nikah ada istilah ngedelengin yakni semacam upaya mencari atau menemukan kesamaan misi dan visi antara laki-laki dan perempuan dalam rangka membina rumah tangga.

    Tahapan ngedelengin ini terdiri dari dua cara, yakni ngintip dan mak comblang. Ngintip adalah proses ngedelengin yang dilakukan sendiri oleh sang jejaka. Si prialah yang mencari dan menemukan gadis pilihannya. Jika sudah merasa mantap maka si pria akan langsung  menyampaikan keinginannya kepada orangtuanya agar melamar si gadis.

    Diceritakan Yahya, dulu di daerah tertentu ada kebiasaan menggantungkan sepasang ikan bandeng di depan rumah seorang gadis, bila ada yang mendekati gadis tersebut. Ini adalah awal dari ngedelengin.

    Sedangkan tahapan mak comblang adalah orang yang pandai melobi dan mempunyai koneksi untuk menjodohkan dua belah pihak. Boleh dibilang mak comblang merupakan profesi. Setiap keluarga yang dikunjunginya pasti akan mengaitkan dengan profesinya, yaitu mencari sasaran anak perawan yang akan “ditangkap”.

    Suatu keluarga yang dikunjungi mak comblang akan menampilkan dan memperlihatkan anak gadisnya di hadapan mak comblang. Intinya, mak comblang ini benar-benar menjadi perantara jodoh antara keduabelah pihak yang ingin disatukan. Menurut Yahya, di era saat ini keberadaan mak comblang masih ada walau tak begitu banyak dan tidak terlalu terlihat.

    Fase selanjutnya adalah ngelamar yang berarti pernyataan dan permintaan resmi dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak perempuan. Saat ada proses permintaan lamaran, biasanya pihak pria mendapat jawaban dari pihak perempuan pada hari itu juga.

    Dalam proses ini ada bawaan pokok yang biasanya dibawa, yakni sirih lamaran, pisang raja, roti tawar, sirop, hadiah pelengkap, dan para utusan yang terdiri dari mak comblang dan dua pasang wakil orangtua pihak pria.

    Jika lamaran sesuai harapan, maka akan masuk dalam fase tande putus (tundangan), fase ini berarti calon mempelai perempuan telah terikat dan tidak dapat diganggu pihak lain. Biasanya jika acara ngelamar dilakukan pada hari tertentu, maka acara tande putus akan dilakukan pada hari yang sama seminggu sesudahnya.

    Pada acara ini dibicarakan mahar atau mas kawin yang diminta, lalu berapa nilai uang belanja yang diperlukan untuk resepsi pernikahan, apa kekudang atau makanan yang disukai, kapan pernikahan digelar, berapa perangkat pakaian upacara yang digunakan, dan pelangke kalau ada abang atau kakak yang dilangkahi.

    Setelah fase tersebut maka akan ada fase piare calon none penganten yang bertujuan untuk mengontrol kegiatan, kesehatan, dan memelihara kecantikan pengantin wanita sebagai persiapan menghadapi hari akad. Ada juga fase mandi kembang yang dilaksanakan sehari sebelum akad nikah. Beberapa kegiatan lainnya, yakni malem pacar, malam mangkat.

    Lalu digelar juga acara ngerudat yang mana seluruh keluarga besar mempelai pria, tokoh masyarakat, alim ulama dan undangan berkumpul di rumah calon mempelai pria lalu berangkat ke rumah calon mempelai perempuan. Pada proses ini dibawakan sejumlah bawaan lengkap dengan iring-iringan. Ini adalah proses ngarak calon pengantin pria sembari jalan ke rumah pengantin wanita menjelang upacara akad nikah. Prosesi ini pun kental dengan nilai keislaman.

    Lalu ada prosesi malem undangan yang merupakan acara prosesi dan narasi. Ini adalah fase sebelum palang pintu.

    Yahya mengatakan fase palang pintu adalah simbol dari kesiapan seorang laki-laki untuk membina rumah tangga. Fase ini pun kental dengan unsur keislaman karena selain pertarungan silat, pada prosesi ini terdapat pembacaan sikeh atau pembacaan salawat nabi.

    Usai prosesi buka palang pintu, mempelai cowok pun diterima keluarga mempelai cewek, dan dilanjutkan dengan prosesi ijab dan kabul. Setelah proses ini selesai maka pasangan pengantin duduk di pelaminan dan menyambut setiap tamu. Prosesi ini dinamakan Di Puade.

    Ada yang menarik dari tahapan pernikahan Betawi. Meski sudah menikah, pengantin pria belum dibolehkan menginap di rumah istrinya. Bahkan keesokan harinya, ada fase malem negor, yakni sehari setelah akad nikah, mempelai pria diperbolehkan menginap di rumah penganten namun pasangan tersebut tidak dibolehkan melakukan hubungan suami istri.

    Si perempuan harus mampu mempertahankan kesuciannya selama mungkin. Bahkan berbicara pun si perempuan harus menjaga gengsi dan jual mahal meski kewajibannya untuk melayani urusan dapur harus tetap dilakukan.

    Strategi diam ini membuat mempelai pria harus berusaha keras membujuk dan merayu agar istrinya menerima. Rayuan ini biasanya tidak hanya berupa kata-kata, namun juga dengan uang tegur yang diselipkan di bawah taplak meja atau di bawah tatakan gelas. Fase ini bisa berlangsung berhari-hari sampai mempelai perempuan bersedia diajak masuk kamar.

    Yahya mengatakan, fase ini sekarang masih mungkin terjadi walau tidak begitu persis, seperti malem negor yang ada dulu. Prosesi uang tegur dan merayu mempelai perempuan menurutnya masih ada saat ini sebagai bentuk bahwa si pria harus berusaha mendekati istrinya dan membuat istrinya yakin padanya.

    Fase terakhir adalah pulang tige ari, yakni setelah mempelai pria bermalam beberapa hari di rumah mempelai perempuan, maka pihak mempelai pria akan menjemput mempelai perempuan untuk dibawa ke rumah mempelai pria.

    Ilustrasi model memperagakan nikah adat Betawi saat pihak perempuan memotong roti buaya dalam pembukaan "Pameran Kain dan Busana Adat Betawi" di Museum Tekstil, Jakarta. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus

    Pergeseran Budaya
    Bagaimanapun orang Betawi memiliki budaya, dan kekayaan dari budayanya itu sendiri. Bagaimana mempertahankannya, itu kembali kepada masing-masing individu. Untuk diketahui jumlah orang Betawi berdasarkan sensus penduduk BPS di tahun 2010, yakni sebanyak 6.807.968 jiwa atau 2,88%. Kebiasaan pergaulan anak muda pada umumnya memang mengalami pergeseran dari tahun ke tahun. Orang Betawi pun pasti ingin mempertahankan nilai-nilai luhur budayanya yang kental akan nilai keagamaan.

    Tidak hanya di kalangan masyarakat Betawi saja, banyak budaya di Indonesia yang tidak sepakat dengan gaya pacaran yang mungkin dianggap fulgar dan tidak sesuai dengan budaya asli bangsa. Bahkan momentum Valentine mulai banyak ditolak di Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan budaya asli negeri ini.

    Sosiolog Eka Wenats Wuryanta mengatakan, pergeseran nilai bisa disebabkan pengaruh pergaulan anak muda, atau bahkan dari keluarga dan masyarakat. Satu lagi yang menurutnya sangat berdampak adalah pengaruh yang dibawa dari media.

    “Media itu kadang-kadang menjadi sesuatu yang sifatnya strategis dalam membentuk anak-anak muda memandang realitas di depan. Memandang cara berpacaran, memandang objek dan sebagainya,” kata dia kepada Validnews, Rabu (14/2).

    Dicontohkan dia, jika pacaran itu didasarkan pada rasa hormat dan bukan nafsu, maka pelakunya akan menganggap pacaran sebagai sesuatu yang dihormati, dan tidak akan ada mengumbar cumbu di muka umum.

    Dia juga mengungkapkan, dulu, pacaran dianggap proses mengenali, bahkan tidak ada istilah pacaran. Jika bertemu, jodoh, maka langsung persiapkan pernikahan dalam waktu sebulan.

    “Saya kira pacaran sebagai kelanjutan sebuah proses pernikahan. Di mana, pernikahan sebagai sesuatu yang dihormati dan sakral. Sekarang pernikahan bisa jadi sakral dan (bisa juga) main-main,” kata dia.

    Eka menyebutkan, dulu nilai-nilai lebih dihargai. Sedangkan yang terjadi saat ini pacaran sebagai suatu yang dianggap untuk senang-senang. Dalam hal inilah terjadi pergeseran nilai pribadi yang dipengaruhi budaya masyarakat dan lingkungan.

    Dia mengatakan, untuk mengantisipasi kondisi ini, harus dilakukan pendekatan dari berbagai aspek. Lebih baik multi disiplin, yakni budaya, sosiologis, dan psikologis, dan komunikasi. Pendekatan utama adalah pendekatan respek.

    “Artinya kita enggak perlu berbelit lagi dengan nilai-nilai yang abstrak dan kadang jauh dari kehidupan dia. Justru, mendekati anak muda, harus didekati dengan cara hidupnya. Itu adalah respek dengan segala macam kehidupan yang dihadapi. Dari respek itu akan membuat anak muda respek terhadap orang lain,” tegas dia. (Jenda Munthe, James Manullang, Zsazya Senorita)