Restrukturisasi dan Investasi Bikin Laba Bersih BTPN Turun 30%

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) mencatat laba bersih pada 2017 sebeesar Rp1,2 triliun atau turun 30% dibanding perolehan di tahun 2016 lalu

  • Petugas layanan nasabah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) melayani nasabah.FOTO ANTARA/Audy Alwi
    Petugas layanan nasabah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) melayani nasabah.FOTO ANTARA/Audy Alwi

    JAKARTA- PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) mencatat laba bersih pada 2017 sebeesar Rp1,2 triliun atau turun 30% dibanding perolehan di tahun 2016 lalu. Dua hal yang membuat laba bersih BTPN menyusut adalah meningkatnya biaya untuk investasi pengembangan layanan digital dan restrukturisasi organisasi.   

    Direktur Keuangan BTPN Arief Harris Tanjung menyebutkan, total biaya restrukturisasi dan investasi di BTPN mencapai Rp 1,56 triliun. Jika dirinci, biaya yang dikeluarkan 2017 lalu sebanyak Rp 730 miliar terkait restrukturisasi. Di tahun lalu, BTPN melakukan restrukturisasi terkait pengurangan jaringan organisasi dan kantor cabang.  

    Sedangkan Rp 830 miliar lainnya adalah biaya investasi BTPN di platform digital. Menurut Arief, jika mengeluarkan biaya-biaya tersebut laba bersih BTPN sebenrnya mencapai Rp 2,4 triliun atau tumbuh 6%.

    "Inovasi dan transformasi digital adalah investasi strategis yang berdampak pada profitibilitas jangka pendek. Tanpa dampak biaya dari investasi strategis ini, laba kami dari bisnis inti masih tumbuh 6% menjadi Rp2,4 triliun," timpal Direktur Utama BTPN Jerry Ng di Jakarta, Rabu (14/2) seperti dilansir Antara.

    Jerry menjelaskan, sepanjang 2017 inovasi digital platform BTPN Wow! dan Jenius terus berlanjut. Pada saat yang sama BTPN juga melakukan transformasi digital pada bisnis inti lainnya mencakup antara lain integrasi cabang, otomatisasi proses, transformasi infrastruktur IT dan pelatihan karyawan yang akan dilanjutkan hingga akhir 2018.

    Ia menyebutkan, biaya restrukturisasi perusahaan dan operasionalisasi kantor cabang mencapai Rp736 miliar. "Biaya tersebut sudah termasuk dana yang kami alokasikan bagi karyawan yang mengikuti Program Pengalihan Kerja Sukarela (PKPS) yang sudah selesai," katanya.

    Sedangkan untuk mengembangkan layanan digital, BTPN telah menginvestasikan Rp832 miliar atau meningkat 36% dibandingkan dengan investasi pada 2016 yang sebesar Rp611 miliar.

    Jerry juga menjelaskan bahwa penyaluran kredit BTPN pada 2017 tumbuh 3% dari Rp63,2 triliun menjadi Rp65,3 triliun, di mana kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah sebesar 0,9%.

    Dijelaskannya, pertumbuhan kredit itu ditopang oleh penyaluran kredit ke segmen usaha kecil dan menengah yang sebesar Rp11,6 triliun atau tumbuh 25% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp9,3 triliun. Sementara pembiayaan melalui BTPN Syariah tumbuh 21 % dari Rp5 triliun menjadi Rp6 triliun pada akhir Desember 2017.

    Adapun total pendanaan meningkat 4% dari Rp73,3 trilun menjadi Rp76,5 triliun pada akhir Desember 2017. Dari jumlah tersebut, komposisi dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 3% dari Rp66,2 triliun menjadi Rp67,9 triliun. Sementara aset perseroan tercatat naik 5% dari Rp91,4 triliun menjadi Rp95,5 triliun dan rasio kecukupan modal (CAR) terjaga di 24,6%.

    BTPN Syariah
    Sementara itu, BTPN di tahun ini memastikan untuk melepas saham BTPN Syariah ke publik lewat mekanisme Initial Public Offering (IPO) di lantai bursa. Rencananya, BTPN Syariah akan melepas 10 % sahamnya dalam hajatan tersebut.

    "BTPN Syariah IPO, kenapa? Karena perusahaan yang bagus itu yang transparan. Caranya transparan adalah dengan go public," kata Jerrry.

    Arief mengatakan, setidaknya proses IPO ini bisa rampung pada kuartal II tahun 2018 ini. Menurut Arief, saat ini pihak BTPN Syariah menunjuk Trimegah Sekuritas dan Danareksa Sekuritas sebagai penjamin emisi

    Direktur Kepatuhan BTPN Anika Faisal menambahkan, dana hasil IPO tersebut akan digunakan untuk melakukan ekspansi bisnis. Dengan IPO, ia yakin ke depannya akan semakin terbuka alternatif pembiayaan. "Misalnya dengan dengan menerbitkan sukuk," ujarnya.

    Sekadar informasi, kinerja BTPN Syariah tahun 2017 terlihat kinclong dengan mencatat laba bersih Rp 670 miliar atau naik 62% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 412 miliar.  Nilai pembiayaan pun naik 20% menjadi Rp 6 triliun. Saat ini BTPN Syariah merupakan kategori bank menengah kecil dengan modal inti Rp 2,3 triliun atau masuk kategori bank BUKU II. (Faisal Rachman)