RISALAH PERGANTIAN TAHUN

Ramai Pengunjung Sepi Pembeli

Perkembangan perekonomian yang lamban sepanjang tahun 2017 jadi salah satu penyebab stagnannya belanja masyarakat di penghujung tahun

  • Ilustrasi belanja akhir tahun di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay.
    Ilustrasi belanja akhir tahun di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay.

    JAKARTA – Perilaku konsumtif masyarakat biasanya meningkat di penghujung tahun. Stimulan berupa potongan harga alias diskon yang ditawarkan berbagai pusat perbelanjaan bisa dikatakan sangat efektif menarik konsumen berbondong-bondong berbelanja. Menyaksikan konsumen menenteng kantong-kantong belanja menjadi hal yang lumrah di momen itu.

    Namun rutinitas itu tak sepenuhnya benar-benar terjadi di tahun 2017. Semarak belanja di pusat perbelanjaan jelang akhir tahun 2017 justru dipandang tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya hal ini terjadi sejumlah sentra perbelanjaan, seperti Pasar Tanah Abang dan kawasan Blok M.

    M. Nur baru membuka gerai pakaian miliknya yang terletak di lantai II Blok M Square, Jakarta Selatan, ketika Validnews mendekatinya. Dirinya mengakui jumlah pengunjung di pusat perbelanjaan ini tetaplah ramai seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun keadaan ini tidak sampai mendongkrak pendapatannya di penghujung tahun.

    “Saya sendiri bingung. Pengunjung tetap ramai seperti dulu. Tetapi kalau dihitung dari pendapatan, di masa akhir tahun beberapa tahun belakangan ini, hampir tidak ada peningkatan yang saya dapatkan. Sama saja seperti hari-hari biasanya,” ungkap Nur saat ditemui, Jumat (29/12).

    Nur sendiri sudah berdagang di kawasan Blok M dari tahun 1989, tepatnya semenjak dia lulus SMA. Di masa lalu, dia mengaku ada tiga momen yang jadi andalannya mereguk untung lebih besar di tiap tahunnya, yakni masa jelang hari raya Idul Fitri, masa libur sekolah dan di penghujung tahun. Di momen-momen itu, biasanya dia sampai kewalahan melayani pembeli.

    Keuntungannya pun tidak sedikit. Setiap bulannya dia mendapatkan penghasilan kotor sebesar Rp30 juta dari hasil penjualan satu kodi. Maka bisa dibayangkan keuntungan yang diperolehnya di tiga momen ini. Ia mengaku membengkak 40% hingga 60% lebih besar dari biasanya. Sayang kondisi seperti itu terakhir dinikmatinya pada tahun 2012 lalu.

    “Dari pendapatan yang lebih besar itu, untungnya lumayan. Saya biasanya mampu menabung sekitar 15% dari keuntungan yang diperoleh. Tapi sekarang, tidak lagi,” kenangnya.

    Atas situasi ini, Nur hanya dapat menebak-nebak penyebabnya. Dia melihat hal ini karena makin menjamurnya pusat perbelanjaan di wilayah Jabodetabek. Kondisi ini katanya diperparah dengan makin banyaknya penjualan secara online.

    “Bukan hanya saya saja yang merasakan hal ini, tapi semua pedagang di Blok M. Teman saya yang berdagang di Lebak Bulus (Poin Square.red) juga mengeluhkan hal yang sama. Katanya, penjualan jelang tahun baru di sana biasa saja,” aku Nur.

    Hal yang sama disampaikan oleh Meta. Meski pengunjung Blok M Square tetap ramai, namun hal itu tidaklah memengaruhi pendapatannya di akhir tahun. Padahal untuk menggoda perhatian pengunjung, kiosnya sengaja menempelkan tulisan “big sale”.

    Dari hasil penjualan kaus, jaket, dan kemeja, Meta mengaku pendapatannya di penghujung tahun ini berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per harinya. Hasil seperti ini nyaris tidak ada bedanya dibandingkan hari-hari biasanya.

    “Tempat ini tetap ramai, terutama di akhir pekan dan masa liburan. Tetapi hasil di penghujung tahun ini sama saja. Per harinya kira-kira sebesar itu saja,” ungkapnya.

    Hasil pemantauan Validnews di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, ramainya pengunjung malah hanya terletak di bagian-bagian tertentu pasar saja. Namun, ketika memasuki bagian dalam pasar, kondisinya tampak lebih lengang.

    Beberapa pedagang malah tampak hanya dapat duduk berdiam diri di depan gerainya yang belum lagi kedatangan pengunjung. Sebagian pedagang lainnya tetap coba riuh menawarkan dagangannya, begitu ada pembeli yang melintas.

    Sama seperti yang terjadi di Blok M, harapan untuk meraup untung lebih banyak di akhir tahun memang kian sulit diperoleh belakangan ini. Elma, pemilik toko barang-barang fesyen di Pasar Tanah Abang, mengaku memang tetap banyak pengunjung tokonya yang membeli dagangan secara ketengan. Namun, tidak ada peningkatan omzet yang signifikan.

    “Kalau saya rasa mendingan tahun-tahun yang dulu. Setiap tahun pasti ada pengurangan pendapatan,” katanya kepada Validnews, Rabu (27/12).

    Dia mengatakan, masalahnya ketika beberapa tahun ini jumlah pembeli tidak meningkat, jumlah pedagang baru justru terus bertambah. Tentu kondisi kian memengaruhi jumlah pendapatannya.

    Pedagang pakaian muslim Sri Wati juga menuturkan hal yang sama. Di akhir tahun seperti ini jumlah omzet yang ia raup seharusnya meningkat dibanding hari biasa. Namun, sejak tiga tahun terakhir semarak belanja akhir tahun tidak terasa di tokonya.

    Dia bercerita, hal berbeda kalau dibandingkan pada tahun 2000 hingga tahun 2005. Di masa-masa itu tokonya banyak diserbu pembeli, terutama tiap-tiap akhir tahun menjelang masa liburan. Sedangkan di akhir tahun ini omzet tokonya hanya sebesar Rp1 juta per harinya. Jumlah yang tak jauh berbeda dibanding hari biasa.

    “Bulan ini saja kita (sehari) pelaris cuma satu potong, kadang enggak,” ungkapnya kepada Validnews, Rabu (27/12).

    Pemilik toko kebaya modern, Herry Sepriady, juga mengatakan hal yang sama. menurutnya tetap ada peningkatan di akhir tahun ini tetapi tidak jauh berbeda dari hari-hari biasanya

    "Rata-rata ya, bulan ini Rp3 juta tiap hari," kata pemilik toko yang terletak di Blok B Pasar Tanah Abang ini.

    Kelesuan Ekonomi
    Apa yang dialami oleh pedagang di Pasar Tanah Abang dan kawasan Blok M dimaklumi oleh Pengamat Ekonomi Makro Eko Listiyanto. Dia mengatakan, perkembangan perekonomian yang lamban sepanjang tahun 2017 memang menjadi salah satu pendorong tidak adanya peningkatan belanja masyarakat yang signifikan pada akhir tahun ini.

    Ia menjelaskan, di Indonesia memang ada pola musiman setiap akhir tahun yang kemudian mendorong peningkatan jumlah pembeli. Tetapi di akhir tahun ini penambahan tersebut diamatinya akan sangat terbatas, sama persis seperti tahun 2016 lalu.

    “Sebab situasi ekonominya relatif tidak berubah dari tahun 2016. Kalau dari makro-ekonominya pertumbuhan ekonomi kita sekarang posisinya 5,05, artinya rata-rata hampir sama dengan tahun lalu sekitar 5,01,” jelasnya kepada Validnews.

    Makanya, jika di tahun 2016 lalu terjadi perlambatan ekonomi maka kondisi akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Apalagi mengingat dua sektor penggerak utama perekonomian Indonesia, yakni sektor industri dan pertanian tidak bertumbuh dengan maksimal. Hal ini memang ironis, lantaran sebesar 40% masyarakat menengah ke bawah di Indonesia tercatat bekerja di kedua sektor tersebut.

    “Kelas bawah itu kerjanya kalau enggak sektor di pertanian, dia jadi buruh pabrik di industri, atau di sektor informal lain banyak sekali,” tuturnya.

    Eko menjelaskan, di sektor industri saja hanya mampu tumbuh hanya sekitar 3,5% atau 4%. Sedangkan permintaan konsumsi rumah tangga 5%. Dengan kata lain, pertumbuhan sektor industri tidak mampu menutup permintaan rumah tangga.

    Akibatnya secara umum, tentu terjadi penurunan penghasilan di sektor-sektor tersebut. Sehingga berujung pada penurunan tingkat konsumsi masyarakat. Dengan keadaan seperti ini, mereka katanya lebih memilih untuk menabung.

    Eko menambahkan, meski terjadi peningkatan penjualan di sektor online, tapi tidak bisa semata-mata dijadikan alasan mengapa pedagang retail, seperti di Pasar Tanah Abang misalnya, tidak mendapatkan hasil penjualan lebih banyak di akhir tahun ini.

    Dia yakin, meski ada peningkatan di sektor online, tapi masih belum cukup mengokupasi total jumlah belanja yang dilakukan masyarakat. Karena jika memang sektor online menyebabkan penurunan belanja di sektor retail konvensional, seharusnya daya beli masyarakat tidak menurun.

    “Karena belanja online kan lebih efisien seharusnya harganya. Nah kalau tidak terjadi juga, ya berarti ada penurunan daya beli dan terus berlanjut hingga akhir tahun ini,” ungkapnya.

    Ia juga menegaskan bahwa barang-barang yang dijual melalui sektor online sebagian besar adalah barang-barang impor. Sehingga hasil penjualannya pun bukan masuk ke masyarakat dalam negeri, tapi keluar negeri. Akibatnya, tidak ada dorongan pada daya beli masyarakat di akhir tahun ini.

    “Produk-produknya itu dari online sebagian impor, bahkan Kemenko Perekonomian itu bilang hanya sekitar 6% atau 7% yang sebenarnya memang produk lokal, produk Indonesia,” tukasnya.

    Sementara untuk konsumen masyarakat menengah ke atas, Eko menjelaskan bahwa tahun ini ada pergeseran minat. Pola biasa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya adalah masyarakat lebih memilih menggunakan uangnya untuk belanja barang-barang fesyen, seperti baju atau membeli gawai. Namun saat ini masyarakat lebih memilih untuk menggunakan uangnya di sektor pariwisata.

    “Pemerintah bilang sering terjadi shifting, bahwa sekarang masyarakat senangnya itu bukan mengonsumsi fesyen lagi, tapi lebih ke arah rekreasi. Itu enggak salah,” katanya.

    Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang, menyebutkan tidak signifikannya peningkatan belanja masyarakat di akhir tahun dipengaruhi fenomena kelas menengah yang lebih banyak menahan uangnya di bank. Kalau pun dibelanjakan, mereka akan lebih banyak menggunakannya untuk keperluan wisata.

    “Memang semuanya kembali kepada prospek ekonomi. Kalau tahun depan bagus, tentu kalangan kelas menengah ini tidak akan ragu untuk membelanjakan uangnya, karena keyakinan perputaran uang terjadi. Tetapi bila tidak, mereka akan menahan uang,” terang Sarman.

    Lebih jauh, Sarman mengatakan ada empat faktor yang mempengaruhi tren belanja masyarakat di akhir tahun. Pertama, persaingan pusat perbelanjaan yang begitu ketat.

    “Kalau dulu, orang dari Bekasi, Tangerang, Depok mungkin akan ke Jakarta, entah itu ke Tanah Abang atau ke Glodok. Tetapi dengan munculnya hunian baru di kawasan penyangga, dibarengi pula munculnya pusat perbelanjaan di kawasan penyangga itu. Jadi mereka tak perlu lagi ke Jakarta,” ungkapnya.

    Kedua, terkait banyaknya masih barang ilegal yang sejenis. Ketiga, meski disebutnya belum terlalu signifikan pengaruhnya, e-commerce ke depan akan menjadi ancaman bagi pusat perbelanjaan fisik. Keempat, kata Sarman, akibat daya beli masyarakat yang menurun saat ini.

    Suasana di salah satu pusat perbelanjaan akhir tahun, Jakarta. Validnews/Agung Natanael

    Hanya saja, meski sektor wisata menjanjikan di penghujung tahun, tapi liburan akhir tahun ternyata bukan pilihan emas bagi semua pelancong atau traveller. Bukan karena alasan biaya tinggi hingga sejumlah traveller memutuskan rehat dari jelajah destinasi menarik di masa liburan tahun baru.

    "Gue enggak suka jalan akhir tahun karena ramai banget, dan pesawat pasti full banget," kata Endah Kurnia, salah satu traveller Indonesia saat dihubungi Validnews.

    Meski diakuinya ada sebagian teman-temannya yang memilih melancong di akhir tahun, traveller biasanya akan memilih waktu perjalanan saat hari kerja, atau akhir pekan bukan libur nasional.

    "Kalau terbatas bujet, enggak juga. Karena kami biasanya traveller punya tabungan sendiri khusus jalan-jalan. Kalau gue sendiri, suka jalan-jalan ke tempat yang belum banyak orang tahu biasanya," kata penulis buku 50 Best of Sumatera ini.

    Trik Akhir Tahun
    Minat beli masyarakat memang mengalami kenaikan dalam transaksi belanja online. Pasar e-commerce punya trik sendiri guna memanfaatkan besarnya geliat belanja masyarakat menyambut pergantian tahun, lewat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Pendapatan mereka pun terdongkrak di akhir tahun 2017 ini.

    Salah satunya dialami oleh salah satu marketplace online Shopee. Brand Manager Shopee Rezki Yanuar mengatakan sepanjang tahun ini pendapatan mereka mengalami peningkatan tiga kali lipat, termasuk capaian mereka di Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Shoppe menerima peningkatan transaksi hingga enam kali lipat jika dibandingkan dengan akhir tahun 2016.

    “Jadi, untuk kami sendiri (Shopee), kami berhasil menjual 3 juta produk dan 6 kali order (pesanan) lebih besar, dibandingkan dengan 12.12 tahun lalu,” kata Rezki kepada Validnews di Jakarta, Rabu (28/12).

    Harbolnas menurutnya memang merupakan persiapan setiap online shopping, dalam rangka merayakan akhir tahun. Biasanya perhelatan digelar setiap tanggal 12 Desember (12.12). Harbolnas dimulai lebih awal dengan pertimbangan minggu terakhir Desember tiba maka masyarakat akan terfokus pada persiapan Natal dan tahun baru.

    “Jadi, kami tetap yakin orang-orang prepare belanja online untuk Harbolnas di akhir tahun,” terang dia.

    Rezki sendiri blak-blakan terkait strategi Shopee untuk menjawab besarnya minat masyarakat belanja online, termasuk di akhir tahun. Dia mengamati penjualan Shopee meningkat pesat karena strategi bebas ongkos pengiriman (ongkir).

    “Ya, dari Sabang-Merauke, semua barang, ongkir kami gratis. Jadi, mungkin itu menurut saya menjadi minat konsumen berlangganan di Shopee,” kata dia.

    Untuk diketahui, Shopee berada di tujuh negara dan berpusat di Singapura. Selain Indonesia dan Singapura, Shopee memiliki jaringan di Taiwan, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Transaksi tertinggi Shopee itu pertama fesyen, kedua ada beauty (kecantikan), lalu ketiga ada gawai

    Indonesia, kata Rezki, merupakan negara terbesar dalam tingkat penjualan. Penjualan Shopee di Indonesia mencapai angka 40% dari seluruh Shopee. Padahal, seller atau penjual dengan memiliki akun Shopee masih di angka satu jutaan.

    “Penjualan kami tahun 2017 ini lumayan mengalami kenaikan tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Shopee lebih nasional menurut saya sekarang karena kami juga ada program Shopee Campus di 13 kota besar di Indonesia,” kata Rezki.

    Senada dengan pendapat Eko, Rezki juga mengakui ada pergeseran minat belanja masyarakat di akhir tahun. Saat ini untuk mengisi liburan belanja masyarakat juga ditujukan untuk sektor pariwisata. 

    “Sejauh ini kami masih jual barang bentuk fisik. Ya, betul pariwisata kayak tiket pesawat memang sudah banyak peminat. Tapi, untuk sekarang kami belum mulai. Mungkin, ke depannya itu menjadi pertimbangan kami,” lanjut.

    Sayang, apabila pendapatan yang besar mampu direguk skala marketplace online, tidak demikian dengan bisnis online perorangan. Tidak semua mampu mendapat untung lebih besar di penghujung tahun. Persaingan ketat mulai dirasakan oleh Kartika Sagita, desainer sekaligus pengusaha butik Athaya Hijab. Meski sudah dua tahun menekuni bisnin fesyen khusus pakaian syari, namun sistem penjualan dan transaksi online belumlah menjanjikan baginya hingga sekarang.

    “Agak seret sekarang. Aku memang sengaja sebulan ini untuk habisin stok, dan belum produksi baru lagi. Omzet November ke Desember ini kecil, sekisar Rp2 jutaan,” kata Kartika kepada Validnews di Jakarta, Jumat (29/12).

    Bukan hanya di masa akhir tahun dia mengalami penurunan omzet. Pada saat Hari Raya Idul Fitri di tahun 2017 ini saja, pendapatannya mengalami penurunan. Padahal, omzet tinggi sempat dirasakan Kartika saat mulai mendirikan Athaya Hijab, sepanjang tahun 2016 lalu.

    “Pas momen Lebaran pertama itu, sekisar Rp17 juta-an. Tapi, tahun 2017 turun, hanya Rp10 juta-an. Waktu awal buka, pakaian syari masih sedikit yang jual. Jadi, Alhamdulillah banyak peminatnya,” ujar dia.

    Penurunan ini dinilainya karena meningkatnya persaingan pakaian syari. Lapak-lapak para pedagang di Pasar Tanah Abang dan Thamrin City, ternyata sudah banyak melek online.

    Ia mengatakan bisnis pakaian memang sedang mengalami penurunan. Bukan hanya ia sendiri mengalami kendurnya penjualan itu. Menurut pengamatannya, gulung tikar juga banyak terjadi di dalam bisnis ini.

    “Tetanggaku sampai tutup tokonya. Dia juga buka butik, tapi pakaian muslim umum. Juga ada baju koko, jadi dia enggak khusus syari kayak Athaya Hijab. Sekarang, dia malah buka frozen food. Jadi, barang-barang dia (pakaian muslim) itu dijual sale gitu biar semua habis,” kata dia. (Muhammad Fauzi, Denisa Tristianty, Nofanolo Zagoto)