RUMPUT LAUT, KOMODITAS YANG MASIH TERABAIKAN

Meski telah banyak dilakukan oleh para petani rumput laut di berbagai daerah di Indonesia, usaha budidaya rumput laut masih banyak menghadapi permasalahan.

  • Petani memikul rumput laut hasil panennya di pinggiran pantai Dusun Kertasari, Desa Labuan Kertasari, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
    Petani memikul rumput laut hasil panennya di pinggiran pantai Dusun Kertasari, Desa Labuan Kertasari, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

    Oleh: Nugroho Pratomo*

    Rumput laut merupakan salah satu komoditas penting dalam ekspor Indonesia. Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu produsen dan eksportir terbesar rumput laut dunia. Namun, dalam posisi tersebut, berbagai permasalahan masih terdapat di sektor rumput laut. Mulai dari keterbatasan pengetahuan produksi para petani rumput laut, masih rendahnya ketertarikan investor untuk masuk di sektor industri pengolahan rumput laut, hingga pemasaran produk rumput laut yang masih terbatas dalam bentuk rumput laut mentah.

    Usaha budidaya rumput laut di Indonesia semakin menarik bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir karena beberapa hal. Pertama, relatif tidak memerlukan modal yang tinggi. Kedua, teknologi budidaya yang diterapkan adalah teknologi sederhana sehingga mudah diadopsi oleh masyarakat kecil. Ketiga, dari sisi waktu, relatif efisien. Keempat, siklus budidaya yang singkat. Para petani pembudidaya sudah dapat hasil panen dalam waktu 45 hari. Kelima, dapat dilakukan oleh siapa pun, termasuk para ibu rumah tangga (Yayasan WWF Indonesia, 2014).

    Meski telah banyak dilakukan oleh para petani rumput laut di berbagai daerah di Indonesia, usaha budidaya rumput laut masih banyak menghadapi permasalahan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh (Inrise, 2015) menunjukkan bahwa pengetahuan petani terhadap produksi rumput laut juga masih terbatas. Hal ini menyebabkan produktivitas rumput laut yang dihasilkan petani juga masih terbatas. Petani rumput laut skala kecil sangat tergantung pada punggawa.

    Akibatnya, daya tawar petani menjadi lemah. Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya kenyataan bahwa sebagian besar petani tidak bergabung dalam kelembagaan usaha bersama. Begitu pula dengan kelembagaan yang telah ada, kondisinya menjadi terabaikan dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan, ketika semakin banyak pembeli bermodal besar (termasuk pembeli asing) yang langsung membeli ke tingkat petani, aspek kualitas menjadi semakin terabaikan. Dampaknya, harga di tingkat petani menjadi semakin berfluktuasi.

    Studi lain yang disampaikan oleh (Abdullah, 2011) juga menjelaskan bahwa salah satu hambatan utama dalam pembudidayaan rumput laut di Indonesia adalah kualitas sumber daya penduduk pesisir, khususnya yang bekerja sebagai petani rumput laut, relatif masih rendah. Para petani rumput laut tersebut melakukan pencampuran hasil produksi rumput laut dengan berbagai benda lain, seperti garam, paku, dan besi. Mereka juga menerapkan masa (musim) budidaya yang tidak sesuai. Akibatnya, mutu rumput laut yang dihasilkan menjadi sangat rendah.

    Masalah lain yang dihadapi oleh sektor rumput laut Indonesia adalah penyakit. Salah satu jenis penyakit yang banyak dihadapi adalah bercak putih (ice-ice). Penyakit rumput laut ini terjadi di daerah-daerah dengan kecerahan tinggi. Penyakit ini ditandai dengan gejala timbulnya bercak-bercak pada sebagian thallus, lama-lama akan kehilangan warna sampai menjadi putih dan terputus. Penyakit ini pada umumnya menyerang rumput laut jenis eucheuma spp. Penyakit ini disebabkan adanya perubahan lingkungan arus, suhu, dan kecerahan di lokasi budidaya rumput laut tersebut serta berjalan dalam waktu yang cukup lama. Ice-ice merupakan penyakit yang timbul pada musim laut tenang dan arus lemah diikuti dengan musim panas yang dapat merusak areal tanaman sampai mencapai 60-80% dan lamanya 1-2 bulan (Amiluddin, 2007).

    Berbagai permasalahan inilah yang pada akhirnya menyebabkan potensi rumput laut belum banyak dinikmati oleh para petani rumput laut. Karenanya, dibutuhkan kebijakan tersendiri dari pemerintah baik di pusat maupun daerah untuk dapat meningkatkan kualitas rumput laut petani. Salah satu kebijakan yang diperlukan adalah pemberian bantuan permodalan. Selama ini, masih banyak petani rumput laut yang bergantung pada “bank harian”. Para petani belum dapat memperoleh akses perbankan yang dinilai menyulitkan mereka. Sementara, kebijakan di bidang perdagangan pemerintah telah mengeluarkan larangan untuk melakukan ekspor rumput laut dalam bentuk mentah, yang bertujuan meningkatkan nilai tambah rumput laut Indonesia. Dengan melaksanakan kedua kebijakan tersebut, diharapkan rumput laut petani akan memenuhi standar industri pengolahan rumput laut.

    *Direktur Riset Visi Teliti Saksama