RIAS WAJAH YANG BERBUAH INDAH

Penggunaan kosmetik pada wajah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap daya tarik atau attractiveness.

  • Ilustrasi. Kosmetik. (Pixabay)
    Ilustrasi. Kosmetik. (Pixabay)

    Oleh: Gisantia Bestari, SKM*

    Berdasarkan artikel dari Validnews pada bulan Maret 2018 lalu, industri kosmetik nasional sedang menanjak tajam. Permintaan dari pasar domestik dan ekspor sukses membuat industri ini mengalami pertumbuhan 20% pada tahun 2017. Kementerian Perindustrian telah menempatkan industri kosmetik sebagai sektor andalan. Pertumbuhan tersebut disokong dengan meningkatnya pelaku industri kosmetik nasional dari 153 perusahaan menjadi 760 perusahaan pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut, 95% di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).

    Berjayanya industri kosmetik nasional membuat para beauty vlogger Indonesia semakin digandrungi berbagai kalangan. Bila kita menengok sejenak pada sejumlah kanal kecantikan yang terdapat pada  Youtube, tidak kurang dari dua puluh beauty vlogger Indonesia berhasil memperoleh lebih dari 100 ribu subscribers pada akun Youtube mereka. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil melampaui 300 ribu subscribers. Selain itu, profesi make up artist semakin dipandang sebagai profesi yang menggiurkan dan menjanjikan. Di Indonesia, sederet nama, seperti Bubah Alfian, Marlene Hariman, dan Bennu Sorumba, telah melejit sebagai make up artist papan atas. 

    Menunjukkan Identitas Diri
    Penggunaan kosmetik pada wanita atau dikenal dengan sebutan berdandan termasuk ke dalam seni, yakni seni merias wajah atau mengubah bentuk asli dengan bantuan alat dan bahan kosmetik itu sendiri. Berdandan bertujuan untuk memperindah serta menutupi kekurangan sehingga wajah terlihat ideal (Lita Donna, 2017).

    Secara psikologis, berdandan atau merias wajah memiliki dua fungsi, yakni fungsi seduction dan camouflage. Fungsi seduction adalah ketika individu berdandan untuk meningkatkan penampilan dirinya. Jadi, mereka menggunakan kosmetik agar diri mereka yang dirasa sudah menarik menjadi semakin menarik.

    Sementara, fungsi camouflage adalah ketika kosmetik digunakan untuk menutupi kekurangan fisik pada diri. Berbeda dengan fungsi seduction di mana individu sudah merasa menarik sebelum berdandan, pada fungsi camouflage individu merasa tidak menarik sehingga mereka membutuhkan peran kosmetik (Lita Donna, 2017).

    Selain memenuhi kebutuhan mendasar wanita akan kecantikan, kosmetik juga kerap disebut sebagai produk yang menjadi sarana konsumen dalam memperjelas identitas dirinya secara sosial di mata masyarakat (Rr. Dea Febrinda, 2017). Identitas diri terbentuk dari kemampuan dalam melestarikan narasi tentang diri sendiri. Identitas diri merupakan apa yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai pribadi (Lita Donna, 2017).

    Penggunaan kosmetik pada wajah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap daya tarik atau attractiveness. Jadi, dapat dikatakan bahwa attractiveness berkorelasi secara positif dengan penggunaan kosmetik pada wajah. Pada dasarnya, perempuan ingin terlihat menarik di mata orang lain sehingga penggunaan kosmetik pada wajah menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mencapainya (Rr. Dea Febrinda, 2017). Hal ini berkaitan erat dengan dua fungsi berdandan yang dijelaskan sebelumnya, baik fungsi seduction ataupun fungsi camouflage.

    Dalam memperkuat identitas diri dan mengenal jati diri di tengah masyarakat, seseorang bisa dipermudah ketika tergabung dalam sebuah komunitas. Ketika menjadi anggota komunitas, seseorang dapat membuka diri dengan anggota lain dan selalu merasa satu dalam membentuk kepribadian. Semakin bertambahnya pengetahuan tentang diri sendiri, semakin mudah seseorang dalam membentuk identitas diri yang membedakannya dari orang lain. Terjalinnya komunikasi antaranggota komunitas dapat memengaruhi pemikiran dan perilaku anggota (Tri Ayu, 2013).

    Salah satu contoh penguatan identitas diri dalam komunitas di dunia kosmetik adalah hadirnya situs kecantikan Female Daily yang dikenal sebagai pusat inspirasi kecantikan online terbesar di Tanah Air. Female Daily kerap membuat ulasan produk serta tips kecantikan melalui video Youtube dan artikel blog, serta menjadi wadah para wanita berdiskusi seputar kosmetik dan perawatan kecantikan lainnya. Tak jarang, Female Daily mengundang sejumlah beauty vlogger yang sempat disinggung di atas untuk hadir sebagai bintang tamu dalam video-video Female Daily.

    Female Daily memiliki lebih dari 200 ribu anggota yang tidak hanya saling berbagi mengenai produk kecantikan, namun juga bisa menggolongkan diri berdasarkan warna kulit, jenis kulit, dan usia. Jadi, seseorang bisa memberikan gambaran mengenai kondisi dirinya kepada orang lain ketika mengulas suatu produk kecantikan secara online.

    ‘Harga’ Yang Harus Dibayar
    Meski kosmetik banyak digemari karena kerap meningkatkan daya tarik penampilan, dampak negatif yang dihasilkannya juga tak bisa dihindari. Dari segi kesehatan, ada berbagai reaksi negatif yang disebabkan kosmetik yang tidak aman pada kulit maupun sistem tubuh seperti alergi, iritasi, fotosensitivitas, dan jerawat, terutama bagi konsumen yang tidak selektif, sering bergonta-ganti, dan sembarangan dalam menggunakan produk kosmetik. Efek negatif lainnya adalah kurangnya rasa percaya diri apabila tidak menggunakan kosmetik, terutama pada wanita muda yang terbiasa menggunakan kosmetik sehari-hari (Lita Donna, 2017).

    Boleh jadi, itu sebabnya Female Daily memanfaatkan posisinya sebagai situs kecantikan dengan anggota komunitas yang besar untuk mengampanyekan #YourBeautyRules pada salah satu event besarnya. Kampanye tersebut menjadi cara untuk merayakan keberagaman dalam kecantikan, termasuk menerima kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah ketika wanita sedang tidak terpapar oleh olesan produk kosmetik.

    Tentunya, meski seseorang sudah menerima dengan baik kekurangan-kekurangan yang terdapat pada dirinya, bukan berarti ia tidak boleh memoleskan kosmetik pada wajahnya untuk menyamarkan kekurangan dan menunjang penampilannya. Sebab, semua orang berhak memperindah tampilan wajahnya sesuai dengan nilai-nilai kecantikan yang ia yakini, yang mungkin saja berbeda dengan nilai-nilai orang lain. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri kosmetik nasional, terselip harapan akan pesat juga rasa saling merangkul antarwanita yang ingin memperkuat identitas dirinya melalui penggunaan kosmetik.

    *) Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

    Referensi:
    Elianti, Lita Donna. (2017). MAKNA PENGGUNAAN MAKE UP SEBAGAI IDENTITAS DIRI (Studi Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta). Universitas Negeri Yogyakarta.

    Female Daily. (2018). Merayakan Perbedaan di Jakarta X Beauty 2018 http://editorial.femaledaily.com/blog/2018/02/15/merayakan-perbedaan-di-jakarta-x-beauty-2018/ diakses tanggal 17 April 2018

    Herasafitri, Rr. Dea Febrinda. (2017). Wake Up and Make Up: Efek Kosmetik Wajah dan Waktu Pemaparan Terhadap Attractiveness. Universitas Brawijaya Malang.

    Videlia Sari, Tri Ayu. (2013). KOMUNITAS TERHADAP PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI (Studi Deskriptif Kualitatif Komunitas Hijabers USU Terhadap Pembentukan Identitas Diri). Universitas Sumatera Utara.