RI Tawari Maroko Investasi Sektor Pariwisata

Indonesia dengan ribuan pulau, baru memiliki empat Marina yang representatif. Ini merupakan potensi investasi yang luar biasa besar

  • Terumbu karang bawah laut Pulau Komodo, NTT. kitatours.com
    Terumbu karang bawah laut Pulau Komodo, NTT. kitatours.com

    JAKARTA- Pemerintah lewat Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menawarkan pemerintah Maroko berinvestasi di sektor pariwisata di Indonesia. Peluang kerja sama dengan Maroko di sektor pariwisata nantinya mencakup kawasan wisata bahari, wisata halal, sejarah, kuliner hingga lainnya.

    Khusus untuk wisata bahari, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam (SDA) dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono mengaku sudah membicarakannya lebih jauh dengan pihak Maroko. "Siapa tahu mereka mau berinvestasi di bidang ini," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (10/11) seperti dilansir Antara.

    Menurutnya, Indonesia memerlukan lebih banyak marina (Pelabuhan khusus yang disediakan untuk kapal pesiar, dilengkapi dengan sejumlah) untuk menunjang wisata bahari. “Bisa dibayangkan, negara sebesar Indonesia yang jumlah pulaunya hingga ribuan, tapi jumlah marina yang bisa diandalkan baru ada empat. Tentunya, ini merupakan objek investasi yang luar biasa," tuturnya.

    Agung dalam kunjungannya ke Maroko juga mempromosikan pariwisata Indonesia kepada masyarakat Maroko dan sekitarnya. Ia menginginkan masyarakat Maroko berbondong-bondong datang ke Indonesia, apalagi mempunyai latar belakang religi yang sama.

    "Saat ini Indonesia sudah mempunyai trayek khusus untuk menuju ke Maroko. Kita minta juga masyarakat Maroko bisa datang berbondong-bondong ke Indonesia karena kita mempunyai latar belakang religi yang relatif sama," ujarnya.

    Guna mengejar target mencapai kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019, Agung menilai promosi pariwisata ke sejumlah negara perlu terus dilakukan. "Jadi banyak hal yang kita ingin kerjasamakan, baik dari sisi investasi maupun pengembangan pariwisata itu sendiri," katanya.

    Agung mengatakan pada awal Desember 2017, Raja Maroko berencara mengunjungi Indonesia untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo sebagai tindak lanjut rencana kerja sama kedua negara.

    "Kedatangan Raja Maroko ini dalam rangka untuk membicarakan lebih lanjut kerja sama yang akan dibangun dengan Indonesia," katanya seraya menambahkan akan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga teknis terkait untuk persiapan kerja sama.

    Industri pariwisata sendiri diyakini akan menjadi tumpuan ekonomi negara. Pada tahun 2016 dengan target kunjungan wisatawan manca negara mencapai 12 juta, tenaga kerja yang terserap mencapai 11.700 orang. Di periode tersebut devisa yang dihasilkan mencapai sebesar Rp172,8 triliun. Pada tahun ini pariwisata diperkirakan berpotensi menghasilkan devisa sebesar Rp450 triliun.

     

    Asia Pasifik
    Mengutip Antara, sebelumnya Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) I Gde Pitana mengatakan, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia menempati posisi tersendiri yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

    "Dari ajang Pata Travel Mart 2017 di Macau yang baru saja berakhir 15 September 2017 lalu, banyak pelaku industri dari berbagai negara yang datang ke Paviliun Indonesia untuk menjajaki komitmen dengan pelaku industri dari Indonesia," ujarnya.

    Dari ajang itu pula dapat diketahui tingginya minat wisatawan dari kawasan Asia Pasifik untuk bisa berkunjung ke Indonesia. Oleh karena itulah, Pitana menargetkan mampu menjaring lebih banyak wisatawan dari kawasan Asia Pasifik.

    "Untuk kawasan Greater China termasuk Makau dan Hong Kong saja kami menargetkan bisa menjaring 2,5 juta wisman tahun ini," katanya.

    Tercatat tahun lalu, dari total 12 juta wisman yang masuk ke Indonesia hampir sebagian besar di antaranya berasal dari kawasan Asia Pasifik.

    Untuk Asia Tenggara, Thailand merupakan pasar pariwisata utama Indonesia di Asia Tenggara. Thailand memiliki inbound atau masyakatnya yang ke luar negeri sebanyak 32,4 juta per tahun dengan presentasi ke ASEAN sebesar 31%. Sementara kunjungan wisman dari Thailand atau outbound pada 2015 sebanyak 9,65 juta orang.

    Kementerian Pariwisata pada tahun ini menargetkan 118.000 wisatawan asal Thailand. Pada 2015, kunjungan wisatawan asal Thailand ke Indonesia sebanyak 93.590 orang. Kunjungan tersebut masih jauh di bawah kunjungan wisatawan Thailand ke negara-negara lainnya di Asia Tenggara seperti Singapura yang mencapai 1.571.982 orang dan Malaysia yang mencapai 1.247.270 orang. (Faisal Rachman)