Polisi Buru Pemalsu Uang Baru

Mereka memanfaatkan keawaman masyarakat terhadap bentuk uang baru yang beredar

  • JADI BRIKET-Petugas Bank Indonesia menunjukkan lembaran uang Rupiah palsu yang telah dimusnahkan menjadi briket di Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/7).   ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/foc/17.
    JADI BRIKET-Petugas Bank Indonesia menunjukkan lembaran uang Rupiah palsu yang telah dimusnahkan menjadi briket di Gedung C Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/7).   ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/foc/17.

    BOJONEGORO- Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Bojonegoro, Jawa Timur, mengembangkan kasus pemalsuan uang dengan empat tersangka komplotan pengedar uang palsu yang sudah diamankan yaitu Snj (54), Mk (20) Amw (17) dan Msa (21).  Polisi kini memburu pemalsu uang yang dipakai keempatnya.

    Uang yang dipalsukan ini  meniru bentuk lembar mata uang baru nominal Rp50 ribu maupun Rp100 ribu. Para tersangka mengaku, uang palsu tersebut didapat dari seseorang di daerah Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan.

    "Mata uang baru tersebut masih awam bagi masyarakat," kata Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu Sri Bintoro di Bojonegoro, Jumat (12/1).

    Ia  menjelaskan pengembangan kasus komplotan pengedar uang palsu dilakukan dengan melacak pencetak uang palsunya. Dari hasil penyelidikan polisi lokasi percetakannya di dalam negeri, bukan di  luar negeri.

    Sementara, empat tersangka pengedar uang palsu berhasil diamankan polisi di sejumlah lokasi secara bergantian sejak pekan lalu. Keempatnya juga tidak ditahan di satu tempat bersama.

    Dijelaskan, modus operandi satu tersangka inisial Snj (54), warga Desa Sambong, Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro,  adalah dengan menukarkan  lembaran uang palsu untuk membeli sepeda motor seharga Rp3 juta milik warga di Kecamatan Sumberrejo. Namun, upaya ini ketahuan. Korban yang mengetahui ang yang diterima palsu setelah transaksi jual beli sepeda motor selesai, melapor ke Polsek Sumberejo. Tak lama tersangka berhasil diamankan petugas.

    Berdasarkan temuan itu, diberitakan Antara, polisi berhasil mengamankan tiga pelaku pengedar uang palsu lainnya, yaitu Mk (20), warga Desa Pacul, Kecamatan Kota, Bojonegoro.  Tersangka lainnya Amw (17), warga Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, dan Msa, (21), warga Desa Petiyen Tunggal, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.

    "Dua orang dari Gresik datang ke Bojonegoro untuk membeli telepon selular dengan uang palsu. Mereka transaksi online di FB kemudian mendatangi calon korban," kata dia.  

    Transaksi Malam
    Uang palsu juga bereda di Banjarmasin. Personel Kepolisian Sektor Kota Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan  berhasil menangkap pelaku yang mencetak sebanyak Rp3 juta lembaran uang palsu nominal Rp50.000 dan Rp100.000.

    Kepala Kepolisian Resor Kota Banjarmasin Kombes Anjar Wicaksana di Banjarmasin, mengatakan, uang palsu yang dicetak sudah dibelanjakan di tempat hiburan di kota itu.

    "Pengakuan tersangka Reza Abdul Rohim, mereka membayar minuman di Nashville Pub & Cafe Hotel Banjarmasin International menggunakan uang yang diduga palsu, Minggu (31/12)," ujarnya.

    Dari kasus ini, empat orang yang sudah ditetapkan tersangka yakni Reza Abdul Rohim (19), Muhammad Rauhan Fikri alias Ohan (20), Abdullah alias Adul (23) dan Muhammad Zaini Hauli (19).

    "Mereka ditangkap karena kedapatan mengedarkan uang yang diduga palsu di tempat hiburan malam untuk samarkan fisik uang,"  beber Kombes Anjar Wicaksana, Selasa.

    Penggunaan uang palsu ini sendiri, sama halnya dengan di Bojonegoro, diketahui karena kecurigaan penerima. Awalnya pelaku yang datang ke tempat hiburan malam  dan memberi uang kepada petugas keamanan yang berjaga di depan pintu masuk. Petugas keamanan curiga melihat kondisi fisik uang itu. Petugas keamanan ini kemudian  mencari dan mengamankan empat pria pengunjung cafe itu.  Kemudian, mereka menghubungi personel Polsekta Banjarmasin Timur.

    Kecurigaan ini berdasar. Sehari sebelumnya, seorang pria yang merupakan salah satu dari empat tersangka membeli minuman seharga Rp125 ribu dengan uang senilai Rp150 ribu. Petugas keamanan di sana curiga uang yang diberikan berupa uang palsu.

    Para pelaku ini ternyata melakukan pemalsuan uang dengan memotokopi uang asli.

    Kini, para pengedar dan pencetak uang palsu ini ditersangkakan melanggar pasal 36 UU RI nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Kesemuanya terancam penjara minimal 10 tahun dan maksimal 15 tahun serta denda paling sedikit Rp10 miliar dan paling banyak Rp50 miliar. (Rikando Somba)