MENJAGA KESINAMBUNGAN "TAMBANG EMAS HIJAU"

Polemik Uni Eropa, Italia Dukung Sawit Indonesia

Italia sebagai salah satu negara Uni Eropa yang mendukung hasil produksi sawit Indonesia, di saat Uni Eropa melarang ekspor biofuel sawit Indonesia

  • Petani mengangkut hasil panen buah kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang
    Petani mengangkut hasil panen buah kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang

    JAKARTA – Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani mengatakan Italia mendukung penggunaan minyak kelapa sawit untuk biodiesel di pasar kawasan Uni Eropa. Dukungan ini muncul pada saat Uni Eropa melarang masuknya biodiesel berbahan sawit pada 2021.

    “Dari awal Italia itu pendukung kita, di manapun, mau di WTO atau di Uni Eropa dan di Parlemen Eropa. Untuk isu kelapa sawit itu Italia mendukung kita,” ucap Dubes Esti di Jakarta seperti dilansir Antara. (13/02)

    Pemerintah Italia membutuhkan minyak sawit Indonesia untuk keperluan bahan produk-produknya seperti makanan hingga kecantikan. Karena itu, Italia mendukung ekspor olahan produksi sawit dan penggunaannya di Uni Eropa.

    Baca juga:
    Apkasindo: 5,3 Juta Petani Terancam Diskriminasi Sawit di Eropa

    Dubes Esti menyebutkan, sebelumnya ia telah bertemu dengan Presiden Ferrero Rocher, perusahaan produk cokelat dan Nutela. Presiden Rocher, lanjut Dubes Esti, menyatakan akan tetap menggunakan produk kelapa sawit karena telah diteliti tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Minyak sawit dibandingkan dengan minyak-minyak lain lebih tahan lama dan tidak berubah menjadi basi. Masa kadaluwarsa produknya menjadi lebih panjang.

    “Jadi dia (Ferrero Rocher) tetap akan memakai kelapa sawit, dan dia sudah membuktikan dengan penelitian dia bahwa orang yang mengatakan (minyak sawit) tidak sehat itu adalah bohong. Sekarang dia menang juga di pengadilan untuk berita yang hoaks itu,” seru Esti.

    Hal itu dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk menggandeng perusahaan Ferrero Rocher dan pemerintah Italia untuk bersama-sama melawan wacana larangan penggunaan produk olahan kelapa sawit di kawasan Uni Eropa, yang diusung oleh Parlemen Eropa. Pemerintah Italia juga menyatakan dukungannya untuk melawan kampanye hitam produk kelapa sawit di Uni Eropa, melalui beberapa kementeriannya.

    “Menteri Pembangunan dan Menteri Perdagangan Italia sudah mengatakan dia akan terus bersama kita untuk melawan kampanye hitam terhadap produk kelapa sawit. Jadi memang Italia ini bisa menjadi teman kita,” kata Dubes Esti.

    Tak hanya Kedubes RI untuk Italia, Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi juga telah menyampaikan keprihatinan tentang larangan penggunaan minyak sawit sebagai biofuel di Uni Eropa kepada Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Italia Angelino Alfan.

    Negara Italia adalah tujuan ekspor terbesar ketiga di Uni Eropa untuk produk sawit asal Indonesia, karena itu kelapa sawit Indonesia memiliki kontribusi dalam ekonomi Italia.

    GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit) mencatat bahwa tahun 2017 produksi kelapa sawit, yakni CPO dan PKO masing-masing sebesar 38,17 juta ton dan 3,05 juta ton, sehingga total dari keseluruhannya sebesar 41,98 juta ton. GAPKI menyatakan ini sebagai kinerja yang baik dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya yaitu 35,57 juta ton, terdiri dari CPO 32,52 juta ton dan PKO 3,05 juta ton.

    Masih dari data GAPKI, ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2017 ke semua negara tujuan mengalami kenaikan permintaan. Negara yang mencatat kenaikan permintaan signifikan baik secara volume maupun persentase adalah India. Sepanjang tahun 2017, permintaan minyak sawit India tembus 7,63 juta ton. Angka ini tumbuh 1,84 juta ton atau 32% dibanding permintaan pada 2016. Total permintaan pada 2016 sebesar 5,78 juta ton.

    Ekspor ke negara-negara Afrika mencatatkan hasil yang baik juga dengan peningkatan 50%. Pada 2016, permintaan dari Afrika mencapai 1,52 juta ton, sedangkan permintaan pada 2017 sebesar 2,29 juta ton.

    Di posisi ketiga, ada China dengan kenaikan permintaan sebesar 16%. Tahun lalu, permintaan CPO dan turunannya dari China sebesar 3,73 juta ton. Sedangkan, volume permintaan pada tahun sebelumnya 3,23 juta ton.

    Tak kalah dengan negara-negara lain, Uni Eropa juga mengalami kenaikan sebesar 15% (2016 : 4,37 juta ton, 2017 : 5,03 juta ton). Selain itu, Pakistan naik 7% (2016 : 2,07 juta ton, 2017 : 2,21 juta ton), Amerika Serikat naik 9% (2016 : 1.08 juta ton, 2017 : 1,18 juta ton), Bangladesh naik 36% (2016 : 922,85 ribu ton, 2017 : 1,26 juta ton), dan Negara-negara Timur Tengah naik 7% (2016 : 1,98 juta ton, 2017 : 2,12 juta ton). (Hani Setiawati)