Polda Metro dan FBI Tangkap Peretas Website Internasional

Motif kelompok bernama ‘Surabaya Black Hat’ ini bertujuan memeras perusahaan yang diretas

  • Ilustrasi
    Ilustrasi

    JAKARTA- Subdit IV Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) menangkap pelaku tindak pidana siber yang telah meretas 600 website di dalam dan luar negeri. Komplotan peretas sejumlah situs (hacker), menamakan diri sebagai ‘Surabaya Black Hat’ (SBH).

    Kepala Subdirektorat Cyber Crime Ajun Komisaris Besar Robertus Pasaribu mengatakan, kelompok SBH tersebut diakomodasi oleh tiga orang pelaku berinisial KPS, ATP dan NA. Dalam menjalankan aksinya, pelaku meretas sistem pengamanan situs dalam dan luar negeri kemudian memeras dengan meminta sejumlah uang.

    “Awalnya kami mendapat informasi Itu dari FBI, kita kan punya kerja sama antara FBI dari IC3 (Internet Crime Complaint Center) itu adalah pusat pengaduan Jakarta terbesar di Amerika. Jadi di Amerika sana ada data, bahwa ada peretasan sistem elektronik yang dilakukan oleh sekelompok orang di Indonesia," ujar Robertus seperti dilansir Antara, Selasa (13/3).

    Robertus menambahkan, sampai saat ini polisi masih terus melakukan penyelidikan dan pemeriksaan kepada para tersangka. Berdasarkan pengakuan kepada penyidik, para tersangka awalnya melalukan aktivitas biasa pada dunia maya atau siber. Melihat adanya peluang bisnis haram tersebut, mereka lalu membuat komunitas yang terdiri dari ratusan orang hacker.

    "Dia mempunyai 600 hingga 700 anggota hacker di sana (grup SBH). Dia mempunyai anggota sebanyak itu. Semua anggota melakukan perbuatan itu," ungkap Roberto.

    Dia melanjutkan, atas informasi tersebut, kini petugas sedang melakukan penelusuran yang mengarah ke ratusan hacker tersebut. Menurutnya, komunitas tersebut biasanya berkumpul di sebuah kafe dengan waktu yang ditentukan

    "Masih ada beberapa pelaku yang kita lakukan pencarian. Itu emang komunitas, tapi kan belum tentu pidana 600 hingga 700 itu. Perlu kita pilah peran mereka. Anggota yang bergabung karena memiliki visi dan misi yang sama sebagai hacker di media sosial. Biasa kumpul-kumpul, sharing semua," katanya.

    Robertus melanjutkan, para pelaku ini memulai aksinya sejak tahun 2017, dalam selama satu tahun, mereka mampu mengantongi keuntungan hingga Rp200 juta, hasil dari meretas 3.000 sistem elektronik dan 600 website yang berada di 44 negara.

    "Pengakuan tersangka, pendapatan yang mereka dapat selama tahun 2017 adalah berkisar Rp 50 sampai Rp200 juta. Pembayaran uang tebusan itu dilakukan melalui akun Paypal dan Bitcoin. Mereka kirim email untuk minta tembusan. Minta uang ada Rp20, Rp25, Rp15 juta itu dikirim via Paypal. Kalau enggak mau bayar sistem dirusak," jelasnya.

    Akibat perbuatannya, Ketiga tersangka yang ditangkap dikenakan Pasal 29 ayat 2 Juncto Pasal 45 B, Pasal 30 Juncto Pasal 46, Pasal 32 Juncto Pasal 48 Undang -Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik. Para pemuda ini terancam hukuman pidana 12 tahun penjara dan atau denda maksimal Rp 2 miliar. (Benny Silalahi)