Peringkat Dikerek, Asing Serbu Surat Utang RI

Porsi kepemilikan asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) per 5 Januari 2018 menjadi sebesar 40,3%, naik dari posisi setahun sebelumnya sebesar 37,62%

  • Ilustrasi Utang Negara. Ist
    Ilustrasi Utang Negara. Ist

    JAKARTA- Kenaikan peringkat investasi Indonesia dari beberapa lembaga pemeringkat internasional mulai berimbas. Minat investor asing memburu Surat Berharga Negara (SBN) terlihat makin meningkat.

    Dari proses lelang Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di awal tahun ini misalnya, total penawaran yang masuk hampir tiga kali lipat dari nominal yang dimenangkan.

    Dalam proses pelelangan Surat Utang Negara pada tanggal 3 Januari 2018 untuk seri SPN03180404 (new issuance), SPN12190104 (new issuance), FR0063 (reopening), FR0064 (reopening) dan FR0075 (reopening), total penawaran yang masuk sebesar Rp86,21 triliun. Sedangkan nominal yang dimenangkan sebesar Rp25,5 triliun. Angka terakhir inilah yang diraup pemerintah guna pembiayaan utang dalam APBN 2018.

    Begitu pula dalam proses pelelangan Surat Berharga Syariah Negara, tanggal 9 Januari 2018 untuk seri SPNS10072018 (new issuance), PBS016 (reopening), PBS002 (reopening), PBS017 (new issuance), PBS012 (reopening) dan PBS004 (reopening). Total penawaran yang masuk sebesar Rp32,28 triliun. Sedangkan nominal yang dimenangkan dari keenam seri yang ditawarkan tersebut sebesar Rp13 triliun.

    Menurut Ketua Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) Farida Thamrin, tingginya penawaran yang masuk untuk sejumlah seri SBN atau SBSN di atas merupakan imbas kenaikan peringkat dari lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings, Desember 2017 lalu.

    Fitch kala itu memang memperbaiki peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing dan lokal Indonesia menjadi BBB dengan outlook stabil, dari sebelumnya BBB- dengan Outlook Positif.

    “Saat Fitch menaikkan peringkat Indonesia, penerbitan SUN sudah selesai tahun 2017. Jadi ketika di awal tahun dilakukan lelang pertama, penawarannya begitu besar. Kita bisa liat yield-nya bisa menyentuh 6,05% yang tenornya 10 tahun,” ujar Farida saat ditemui Validnews di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (12/1).

    Sebelum Fitch, pada awal tahun lalu peringkat kredit Indonesia juga ditingkatkan oleh Moody's dari positif menjadi stabil, serta S&P dari BB+ menjadi BBB-. Hal ini yang menurut Farida semakin meningkatkan kepercayaan investor terhadap SBN, termasuk para investor asing.

    “Saya yakin jika peringkat Indonesia kembali ditingkatkan pada tahun ini, investor asing akan semakin banyak yang masuk. Saat ini kepemilikan SBN masih didominasi oleh investor lokal,” ujar SVP Treasury Bank Mandiri itu.

    Sebelumnya, menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemterian Keuangan (DJPPR Kemenkeu), porsi kepemilikan asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) per 5 Januari 2018 adalah sebesar 40,3%. Anga ini naik dari posisi setahun sebelumnya sebesar 37,62%.

     

     

    Rawan Tekanan
    Farida mengakui, kepemilikan asing yang meningkat ini turut membuat pasar SBN rawan tekanan. Salah satunya adalah terjadinya penarikan modal asing secara tiba-tiba lantaran ada kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Rate).

    “Untuk itu regulator penyelenggara bisa mengatur porsi tersebut. Saya yakin regulator bisa mengelola itu,” kata Farida.

    Selain SBN yang bersifat jangka panjang, menurut Farida, minat investor juga meningkat pada instrumen jangka pendek seperti Surat Pembendaharaan Negara (SPN).

    “SPN mulai dari yang tiga bulan itu laris di pasar. Saat ini instrumen untuk surat itu cukup lengkap di market sekarang," tuturnya.

    Sekadar informasi, pemerintah akan kembali melelang lima seri SUN pada 16 Januari mendatang. Sesuai keterangan DJJPR Kemenkeu, jumlah indikatif SUN yang dilelang sebesar Rp17 triliun dengan target maksimal yang dimenangkan Rp25,5 triliun.

    Kelima seri obligasi itu adalah seri SPN03180417 (new issuance) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo 17 April 2018 serta SPN12190104 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo 4 Januari 2019.

    Tiga seri lainnya adalah FR0064 (reopening), FR0065 (reopening) dan FR0075 (reopening), dimana tingkat bunga masing-masing adalah 6,125%, 6,625% dan 7,5%, serta jatuh tempo masing-masing pada 15 Mei 2028, 15 Mei 2033 dan 15 Mei 2038.

    Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price).

    Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif (competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield yang diajukan. Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif (non-competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang.

    “Pemerintah memiliki hak untuk menjual kelima seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang ditentukan. SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp1 juta,” kata pernyataan Direktorat Surat Utang Negara, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu. (Rizal)