Peredaran dan Penyalahgunaan Senjata Api Rakitan Perlu Jadi Perhatian

Data Statistik Kriminal 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahun sejak tahun 2013 hingga tahun 2015, ada ratusan kejahatan pencurian dengan kekerasan yang menggunakan senjata api

  • Ilustrasi senjata ilegal. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
    Ilustrasi senjata ilegal. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

    JAKARTA – Kasus penembakan yang dilakukan dokter Helmi terhadap istrinya sendiri dokter Letty Sultri (46) di Az-Zahra Medical Centre di Jalan Dewi Sartika RT 04/ RW 04, Cawang, Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (9/11) kemarin mengingatkan bahwa sampai saat ini masyarakat belum sepenuhnya terlindung dari penyalahgunaan senjata api ilegal.

    Informasi yang didapat Validnews menyebutkan bahwa senjata api yang digunakan oleh dokter Helmi adalah senjata api rakitan yang didapat secara illegal. Kini polisi masih menelusuri dari mana dokter Helmi mendapatkan senjata api rakitan tersebut.

    Kasus dokter Helmi menambah daftar kejahatan dengan menggunakan senjata api yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan Data Statistik Kriminal 2016 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahun sejak tahun 2013 hingga tahun 2015, ada ratusan kejahatan pencurian dengan kekerasan yang menggunakan senjata api.

    Di tahun 2013 tercatat ada 482 kejahatan, kemudian di tahun 2014 menjadi 332, dan di tahun 2015 menjadi 312 kejahatan. Data tersebut belum termasuk kejahatan menggunakan senjata api seperti pembunuhan dan atau penganiayaan yang bukan pencurian.

    Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahawa sampai saat ini kejahatan dengan menggunakan senjata api masih terus terjadi. Terkait hal ini, Kriminolog Universitas Indonesia, Josias Simon menilai harus ada pengawasan bersama untuk menangani peredaran dan penyalahgunaan senjata api rakitan ilegal.

    Dikatakan Josias aturan mengenai penggunaan senjata api di Indonesia sebenarnya sudah cukup ketat dan sangat membatasi penggunaan oleh masyarakat sipil. Namun pengawasan di lapangan perlu menjadi perhatian agar sesuai dengan aturan.

    Diakui dia, kebanyakan yang beredar dan digunakan untuk aksi kejahatan adalah senjata api jenis rakitan yang sangat sulit untuk ditelusuri dan dicegah peredarannya.

    Menurut dia, material pembuat senjata api rakitan mudah didapat dan sangat mungkin dimanfaatkan pihak tertentu untuk membuat senjata api. Ia berpendapat, penegak hukum akan kesulitan menelusuri material pembuat senjata api rakitan ketika belum menjadi senjata.

    “Belum menjadi senjata ketika belum dirakit, ketika masih bagian terpisah. Setelah dirakit baru bisa jadi senjata. Kita kapan bisa tahu itu digunakan untuk kejahatan setelah ketahuan ada penyalahgunaan. Kesulitannya di situ,” ungkap Josias kepada Validnews, Jumat (10/11).

    Karena itu akademisi yang juga menulis buku “Senjata Api dan Penanganan Tindak Kriminal” ini mengatakan perlu ada koordinasi antar pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi peredaran dan penyalahgunaan senjata api. Mengingat selama ini penggunaan material senjata juga berhubungan dengan berburu dan olahraga menembak.

    Sebelumnya, kepada Validnews Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, berdasarkan pemeriksaan awal Helmi kepada penyidik bahwa senjata api tersebut dibeli dari seorang temannya. Dari pemeriksaan itu juga dipastikan bahwa senjata api tersebut tidak memiliki izin resmi alias ilegal.

    Teranyar, penyidik mendapat keterangan dari Helmi bahwa tersangka telah mempersiapkan dua pucuk senjata api sebelum terjadi penembakan.

    "Dia mempersiapkan dua senjata api, satu senjata rakitan di antaranya telah diperiksa Labfor," kata Argo dikutip dari Antara.

    Berdasarkan keterangan sementara, Argo menyatakan pelaku membawa senjata api untuk menakuti korban namun berubah pikiran dengan melepaskan tembakan. Argo menjelaskan motif penembakan itu berawal ketika pelaku dan korban kerap bertengkar selama berumah tangga lima tahun.

    Terkait asal senjata api, Argo menyebutkan penyidik belum mendapatkan informasi lantaran pelaku belum konsisten memberikan keterangan. (Jenda Munthe)