MIMPI BERDIKARI OTOMOTIF DALAM NEGERI

Peran Buruh Dalam Industri Kendaraan Bermotor

Sebagian besar dari industri komponen otomotif masih banyak yang berskala menengah atau bahkan rumah tangga (home industri).

  • Ilustrasi. Pekerja menyelesaikan rakitan ribuan unit motor di Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
    Ilustrasi. Pekerja menyelesaikan rakitan ribuan unit motor di Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

    Oleh: DR.Nugroho Pratomo*

    Produksi
    Industri kendaraan bermotor atau juga sering disebut sebagai industri otomotif telah lama ada di Indonesia. Keberadaan industri ini semakin strategis seiring peningkatan kebutuhan kendaraan bermotor di Indonesia. Hingga tahun 2015, berdasarkan data statistik industri yang dipublikasikan BPS, terdapat 412 perusahaan yang bergerak di bidang industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Sedangkan, untuk industri kendaraan bermotor roda dua dan tiga jumlahnya mencapai tujuh belas perusahaan (Sub Direktorat Statistik Industri Besar dan Sedang, 2017).

    Berdasarkan data Gaikindo, terdapat beberapa merek dan jenis kendaraan bermotor roda empat yang saat ini diproduksi di Indonesia. Data Gaikindo menyebutkan bahwa jumlah produksi kendaraan bermotor roda empat atau lebih selama periode Januari—Desember 2017 mencapai 1.216.615 unit. Jumlah ini terdiri dari 982.356 unit kendaraan penumpang dan 234.259 unit kendaraan komersial (Gaikindo, 2017).

    Salah satu kendala utama yang masih harus dihadapi oleh industri kendaraan bermotor di Indonesia adalah skala industri. Sebagian besar dari industri komponen otomotif masih banyak yang berskala menengah atau bahkan rumah tangga (home industry). Kurangnya pembinaan dari Pemerintah Indonesia serta prinsipal merek-merek otomotif besar yang ada di Indonesia mengakibatkan kondisi industri komponen yang ada masih jauh dari sentuhan pengembangan kemajuan teknologi dan praktik manajemen modern.

    Pada dasarnya, salah satu solusi dari kondisi tersebut juga mengandaikan adanya pengembangan industri besi baja dan teknologi metalurgi yang tepat dari Pemerintah Indonesia. Sebaliknya, jika melihat struktur dan postur industri otomotif di Indonesia yang mengarah pada integrasi vertikal akan terlihat bahwa beberapa industri komponen yang ada dan berada satu atap dengan agen tunggal pemegang merek (ATPM) justru hanya memperpanjang rantai produksi (Pratomo, 2008).

    Tenaga Kerja
    Keberadaan industri kendaraan bermotor baik roda dua (sepeda motor) maupun roda empat atau lebih, juga menjadi salah satu tumpuan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Masih berdasarkan Statistik Industri yang dipublikasi BPS, jumlah tenaga kerja dalam industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih di tahun 2015 sebanyak 147.553 orang. Sedangkan, dalam industri kendaraan bermotor roda dua dan tiga, jumlah tenaga kerja mencapai 17.949 orang (Sub Direktorat Statistik Industri Besar dan Sedang, 2017).

    Mencermati keberadaan tenaga kerja dalam industri kendaraan bermotor, tampak bahwa perkembangan teknologi dalam masing-masing jenis industri ini adalah sebuah keniscayaan yang tidak terhindarkan. Artinya, posisi pekerja dalam masing-masing industri tersebut juga semakin ‘terancam’ dengan tersubtitusi oleh teknologi. Hal inilah yang seharusnya memaksa buruh melalui serikat pekerja untuk lebih dapat menempatkan posisi buruh sebagai sebuah faktor produksi yang benar-benar produktif sehingga tidak dengan mudah tergantikan oleh mesin dan teknologi.

    Sebuah studi yang dilakukan oleh Pratomo (2008) lebih lanjut menyimpulkan bahwa dalam konteks perburuhan dan peranan serikat pekerja, hasil estimasi dua bentuk modifikasi model estimasi memperlihatkan bahwa baik dalam industri yang bersifat padat karya maupun padat modal, peningkatan pendapatan sebagai sebuah prasyarat agar pekerja mampu menghasilkan tingkat produktivitas yang maksimal sehingga dapat meningkatkan output produksi yang dihasilkan.

    Sebaliknya, dalam beberapa industri, seperti industri perakitan kendaraan roda empat dan industri komponen kendaraan, penambahan jumlah tenaga kerja bukan solusi dalam upaya peningkatan hasil produksi, bahkan kebijakan dengan melakukan penambahan jumlah tenaga kerja justru akan mengakibatkan terjadinya penurunan skala hasil produksi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada pola umum yang dapat kita lihat dari industri otomotif nasional sebagai salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi penyerap tenaga kerja, dalam kerangka pengurangan tingkat pengangguran.

    Keberadaan industri otomotif yang sarat dengan perkembangan teknologi menyebabkan kebutuhan tenaga kerja dari industri ini menjadi sangat selektif dan menuntut kemampuan keahlian yang sangat terspesifikasi. Kondisi dan fakta semacam ini juga sekaligus memaksa serikat pekerja dari masing-masing sub sektor industri untuk bisa melihat dan mempelajari secara lebih saksama bentuk peranan seperti apa yang bisa dilakukan sesuai dengan jenis industri di mana serikat pekerja tersebut berada, terutama dalam kerangka upaya peningkatan pendapatan, mulai dari tingkat upah hingga berbagai fasilitas yang diperlukan.

    Berangkat dari kondisi tersebut, studi (Pratomo, 2008) juga menyarankan bahwa keberadaan serikat pekerja dalam industri otomotif sebagai sebuah instrumen dalam peningkatan pendapatan buruh sangatlah penting, karenanya serikat pekerja seharusnya juga bisa lebih memainkan peran posisi tawarnya yang relatif cukup kuat dengan pemilik modal. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong peningkatan produktivitas tenaga kerja di setiap sub sektor industri, di mana pada saat yang bersamaan serikat pekerja juga harus bisa menciptakan sebuah mekanisme yang lebih terkoordinasi antarsub sektor agar setiap organisasi yang ada bisa secara efektif bertindak sebagai jembatan pekerja antarsubsektor dalam industri otomotif.        

    *Direktur Riset Visi Teliti Saksama

    Referensi:

    Gaikindo. (2017). Retrieved from https://files.gaikindo.or.id/my_files/

    Pratomo, N. (2008). Perkembangan Industri Kendaraan Roda Empat dan Sepeda Motor, Karoseri Kendaraan Serta Komponen dan Asesoris Untuk Kendaraan Roda Empat dan Sepeda Motor: Pangsa Pasar, Daya Saing dan Tingkat Produktivitas. Jakarta: Inrise.

    Sub Direktorat Statistik Industri Besar dan Sedang. (2017). Statistik Industri Manufaktur Indonesia 2015. Jakarta, DKI, Indonesia: BPS.