Pengguna Angkutan Umum 2029 Ditargetkan Jadi 60%

Demi kemudahan masyarakat mengakses transportasi umum, pemerintah berencana membangun hunian berbasis transportasi (transit oriented developtment/TOD) di sejumlah simpul LRT dan MRT

  • Ilustrasi Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta (KA Basoetta) tiba di Stasiun Sudirman Baru saat uji coba perdana di Jakarta.
    Ilustrasi Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta (KA Basoetta) tiba di Stasiun Sudirman Baru saat uji coba perdana di Jakarta.

    JAKARTA – Pemerintah menargetkan penggunaan angkutan umum di Jakarta pada tahun 2029 naik menjadi 60%, yang saat ini masih sekitar 30%. Hal ini diproyeksikan, menyusul adanya pembangunan transportasi umum baru seperti Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Transit (LRT).

    "Kita harapkan penumpang yang bergerak di Jakarta itu 60% yang menggunakan transportasi massal," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu (14/2).

    Menurut Budi, hal itu mungkin terjadi karena sudah terbangun moda transportasi massal yang baru, seperti LRT dan MRT yang ditargetkan terintegrasi dengan moda lainnya, seperti bus, kereta rel listrik (KRL) dan kereta bandara.

    Selain itu, lanjut dia, juga akan dibangun hunian berbasis transportasi atau transit oriented developtment (TOD) di sejumlah simpul LRT dan MRT. Ia menyebutkan, untuk MRT akan dibuat TOD di 10 titik, seperti Dukuh Atas, Ratu Plaza, Kejaksaan Agung dan lainnya. Kemudian juga akan dibuat di Ciputat, Tanah Abang dan lainnya.

    "TOD itu prinsipnya simpul kegiatan moda tertentu dengan moda yang lain, coba saja pergi ke Tokyo, enaknya naik kereta kan, karena cepat, murah dan ramah lingkungan," katanya.

    Budi menjelaskan pihaknya akan berupaya membuat TOD yang lebih padat, artinya dari satu pusat kegiatan, baik itu kantor atau permukiman ke pusat transportasi tidak begitu jauh.

    "Sehingga dari satu tempat ke tempat lain, jalan kaki saja," katanya.

    Untuk itu, menurut dia, dibutuhkan keseriusan baik dari pemerintah maupun swasta untuk membangun TOD karena manfaat yang diambil sangat besar, terutama mengurangi kemacetan jalan raya.

    "MRT, LRT ini berlangsung ratusan tahun, kalau kita salah maka akan meninggalkan suatu hal yang tidak enak. Untuk itu, pemangku kepentingan harus duduk sama-sama, untuk menjadikan Jakarta lebih baik, selain itu tumbuh titik komersil agar fungsi-fungsi itu berlangsung dengan baik," papar Budi.

    Dorongan pengembangan moda transportasi dan pemanfaatan simpul-simpul strategis, dikatakan Budi, bukan hanya difokuskan pada Jakarta, tapi juga perlu diperhatikan untuk daerah lain di Indonesia.

    "Saya minta pemerintah daerah menyadari pembangunan itu dan mengambil langkah-langkah, menyediakan lahan, mensinergikan moda angkutan dan membentuk lembaga yang tata kelolanya baik," pungkasnya. (Zsazya Senorita)