Pengadilan Malaysia Loloskan Satria Dari Hukuman Mati

Pelaku pembunuhan ini tak dikenakan lagi pasal pembunuhan berencana

  • TOLAK HUKUMAN MATI- Aktivis menyuarakan penolakan eksekusi mati, beberapa waktu lalu. Foto oleh Idhad Zakaria/Antara
    TOLAK HUKUMAN MATI- Aktivis menyuarakan penolakan eksekusi mati, beberapa waktu lalu. Foto oleh Idhad Zakaria/Antara

    KUALA LUMPUR – Satria Hidayat (24), Warga Negara Indonesia asal Madura Provinsi Jawa Timur, sebelumnya didakwa hukuman mati oleh pengadilan di Malaysia. Pelaku didakwa karena membunuh seorang wanita bernama Tan Kim Poh di Kantor Pabrik Papan Summer Media Sdn Bhd Lot 4775 Mukim Rawang, Malang Jaya, Kuang, pada 5 Agustus 2017.

    Pabrik tersebut merupakan milik Tan Kim Poh yang mempekerjakan pekerja berbangsa China, Melayu dan WNI. Satria adalah salah satu pekerja di pabrik tersebut.

    Namun, nasib menjemput ajal secara cepat, akhirnya tak jadi dikenakan terhadap Satria.  Antara memberitakan, Mahkamah Tinggi Malaya di Klang, Selangor, Kamis (17/5) memutuskan, ia tak jadi dikenakan hukuman mati. Wakil Jaksa Penuntut Umum Yong Leou Shin menerima  eksepsi yang diajukan pengacara Satria. Hakim Pengadilan Tinggi Klang Datok Ahmad Fairus Bin Zainol Abidin kemudian memvonis Satria Hidayat 17 tahun penjara.

    Semula dia didakwa dengan pasal 302 pembunuhan berencana yang hukumannya pasti hukuman mati. Namun kemudian, dakwaan diubah menjadi pertuduhan alternatif 304 (a) hukum pidana. Menurut pasal tersebut,  hukuman untuk pembunuhan yang dianiaya tidak seberat hukuman untuk pembunuhan berencana.

     

    Penyelidikan menunjukkan, pelaku pernah bekerja di pabrik tersebut selama seminggu. Namun, ia kemudian pindah ke perusahaan lain. Pada 5 Agustus 2017 Satria telah datang kembali ke tempat Tan Kim Poh untuk mencari pekerjaan. Saat itu, ia malah berpikir unuk merampok korban yang sedang sendiri. Sang majikan pun dicekiknya hingga mati.

    Pelaku kemudian mengambil ponsel korban dan uang tunai RM3.000 yang berada di atas meja milik korban. Hasil rampokan itu, dikantunginya. Ia pun  mentraktir makan malam kawannya bernama Abdul Bezit dan bermain judi dengan menggunakan uang lebih kurang RM320.

    Dari uang tersebut, Satri juga membeli ponsel  dengan harga RM699, membayar hutang ke rekannya RM600, mengirim uang ke kampungnya RM336. Ia juga  mengirim ke istrinya RM300 dan kegunaan lainnya.

    Namun, selang tiga hari, tepatnya 8 Agustus 2017 jam 16.30 waktu setempat, Polisi setempat menangkapnya.

    40 WNI Lainnya
    Satria bukanlah satu-satunya WNI terancam hukuman mati. Kementeriuan Luar Negeri mencatat pada 2016, ada 18 ribu lebih kasus yang melibatkan tenaga kerja asing di luar negeri. Dan, pada 2017 , jumlah ini menurun menjadi hanya 15 ribu kasus. Menlu Retno Marsudi beberapa waktu lalu memaparkan, yang bisa dituntaskan sebanyak 9 ribu kasus.

    Dari ribuan kasus itu,  ada 40 warga negara Indonesia yang terancam terkena hukuman mati. Diplomasi dan advokasi yang dilakukan Kementerian Luar Negeri berhasil memloloskan 37 diantaranya dari ancaman eksekusi mati.

    Ada 32 warga negara Indonesia yang juga sempat disandera di kelompok radikal Filipina. “Dari jumlah ini, 29 sandera sudah berhasil dibebaskan. Masih ada 3 warga negara Indonesia lagi yang kini masih tersandera,” bebernya.

    Terakhir, pada Maret lalu, salah satu tenaga kerja asal Madura, Zaini Misrin, dieksekusi mati juga di Arab Saudi. Duta Besar Arab Saudi di Jakarta,Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi menyatakan, pemerintahnya sudah dua bulan sebelum eksekusi dilakukan, 18 Maret lalu.

    Zaini dihukum mati karena didakwa membunuh majikannya,  Abdullah bin Umar Muhammad Al Sindy, pada 1992. Ia ditangkap pada 13 Juli 2004 atas dasar laporan anak Abdullah yang menuduhnya telah membunuh sang ayah. 

    Sebaliknya, hal ini sempat menjadi polemik. Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, beberapa waktu lalu mengatakan pihak Saudi tak pernah memberitahu kasus tersebut, hingga pada Novembver 2008, Zaini divonis hukuman mati dengan dipancung. (Rikando Somba)