Pembantu Online, Solusi Infal untuk Keluarga Kecil

Dari pengalaman tahun lalu, melambungnya pesanan khusus untuk Go-Clean bisa mencapai 130% dibandingkan bulan sebelumnya

  • Layanan Go Clean di rumah. (Facebook @ Rekrutmen GoGlam, GoMassage, GoClean, GoAuto)
    Layanan Go Clean di rumah. (Facebook @ Rekrutmen GoGlam, GoMassage, GoClean, GoAuto)

    JAKARTA – Mudik adalah hak setiap insan, tidak terkecuali bagi para asisten rumah tangga (ART). Karena itu, menjadi pemandangan lumrah ketika pada musim libur Lebaran seperti saat ini, para pengguna ART kelimpungan. Maklum, para “mbak” memang jadi andalan dalam membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari membersihkan rumah, cuci piring, setrika, hingga masak-masak.

    Ramai-ramai mudiknya para ART yang telah menjadi tradisi ini pun membuat bisnis ART infal kian menggeliat. Sedikit informasi, ART infal tak lain merupakan ART pengganti yang sifatnya musiman. Mereka kerap hanya bekerja pada musim libur Idul Fitri atau pada saat-saat tertentu. Dari tahun ke tahun, peningkatan kebutuhan akan ART infal pun kian melambung.

    Pemilik Lembaga Penyalur Pembantu Rumah Tangga (LPPRT) Lentera Kasih Insani, Rahmad, pun mengakui banyaknya permintaan ART infal menjelang Idul Fitri. Trennya dari tahun ke tahun, permintaan mulai mengalir deras pada H-5 hari raya.

    “Untuk infal harian itu minimal Rp150 –200 ribu per hari. Untuk baby sitter itu minimal Rp250—350 ribu per harinya,” ucapnya kepada Validnews di kantornya, Rabu (6/6).

    Minimal, pemesan ART infal mesti memperkerjakan asisten dadakannya tersebut selama 10 hari. Biaya yang terpatok pun belum termasuk biaya administrasi kepada pihak yayasan yang berkisar Rp1 juta untuk pencarian ART infal.  Artinya, konsumen sedikitnya mesti mengeluarkan kocek minimal Rp2,5—3 juta.

    Di luar penyalur ART konvensional, pilihan masyarakat untuk bisa memperoleh layanan ART pengganti ketika musim libur Lebaran pun kian beragam dengan maraknya berbagai penyedia layanan ART on-demand berbasis aplikasi, mulai dari Go-Clean, Go-Maid, BersihRapih, hingga Seekmi yang memang menyediakan layanan lebih terfokus untuk tiap kegiatan.

    Sama seperti penyalur jasa ART konvensional, para “penyalur” berbasis aplikasi ini pun merasakan nikmat gurihnya musim libur Lebaran yang ditandai oleh melonjaknya pesanan ART on-demand mereka. Rata-rata pertumbuhan pesanan ART di jasa penyalur yang memanfaatkan internet ini bahkan mencapai dua kali lipat.

    Vice President Marketing Go-Life, Yuanita Agatha menyebutkan, dari pengalaman tahun lalu, melambungnya pesanan khusus untuk Go-Clean bisa mencapai 130% dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan terkadang tingginya pesanan tidak dapat diakomodasi karena terbatasnya mitra penyedia jasa layanan berbasis aplikasi ini. Padahal, asal tahu saja, jumlah mitra Go-Life telah mencapai 30 ribu orang di 24 kota besar.

    Kurangnya mitra yang bisa melayani ini di saat permintaan tinggi ini tak lain karena banyak mitra yang juga memutuskan pulang kampung. Untuk itulah, pada tahun ini anak usaha dari Go-Jek ini membuat program insentif guna mengantisipasi tidak terlayaninya pesanan yang membeludak.

    “Jadi kalau mitra enggak mudik, ambil pesanan di H-7 sampai H+7 Lebaran, itu ada insentif khusus. Kita enggak bisa share angkanya, tetapi yang pasti dia akan dapat bonus tambahan supaya bisa mudik setelah itu juga,” tutur perempuan yang kerap disapa Yuan ini kepada Validnews, Kamis (7/6).

     

    Hampir serupa, CEO sekaligus Co-founder GoMaid, Jessica Neviana Giovanni mengungkapkan, musim libur Idul Fitri saat ini memang menjadi saat mendulang pesanan untuk ART. Pihaknya merasakan peningkatan pemesanan hingga 100% daripada rata-rata bulanan pada momen-momen ini.

    Sebanyak 350 maid yang tersedia untuk menanggapi permintaan tersebut pun dirasa tak cukup karena tingginya pesanan. Pasalnya, jumlah order pada musim libur Lebaran seperti saat ini bisa mencapai 3—4 ribu orderan. Sementara itu, pada bulan-bulan biasa, jumlah permintaan ART on-demand lewat aplikasi GoMaid rata-rata 1,5—2 ribu orderan.

    “Terkadang kita butuh back-up dua kali lipat dari jumlah maid dari mitra kita yang awal, yang asli. Jadi, itu mungkin tantangannya supaya tetap balance-lah permintaan dengan suplainya,” ceritanya kepada Validnews, Jumat (8/6).

    Hunian Kecil
    Menurut Yuan, kian maraknya penyedia jasa ART on-demand, tidak terkecuali Go-Clean, disebabkan karena banyaknya masyarakat yang tak lagi bisa mengandalkan ART yang tinggal di rumah. Salah satu faktornya karena hunian yang ditinggali tidak terlalu luas.

    “Sekarang kan ART juga susah ya nyarinya,” ujarnya.

    Senada, Jessica pun melihat ramainya permintaan ART lewat aplikasi disebabkan kian berubahnya pola hidup masyarakat. Masalah pilihan tempat tinggal yang tidak melulu berbentuk rumah tapak dengan ukuran yang luas pun membuat konsumen memutar otak untuk mencari pilihan ART yang dipastikan tidak mengganggu privasinya.

    “Karena pertama mungkin privasinya atau mereka memang tinggal di apartemen yang enggak ada tempat untuk pembantu itu tidur,” tukas Jessica.

    Alasan ini pun dibenarkan oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus. Kepada Validnews, ia mengemukakan, terbatasnya lahan di kota-kota besar hingga perubahan pola pilihan generasi milenial sendirilah yang membuat jasa layanan ART on-demand lewat aplikasi ini berkembang. Pasalnya, pilihan tempat tinggal menjadi mengarah kepada hunian vertikal yang memiliki akses mudah ke berbagai tempat. 

    “Mereka daripada katakanlah menyewa asisten rumah tangga yang menginap, nah lebih baik katakanlah berdasarkan permintaan, on demand. Jadi, kalau misalnya butuh bersih-bersih, baru panggil. Butuh cuci gosok, baru panggil,” tutur alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

     

    Berdasarkan Statistik Indonesia 2017 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS), luas hunian di Indonesia pada 2016 memang mayoritas masih di bawah 100 meter persegi guna satu keluarga. Tepatnya, 79,7% hunian di nusantara memiliki luas antara 19—99 meter persegi.

    Jangan tanya dengan DKI Jakarta. Memiliki penduduk lebih dari 10 juta dengan luas wilayah hanya di angka 661,5 kilometer persegi, rata-rata luas hunian jauh lebih kecil. Masih mengutip data yang sama, paling banyak hunian di Jakarta atau sekitar 35,26% hanya memiliki luas 20—49 meter persegi. Disusul oleh hunian sebesar 50—99 meter persegi dengan persentase 22,03% dan hunian dengan luas 19 meter persegi ke bawah sebesar 21,27%.

    Sementara itu mengutip data BPS yang bertajuk Statistik Perumahan dan Permukiman, sebesar 71,94% hunian di ibu kota negara ini hanya terdiri atas 1—4 ruangan. Yang artinya, jumlah kamar untuk bisa menampung ART yang menginap pun sangat sulit. Persentase ini jauh lebih besar dibandingkan rata-rata jumlah hunian dengan jumlah ruang 1—4 di perkotaan secara umum yang hanya mencapai 55,18%.

    Salah seorang pengguna jasa layanan ART on-demand lewat aplikasi, Hesti menyebutkan, terbatasnya ruangan di huniannya menjadi salah satu dasar kuat ini beralih ke layanan ART berbasis aplikasi. Soalnya dengan konsep on-demand, ia tidak perlu lagi membagi ruang dalam hunian khusus untuk “tempat menginap” si ART.

    Ditambah lagi, ART berbasis aplikasi sebagian besar telah mendapatkan pelatihan dari kantornya sehingga pekerjaannya tampak lebih apik.

    “Dia juga bawa alat-alat dan obat pembersih yang ada aku enggak punya. Jadi, aku enggak usah pusing-pusing,” ujarnya kepada Validnews, Kamis (7/6).

    Tiap perusahaan penyedia jasa ART berbasis aplikasi memang memiliki pelatihan tersendiri sebelum melepas para mitranya ke konsumen. Salah satunya seperti yang dilakukan Seekmi terhadap para mitranya.

    Layanan ART yang memiliki spesifikasi layanan khusus per bidang pekerjaan ini pun kerap melakukan pelatihan teknik hingga soft skill kepada para mitranya. Pelatihan secara spesifik pun kerap diberikan dengan harapan para konsumen bisa senantiasi puas dengan pelayanan Seekmi.

    “Jadi misal, training AC sebulan sekali terus lokasinya di mana, terus materinya apa aja,” ungkap Thea selaku Strategy and Operation Seekmi kepada Validnews, Senin (4/6). 

    Berbagi Pangsa
    Melihat geliat dinamika gaya hidup masyarakat, Heri dari Indef yakin ke depan bisnis ART on-demand akan kian prospektif. Tidak hanya berdasarkan hunian dengan jumlah ruangan terbatas, makin berkembangnya bisnis semacam ini dikarenakan pula perubahan perilaku masyarakat yang cenderung instan dan ingin praktis di segala hal.

    Untuk diketahui, layanan penyedia jasa ART on-demand mulai menjamur di Indonesia di kisaran tahun 2015. Sebelum itu, hanya sedikit perusahaan yang menyediakan konsep ART online.  Salah satunya pionirnya, yakni Bersihrapih yang telah berdiri sejak tahun 2011.

    Kepada Validnews, pemilik Bersihrapih, Novel menyebutkan, awal pendirian perusahaan ini dikarenakan jumlah permintaan ART kian menanjak, namun kurang diimbangi oleh jumlah ketersediaannya. Alhasil, mencari ART menjadi pekerjaan yang kian sulit. Menggunakan bantuan layanan penyalur pun terasa membebankan karena adanya biaya administrasi yang tidak kecil.

    Secara konsep, apa yang ditawarkan Bersihrapih sedikit berbeda dibandingkan Go-Clean dan teman-temannya. Pasalnya, mereka menawarkan jasa general services dengan menggunakan tim, bukan perseorangan. Hitungannya pun per proyek dengan harga yang dipatok dari luas ruangan. Tarif yang ditetapkan Rp12 ribu per meter persegi dengan minimal order untuk 100 meter persegi.

    “Kita sedikit beda dengan yang ART atau cleaning service biasa. Kita tidak ada yang rutinitas, satu minggu dua kali datang, satu bulan datang atau daily maintains. Kita enggak. Kita berdasarkan proyek,” ungkapnya.

    Heri pun mengakui, kian tahun kebutuhan akan ART sebenarnya terus meningkat lantaran terus bertambahnya pula jumlah penduduk yang berumah tangga. Merujuk pada ART on-demand, permintaan menjadi tak putus-putus disebabkan penduduk milenial dengan konsep antiribet dan ingin praktis pun makin banyak yang memasuki usia rumah tangga.

    “Nah, itu perkembangan rumah tangga atau pertumbuhan rumah tangga Indonesia itu kan meningkat. Maka seiring itu, kebutuhan sarana pelengkapnya, termasuk ART, juga ikut meningkat,” ujarnya.

    Pernyataan kian membesarnya kebutuhan ART pun sebenarnya bisa disadari dengan semakin banyaknya jumlah ART di Indonesia dari tahun ke tahun. Di mana itu menunjukkan permintaan yang kian melambung.

    Berdasarkan data International Labour Organization, (ILO), jumlah ART ataupun yang kerap disebut domestic worker di Indonesia pada 2010 berada di angka 2,4 juta jiwa. Angka ini bertumbuh sekitar 71,43—179% dibandingkan proyeksi jumlah ART di Indonesia pada 2006 yang bertengger di 0,86—1,54 juta jiwa. Sebagian besar atau sekitar 75% dari jumlah ART di 2010 tersebut merupakan perempuan.

    Peneliti Indef lainnya, Nailul Huda, melihat selain karena adanya keengganan pemilik rumah berbagi ruang dengan ART, disrupsi ekonomi lewat internet pada akhirnyalah yang membuat kian ramainya usaha di jasa layanan ART on-demand berbasis aplikasi ini.

    Meskipun demikian, ia meyakini, maraknya penyedia jasa ART berbasis aplikasi tidak serta-merta menghilangkan rezeki untuk para ART konvensional maupun penyalur jasa ART yang bersifat menginap.

    “Nanti akan terbagi sendiri segmentasinya. Pasti ada orang-orang yang membutuhkan yang dia itu selalu ada di rumah, entah untuk menjaga anak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Itu pasti ada,” pungkasnya kepada Validnews, Selasa (12/6).

     

    Selaras, Heri pun menganggap antara ART konvensional dengan ART on-demand berbasis aplikasi memiliki pasarnya masing-masing. Baik Heri maupun Nailul melihat, keluarga yang memiliki tempat tinggalnya cukup besar dan huniannya cukup luas mungkin saja akan lebih memilih ART konvensional, termasuk pula ketika mencari ART infal pada saat musim libur Lebaran. Sementara itu, keluarga kecil dengan hunian yang mini mungkin lebih menyukai ART on-demandberbasis aplikasi.

    “Jadi, kalau menggerus tidak, tapi memang berbagi pangsa karena mengikuti perkembangan perubahan perilaku masyarakat karena sekarang sudah segmented,” imbuh Heri.

    Community Builder Klik’n Clean, Venna Saraswati pun menyetujui bahwa segmentasi pasar antara pengguna ART konvensional dengan on-demand sebenarnya telah terbagi. Jadi, ia menolak jika ada pandangan bahwa jenis usaha berbasis aplikasinya membuat pangsa pasar ART konvensional tergerus.

    “Karena cakupan kita juga belum semuanya. Kalau misalnya industri ini sudah menjangkau ke seluruh wilayah dan bahkan sampai mayoritas warga pakai jasa online ini, baru bisa dibilang kalau industri ini mempersempit lowongan mereka,” tuturnya kepada Validnews, Jumat (8/6).

    Saat ini, cakupan jasa ART on-demand berbasis aplikasi memang baru kota-kota besar. Bahkan sebagian hanya terfokus di wilayah Jabodetabek. Go-clean sendiri menjadi perusahaan penyedia ART on-demand berbasis aplikasi dengan cakupan paling banyak, sampai di 24 kota.

     

    Lebih Mahal
    Kerap bisa menjadi solusi untuk keluarga dengan hunian kecil yang sulit mempekerjakan ART yang menginap, nyatanya ada biaya cukup besar guna bisa memperoleh jasa ART on-demand. Rata-rata perusahaan mematok harga jasa sebesar Rp35—75 ribu per jamnya.

    Menurut Hesti yang kerap menggunakan jasa sejenis, perkiraan waktu panggil ART on-demand dalam sehari biasa mencapai 4 jam. Kuantitasnya sendiri berkisar dua kali seminggu. Hemat kata, dalam sebulan biaya yang mesti dikeluarkan untuk ART on-demand diperkirakan minimal Rp1,12 juta.

    Dita, salah satu pengguna layanan jasa ART konvensional yang tidak menginap berpandangan, angka yang mesti dikeluarkan untuk ART on-demand online lebih mahal dibandingkan yang konvensional. Pasalnya, kini memang sudah banyak orang yang berprofesi sebagai ART tanpa harus menumpang di rumah majikannya dengan tarif yang lebih miring.

    “Kalau aku, bayarnya tuh Rp600 ribu per bulan. Pulang pergi, datang pagi beres-beres, nyuci sama setrika juga, terus pulang,” ucapnya kepada Validnews, Rabu (13/6).

    Mahalnya biaya untuk bisa mendapatkan layanan ART on-demand berbasis aplikasi diakui pula oleh Nailul. Inilah yang menjadi salah satu alasan kuat bahwa jenis usaha tersebut tidak akan mampu menggerus jasa ART konvensional yang memang lebih murah.

    “Bayangkan saja, kalau on demand itu misalnya 2 jam Rp100 ribu saja, dikalikan sehari saja mereka sudah mahal. Kalau orang-orang yang membutuhkan bantu-bantu ada terus setiap hari, pagi siang malam, kalau pakai on demand kan mahal jatuhnya,” tukas peneliti Indef ini.

    Namun menurut Hesti, biaya yang dikeluarkan untuk ART on-demand berbasis aplikasi sebenarnya tidak berbeda jauh dengan biaya ART yang menginap di rumah. Karena selain gaji, kebutuhan rumah tangga lainnya, mulai dari makanan hingga kebutuhan sehari-hari lainnya, pastinya juga meningkat dengan kehadiran ART tersebut.

    “Sebenarnya biaya kalau pembantunya in house, tinggal sama kita, kalau aku hitung-hitung tiga kali lipat aku pakai on demand. Karena begitu kita memakai pembantu in house, konsumsi rumah tangga naik berkali lipat,” tutur perempuan pekerja ini.

    Soal tingginya harga yang dipatok oleh penyedia jasa layanan, Heri memandang hal tersebut merupakan mekanisme pasar yang terjadi karena permintaan yang tingi. Hanya saja mesti diingat bahwa layanan yang diberikan bisa jauh lebih memuaskan mengingat adanya pelatihan yang telah diberikan oleh perusahaan penyalurnya.

    Fenomena menjamurnya penyedia jasa ART on-demand berbasis aplikasi pun sebenarnya dapat menjadi jalan akan adanya perubahan paradigma pandangan orang terhadap jenis domestic worker. Apabila dulu ART dianggap sebagai pekerja tanpa keahlian dengan tingkat pendidikan yang rendah, kini siapapun dapat menjadi ART on-demand sebagai jalan untuk mencari penghasilan tambahan. Pasalnya, rata-rata mitra dari penyedia jasa ART on-demand memang sebenarnya bukan orang yang sedari awal bekerja sebagai asisten rumah tangga.

    “Itu mengubah pandangan. Yang on demand ternyata skill-nya lebih berpengalaman, lebih paham,” ujarnya.

    Pada akhirnya, keberadaan layanan jasa ART on-demand kian memperkaya pilihan bagi konsumen untuk bisa memperoleh bala bantuan guna mengurus pekerjaan rumah tangganya sesuai kebutuhan. Harga yang secara sepintas tampak lebih mahal pun bukan menjadi penghalang karena ada nilai kenyamanan lebih yang bisa mendapatkan.

    Yang jauh lebih penting, keberadaannya tidak perlu terlalu dirisaukan akan membabat pasar ART konvensional. Soalnya pasarnya telah tersegmentasi. Khusus untuk pengganti ART di musim libur Lebaran ini, penyedia jasa ART on-demand pun dapat menjadi jawaban bagi siapapun yang membutuhkan asisten rumah tangga tanpa mesti mengeluarkan biaya administrasi berlebih. (Teodora Nirmala Fau, Shanies Tri Pinasthi, Dimas Satrio Sudewo, Mahatma Dania Putra)