Patriotisme Arek Suro Ing Boyo

Pertempuran Surabaya adalah salah satu kekalahan terbesar Inggris di masa Perang Dunia

  • Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje/Yamamato, Surabaya. Ist
    Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje/Yamamato, Surabaya. Ist

    JAKARTA- “PADAMU GENERASI, TANPA PERTEMPURAN SURABAYA, SEJARAH BANGSA DAN NEGARA INDONESIA AKAN MENJADI LAIN”

    Tulisan itu digurat pada sebuah batu gunung setinggi 2 meter di salah satu sisi Tugu Pahlawan Surabaya. Tulisan yang mengingatkan kita pada sebuah sejarah pertempuran terbesar melawan penjajah yang pernah terjadi di negeri ini pada 10 November 1945 silam. Begitu dahsyatnya pertempuran itu sehingga kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

    Palagan Surabaya menjadi lokasi pertempuran paling berdarah di Indonesia karena digempur lewat darat, laut dan udara. Banyak tokoh-tokoh heroik yang lahir dari pertempuran melawan sekutu yang dipimpin oleh Inggris ini.

    Bicara patriotisme dan kepahlawanan, seluruh individu yang terlibat dalam pertempuran 10 November 1945 adalah pahlawan, tanpa membeda-bedakan latar belakang posisi dan jabatan. Seperti nama kota itu Surabaya (suro ing boyo) yang artinya berani menghadapi bahaya,  rakyatnya bertelanjang kaki menenteng senjata, menerjang maut, dan menjadi pahlawan bagi kotanya dan negaranya.

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan dikeluarkannya maklumat pemerintahan Soekarno tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran beendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya, sebagaimana dilukiskan Wikipedia.

    Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya bendera Indonesia dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera Indonesia datang ke Tambaksari (lapangan Stadion Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

    Saat rapat tersebut lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih disertai pekik 'Merdeka' yang diteriakkan massa. Pihak Kempeitai telah melarang diadakannya rapat tersebut tidak dapat menghentikan dan membubarkan massa rakyat Surabaya tersebut.

    Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya kemudian terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato atau Oranje Hotel (sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

    Awalnya Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.

    Rombongan Sekutu tersebut oleh administrasi Jepang di Surabaya ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees: Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran).

    Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada malam hari tanggal 19 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.

    Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

    Kabar tersebut tersebar cepat di seluruh kota Surabaya, dan Jl. Tunjungan dalam tempo singkat dibanjiri oleh massa yang marah. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa yang diwarnai amarah. Di sisi agak belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang berjaga-jaga untuk mengendalikan situasi tak stabil tersebut.

    Tak lama setelah mengumpulnya massa tersebut, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono.

    Sebagai perwakilan RI, dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia.

    Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

    Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui perundingan tak berjalan mulus langsung mendobrak masuk ke Hotel Yamato dan terjadilah perkelahian di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Peristiwa ini disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik 'Merdeka' berulang kali.

    Mobil Jenderal Mallaby. Ist

    Kematian Sang Jenderal
    Surabaya seperti tak pernah dibiarkan tenang. Drama-drama patriotik terus berlanjut pasca peristiwa Hotel Yamamato. Hari itu, 25 Oktober 1945, pasukan sekutu dari Brigade 49 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya. Sebuah pasukan yang merupakan bagian dari Divisi ke-23 di bawah pimpinan Jenderal D.C. Hawthorn. Tugasnya melucuti senjata serdadu Jepang.

    Kemerdekaan yang sudah diperoleh rakyat Indonesia dengan darah dan air mata tak mau dilepas dari genggaman, begitu pula masayarakat Surabaya. Berbekal senjata rampasan dari Jepang, serta pelatihan-pelatihan perang yang diperoleh selama tiga setengah tahun dari Jepang (Pembela Tanah Air PETA, Heiho, Seinendan dan Keibodan), masayarakat Surabaya siap menghalau tentara sekutu yang dilengkapi peralatan tempur modern.

    Inggris mengiming-imingi pihak sekutu tak akan membonceng Belanda dan hanya berniat melucuti tentara Jepang, sebagaimana hasil pertemuan Jenderal Mallaby dengan RM Suryo, pemegang pemerintahan Indonesia di Jawa Timur kala itu.

    Siasat itu membuat sekutu diperkenankan datang tanpa perlawanan. Namun akal bulus itu segera terungkap. Sekutu ternyata membonceng Netherlands Indische Civil Administration (NICA).

    Sehari setelah kesepakatan itu, pada malam hari, 26 Oktober 1945, satu pleton field security section di bawah pimpinan Kapten Shaw menyerang penjara Kalisosok. Tujuannya membebaskan Kolonel Huiyer (seorang Kolonel Angkatan Laut Belanda) bersama teman-temannya.

    Tindakan Inggris dilanjutkan dengan menduduki Pangkalan Udara Morokrembangan, Pelabuhan Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung Bank Intemasional, dan objek vital lainnya. Hari berikutnya, 27 Oktober 1945, pukul 11.00 pesawat terbang Inggris menyebarkan pamflet-pamflet. Pamflet-pamflet itu berisi perintah agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata yang dirampasnya dari tangan Jepang.

    Arek-arek Surabaya murka. Pada tanggal 27 Oktober 1945 kontak senjata pun menyalak dari pemuda-pemuda Surabaya dengan Inggris. Pertempuran bahkan semakin meluas dan berlangsung selama tiga hari dengan hasil pasukan Sekutu dihancurkan dan dipukul mundur. Beberapa objek vital berhasil direbut kembali oleh para pemuda.

    Sekutu tak menduga kekuatan milisi Surabaya ternyata setangguh itu. Guna menenangkan amukan milisi, sekutu pun akhirnya meminta Presiden Soekarno datang ke Surabaya untuk menetralisir keadaan. Bung Karno yang memang sangat dicintai rakyatnya mampu meredam gejolak. Namun sifatnya hanya sementara.

    Sepulang Soekarno dari Surabaya pada 30 oktober 1945, pertempuran kembali pecah. Kali ini bahkan memakan korban seorang jenderal, yang tak lain A.W.S. Mallaby. Sang jenderal tewas dengan tubuh yang tercabik-cabik setelah sebuah granat meledak di mobil yang ditumpanginya.

    Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party) pernah menganalisa sebab musabab kematin Jenderal Mallaby. Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) Tom meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia.

     “… Sekitar 20 orang serdadu India (pasukan Gurkha milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia)…”

    “Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi…”

    “Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benarbenar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya…” demikian paparan analisa Tom Driberg.

    Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Ist

    Bumi Berdarah
    Tak hanya Mallaby, pasukan yang dipimpinnya pun nyaris hancur. Inggris bahkan tak pernah kehilangan seorang jenderal pada PD II. Sebuah kekalahan memalukan. Oleh karenanya sekutu kemudian meminta bantuan kekuatan dari Devisi V di bawah pimpinan Mayor Jendral Mansergh dengan kekuatan 24.000 orang.

    Pada 9 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum akan membumihanguskan Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila arek-arek Surabaya tidak menaati perintah Inggris. Ultimatum itu berisi agar seluruh rakyat Surabaya menyerahkan senjata dengan kedua tangan di angkat ke atas. Batas waktu yang ditetapkan adalah pukul 06.00 WIB

    Ultimatum itu dianggap anginn lalu oleh para pejuang. Ultimatum itu justru membuat mereka mempersiapkan diri mengahadapi pertempuran besar. Benteng-benteng pertahanan di sudut-sudut kota dibangun untuk menghalau pasukan musuh.

    “Merdeka atau mati”, begitu Bung Tomo membakar semangat arek Surabaya lewat siaran radio.

    “Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya, kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan, mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka”

    “Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak baru kalau kita ditembak maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka semboyan kita tetap: merdeka atau mati,” demikian penggalan orasi Bung Tomo lewat radio.

    Sirene menyalak di keheningan pagi kota Surabaya. Sebuah tanda perang bubat segera dimulai. Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran yang sangat dahsyat, mereka mengerahkan sekitar 3 Divisi pasukan Infanteri beserta tank dan senjata berat lainya, 50 pesawat tempur, dan sejumlah kapal perang yang berada di sekitar perairan surabaya.

    Semua moncong senjata mengarah ke Surabaya. Hampir seluruh bagian kota dihujani peluru dan bom secara membabi-buta oleh moncong moncong meriam pasukan Inggris. Darah tertumpah. Ribuan penduduk meregang nyawa namun sama sekali tak menghentikan perlawanan.

    Tekad merdeka atau mati sebagai pilihan yang paling rasional membuat laskar, pejuang dan rakyat mundur. Mereka bahkan menerjang menantang datangnya maut. Mereka membakar kota Surabaya hingga kota itu bak neraka, berisikan lautan api.

    Prediksi sekutu mampu menaklukkan Surabaya hanya dalam tempo tiga hari meleset. Butuh tiga minggu bagi sekutu sebelum akhirnya berhasil menduduki Surabaya sepenuhnya. Dalam catatan sejarah disebutkan tak kurang 1600 orang prajurit sekutu berpengalaman tewas oleh semangat juang rakyat jelata. Sebuah kerugian yang jarang mereka derita selama pertempuran di sejumlah palagan dunia.

    “Tentara Inggris dalam pertempuran Surabaya dibantu unit-unit tank, arteleri darat, dan Meriam kapal-kapal perang yang memblokir laut di depan Pelabuhan Surabaya, serta mortar-mortir organik pasukan infanteri. Pesawat-pesawat untuk mengebom dan memitraliur dari udara atas kota Surabaya”

    “Sedangkan rakyat yang telah bersenjata itu dapat membentuk 32 batalyon, seluruhnya berkekuatan 30 ribu orang, ditambah kesatuan atau kelompok-kelompok pasukan bersenjata dari kampung-kampung yang jumlah tiga kali lebih banyak. Berarti 90 ribu orang melawan tentara Inggris”

    “Senjata yang dirampas seluruh oleh arek-arek Suroboyo jumlah totalnya mencapai 140 ribu, cukup untuk mempersenjati pejuang,” demikian dikisahkan Soehario K Padmodiwirio atau yang dikenal dengan nama Hario Kecik, mantan Wakil Komandan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Timur, sebagaimana ditulis dalam buku Memoar Hario Kecik.(Rafael Sebayang)