EUFORIA KOTA BARU PESAING JAKARTA

PROYEK BESAR DI TENGAH TRANSFORMASI STRUKTURAL KABUPATEN BEKASI

Rencana pengembangan kawasan Meikarta pada akhirnya memang diharapkan mampu mendorong dan meningkatkan pendapatan perkapita Kabupaten Bekasi yang tengah berada dalam tahap transformasi struktural

  • Pabrik semen di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (1/9). Validnews/Agung Natanael
    Pabrik semen di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (1/9). Validnews/Agung Natanael

    Oleh: Dr. Nugroho Pratomo*

    Pertumbuhan kota-kota di Indonesia terutama di Jawa relatif sangat cepat dan masif. Hal tersebut secara umum terkait dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang juga pesat. Karenanya, kebutuhan atas perumahan menjadi sesuatu yang tidak terelakan lagi. Terlebih pada daerah-daerah yang menjadi pusat-pusat perekonomian, dimana terdapat berbagai kegiatan bisnis dan industri.

    Padatnya daerah-daerah khususnya Jabodetabek, telah mendorong beberapa pengembang perumahan untuk melakukan ekspansi ke berbagai daerah lain. Salah satu wilayah yang kini mengalami pertumbuhan yang pesat adalah Kabupaten Bekasi. Berbagai pusat-pusat industri terus tumbuh di daerah tersebut.

    Keberadaan Kabupaten Bekasi sebagai yang sebelumnya banyak dikenal sebagai produsen padi, kini telah tumbuh sebagai sebuah “perkotaan” baru. Sebagai sebuah daerah yang memiliki status kabupaten, maka Kabupaten Bekasi pada dasarnya memiliki karateristik yang berbeda dengan daerah dengan status kota. Status kabupaten pada awalnya sering dimaknai sebagai “pedesaaan”. Karenanya, secara administratif, daerah yang berada di bawah kabupaten disebut dengan nama desa. Sedangkan pada daerah dengan status kota, daerah dibawahnya disebut dengan kelurahan.

    Kabupaten Bekasi
    Berdasarkan data Kabupaten Bekasi Dalam Angka 2016 (BPS Kabupaten Bekasi, 2016),  secara geografis letak Kabupaten Bekasi berada pada posisi 6° 10’ 53” – 6° 30’ 6” Lintang Selatan dan 106° 48’ 28” -107° 27’ 29” Bujur Timur. Topografinya terbagi atas dua bagian, yaitu dataran rendah yang meliputi sebagian wilayah bagian utara dan dataran bergelombang di wilayah bagian selatan. Ketinggian lokasi antara 6 – 115 meter dan kemiringan 0 – 25°. Luas daerah Kabupaten Bekasi adalah 127.388 Ha.

    Jumlah Penduduk Kabupaten Bekasi tahun 2015 berjumlah 3.246.013 jiwa. Rata-rata kepadatan penduduk sebesar 2.548 jiwa per km2. Wilayah yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Tambun Selatan yang mencapai 10.994 jiwa per Km persegi. Sedangkan wilayah yang paling rendah kepadatannya adalah Kecamatan Muaragembong, yaitu 269 jiwa per Km persegi. 

    Berdasarkan hasil survei angkatan kerja, hingga tahun 2015, jumlah angkatan kerja di Kabupaten Bekasi mencapai hampir 1,5 juta orang. Berdasar jumlah tersebut, hampir 90% telah bekerja. Sisanya, 10% masih mencari pekerjaan. Dibandingkan dengan tahun 2014, maka persentase angkatan kerja yang bekerja menurun. Tahun 2014, persentase yang bekerja hampir mencapai 93%, sedangkan yang mencari pekerjaan hanya 7%.

    Mencermati kondisi ketenagakerjaan yang berkembang di Kabupaten Bekasi, laporan BPS menunjukkan bahwa semakin banyak penduduk Kabupaten Bekasi yang bekerja di sektor industri pengolahan. Meski demikian, persentase yang bekerja di sektor industri pengolahan pada tahun 2015, mengalami penurunan dibanding tahun 2014. Sementara yang bekerja di sektor pertanian, persentase di tahun 2015 menurun drastis dibandingkan tahun 2014.

    Data ketenagakerjaan tersebut menunjukkan bahwa selama ini telah terjadi transformasi struktural di Kabupaten Bekasi. Transformasi struktural secara teoritis terjadi di negara-negara atau daerah-daerah yang sedang berkembang.

    Di daerah tersebut umumnya terjadi transformasi dari sektor pertanian kepada sektor industri. Transformasi struktural tersebut seringkali ditandai dengan terjadinya perubahan dalam komposisi perekonomian daerah tersebut. Beberapa indikatornya antara lain ialah perubahan bahan komposisi produksi, permintaan, perdagangan dan lain-lain (Chenery & Syrquin, 1975). Harapannya adalah meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan, yang diindikasikan dengan peningkatan pendapatan perkapita seiring dengan meningkatnya peran sektor industri (Chenery, 1960).

    Begitu pula dalam kerangka ketenagakerjaan. Clark dalam Nasoetion (1991) merumuskan bahwa, terjadinya proses transformasi struktural juga mendorong perubahan dalam komposisi tenaga kerja sektoral. Tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di sektor-sektor dengan tingkat produktivitas rendah, beralih ke sektor-sektor yang menuntut produktivitas tinggi. Sehingga terjadi peningkatan produktivitas tenaga kerja (Amir & Nazara, 2005).

    Terkait dengan pendapatan, berdasarkan data BPS Kabupaten Bekasi menunjukkan bahwa, semenjak tahun 2011-2015 PDRB per kapita Kabupaten Bekasi mengalami tren peningkatan. Kecuali di tahun 2013. Pada tahun 2013, terjadi inflasi yang cukup tinggi. Hal tersebut menyebabkan penurunan daya beli masyarakat Kabupaten Bekasi. Tahun 2015, PDRB per kapita atas harga konstan untuk Kabupaten Bekasi sebesar Rp 63.449.022,65. Jumlah tersebut meningkat sebesar 0,49% dibandingkan tahun 2014 (BPS Kabupaten Bekasi, 2016).

    Laporan BPS tersebut juga menyebutkan bahwa peran output sektor industri pengolahan juga sangat besar. Akibat tingginya output sektor industri menyebabkan PDRB Kabupaten Bekasi serta PDRB per kapita yang dihasilkan juga tinggi.

    Peran sektor industri pengolahan yang tinggi tersebut menyebabkan ketimpangan yang sangat tinggi antara PDRB per kapita dengan dan tanpa industri pengolahan.  

    Berdasarkan jenis komoditasnya, komoditas utama hasil industri pengolahan di Kabupaten Bekasi adalah barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik. Komoditas tersebut menghasilkan nilai tambah sebanyak Rp. 83.362.574,15 juta pada tahun 2015 atau 51,48% terhadap seluruh komoditas yang dihasilkan dari sektor industri pengolahan.

    Laju nilai tambah sektor industri tersebut pada tahun 2015 mencapai 4,75% dibandingkan tahun 2014 (BPS Kabupaten Bekasi, 2016). Perkembangan berbagai industri pengolahan di Kabupaten Bekasi tersebut tidak terlepas dari keberadaan berbagai kawasan industri. Hingga tahun 2014 tercatat terdapat 11 kawasan industri besar di daerah tersebut.

     

     

    Meikarta
    Perkembangan yang pesat Kabupaten Bekasi sebagai digambarkan sebelumnya, pada akhirnya juga mendorong tumbuhnya berbagai kawasan perumahan dan kota-kota mandiri. Berdasarkan laporan BPS, pembangunan perumahan hingga tahun 2015 terbanyak berada di Kecamatan Cikarang Selatan. Secara keseluruhan, berdasarkan tipe rumah, tipe rumah terbanyak adalah tipe 36-tipe 60. Jumlahnya di tahun 2015 mencapai 9.488 unit. Khusus di Kecamatan Cikarang Selatan, jumlah tipe 36-tipe 60 mencapai 1948 unit.

    Dalam perjalanannya, khusus pada daerah Cikarang, juga berkembang berbagai apartemen. Beberapa proyek pembangunan apartemen yang ada saat ini antara lain ialah Orange County, Green Palace Residence, The Oasis, Mustika Golf Residence, The Enviro, dan One Sentosa. Berbagai apartemen tersebut dijual dengan harga yang bervariasi. Mulai dari Rp 200 jutaan hingga Rp 1 Miliar (2014). Pada umumnya, berbagai apartemen tersebut membidik pasar para expatriat yang bekerja di berbagai kawasan industri yang ada di Kabupaten Bekasi.

    Salah satu proyek pembangunan apartemen yang ada di Kabupaten Bekasi adalah Meikarta. Letaknya di Kecamatan Cikarang Selatan. Kecamatan Cikarang Selatan memiliki luas wilayah sebesar 49,495 km2 yang terbagi atas 7 desa. Desa yang memiliki wilayah terluas adalah Desa Cibatu, yaitu sebesar 12 km2 atau 24,24% dari luas Kecamatan Cikarang Selatan (BPS Kabupaten Bekasi, 2016).

    Proyek tersebut menjadi salah satu kawasan pembangunan vertikal terbesar di Kabupaten Bekasi. Nilainya mencapai Rp 278 triliun. Meski dikatakan sebagai kawaan dengan lokasi yang strategis dan terintegrasi, namun pada dasarnya proyek ini masih memiliki berbagai persoalan. Beberapa permasalahan tersebut antara lain ialah (Renald, 2017):

    • Belum ada lokasi yang jelas terkait delienasi
    • Kawasan rencana Meikarta masih berupa lahan lahan pertanian
    • Izin yang dimiliki baru sebatas izin lokasi, Yang berupa izin pemukiman.
    • Luasan indikatif kurang lebih 250ha (2,5 juta m2) bukan 22juta m2.

    Mencermati penataan ruang di Kecamatan Cikarang Selatan, beberapa pola ruang yang telah direncanakan di Cikarang Selatan adalah (Renald, 2017):

    • RTH di Desa Sukasejati
    • Kawasan Perkebunan
    • Kawasan Perikanan
    • Kawasan Industri Besar
    • Kawasan Wisata Buatan
    • Kawasan Permukiman Skala Besar
    • Kawasan pertahanan dan Keamanan.

    Dengan demikian berdasarkan peta pola rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) Kabupaten Bekasi kawasan Meikarta terindikasi masuk ke dalam kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan peruntukan industri dan kawasan peruntukan pemukiman.

    Luasnya rencana pengembangan kawasan Meikarta tersebut pada akhirnya memang diharapkan mampu mendorong dan meningkatkan pendapatan perkapita Kabupaten Bekasi yang tengah berada dalam tahap transformasi struktural. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa keberadaan proyek tersebut dapat bertentangan dengan RTRW yang telah direncanakan. Sebab bagaimanapun juga RTRW disusun sebagai rencana pemerintah dalam membangun Kabupaten Bekasi, yang tujuan akhirnya juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

     

    * Direktur Riset VISI TELITI SAKSAMA

    Referensi: 

    1. (2014, Desember 8). Retrieved September 4, 2017, from http://propertidata.com/19426/
    2. Amir, H., & Nazara, S. (2005, Januari). Analisis Perubahan Struktur Ekonomi dan Kebijakan Strategi Pembangunan Jawa Timur Tahun 1994-2000: Analisis Input-Output. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, V(2), 37-55.
    3. BPS Kabupaten Bekasi. (2016). Kabupaten Bekasi Dalam Angka 2016. Bekasi, Jawa Barat, Indoensia: BPS Kabupaten Bekasi.
    4. BPS Kabupaten Bekasi. (2016). Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Bekasi Menurut Lapangan UsahaTahun 2011-2015. Kab Bekasi, Jawa Barat, Indonesia: BPS Kabupaten Bekasi.
    5. BPS Kabupaten Bekasi. (2016). Statistik Daerah Kecamatan Cikarang Selatan. Kab Bekasi, Jawa Barat, Indonesia: BPS Kabupaten Bekasi.
    6. Chenery, H. B. (1960, September). Patterns of Industrial Growth. American Economic Review, 50(4), 624-654.
    7. Chenery, H., & Syrquin, M. (1975). Pattern of Development 1950-1970. Washinton, DC, USA: The World Bank.
    8. Renald, A. (2017, Juli 26). Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia. Retrieved September 4, 2017, from http://www.iesa-id.org/: https://drive.google.com/file/d/0ByenEfkdeeDOMVRieWRkZUFaZFE/view