POTENSI SUMBER DAYA AIR INDONESIA MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim berdampak pada potensi sumberdaya air Indonesia yang menurun dan ancaman bagi ketahanan pangan

  • Seorang pekerja dari Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta membersihkan sampah di Waduk Melati, Jakarta, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Reno Esnir
    Seorang pekerja dari Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta membersihkan sampah di Waduk Melati, Jakarta, beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Reno Esnir

    Oleh: Mohammad Widyar Rahman, M.Si*

    Air merupakan kebutuhan esensial bagi kehidupan. Begitu ketergantungannya manusia pada air. Sumber daya air saat ini berada pada kondisi air yang sangat sedikit atau air yang berlebih. Batasan kuantitas terkadang bukan saja pada jumlahnya yang memang sangat sedikit atau ada konflik alokasi yang menyebabkan kekurangan, tetapi juga kondisi airnya yang tercemar. Sementara itu, kondisi air yang berlebih identik dengan banjir. Oleh karena itu, potensinya perlu diketahui dan apa tantangan ke depan dalam menghadapi perubahan iklim.

    Potensi Sumber Daya Air Indonesia
    Indonesia sebagai negara kepulauan termasuk negara yang kaya sumber daya air. Indonesia memiliki potensi sumber daya air hingga mencapai 3,9 triliun meter kubik per tahun. Pada penelitian lain dari Radhika et. al (2017), ketersediaan air permukaan rata-rata di Indonesia sebesar 2,78 triliun meter kubik per tahun. Potensi sangat besar ini dapat dimanfaatkan untuk menunjang sektor pertanian, air baku bagi masyarakat perkotaan dan industri, pembangkit listrik, hingga pariwisata. Namun sayangnya, pengelolaan pemanfaatan potensi sumber daya air yang sangat besar tersebut masih sangat rendah. Dari total 3,9 triliun meter kubik per tahun, hanya sekitar 17,69% atau sekitar 691,3 juta meter kubik per tahun yang dapat dimanfaatkan (BPS, 2017).

    Dari jumlah potensi air baku yang dapat dimanfaatkan tersebut, hanya sekitar 25,3% (175 juta meter kubik/tahun) yang sudah dimanfaatkan. Hal ini berarti ada sekitar 74,7% (516,2 juta meter kubik/tahun) yang belum dimanfaatkan. Penggunaan air baku yang sudah dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik dan perkotaan sebesar 3,7% (6,4 juta meter kubik/tahun), pemanfaatan untuk industri sebesar 15,8% (27,7 juta meter kubik/tahun), dan pemanfaatan untuk irigasi sebesar 80,5% (141 juta meter kubik/tahun) (BPS, 2017).

    Potensi ini tidak terdistribusi merata di seluruh wilayah Indonesia. Persentase ketersediaan air berdasarkan pulau di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah ketersediaan air berbanding terbalik dengan populasi penduduk. Menurut data BPS (2017), Pulau Kalimantan memiliki persentase populasi penduduk sebesar 6% dan menyimpan ketersediaan air sebesar 33,6%. Hal ini jauh berbeda dengan Pulau Jawa yang memiliki persentase populasi penduduk sebesar 56,9% dan hanya menyimpan ketersediaan air sebesar 4,2%.

    Sumber-sumber air yang dapat dimanfaatkan ini berasal dari sungai, danau/situ, dan embung. Sumber-sumber tampungan seperti sungai sebanyak lebih dari 5.590 sungai dan 1.035 danau. Selain tampungan dari sumber air, dibangun juga bangunan air untuk menyimpan kelimpahan air tersebut. Pada tahun 2015, terdapat 209 bendungan/waduk dan 2.042 embung. Keadaan tampungan air di Indonesia masih dalam kategori rawan karena hanya mampu menampung 50 meter kubik per kapita per tahun, di mana angka ini hanya 2,5% dari angka ideal tampungan per kapita di suatu negara sebesar 1.975 meter kubik per kapita per tahun (BPS, 2017).

    Tampungan air per kapita Indonesia, menurut data BPS (2017), jauh tertinggal dengan negara Thailand sebesar 1.277 meter kubik per tahun. Apalagi jika dibandingkan dengan China sebesar 2.486 meter kubik per tahun. Di samping itu, ditinjau dari kualitas airnya, sumber-sumber air yang ada masih belum dapat memberikan pemanfaatan optimal. Pemanfaatan air hujan pun demikian, mengingat kualitas udara yang buruk terutama di kota-kota besar dan persentase lebih dari 60% aliran limpasan menuju ke sungai.   

    Tantangan Perubahan Iklim
    Tantangan pengelolaan sumber daya air salah satunya menghadapi isu global perubahan iklim yang menyebabkan anomali iklim. Akibatnya, dapat memperpanjang interval musim kemarau sehingga berdampak pada debit minimum. Volume waduk pun berpotensi menurun bahkan dapat mengalami kekeringan sebagaimana yang terjadi di berbagai daerah akhir-akhir ini. Ketika frekuensi kekeringan meningkat, hal ini berpotensi menjadi awal dari kelangkaan air. Padahal sumber daya air berperan sangat besar terutama dalam mencapai ketahanan pangan sehingga harus ditunjang dengan ketersediaan air yang memadai.

    Dampak negatif dari iklim ekstrim akibat perubahan iklim global juga diperparah oleh kendala biofisik pengembangan dan keberlanjutan produksi pangan, kondisi sosial ekonomi, dan degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Hal tersebut tentu saja mengancam ketersediaan air bagi pertanian pangan. Di samping itu, laju pertambahan jumlah penduduk dan konversi lahan pertanian produktif yang tidak terkendali selain menyebabkan kerusakan DAS semakin luas, juga menyebabkan kesenjangan antara penyediaan (supply) dan kebutuhan (demand) pangan semakin lebar (Fagi, 2014).

    Dalam mengantisipasi potensi kelangkaan air, secara teknis Fagi (2007) menjelaskan bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi pengelolaan, penyaluran, dan efisiensi penggunaan air irigasi. Kemudian, Rejekiningrum (2014) menambahkan bahwa upaya adaptasi sektor sumber daya air terhadap perubahan iklim dapat dilakukan berdasarkan Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) sebagai berikut: (1) Meningkatkan manajemen prasarana sumber daya air dalam rangka mendukung penyediaan air dan ketahanan pangan, (2) Mengembangkan disaster risk management banjir (sungai, rob, lahar hujan), longsor, dan kekeringan, (3) Meningkatkan manajemen dan mengembangkan prasarana sumber daya air untuk pengendalian daya rusak air, (4) Meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat tentang penyelamatan air, dan (5) Meningkatkan penyediaan dan akses terhadap data dan informasi terkait dampak perubahan iklim.

    *) Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

    Referensi:
    [BPS] Badan Pusat Statistik. 2017. Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2017. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

    Fagi, AM. 2007. Menyiasati Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Pertanian Masa Depan. Iptek Tanaman Pangan. Vol. 2 No. 1, 1-11.

    Fagi, AM. 2014. Ketahanan Pangan Indonesia dalam Ancaman: Strategi dan Kebijakan Pemantapan dan Pengembangan. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 11 No. 1, 11-25.

    Radhika, Firmansyah R. Hatmoko W. 2017. Perhitungan Ketersediaan Air Permukaan di Indonesia berdasarkan Data Satelit. Jurnal Sumber Daya Air Vol.13 No. 2, 115 –130.

    Rejekiningrum P. 2014. Dampak Perubahan Iklim terhadap Sumberdaya Air: Identifikasi, Simulasi, dan Rencana Aksi. Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 8 No. 1, 1–15.