POTENSI KOPI INDONESIA DALAM GAYA HIDUP MASA KINI

Pemerintah perlu melakukan langkah konkret untuk memperbaiki produktivitas kopi mengingat berbagai potensi yang dimiliki komoditas ini untuk negara

  • Ilustrasi kedai kopi. (pixabay)
    Ilustrasi kedai kopi. (pixabay)

    Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc*

    Sejak dahulu warung kopi tidak hanya menjadi tempat untuk menghabiskan waktu sambil menikmati secangkir kopi, tetapi juga sebagai tempat bertemu untuk saling berbagi informasi mengenai kondisi lingkungan sekitar. Saat ini, dengan perkembangan zaman, warung kopi tidak lagi hanya menjadi tempat untuk nongkrong dan bertemu teman, namun juga sebagai working space. Hal ini terutama terjadi di kalangan kaum urban. Mereka dapat bekerja di mana saja, tanpa harus hadir secara fisik di kantor.

    Kehadiran internetlah yang mendorong tren bekerja seperti ini terjadi, dan hal ini pula yang dimanfaatkan warung kopi. Dengan menawarkan koneksi wi-fi gratis, mereka mengundang pelanggan untuk berkunjung menikmati kopi dan berbagai hidangan lain dengan bonus internet gratis.

    Tren perkembangan warung kopi (coffee house) sebagai working space dan bukan hanya tempat kongkow, dapat dikatakan dimulai oleh Starbucks. Starbucks pada mulanya hanya membuka toko di Amerika Serikat, negara di mana perusahaan ini berasal. Namun di tahun 1996, Starbucks mulai merambah dunia, dengan membuka toko pertamanya di Jepang, lalu diikuti dengan Singapura. Hingga kuartal ke-3 tahun 2017, terdapat 26.736 toko yang tersebar di seluruh dunia (Knoema, 2017). 

    Kehadiran Starbucks kemudian tidak hanya memperkenalkan beragam minuman olahan kopi yang dijual olehnya, tetapi juga sebuah gaya hidup. Dengan layanan wi-fi gratis, serta tempat yang nyaman, Starbucks langsung menarik perhatian kaum urban, terutama kaum muda professional. Di sisi lain, Starbucks telah mendorong warung kopi modern lainnya bermunculan. Namun, sebelum ada Starbucks pun, warung kopi sudah menjadi bagian dari budaya di Indonesia. Daerah seperti Aceh dan Pontianak memiliki warung kopi yang banyak tersebar, dan pada jam-jam tertentu, warung kopi tersebut penuh terisi oleh pelanggannya.

    Pesatnya pertumbuhan warung kopi di Indonesia, salah satunya dapat terlihat di Margonda Raya, Depok. Pada jalan yang terbentang sepanjang 4,8 km ini, terdapat kurang lebih 13 cafe dan coffee house, yang tumbuh dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Starbucks juga ada di jalan ini. Pertumbuhan coffee shop atau coffee house ini dapat menjadi potensi bagi kopi asal Indonesia.

    Indonesia di antara Produsen Kopi Dunia
    Kopi merupakan tanaman yang dapat tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi. Ketinggian minimum untuk menanam kopi adalah 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), dan ketinggian maksimum di mana kopi masih bisa tumbuh dan berbuah dengan baik adalah 2000 mdpl.

    Terdapat dua jenis kopi yang paling banyak ditanam di Indonesia, yaitu Robusta dan Arabika. Selain kedua jenis kopi tersebut, ada juga jenis Liberika, namun jenis Liberika tidak sebanyak jenis Robusta dan Arabika. Robusta merupakan jenis kopi yang lebih tahan iklim panas, sehingga bisa ditanam di dataran yang lebih rendah, berbeda dengan kopi Arabika yang menuntut dataran yang lebih tinggi.

    Indonesia merupakan produsen kopi terbesar ke-4 di dunia. Posisi pertama ditempati Brazil, diikuti oleh Vietnam, dan Kolombia. Produksi kopi di Brazil bersifat masif dan modern, mereka menggunakan mesin dalam proses pemeliharaan tanaman dan panen. Selain itu, rata-rata lahan yang digunakan untuk perkebunan kopi adalah sekitar 2,3 juta ha, dengan tingkat produktivitas berkisar antara 17-23 bags /ha, atau sekitar 1020-1380kg/ha.

     

    Produktivitas dan rata-rata luas lahan kopi di Indonesia masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Brazil. Tingkat produktivitas kopi Indonesia adalah 707 kilogram kg/ha. Sebagian besar, yakni 95% perkebunan kopi, merupakan lahan perkebunan rakyat, dengan rata-rata kepemilikan lahan kurang dari 1 ha.

     

    Rendahnya produktivitas kopi di Indonesia di antaranya disebabkan tanaman yang sudah tua, rusak, dan tidak produktif. Permasalahan ini sebetulnya sudah terjadi sejak Penulis melakukan studi mengenai potensi kopi di Indonesia sekitar tahun 2010. Namun demikian, Kementerian Pertanian saat ini memiliki program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan kopi. Program intensifikasi di antaranya berupa perbaikan tanaman kopi robusta seluas 4.900 hektare di beberapa provinsi yaitu Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu, dan Sulawesi Barat.

    Sedangkan, perbaikan tanaman kopi jenis arabika akan dilakukan di provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua, dengan total luas lahan mencapai 3.750 hektare.

    Selain permasalahan produktivitas, petani kopi juga menghadapi permasalahan pengolahan pascapanen. Petani seringkali tidak tahu bagaimana cara mengolah kopi yang berkualitas, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah kopinya tersebut.

    Ada berbagai cara untuk mengolah biji kopi, agar dapat memunculkan rasa spesifik dari setiap kopi. Rasa spesifik yang dihasilkan kopi berbeda tidak hanya berdasarkan cara pengolahan biji kopi, tetapi juga daerah dari mana kopi tersebut berasal. Ketidaktahuan petani dalam pengolahan kopi agar memiliki nilai tambah tinggi mengakibatkan harga jual kopi yang diterima petani rendah.

    Specialty Coffee Indonesia
    Kopi yang sejak ditanam dipelihara dengan baik, dipetik dalam kondisi matang, ketika bijinya merah, serta melewati proses panen dan pascapanen yang baik, akan menghasilkan kopi dengan kualitas tinggi.

    Kopi berkualitas tinggi akan mendapatkan klasifikasi kopi “premium” atau “gourmet”. Setelah melewati proses penilaian cupping score, maka sebuah kopi bisa mendapatkan status specialty grade coffee, yang dapat meningkatkan harga jual kopi.

    Specialty coffee paling terkenal yang berasal dari Indonesia adalah kopi luwak, yakni biji kopi yang telah melewati proses fermentasi melalui sistem pencernaan hewan luwak. Kopi ini langka karena harus mencari kotoran luwak yang telah memakan kopi matang. Kelangkaan dan keistimewaan kopi ini menyebabkan harga kopi luwak mencapai US$100 per 450 gram.

    Keistimewaan ini pula yang menyebabkan petani mengandangkan luwak, dan diberikan pakan biji kopi, agar menghasilkan kopi luwak. Namun dengan budidaya seperti ini, artinya penawaran kopi luwak di pasaran bertambah dan harganya tidak lagi setinggi di awal, tetapi tetap lebih tinggi dibandingkan kopi specialty lainnya.

    Selain kopi luwak, Indonesia memiliki specialty coffee lainnya. Beberapa kopi specialty dari Indonesia dan telah dikenal di pasar kopi internasional di antaranya adalah Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Lintong, Kopi Java, Kopi Toraja, Kopi Bali Kintamani, dan Kopi Flores.

    Selain itu, terdapat juga beberapa kopi yang telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis (IG) seperti Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Flores Bajawa, Kopi Arabika Kalosi Enrekang, Kopi Arabika Java Ijen-Raungdan Kopi Arabika Java Preanger.

    Jenis-jenis kopi ini adalah kopi specialty yang memiliki nilai jual yang tinggi.

    Kopi yang telah mendapatkan sertifikasi specialty dan berbagai sertifikasi lainnya umumnya memiliki nilai jual yang tinggi. Permasalahannya, seperti komoditas lainnya, proses untuk mendapatkan sertifikasi umumnya berbiaya tinggi. Meski demikian, saat ini telah banyak lembaga nirlaba yang melakukan edukasi dan pembinaan pada petani kopi untuk mendapatkan sertifikasi untuk kopinya.

    Pertumbuhan Konsumi Kopi
    Sepanjang periode 2012 hingga 2015, berdasarkan data yang dirilis oleh ICO, konsumsi kopi dunia menunjukkan tren yang meningkat. Dalam periode ini, secara rata-rata konsumsi kopi dunia meningkat 2%. Negara konsumen kopi terbesar dunia bukan negara produsen kopi. Brazil, sebagai produsen kopi terbesar, juga merupakan konsumen terbesar ketiga.

     

    Indonesia sendiri masuk dalam 5 negara konsumen kopi terbesar. Minuman kopi dan teh merupakan bagian dari budaya di Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia dapat menjadi konsumen kopi terbesar. Ditambah lagi, gaya hidup yang terjadi pada kaum urban memperbesar peluang pasar kopi, tidak hanya secara global, tapi juga di negeri sendiri.

    Berdasarkan data ICO, selama periode 2010 hingga 2016, secara rata-rata pertumbuhan konsumsi kopi masyarakat Indonesia meningkat 5%. Dapat dikatakan kopi memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

    Selain potensi ekonomi, kopi juga berguna untuk kelestarian lingkungan. Kopi merupakan tanaman keras yang dapat menjaga air tanah. Sifat pola tanam kopi yang memerlukan tanaman tumpeng sari sebagai peneduh, memberikan nilai tambah bagi petani. Petani tidak saja menghasilkan kopi, tetapi juga dapat menghasilkan komoditas lain. Jeruk dan lada putih merupakan salah satu dari tanaman yang biasanya ditumpang-sari-kan dalam perkebunan kopi.

    Selain pasar roasted coffee yang telah diceritakan di atas, kopi juga diolah secara industri menjadi kopi instan, atau kadang kala disebut sebagai soluble coffee. Berdasarkan data dari laman Statista, pangsa produksi kopi instan Indonesia adalah 30%. Produksinya pun masih terus meningkat, sebab permintaan dari soluble coffee juga terus meningkat.

    Berdasarkan hal ini, kopi memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Namun, dengan karakterisitik produksi kopi yang sebagian besar dilakukan oleh petani rakyat, maka perlu ada langkah konkret dari Pemerintah untuk memperbaiki produktivitas kopi. Tidak hanya produktivitas, tetapi juga kualitas kopi, agar dapat memiliki nilai jual tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

     

    *Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Staf Pengajar FEB UI

     

    Referensi :

    Knoema. (2017, Ocober 29). products. Retrieved from knoema.com: https://knoema.com/kchdsge/number-of-starbucks-stores-globally-1992-2016

    International Coffee Organization, www.ico.org

    www.specialtycoffee.co.id

    www.statista.com