POTENSI KEPENDUDUKAN INDONESIA DI PENGHUJUNG MATA

Tidak hanya jumlah semata, kualitas penduduk Indonesia menjadi faktor yang lebih penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

  •  ilustrasi transisi demografis pekerja. (pixabay)
    ilustrasi transisi demografis pekerja. (pixabay)

    Oleh: Sita Wardhani S., SE, MSc.*

    Dalam laporan (United Nation, 2017) disebutkan bahwa penduduk Indonesia saat ini berjumlah 263,99 juta. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat setelah Cina, India dan AS.

    Menurut teori ekonomi klasik tiga faktor produksi utama adalah modal, tanah, serta tenaga kerja. Dengan demikian jumlah penduduk yang besar di satu sisi dapat memberikan keuntungan bagi sebuah negara, yaitu sebagai faktor produksi. Namun di sisi lain, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi beban negara.

    Badan Pusat Statistik mendefinisikan penduduk yang masuk dalam usia bekerja adalah penduduk berusia diantara 15—64 tahun, dan sisanya adalah penduduk bukan usia kerja. Meski demikian, penduduk yang masuk dalam usia bekerja, tidak semuanya bekerja. Penduduk yang bekerja dikategorikan sebagai angkatan kerja. Sedangkan penduduk yang masuk dalam usia bekerja tetapi tidak bekerja, masuk dalam kategori bukan angkatan kerja, misalnya ibu rumah tangga dan anak yang sekolah.

    Lebih lengkap mengenai kategorisasi penduduk dan ketenagakerjaan dapat dilihat pada diagram 1 di bawah ini.

     

    Bonus Demografi
    Dalam teori kependudukan dikenal konsep transisi demografi, yaitu perubahan kondisi kependudukan dari kondisi sosial ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian, dengan tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi; menuju kondisi yang didominasi sektor industri dengan  tingkat kelahiran dan kematian yang rendah.

    Transisi demografi membawa bonus demografi, yaitu kondisi di mana jumlah penduduk usia non-produktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun) lebih kecil dibandingkan penduduk usia produktif (15 hingga 64 tahun). Ukuran yang digunakan untuk melihat kondisi ini adalah rasio ketergantungan (dependency ratio).

    Misalkan rasio ketergantungan suatu negara adalah 65,7 maka angka ini memiliki arti bahwa setiap 100 orang penduduk produktif (masuk dalam usia kerja) mempunyai tanggungan sebanyak 55 orang penduduk tidak produktif. Bonus demografi tercapai rasio ketergantungan adalah kurang dari 50.

    Dalam paparan pidato pengukuhan Guru Besarnya di tahun 2005, Prof. Sri Moertiningsih menyebutkan bonus demografi terjadi di Indonesia sejak tahun 1980. Keberhasilan program KB dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia telah menghasilkan angka ketergantungan yang terus menurun. Dan puncak dari penurunan angka ketergantungan tersebut akan terjadi pada periode 2020—2030, di mana angka ketergantungan akan lebih kecil dari 50.

    Periode angka ketergantungan rendah ini kemudian disebut sebagai periode jendela peluang, yaitu periode di mana beban tenaga kerja produktif kecil, sehingga produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada periode tersebut dapat ditabung dan diinvestasikan untuk pertumbuhan ekonomi di masa datang.

    Setelah tahun 2030, angka ketergantungan akan meningkat lagi. Hal ini terjadi karena penduduk yang semula berada pada usia produktif masuk dalam kategori non-produktif, karena menjadi penduduk lansia. Oleh karena itu, angka ketergantungan penduduk meningkat kembali. Peningkatan penduduk lansia dapat dilihat pada grafik di bawah ini                                                         

     

    Pengelolaan Bonus Demografi
    Jumlah penduduk tentu tidak semata menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, namun kualitas dari penduduknya yang menjadi lebih penting. Menurut Adioetomo S. M (2017) pemanfaatan bonus demografi harus dilakukan berkelanjutan. Persiapan tidak dilakukan pada penduduk usia angkatan kerja saja, tetapi dilakukan pada setiap kelompok penduduk; kelompok penduduk usia di bawah 15 tahun, usia produktif, dan penduduk lansia. Penduduk usia di bawah 15 tahun persiapan dilakukan sejak dalam masa kandungan, dengan menjaga kesehatan ibu dan bayi. Ketika bayi lahir, maka program persiapan mencakup asupan gizi, pendidikan hingga pola pengasuhan, untuk menciptakan individu yang memiliki budi pekerti yang baik.

    Kebijakan bagi penduduk di kelompok produktif mencakup pendidikan keterampilan dan kompetensi, serta pengetahuan dan teknologi agar produktivitasnya tinggi. Dengan produktivitas tinggi, maka pertumbuhan ekonomi akan terdorong, dan menghasikan modal yang tidak hanya bisa digunakan sebagai faktor produksi di tahun berikutnya, tetapi bisa ditabung sebagai investasi pertumbuhan ekonomi di jangka panjang.

    Tabungan tersebut juga dapat digunakan ketika angka ketergantungan meningkat. Ketika struktur penduduk menjadi tua, maka produktivitas ekonomi menurun. Hasil pertumbuhan ekonomi yang didapat dalam periode jendela peluang bonus demografi inilah yang digunakan ketika angka ketergantungan penduduk meningkat akibat jumlah lansia meningkat.

    Kesiapan Indonesia Menuju “Jendela Peluang”
    Salah satu indikator yang dapat dilihat untuk menentukan apakah Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, adalah pendidikan.

    Berdasarkan data BPS di Februari 2017, struktur penduduk Indonesia sebagian besar masih merupakan penduduk dengan pendidikan dasar (SD atau tidak lulus SD), sebesar 42%, kemudian 48% lainnya berpendidikan SMP dan SMA. Tidak sampai 10% penduduk memiliki pendidikan tinggi (diploma atau universitas).

     

    Meski demikian, jika kita bandingkan tahun 2017 dengan tahun 2008, pertumbuhan penduduk dengan pendidikan SD atau lebih rendah turun 7%, dan penduduk yang berpendidikan terus meningkat. Penduduk dengan pendidikan universitas mengalami pertumbuhan hingga 167%, kemudian penduduk yang mengenyam pendidikan SMP, SMA dan Diploma, berturut-turut meningkat sebesar 14%, 48% dan 17%.

    Pendidikan dibutuhkan terutama sebagai modal bagi tenaga kerja untuk bekerja. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin besar kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dengan imbalan yang lebih besar. Selain itu, semakin tinggi pendidikan, maka wawasan dan pengetahuan individu menjadi lebih baik. Mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik baik dirinya, baik itu keputusan untuk bekerja, menikah dan bereproduksi. Selain itu, pengetahuan mengenai kualitas hidup juga akan lebih baik. Hal ini tentunya juga akan berpengaruh pada penurunan kemiskinan.

    Namun, di sisi lain, pemerintah pun perlu mendorong untuk menciptakan lapangan pekerjaan, agar tenaga kerja terdidik ini dapat terserap dan berproduksi, sehingga pada akhirnya jendela peluang ini benar dapat menjadi faktor pendorong bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat.

    Jendela peluang sudah di depan mata. Pembangunan infrastruktur yang masif, dan tidak terpusat di Pulau Jawa, dapat membuat daerah lebih menarik. Ketimpangan pembangunan akan turun, akses ke daerah terpencil akan lebih mudah,  dan tenaga-tenaga pendidik serta tenaga kesehatan akan lebih mudah bekerja dan berkontribusi di daerah untuk memperbaiki kualitas hidup penduduk Indonesia. Sehingga jendela peluang ini dapat dimanfaatkan secara optimal.

    *Peneliti Utama dan Staf Pengajar FEB UI

     

    Referensi:

    United Nation. (2017). World Population Prospect. New York: United Nation.

    Adioetomo, S. M. (2015, Maret 10). Pengelolaan Bonus Demografi Guna Meningkatkan Daya Saing Bangsa Dalam Rangka Ketahanan Nasional. Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia.

    Adioetomo, S. M. (2017, Februari 28). Bonus Demografi Meletakkan Landasan Mensejahterakan Bangsa. Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia.