MENGULIK POLEMIK PLASTIK

PLASTIK, KEMUDAHAN YANG MENYULITKAN

Plastik merupakan produk yang tahan lama, ringan, praktis dan murah. Meski demikian, plastik juga membawa permasalahan yang cukup besar, dan menganggu kehidupan manusia, jika sampahnya tidak dikelola dengan benar.

  • http://validnews.co/backdoor/asset/news_picture/berita_valid1527502865.jpg
    http://validnews.co/backdoor/asset/news_picture/berita_valid1527502865.jpg

    Oleh: Sita Wardhani SE, M.Sc*

    Pada tahun 2016, pemerintah mengeluarkan wacana menerapkan cukai terhadap plastik. Rencana pemerintah menetapkan cukai plastik dilatarbelakangi oleh dampak negatif plastik terhadap lingkungan. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa butuh puluhan hingga ratusan tahun untuk plastik dapat terdegradasi secara alami oleh lingkungan. Selain itu, plastik yang terbawa ke laut menyebabkan hewan terjebak atau terkonsumsi oleh habitat laut.

    Urgensi pengelolaan sampah plastik oleh pemerintah Indonesia mencuat setelah ada publikasi studi yang dilakukan oleh (Jambeck, et al., 2015). Dalam studinya yang dilakukan di tahun 2010, ditemukan bahwa terdapat 4,8 juta hingga 12,7 juta metric ton sampah plastik mencemari laut. Dari angka tersebut, Indonesia merupakan kontributor sampah plastik di laut terbesar kedua setelah Cina. Studi dilakukan dengan mengambil sampel dari daerah dengan radius 50km dari pesisir pantai.

    Fakta lain mengenai Indonesia yang dicatat dalam studi (Jambeck, et al., 2015) tersebut adalah bahwa rata-rata sampah plastik yang dihasilkan penduduk Indonesia adalah 0,52 kg/orang/hari. Secara rata-rata, nilai sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia masih lebih kecil dibanding Malaysia, sebesar 1,52kg/orang/hari, atau bahkan masyarakat AS, sebesar 2,58 kg/orang/hari. Cina sendiri menghasilkan 1,10 kg/orang/hari. Namun jumlah sampah plastik yang dihasilkan ke laut sangat besar, sebab penduduk yang berdomisili di pesisir pantai jumlahnya kedua terbesar, setelah Cina sebesar 262,9 juta orang; Malaysia sebesar 22,9 juta, dan AS sebsar 112,9 juta.

    Fakta menarik lain dari studi (Jambeck, et al., 2015) ini adalah permasalahan pengelolaan sampah. Dari dua puluh negara yang menjadi objek studi, sebagian besar dari sampahnya mengalami pengelolaan yang buruk, yang berakibat pada pencemaran tidak hanya di darat, tetapi di laut. Hanya dua negara dengan angka sampah yang tidak terkelola dengan baik (mismanaged waste) kecil, yaitu AS (2%) dan Brasil (11%). Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah juga merupakan permasalahan utama di sebagian besar negara.

    Kegunaan Plastik dalam Kehidupan Sehari-Hari
    Di satu sisi, sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik membawa permasalahan bagi lingkungan. Di sisi lain, plastik sudah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Saat ini sebagian besar produk yang kita gunakan mengandung/terbuat dari plastik. Bahkan berbagai kemasan produk terbuat dari plastik seperti kemasan produk kosmetik, produk kebersihan rumah tangga, botol minum, televisi, pulpen, dan berbagai benda lainnya yang berada di sekitaran sebagian besar terbuat dari plastik. Plastik bersifat ringan, menawarkan biaya produksi yang murah, serta kepraktisan.  Plastik digunakan di berbagai industri, tidak hanya makanan, tetapi juga otomotif, mainan, konstruksi, mebel, dan masih banyak lagi.

    Sifat plastik yang tahan panas dan tahan air, serta bisa didesain dengan berbagai warna sehingga menarik, membuat plastik menggantikan bahan lain seperti logam dan kayu sebagai bahan baku. Selain itu, seiring dengan pertambahan populasi serta menipisnya sumber daya alam, plastik menjadi bahan baku alternatif. Sebagai contoh, dahulu kemasan jajanan di pasar dibungkus oleh daun, tetapi sekarang telah tergantikan oleh plastik. Bahkan untuk produk furnitur seperti kursi rotan saat ini pun sudah tergantikan oleh rotan plastik.

    Inovasi plastik dimulai oleh John Wesley Hyatt di tahun 1869. Temuannya ini menjadi terobosan bagi dunia, sebab menawarkan solusi bagi manusia dan melepaskan ketergantungan terhadap bahan dari alam. 

    Secara global, sektor yang paling banyak menggunakan plastik adalah industri mainan. Pada tahun 2016, industri mainan mengonsumsi plastik sebanyak 37,5 ton per 1 juta USD pendapatan yang diterima industri ini. Industri peralatan olahraga merupakan konsumen kedua, sebesar 16,7 juta ton per 1 juta USD pendapatan industri ini, dan peringkat ketiga adalah peralatan rumah tangga yang tahan lama, sebesar 16,2 juta ton per 1 juta USD pendapatan. Sektor-sektor lain yang menggunakan plastik dalam industrinya dapat dilihat pada Gambar 1. Di Indonesia sendiri, sektor yang paling banyak menggunakan plastik adalah sektor kemasan, terutama untuk pengemasan makanan dan minuman.

    Konsumsi plastik di Indonesia saat ini mencapai 17 kg perkapita per tahunnya, besaran ini masih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dengan tingkat konsumsi plastik 35kg/kapita/tahun, dan Thailand sebesar 40 kg/kapita/tahun. Meski rendah, konsumsi plastik domestik masih akan terus meningkat. Selain itu, jika dilihat secara total, konsumsi plastik Indonesia masih lebih tinggi dibanding Malaysia, namun masih lebih rendah dibanding Thailand. Di tahun 2013, konsumsi Malaysia, Indonesia, dan Thailand secara berturut-turut adalah sebesar 2,15 juta ton, 3,98 juta ton dan 3,982 juta ton.

    Industri kemasan merupakan industri pemakai plastik yang paling banyak, dan konsumen dari industri kemasan ini terutama adalah industri makanan dan minuman. Dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, tentunya konsumsi makanan akan terus meningkat pula. Selain itu, gaya hidup, utamanya kaum urban, menuntut produk yang praktis dan cepat. Makanan yang dikemas atau makanan cepat saji tentunya akan semakin dibutuhkan. Permintaannya meningkat, dan kemasan makanan, dalam hal ini plastik, pun akan terus meningkat.

    Selain industri makanan dan minuman, sektor pertanian merupakan sektor yang menggunakan kemasan plastik terbesar. Sebab untuk mendistribusikan komoditas maupun pupuk, biasanya petani/tengkulak akan membungkus komoditasnya dalam karung plastik. Industri konstruksi, otomotif, serta peralatan listrik, elektronik, dan telekomunikasi merupakan industri yang menggunakan plastik sebagai bahan baku. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat juga akan meningkat. Permintaan akan perumahan serta mobil ataupun motor akan juga meningkat. Hal ini akan berimbas pada kenaikan permintaan bahan baku plastik.

    Penetapan Cukai Plastik
    Kegunaan plastik yang sedemikian besar dalam kehidupan sehari-hari dan dampaknya bagi lingkungan menyebabkan pemerintah merasa perlu untuk mengelola atau bahkan membatasi konsumsi plastik, terutama plastik kemasan. Berdasarkan studi yang dilakukan Visi Teliti Saksama, rencana awal pemerintah adalah menetapkan cukai untuk kantong plastik atau lebih dikenal sebagai kantung kresek. Latar belakang penerapan cukai adalah plastik kemasan, namun pada penerapannya, diputuskan cukai diberlakukan untuk kantung kresek.

    Cukai merupakan sebuah bentuk pajak yang digunakan pemerintah terhadap konsumsi barang atau jasa yang dapat menimbulkan eksternalitas negatif. Di Indonesia, baru tiga jenis barang yang dikenakan cukai, yaitu etil alkohol (EA) atau etanol, minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA), dan hasil tembakau atau rokok.

    Di tahun 2018, wacana cukai plastik ini sudah dimasukkan sebagai pendapatan dalam APBN 2018. Pendapatan cukai dalam APBN tahun 2018 ditargetkan sebesar Rp155.400,0 miliar, terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp148.230,0 miliar, cukai etil alkohol sebesar Rp170,0 miliar, cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) sebesar Rp6.500,0 miliar, dan pendapatan cukai lainnya yang diharapkan berasal dari cukai kantong plastik sebesar Rp500,0 miliar.

    Pemikiran Dasar Penerapan Cukai Plastik
    Berdasarkan wawancara Visi Teliti Saksama dengan Badan Kebijakan Fiskal, tujuan utama pemerintah menetapkan cukai adalah untuk membatasi penggunaan plastik. Sebelumnya, pemerintah pernah menetapkan kebijakan plastik berbayar. Kebijakan ini dilakukan di tingkat pemerintah daerah. Namun kemudian kebijakan ini tidak berlanjut. Alasan utamanya adalah ketiadaan dasar hukum untuk pengenaan pajak plastik/plastik berbayar tersebut. Akibatnya tidak ada mekanisme dari sisi pemerintah dalam pengelolaan uang dari pajak plastik ini.

    Dengan cukai plastik ini, maka mekanisme pengelolaan uang menjadi jelas, dan pengenaan plastik berbayar pun koridor hukumnya juga ada. Cukai dikenakan kepada produsen plastik. Akibatnya, harga plastik akan meningkat, sebesar pengenaan cukai. Besaran kenaikan harga plastik ini dapat ditransfer oleh pengguna plastik kepada konsumen. Ilustrasinya adalah sebagai berikut: Pabrik A dalah produsen plastik. Sebelum ada cukai plastic, harga plastik yang diproduksi pabrik A adalah Rp10 ribu/100 lembar plastik. Setelah diterapkan cukai plastik, harga plastik menjadi Rp12 ribu, di mana Rp2 ribu adalah besaran cukai yang akan dibayarkan kepada pemerintah. Kemudian misalkan Dinomaret adalah konsumen plastik dari pabrik A, dengan kenaikan harga plastik ini, maka Dinomaret dapat menetapkan kebijakan plastik berbayar, sebesar kenaikan harga dari plastik yang dibeli dari pabrik A. Dengan demikian, cukai plastik menjadi mekanisme yang memperjelas pengenaan plastik berbayar.

    Tujuan lain dari pengenaan cukai plastik ini adalah agar masyarakat semakin menyadari bahwa plastik tidak dapat lagi digunakan semena-mena. Sebelumnya, ketika konsumen berbelanja, mereka dapat dengan bebas menggunakan kantong kresek secara gratis untuk membawa belanjaan mereka. Namun nanti jika cukai diberlakukan, tidak lagi. Konsumen harus membayar untuk setiap lembar kantong kresek yang mereka gunakan.

    Cukai dan Dampak Ekonomi
    Pengelolaan sampah plastik sudah menjadi urgensi bagi pemerintah. Namun demikian masalah sampah bukan hanya masalah pemerintah, tapi juga berbagai stakeholder. Permasalahan sampah plastik bukan hanya mengenai jumlah sampah plastik yang dihasilkan, namun juga pengelolaannya. Dalam hal ini, terdapat masalah lain, yaitu kesiapan masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri.

    Isu lain yang perlu juga dipertimbangkan pemerintah adalah dampak cukai terhadap industri plastik. Pada tahun 2017, Kemenperin mencatat jumlah industri plastik hingga saat ini mencapai 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik. Sektor ini menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang dan memiliki total produksi sebesar 4,68 juta ton. Bahkan industri kemasan plastik yang merupakan sektor kimia hilir pertumbuhannya sangat tinggi dan memiliki potensi besar.

    Plastik masih menjadi salah satu favorit di industri pangan olahan, karena sifatnya yang elastis, mudah dibentuk, kuat, dan terjangkau. Kemasan memang bukan hal utama dalam industri pangan olahan, namun memegang peranan penting dalam memasarkan sebuah produk, untuk mendapatkan hati konsumen menentukan pilihan. Fungsi penting dari kemasan adalah dapat menjaga keawetan dan higienitas produk yang dijual, serta fungsi penyimpanan dan distribusi.

    Pengaruh cukai plastik terhadap industri plastik dapat terjadi ketika terjadi penurunan permintaan akibat dari kenaikan harga. Besarannya dampak cukai terhadap penurunan permintaan dan pengaruhnya pada industri, merupakan salah satu tujuan dari studi ini. Dalam jangka pendek, mungkin penurunannya tidak signifikan, tetapi dalam jangka panjang, bisa menjadi signifikan memengaruhi industri kemasan plastik, atau bahkan juga industri makanan dan minuman dalam negeri.

    Jika cukai dikenakan pada kantong kresek, dampak terhadap ekonomi tidak terlalu besar sebab kantung kresek adalah produk akhir yang tidak digunakan sebagai bahan baku. Namun akan berbeda dampaknya, jika cukai dikenakan pada produk plastik lainnya.

    Pengenaan cukai akan menyebabkan harga naik dan permintaan turun. Berdasarkan perhitungan Visi Teliti Saksama, jika cukai diasumsikan menyebabkan permintaan plastik turun senilai Rp1 miliar, maka seluruh perekonomian juga akan menyusut sejumlah Rp1,9 miliar. Dampaknya pada industri plastik sendiri adalah penurunan pendapatan sejumlah Rp2,84 miliar. Selain itu, pengaruhnya pada pendapatan rumah tangga adalah total pendapatan rumah tangga dari masyarakat Indonesia diprediksi akan mengalami penurunan sejumlah Rp230 Juta.

    Plastik merupakan industri yang penting bagi Indonesia, dan juga bagi masyarakat. Sebab plastik merupakan produk yang tahan lama, ringan, praktis dan murah. Meski demikian, plastik juga membawa permasalahan yang cukup besar, dan menganggu kehidupan manusia, jika sampahnya tidak dikelola dengan benar. Cukai bukan merupakan jalan keluar satu-satunya dalam mengatasi permasalahan sampah plastik. Perlu ada keterlibatan berbagai pihak dalam menangani permasalahan ini.

    Pengelolaan sampah, khususnya di tingkat rumah tangga adalah permasalahan mengubah kebiasaan. Untuk mengubah kebiasaan ini, perlu waktu yang panjang, dan juga ada perubahan terutama dalam masalah pengelolaan sampah. Perubahan kebiasaan ini tidak hanya di tingkat rumah tangga, juga di tingkat aparat. Perlu ada perubahan sistem pengelolaan. Jika hal ini tidak dilakukan dalam waktu dekat, maka permasalahan akan semakin menggunung, dan dampaknya tentu akan lebih besar lagi, tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga kualitas lingkungan hidup dan kualitas hidup warga masyarakat sendiri.

    *)Peneliti Utama dan Staf Pengajar FEB UI