RISALAH PERGANTIAN TAHUN

PERKEMBANGAN EKONOMI 2017 SEBAGAI MODAL DI TAHUN 2018

Capaian yang didapatkan di tahun 2017 ini diharapkan menjadi landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi tahun depan.

  • Seorang penyelam melambaikan bendera merah putih saat menyambut HUT Kemerdekaan ke-70 RI di Pantai Malalayang Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar
    Seorang penyelam melambaikan bendera merah putih saat menyambut HUT Kemerdekaan ke-70 RI di Pantai Malalayang Manado, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Fiqman Sunandar

    Oleh: *Sita Wardhani S, SE, MSc

    Sepanjang tahun 2017, pertumbuhan ekonomi triwulanan Indonesia fluktuatif, namun stabil pada kisaran 5%, dan di triwulan ketiga pertumbuhan (yoy) mencapai 5.06%. Jika dilihat dari lapangan usaha, pertumbuhan didorong oleh semua sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha jasa lain sebesar 9.45%. Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 9.07%

    Pertumbuhan pengeluaran di kuartal ketiga terutama terjadi karena terjadi perbaikan pada harga komoditas. Selain itu, terjadi peningkatan permintaan global. Menurut laporan Bank Dunia, peningkatan permintaan global telah meningkatkan ekspor komoditas mentah dan olahan, seperti batu bara dan kelapa sawit. Selain itu ekspor tekstil, pakaian, alas kaki, barang-barang kelistrikan dan manufaktur lainnya juga mengalami pertumbuhan yang tinggi.

    Perubahan Perilaku
    Di sisi lain, pengeluaran rumah tangga yang selama ini menjadi tumpuan perekonomian, mengalami pelemahan. Momen Idul Fitri dan libur sekolah serta dimulainya tahun ajaran baru di kuartal kedua 2017, merupakan momen dimana konsumsi rumah tangga diharapkan untuk meningkat. Namun tidak demikian yang terjadi. Pada kuartal ini, konsumsi justru melemah. Padahal pemerintah telah berupaya untuk mengatur harga bahan pokok, terutama pada masa lebaran. Selain itu, UMR secara rata-rata meningkat 8% dan nilai tukar petani (NTP) yang menjadi indikator tingkat daya beli petani di pedesaan juga terus meningkat. Di bulan Agustus peningkatan 0.94% dan di bulan September 2017 meningkat 0.61%

    Terdapat beberapa argumen yang menyebutkan beberapa penyebab dari pelemahan konsumsi ini. Pertama untuk kalangan rumah tangga pendapatan atas melakukan pembatasan konsumsi, namun mengalihkannya dengan meningkatkan tabungan. Kalangan menengahlah yang tidak mengalami perubahan konsumsi. Dan kalangan pendapatan bawah lah yang mengalami penurunan konsumsi sebenarnya (Nielsen Company, 2017). Selain itu, perubahan pola konsumsi ke belanja online juga ditengarai menjadi faktor penyebab. Jumlah transaksi yang dilakukan secara online selama ini belum tercatat oleh pemerintah. Transaksi yang tidak tercatat inilah yang ditengarai menjadi pendorong penurunan konsumsi.

    Tingkat inflasi di tahun 2017 ditargetkan berada pada kisaran 3-3,5%. Hingga November, tingkat inflasi telah mencapai 2.87. Namun di akhir tahun dengan adanya perayaan natal dan tahun baru, terdapat kemungkinan inflasi Desember akan meningkat dibandingkan bulan November. Namun demikian, tingkat inflasi 2017 masih dapat terkendali sesuai target pemerintah.

    Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk menekan laju inflasi diantaranya adalah memperbaiki distribusi kebutuhan pokok, seperti pangan dan bahan bakar. Hal ini dilakukan dengan cara membuka keran impor. Di satu sisi, Pemerintah membatasi impor. Namun untuk kasus tertentu, misalnya ketika permintaan diperkirakan akan naik, maka pemerintah membuka keran impor, sebagai solusi jangka pendek. Selain itu, pemerintah gencar melakukan inspeksi mendadak terhadap gudang yang diduga melakukan penimbunan untuk mencegah kelangkaan barang.

    Pengakuan Dunia
    Keseriusan pemerintah dalam menjaga fundamental makroekonomi pun diakui oleh dunia internasional. Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Desember, perusahaan pemeringkatan kredit global Fitch ratings menaikkan peringkat kredit Indonesia, yang semula BBB- menjadi BBB+. Kenaikan peringkat ini melengkapi perbaikan peringkat yang telah diberikan Lembaga peringkat global lainnya, yaitu S&P di bulan Mei 2017 dan Moody’s di awal tahun 2017. Sehingga dapat dikatakan di tahun 2017 ini pasar global telah menaruh kepercayaannya pada perbaikan kondisi makro dan ekosistem investasi di Indonesia.

    Baca juga: Fitch Kerek Peringkat Utang Indonesia ke BBB

    Secara umum, kenaikan peringkat yang diberikan ketiga Lembaga pemeringkatan kredit global dapat di lihat pada tabel di bawah ini.

    Prestasi lain yang diakui global terhadap kemajuan dan perbaikan ekonomi yang terus diupayakan oleh Indonesia juga dibuktikan oleh kenaikan peringkat dalam Ease of Doing Business (EODB). EODB merupakan laporan yang diterbitkan oleh Bank Dunia, mengenai kemudahan usaha berdasarkan survei yang dilakukan beberapa kota utama pada hampir semua negara di dunia.

    Pada laporan yang terbit di bulan Oktober 2017, merupakan salah satu negara yang mengalami kenaikan peringkat yang tinggi. Sebelumnya Indonesia menduduki peringkat ke-91, lalu mengalami kemajuan dengan mendapatkan peringkat ke-72 dari 190 negara. Meskipun posisi Indonesia masih di bawah negara lain di ASEAN, namun peringkat Indonesia secara konstan meningkat. Kenaikan peringkat ini menunjukkan keberhasilan upaya pemerintah Indonesia dalam memperbaiki iklim bisnis dengan menyederhanakan berbagai perizinan yang dapat mempermudah dan mendorong investasi di Indonesia.

    Baca juga: DEREGULASI BERBUAH PERBAIKAN IKLIM BISNIS INDONESIA

    Daya saing Indonesia pun mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan melalui kenaikan peringkat dalam Global Competitiveness Report (GCI) yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) di bulan September 2017/. Daya saing Indonesia meningkat dari posisi 41 di tahun 2016, menjadi peringkat 36 di tahun ini. Kenaikan daya saing di Indonesia secara global didorong oleh stabilitas makroekonomi dan potensi pasar yang besar. Namun demikian, yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia adalah mengenai kesiapan teknologi dan efisiensi kebijakan ketenagakerjaan.

    Perbaikan kondisi makro dan indikator perbaikan ekonomi lain telah pula berhasil mendorong investasi. Hingga triwulan III ini, secara kumulatif( Januari–September) capaian realisasi investasi sebesar Rp513,2 triliun, atau 75,6% dari nilai investasi yang ditargetkan di tahun 2017 (Rp678,8 triliun). Nilai investasi ini terdiri atas investasi dalam negeri (PMDN) Rp194,7 triliun (37,9%) dan PMA Rp 318,5 triliun (62,1%). 

    Pekerjaan Rumah
    Namun perbaikan peringkat dan berbagai indikator makroekonomi belum dapat menekan angka pengangguran. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bulan Agustus 2017 meningkat dibandingkan Februari 2017, yaitu dari 4.3% menjadi 5,5%. Penyerapan tenaga kerja terbesar masih berada di sektor pertanian, yakni sebesar 31%. Sedangkan berdasarkan data PDB Indonesia menurut lapangan usaha, struktur ekonomi Indonesia pada kuartal III 2017 didominasi oleh sektor industri pengolahan (manufaktur) yang peranannya 19,93%. Sementara itu, kontribusi sektor pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) terhadap PDB Indonesia hanya tinggal 13,96%. Industri manufaktur yang selama ini dijadikan tumpuan pendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja masih belum dapat memenuhi tujuannya.

    Namun fenomena penyerapan tenaga kerja ini juga didorong oleh kualitas SDM Indonesia. Hingga saat ini sebagian besar (hingga 40%) tenaga kerja Indonesia adalah lulusan SD. Hal ini pula yang menyebabkan kontribusi sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja masih tinggi.

    Di tahun 2018, asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan pemerintah dalam APBN 2018 adalah 5,4%. Capaian yang didapatkan di tahun 2017 ini diharapkan menjadi landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi tahun depan. Perbaikan harga komoditas, perbaikan ekonomi luar negeri dapat mendorong ekspor Indonesia. Fundamental ekonomi yang baik dan tingkat inflasi yang rendah menjadi modal untuk dapat menarik investasi. Ditambah lagi kenaikan belanja pemerintah dalam jangka pendek dapat mendorong pertumbuhan, dan dalam jangka panjang ketersediaan infrastruktur dapat menarik investasi lebih banyak lagi sebagai modal pertumbuhan ekonomi.

     

    *Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Staf Pengajar FEB UI

    Referensi

    Nielsen company (2017). A Weakening of Consumer Purchase of Shifting? Jakarta; The Nielsen Company