PENJARA ITU BERNAMA MASKULINITAS

Budaya populer mendidik para laki-laki untuk bersifat maskulin dan perempuan untuk bersifat feminin, serta menghukum siapa pun yang melampaui batas-batas tersebut.

  • Ilusrasi. Sejumlah pria berkostum pahlawan super Amerika mencoba transportasi publik, Jakarta, Minggu (16/11). Para pahlawan super tersebut berkeliling kota saat car free day Jakarta dalam rangka mempromosikan konvensi komik, mainan, dan aplikasi game yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. (Antara)
    Ilusrasi. Sejumlah pria berkostum pahlawan super Amerika mencoba transportasi publik, Jakarta, Minggu (16/11). Para pahlawan super tersebut berkeliling kota saat car free day Jakarta dalam rangka mempromosikan konvensi komik, mainan, dan aplikasi game yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. (Antara)

    Oleh: Novelia, M.Si*

    Udah kaya Thanos, belum?” ujar seorang bocah laki-laki seraya mengayunkan tangannya di depan ayahnya, begitu keluar dari studio bioskop selepas menonton Avengers: Infinity War. Anak itu memperlihatkan lengannya, seolah terisi otot bisep bagaikan jagoan-jagoan dalam film. Ayahnya hanya tertawa menanggapi, membuat anak itu makin semangat mempertontonkan ‘kekekaran’-nya.

    Situasi ini tentu saja bukan hal asing terjadi pada anak-anak, terutama laki-laki. Apalagi setelah baru-baru ini sebuah film fiksi kepahlawanan sedang naik ke layar lebar. Padahal bila dilihat dari kategori usia, film ini tidak diperuntukkan untuk anak-anak di bawah umur karena berbagai adegan kekerasan dan lainnya. Keketatan regulasi bioskop tentu patut dipertanyakan.

    Tapi masalahnya bukan cuma itu.

    Penggambaran jagoan, terutama laki-laki, dalam berbagai film aksi superhero dan pahlawan, tak jarang menjadi panutan bagi anak-anak. Sosok laki-laki dalam berbagai budaya populer menjadi objek yang merepresentasikan sifat maskulin. Dari berbagai media, anak-anak ditanamkan pandangan seperti apa seorang laki-laki, serta bagaimana ia harus bertindak.

    Revolusi Representasi Maskulinitas
    Kekar, kuat, tangguh, kekerasan. Apa yang sekiranya terbersit dalam kepala kita ketika melihat atau mendengar kata-kata tersebut, baik dalam bentuk penanda maupun petanda? Laki-laki, bukan? Hal ini memperlihatkan bagaimana stereotip laki-laki telah amat terkonstruksi dalam kehidupan kita.

    Setidaknya sejak Revolusi Pertanian, masyarakat telah mendidik laki-laki untuk berpikir dan bertindak secara maskulin dan perempuan untuk bertindak dan berpikir secara feminin, serta menghukum siapa pun yang melampaui batas-batas tersebut (Harari, 2017). Teori yang paling umum adalah bagaimana laki-laki selalu dianggap lebih kuat dari perempuan.

    Jutaan tahun evolusi telah membuat laki-laki jauh lebih beringas dibandingkan perempuan. Dan bila kita melihat representasi laki-laki dan maskulinitas selama 50 tahun terakhir, terutama dalam media, kita bisa menangkap perubahan yang dramatis. Setidaknya hal inilah yang dijelaskan oleh Jackson Katz, seorang edukator dan aktivis isu gender, ras, dan kekerasan, dalam video dokumentasi Tough Guise: Violence, Media, and the Crisis in Masculinity yang disutradarai oleh Sut Jhally (2008). Infografis di bawah ini berisi beberapa sisi yang merangkum berbagai perubahan tersebut.

     

    Salah satu perkembangan representasi maskulinitas terlihat pada berbedanya cara para karakter laki-laki dalam film memegang senjata api. Pada film All Through The Night (1942), Humphrey Bogart hanya memegang pistol kecil dengan pose santai. Penggambaran pria bersenjata kemudian terus berubah dengan peningkatan ukuran senjata dan pose yang makin menantang. Puncaknya adalah sosok Rambo dan Terminator yang dimainkan untuk film berjudul sama di era 1980-an. Tidak hanya ukuran senjata yang sangat besar, pose dan ukuran tubuh serta otot kedua karakter ini juga sangat menantang dan beringas.

    Katz juga memberikan contoh bagaimana drastisnya perbedaan bentuk tubuh antara sosok Superman dalam film yang keluar pada era 1950-an dengan peran yang sama dalam film Man of Steel, atau seri Batman yang diperankan oleh Adam West yang episode pertamanya tayang pada tahun 1966 dengan peran yang sama di Batman Returns era 1990-an. Berganti era, kedua jagoan ini direpresentasikan sebagai sosok dengan tubuh lebih kekar dan berotot.

    Selain dalam peran di film, representasi laki-laki juga tampak dari perubahan bentuk tubuh mainan dari tahun ke tahun. Perubahan tersebut terlihat jelas dari peningkatan pada ukuran otot lengan atas (bisep) mainan-mainan tersebut. Seperti yang terjadi pada mainan dari karakter-karakter film Star Wars dan G.I. Joe. Bila skalanya disesuaikan dengan manusia sebenarnya, ukuran bisep mainan-mainan G.I. Joe terus bertambah setiap keluar model baru. Pada tahun 1998 ukuran bisep mainan terkait bahkan mencapai 26,8 inch. Padahal bila dibandingkan dengan sosok manusia asli, Mark McGwire, yang merupakan salah satu pemukul homerun paling ditakutkan di dunia baseball, serta terkenal dengan otot kekarnya, saja hanya memiliki bisep dengan ukuran 19-20 inch (Jhally, 1999).

    Pelanggengan Stereotip
    Stereotip didefinisikan oleh Hamilton & Trolier (1986) sebagai struktur kognitif berupa skema di dalam pikiran kita tentang sesuatu atau seseorang dalam kelompok tertentu. Skema tersebut membantu kita dalam mengorganisir pengetahuan dan kepercayaan, dan lebih lanjutnya memengaruhi bagaimana kita berekspektasi terhadap hal yang dikategorikan.

    Masih dalam Tough Guise (2008), diperlihatkan bagaimana laki-laki teropresi dengan stereotip terhadap mereka sendiri. Sebagai laki-laki mereka dituntut untuk terlihat ‘macho’, kekar, penuh kekerasan. Gambaran tersebut didapatkan dan ditanamkan secara terus-menerus oleh berbagai sumber, seperti keluarga dan lingkungan, dan yang paling signifikan adalah media.

    Pengulangan yang konsisten akan stereotip mengakibatkan skema tersebut peka dan secara langsung teraktivasi ketika mendapat stimulus tertentu. Hal ini berbahaya mengingat ia bisa secara otomatis muncul bahkan ketika kita tidak mendukungnya. Karakteristik-karakteristik yang sebelumnya tersimpan rapat akan bermunculan menyerang ketika satu saja stimulus muncul sebagai pemicu sebuah stereotip, seperti strategi gerilya yang dilakukan para ahli perang.

    Stereotip menjadi berbahaya pula karena ia menawarkan penjelasan tentang kelompok terkait. Ia tidak hanya menjelaskan bahwa orang kulit hitam itu miskin, tapi juga menggiring pemahaman kita bahwa mereka miskin karena malas. Karena sifat pemalas itu mereka dianggap tidak layak ditolong dan diberikan pekerjaan.

    Bias Pemaknaan Stereotip
    Bagaimana seseorang menginterpretasikan stereotip sendiri akan terbias dari kelompok asalnya, seperti yang dijelaskan Pettigrew (1979) sebagai ultimate attribution error. Ketika seseorang dalam kelompok tertentu melihat orang dengan kelompok yang sama dengannya melakukan tindakan negatif, maka ia akan cenderung menganggapnya sebagai akibat dari faktor eksternal. Contohnya bagaimana orang kulit putih melihat kejahatan yang dilakukan oleh orang kulit putih. Mereka cenderung akan berdalih bahwa hal tersebut mungkin dikarenakan pengaruh alkohol atau pendidikan yang kurang baik semasa kecil. Namun jika melihat orang kulit hitam melakukannya, orang kulit putih cenderung akan mengatakan “memang seperti itu perilaku orang kulit hitam.”

    Posisi stereotip dalam diri seseorang dan peran media seolah bagai lingkaran tak berujung. Media memiliki peran dalam mengonstruksikan stereotip dengan menampilkannya secara konsisten. Sementara stereotip sendiri dapat memengaruhi audiens dalam memroses dan memaknai apa yang dilihat di media.

    Melalui berbagai representasi yang disajikan, media men-trigger stereotip. Stuart Hall, dalam buku Media and Cultural Studies yang disadur Menakshi Gigi Durham dan Douglas M. Kellner (2001), menyampaikan kembali teori encoding-decoding terkait komunikasi antara media dengan publik. Hall mempermasalahkan teknik komunikasi linear yang berfokus pada isi pesan. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya proses encoding (pembuatan pesan) dan decoding (pemaknaan pesan).

    Ada tiga pola dalam men-decode suatu pesan: (1) dominan; di mana encoding dan decoding sangat simetris dan diresapi penerima pesan, (2) negosiasi; di mana penerima memahami maksud pengirim pesan, namun tidak serta merta menerimanya, dan (3) oposisi; di mana penerima menolak yang ingin disampaikan, sehingga encoding dan decoding tidak simetris.  Jadi, semakin simetris posisi encoding dengan decoding, maka komunikasi dianggap makin berhasil oleh penyampai pesannya. Secara umum memang teorinya seperti itu, namun dalam media semakin simetrisnya encoding dan decoding sesungguhnya mengartikan semakin berhasilnya pesan kelompok dominan mengonstruksi pikiran audiens.

     

    Terpaan media terkait stereotip memberi implikasi yang cukup besar bagi audiens dan kelompok terkait. Pertama, tertanam dan menguatnya stereotip, sehingga kelompok terstereotip buruk semakin terlihat buruk dan kelompok dominan semakin terlihat baik. Kedua, terpaan yang konsisten ini mengaktifkan skema stereotip secara tidak disadari meskipun kita menentangnya. Ketiga, mengarahkan pada aplikasi ultimate error attribution dalam kehidupan. Dan yang keempat, tekanan terhadap kelompok yang terstereotip mengakibatkan perlawanan dalam bentuk yang bisa jadi berbahaya.

    Urgensi Literasi Media
    Disadari atau tidak, stereotip laki-laki menjadi salah satu pemacu bagi kelompok ini untuk melakukan tindak kekerasan yang berakibat banyak korban berjatuhan. Stereotip tersebut mendiskriminasi laki-laki yang berada di luar ‘kotak tough’ dan menjadikannya bahan olok-olok dengan label ‘melambai’ atau ‘banci’. Akibat dari diskriminasi dan pembulian tersebut, banyak bermunculan perlawanan yang jauh sangat berbahaya.

    Hal ini menjadi perhatian besar berhubung masyarakat kontemporer cenderung selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman. Dan media masih dianggap audiens salah satu medium yang mencerminkan apa yang sedang up-to-date.

    Di sinilah literasi media kembali menjadi penting, karena selain perubahan media yang hanya dapat dilakukan secara kolektif, hal terkecil yang dapat kita lakukan adalah mengetahui kondisi stereotip tersebut dan tidak menambahkan opresi yang telah terjadi. Jangan sampai setiap kelompok justru terkungkung dengan tuntutan keharusan memiliki sifat tertentu, Seperti kata Five For Fighting di lagunya yang jadi pengiring film Superman, “even heroes have the right to bleed.

    *) Peneliti Junior Visi Teliti Saksama

     

     

    Referensi:

    Consideration of Media Effects: The Social Psychology of Stereotypes: Implications for Media Audiences

    Durham, Meenakshi Gigi & Kellner, Douglas M. (Eds). 2001. Media and Cultural Studies: Encoding/Decoding. Massachutes: Blackwell Publishers Inc.

    Harari, Yuval Noah. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2017.

    Tough Guise: Violence, Media, and The Crisis in Masculinity. Directed by Sut Jhally. 1999.