Onno W. Purbo, Mahaguru Internet Indonesia

"nilai seseorang ditentukan oleh seberapa besar ia memberikan manfaat bagi banyak orang"

  • Onno Widodo Purbo
    Onno Widodo Purbo

    JAKARTA- Masyarakat internet Indonesia menjulukinya “professor internet”, ada pula yang menyebutnya “bapak internet Indonesia”, sebagaian lagi “menteri internet”. Semua julukan, panggilan, sebutan dan apa pun yang sejenis disematkan kepadanya karena begitu besar kontribusinya bagi perkembangan teknologi informasi tanah air, khususnya internet.

    Ir. Onno W Purbo.M.Eng.Ph.D, sebuah nama dengan capaian akademik yang mumpuni pastinya. Namun tampaknya pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini lebih suka dipanggil Onno W. Purbo. Hal itu tergambar dari ratusan artikel dan buku-buku tentang dunia teknologi komunikasi yang pernah lahir dari buah pikirannya, dimana embel-embel gelar akademik jarang ia cantumkan di depan maupun di belakang namanya.

    Kebanyakan dari kita, khususnya yang belum melek dengan teknologi informasi, mungkin masih awam terhadap sosok yang jasanya sangat besar bagi kita yang saat ini menikmati kemudahan internet. Onno Purbo adalah salah satu orang yang karena kepeduliannya terhadap masyarakat luas dalam mengakses informasi, rela mengabdikan dirinya bagi masyarakat dengan mengenalkan internet ke berbagai penjuru Indonesia lewat seminar dan workshop, termasuk artikel dan buku.

    Hasilnya Onno Purtbo banyak terlibat dalam berbagai proyek teknologi informasi yang berorientasi kerakyatan, seperti VoIP Rakyat, Wajanbolic, OpenBTS, dan banyak proyek-Proyek lainnya. Semua dilakukannya dengan satu tujuan, mencerdaskan bangsanya dengan akses informasi yang mudah dan murah.

    Voice over Internet Protocol atau VoIP adalah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Prinsip kerja VoIP adalah mengubah suara analog yang didapatkan dari speaker pada Komputer menjadi paket data digital, kemudian dari PC diteruskan melalui Hub/ Router/ ADSL Modem dikirimkan melalui jaringan internet dan akan diterima oleh tempat tujuan melalui media yang sama. Atau bisa juga melalui melalui media telepon diteruskan ke phone adapter yang disambungkan ke internet dan bisa diterima oleh telepon tujuan.

    Keuntungan yang diperoleh lewat teknologi ini adalah dari segi biaya jelas lebih murah dari tarif telepon tradisional, karena jaringan IP bersifat global, sehingga biayanya dapat ditekan hingga 70%.

    Adapun Wajanbolic adalah  sebuah antenna nirkabel yang terbuat dari wajan dan paralon yang banyak digunakan dalam Infrastruktur Jaringan RT/RW-net.

    Prinsip kerja antena Wajanbolic sama seperti antena parabola lainnya, yaitu menempatkan bagian sensitif antena pada titik fokus parabola (wajan) sehingga semua gelombang elektromagnet yang mengenai wajan akan terkumpul dan diterima dengan Jangkauan kerja mencapai hingga 1–2 km bahkan sampai 5 km.

    Teknologi ini memiliki Jaringan yang lebih cepat daripada modem, dapat di pasang dengan cepat dan mudah sehingga tidak menyita waktu terlalu banyak, serta yang tak kalah penting adalah biaya pembuatannya murah.

    “Ini asli temuan orang Indonesia bernama Gunawan. Dia juga ingin membuat orang Indonesia mendapatkan akses internet mudah dan murah dengan jangkauan lebih jauh. Atas ijin dia, saya bantu mempublikasikan kemana-mana,” tutur Onno Purbo, sebagai dikutip dari Majalah Prioritas.

    “Tahun 2004-2005, saya diundang di World Summit for Information Society, Konferensi Tingkat Tinggi orang-orang IT, presentasi soal ini. Mereka tanya solusi internet murah di Indonesia. Saya jelaskan, caranya diganti dengan membuat sambungan hotspot, pakai wireless tapi dimodifikasi dari wajan, kaleng, pipa paralon lalu colong frekuensi. Semua peserta tepuk tangan,” imbuhnya.

    Sejak itu Onno Purbo kerap mendapat undangan ke berbagai negara ingin mendapat akses internet mudah dan murah seperti Afrika, Nepal, Swiss, Kanada. Total 33 negara yang ia kunjungi.

    “Mendengar saya keliling dunia presentasi internet mudah dan murah, menteri kita malu. Setelah perang dan negosiasi dengan pemerintah, 5 Februari 2005, Hatta Radjasa (menristek) menandatangani surat keputusan membebaskan frekuensi. Hasilnya, hotspot digratiskan,” tukas pria yang pernah mengajar di universitas almamaternya, Institut Teknologi bandung (ITB).

    Apa pula OpenBts?  Open Source Base Transceiver Station adalah sebuah BTS GSM (selular) berbasis software open source yang memungkinkan handphone GSM menelepon tanpa menggunakan jaringan operator selular

    Sistem kerja OpenBTS adalah mengganti tradisional infrastruktur operator GSM, dari Base Transceiver Station (BTS) ke belakangnya. Dari yang biasanya traffik diteruskan ke Mobile Switching Center (MSC), pada OpenBTS trafik di terminasi pada box yang sama dengan cara mem-forward data ke Asterisk PBX melalui SIP dan Voice-over-IP (VoIP).

    Sebagai perbandingan, untuk daya pancar 100mW, diperkirakan kita hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp. 15-25 juta per buah. Sebuah nomonal yang jauh lebih murah dibandingkan BTS selular biasa yang harganya mencapai ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah.

    Onno W. Purbo. Ist

    Pro Rakyat
    Walau proyek-proyek tersebut mengatasnamakan dan untuk kepentingan masyarakat luas, namun tantangan besar ternyata mengadang langkah Onno Purbo dan rekan-rekannya. Rintangan itu tidak hanya datang dari operator-operator yang selama ini menangguk untung dari bisnis telekomonukasi informasi, namun yang sangat menyedihkan justru juga datang dari pemerintah.

    Undang-undang yang ada di negeri ini ternyata tidak membenarkan rakyatnya mengadakan suatu layanan. Dengan demikian semua proyek yang dikembangkan Onno Purbo bersama teman-temannya dianggap melanggar hukum.

    “Telkom itu saat ini sudah menggunakan VoIP. Tak hanya Telkom, seluler lainnya juga sudah menggunakan VoIP. Cuma gak dikasih tahu ke publik. Jadi yang kita instalasi itu sama,” kata Onno Purbo.

    Terasa janggal memang. Di satu sisi dianggap illegal namun di sisi lain pemanfaatan teknologi pro kerakyatan yang dimanfaatkan oleh para operator justru dibiarkan oleh negara, bukan sebaliknya dibuatkan regulasi agar temuan-temuan itu bisa menjadi milik dan dinikmati masyarakat secara mudah dan murah.

    Hal yang sama terjadi pada proyek OpenBTS. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menilai penggunaan teknologi Open BTS masih terlarang karena belum ada regulasi yang mengaturnya secara detail.

    “Sekedar informasi saja, 1 BTS selular itu harganya Rp 3 miliar. Tak mungkin rakyat bisa bikin. Tapi kalau OpenBTS, sudah lengkap dengan power amplifier dan antena besar, biayanya Rp 120 – Rp 130 juta, hasilnya equivalen dengan yang Rp 3 miliar,” ungkap Onno Purbo.

    “Supaya kamu tahu, biaya BTS yang mahal, bikin ongkos pulsa juga mahal. Kalau sekarang pulsa kamu sebulan habis Rp 200 ribu, itu karena BTS-nya Rp 3 miliar. Kalau harga BTS-nya hanya Rp 120 juta, pulsa kamu equivalennya mungkin hanya seribu rupiah per bulan,” imbuhnya.

    Tantangan tidak hanya muncul dari sisi regulasi maupun operator-operator besar yang terganggu di zona nyamannya, namun disebabkan juga oleh posisi negeri ini sebagai negara kepulauan yang sangat luas, sehingga Onno Purbo kerap kesulitan membagi ilmunya secara adil. Letak demografi yang sangat berjauhan menjadikan beberapa daerah belum mampu dijangkau olehnya.

    Padahal cita-cita Ono Purbo adalah suatu waktu nanti masyarakat Indonesia menikmati akses informasi melalui internet tanpa harus mengeluarkan uang sepeser dari kantung mereka.

    “Nilai seseorang ditentukan oleh berapa besar atau banyak orang menerima manfaat atas kontribusi seseorang itu,” ujarnya.

    Onno W. Purbo. Making All Voices Count

    Transformasi Onno Purbo
    Onno Purbo lahir dari sebuah kecelakaan, namun bukan makna “kecelakan” akibat kelahiran di luar pernikahan. Tepat di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1962, Partini, Ibundanya terkasih terpeleset akibat menginjak sabun. Saat itu Onno Purbo berusia 8 bulan dalam kandungan ibunya.

    Pendarahan akibat insiden itu memaksa dokter harus menghadirkannya ke dunia secara prematur. Tangisannya menyapa dunia, menandakan ia hadir sebagai bagian dari kehidupan manusia dan alam semesta. Kelak bayi mungil itu menjadi besar karena kehadirannya memberi manfaat bagi banyak orang.

    Onno Purbo dibesarkan dalam keluarga yang sangat lekat dengan Pendidikan. Ayahnya adalah seorang professor arsitektur ITB bernama Hasan Poerbo yang sempat menjadi Dekan Fakultas Perencanaan & Seni Rupa ITB (1962-1964).

    Agar bisa menyamai dan bahkan melampaui bapaknya, Tini ibunya setiap hari memberikan lalapan daun antanan tiga lembar sehari agar Intellegence Quotient (IQ) berkembang. Antanan, yang berdaun seluas kuku jempol, ini banyak ditanam di halaman belakang rumahnya, di Bandung.

    "Khasiat antanan sudah diriset di Beijing lho," ujar Tini dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam Majalah Pantau edisi September 2001.

    Singkat cerita, pola Pendidikan di keluarga dan kontribusi daun antanan itu ternyata menjadikan Onno Purbo menyandang predikat mahasiswa terbaik Fakultas Teknik Elektro ITB di tahun 1987. Tujuah tahun kemudian, tepatnya di tahun 1994 ia pulang dari Kanada dana membawa pulang dua gelar akademik. Dari Universitas McMaster, ia meraih master dalam bidang laser semikonduktor dan fiber optik. Dari Universitas Waterloo, ia mendapatkan doktor dalam bidang devais silikon dan rangkaian terintegrasi.

    Purbo bergerak cepat memberikan kontribusi bagi bangsanya. Ia segera ikut membenahi sistem jaringan komputer dan internet di Indonesia. Dan hal itu dimulainya dari lingkungan terkecil, kampus alamamaternya ITB.

    Ambisinya mewujudkan gateway internet pendidikan yang bisa mengaitkan berbagai lembaga pendidikan yang ada. Kebetulan ITB masuk ke dalam jaringan kerja Asia Internet Interconnection Intiatives (AI3) Project yang bermarkas di Jepang. Proyek ini dimotori oleh dua samurai internet yakni Jun Murai, pelopor internet pendidikan di Jepang yang menyandang gelar profesor doktor, serta Suguru Yamaguchi, ilmuwan muda berusia 30 tahun, juga seorang profesor doktor.

    Kelak, ITB mampu mewujudkan gateway pada kecepatan 2 Mbps, selain memasang serat fiber optik sepanjang 11 kilometer, yang mengikat kawasan kampus menjadi sebuah kesatuan. Warga ITB bisa menikmati internet dengan harga superhemat, Rp 10 ribu per bulan.

    Onno Purbo juga memprakarsai pendirian Computer Network Research Group (CNRG) pada 1994. Institusi yang ia sebut OTB alias organisasi tanpa bentuk, kurang dari lima tahun mampu menjadi salah satu pendorong jaringan internet pendidikan di Indonesia yang mengaitkan sekurang-kurangnya 25 lembaga pendidikan.

    Di awal tahun 1999, ketika Purbo mengepalai Perpustakaan Pusat ITB, ia membawa sempalan eksponen CNRG untuk mengembangkan pengelolaan perpustakaan di Knowledge Management Research Group (KMRG). Hasilnya, Digital Library & Library Network terbentuk. Jaringan ini merangkaikan sedikitnya 20 unit perpustakaan di seluruh Indonesia.

    Dari lembaga ini pula, sekitar 20 buku panduan mengenai konsep jaringan dan internet diluncurkan ke hadapan publik dalam bahasa dan metode sederhana, semisal konsep jaringan tanpa kabel (wavelan) atau konsep tentang warung internet. Harganya pun sederhana, antara Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per buku.

    Di luar buku, CNRG aktif mempresentasikan hasil-hasil penelitiannya di berbagai seminar, workshop, konferensi, dengan frekuensi rata-rata satu sampai tiga per minggu. Jika hendak diperpanjang, catatan lain menunjukkan, ribuan artikel disebarkannya lewat di majalah atau koran, selain dalam CD-ROM berkat uluran tangan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Indonesia. Di tingkat elit, CNRG pun ikut berbicara dalam komisi regulasi telekomunikasi, regulasi internet di Indonesia.

    Merasa cukup berkontribusi lewat wadah kampus, Onno kemudian memutuskan menyebarkan ilmunya ke masyarakat tanpa sekat-sekat birokrasi dan akreditasi. Ia menantang dirinya agar mampu membagi ilmu pengetahuan dan disebar kepada masyarakat secepatnya, seluas-luasnya, sehingga dapat mengakselerasi terbentuknya masyarakat pintar.

    Komitmennya membuat masyarakat pintar tak dipungkiri nyata di masyarakat. Lewat berbagai proyek-proyek yang digagasnya bersama rekan sejawatnya, internet menjadi mudah dan murah menjangkau wilayah-wilayah pelosok nusantara, meski diakuinya bahwa masih banyak juga yang belum bisa merasakan.

    Menjangkau Onno Purbo tidak hanya lewat pertemuan fisik dengannya. Ia tetap aktif menulis buku dan artikel yang dapat digunakan menjadi referensi ilmu pengetahuan. Kesemuanya itu bisa diakses lewat internet seperti cita-citanya, menciptakan masyarakat pintar. (Rafael Sebayang)