Ludwig Nommensen, Penginjil Pengubah Peradaban Suku Batak

  • Ludwig Ingwer Nommensen
    Ludwig Ingwer Nommensen

    JAKARTA - Jika ada orang di luar bangsa Batak yang hidup di tengah masyarakat Batak, lalu menjadi tokoh yang sangat dihormati karena dianggap berandil mengubah kehidupan orang Batak, maka nama Ludwig Ingwer Nommensen atau Ingwer Ludwig Nommensen atau I.L. Nommensen boleh masuk dalam daftar pertama.

    Nommensen sama sekali tidak memiliki darah Batak, atau kerabat yang berhubungan dengan garis keturunan bangsa Batak. Ia lahir di Nordstrand, Denmark (kini Jerman) pada 6 Februari 1834.

    Ia datang ke tanah Batak saat orang-orang Batak pada masa itu menaruh curiga pada orang-orang asing dengan ciri-ciri fisik kulit putih, rambut pirang, dan memiliki warna yang berbeda dengan orang Batak.

    Siapapun yang datang dengan ciri-ciri fisik seperti itu, apapun tujuannya akan dicurigai dan dianggap sebagai bagian dari kolonial. Bahkan beberapa orang asing dari luar Indonesia yang datang ke tanah Batak mendapat penolakan, atau dibunuh.

    Hal itulah yang dialami oleh Pendeta Samuel Munson dan Pendeta Henry Lyman yang datang ke tanah Batak di bawah naungan American Board of Commissioners for Foreign Missions, namun mereka dibunuh di desa Lobu Pinan.

    Kenyataan itu tidak membuat Nommensen menghentikan langkahnya untuk datang ke tanah Batak. Ia bahkan memutuskan untuk tetap berada di tanah Batak walau keberadaannya ditentang, bahkan ketika diancam atau dicoba dibunuh.

    Semua resiko itu ditanggung Nommensen hanya untuk satu tujuan, yakni membuat bangsa Batak mengenal Injil. Kini, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sebagai gereja orang Batak menjadi salah satu gereja terbesar dari banyak gereja Protestan di Indonesia.

    Nommensen menyerakan injil di bawah naungan Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG), lembaga penginjilan asal Jerman. Harus diakui bahwa Nommensen bukanlah satu-satunya, atau bahkan bukan yang pertama menyebarkan injil di tanah Batak.

    Namun sekali lagi harus dilihat bahwa hingga kini nama Nommensen adalah yang paling diingat dari sejumlah nama penginjil yang juga melakukan pelayanan serupa bagi bangsa Batak.

    Dia pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumatera pada tahun 1862. Sejak itulah Nommensen terus mengabarkan injil di tanah Batak, tentu dengan berbagai situasi dan kondisi mulai dari penolakan, pengancaman, bahkan disebutkan bahwa ia sempat dicoba dibunuh dengan cara diracun.

    Saat itu, siapapun para misionaris ditolak oleh orang Batak, khususnya oleh mereka yang berpihak pada Sisingamangaraja XII.

    Kepada Validnews, pekan lalu, Pengajar di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Erond L. Damanik membenarkan bahwa Nommensen pernah selamat dari ancaman racun oleh orang Batak pada masa itu. Namun menurutnya tidak ada literasi pasti mengenap siapa yang mencoba untuk meracun Nommensen ketika itu.

    “Hanya disebut masyarakat di sekitar Pearaja. Kuat dugaan bahwa ancaman racun itu dilakukan gerakan mesianis yakni parhudamdam yang menonjolkan tokoh Sisingamangaraja yang menolak Nommensen,” ungkap Erond.

    Penolakan tidak membuat Nommensen kendur, ia tetap berada di tanah Batak, bahkan seiring berjalan ia mengajar hingga akhirnya membabtis orang Batak. Bahkan ia juga mendirikan gedung gereja dan sekolah yang diperuntukkan bagi orang Batak.

    Apolitis

    Meski karya Nommensen yang begitu besar terus dikenang oleh orang Batak hingga kini, namun sejumlah versi menyebut bahwa sebenarnya Nommensen bekerja sama dengan kolonial Belanda saat itu dalam perang Toba melawan Sisingamangaraja XII.

    Nommensen dikatakan ikut mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I sebagai penunjuk jalan dan penerjemah.

    Sesudah ekspedisi militer berakhir, puluhan kampung, termasuk markas Sisingamangaraja di Bangkara dibumihanguskan. Bahkan Uli Kozok dalam bukunya “Peran Zending dalam Perang Toba” menyebutkan bahwa peran dan tujuan RMG dan penginjilnya, terutama Ludwig Ingwer Nommensen, dalam Perang Toba Pertama (1878) terang sekali.

    Dalam buku tersebut Uli Kozok menyebutkan bahwa sumber yang dijadikan referensi buku adalah surat-surat Nommensen sendiri kepada RMG. Buku itu juga menyebutkan bahwa Nommensen berulang kali meminta kepada pemerintah kolonial agar selekasnya menaklukkan Silindung menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda.

    Terkait hal ini, Erond mengatakan bahwa saat itu Nomensen memang dalam pergumulan ataupun dilema besar. Menurutnya, saat itu ia diancam diusir oleh Belanda apabila ia tidak membantu penaklukan seluruh tanah Batak.

    “Akhirnya, dengan berat hati nomensen menerima ajakan belanda menjadi juru bicara penangkapan Sisingamangaraja XII. Nomensen menyaksikan pembakaran kampung, pembunuhan orang Batak di beberapa kampung,” kata Erond.

    Namun demikian, kekukuhannya mengangkat dan memanusiakan orang Batak membuat dia menangis untuk misinya itu. Kekukuhannya itu pula yang membuat Kristen berakar di tanah Batak.

    Bahkan menurut Erond, dari kekukuhan Nommensen itulah kekristenan menyebar ke wilayah Simalungun tahun 1903, ke Pakpak tahun 1906 dan Mandailing Angkola sejak 1861.

    Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom membenarkan bahwa ada sejumlah versi terkait keterlibatan Nommensen pada Perang Toba tersebut. Namun demikian ia berpendapat bahwa Nommensen dan para penginjil pada zamannya sangat apolitis.

    “Mereka tak punya ketertarikan politik dan buta politik juga. Consern mereka cuma satu, memberitakan Injil dalam arti membuat agar bangsa-bangsa menerima Kristus sebagai juru selamatnya. Yang lain-lain mereka tak begitu pusingkan,” kata Gomar.

    Ia menambahkan, jika saja memang saat itu Sisingamangaraja dinilai menjadi penghambat dalam misi pekabaran Injil, bisa saja Nommensen berhadap-hadapan dengannya. Namun menurutnya perlu menjadi catatan bahwa Nommensen dan para penginjil dari Jerman tidak dalam agenda yang sama dengan pemerintahan kolonial Belanda ketika itu.

    “Karena hubungan Belanda dan Jerman kan juga tegang ketika itu. Yang ada malah cukup banyak pembatasan dari pemerintah kolonial kepada para penginjil di tanah Batak ketika itu,” ucap Gomar.

    Sumber lain yang menurut Gomar bisa dijadikan referensi adalah buku Lance Castel berjudul "Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940". Di buku itu disebutkan bahwa hubungan Nommensen dengan anak-anak Sisingamangaraja sangat baik dan dekat.

    Pondasi Peradaban

    Terlepas dari perbedaan versi tersebut, ia mengungkapkan bahwa bagaimanpun hingga saat ini Nommensen begitu penting bagi bangsa Batak.

    Hal ini dikarenakan Nommensen telah meletakkan nilai-nilai Injil, yang membawa masayarakat Batak melihat segala sesuatu secara baru. Sedangkan sebelumnya nilai-nilai Batak berdasar pada hukum pembalasan, sebagaimana terlihat dari umpasa, "sisolisoli uhum, siadapari gogo"..

    “Artinya, kita berbuat baik kepada sesama agar kita juga memperoleh kebaikan dari orang lain. Nommensen memperkenalkan nilai-nilai berbasis kasih, yang harus mendasari perbuatan baik kita,” terang Gomar.

    Hal lain yang membuat Nommensen penting bagi bangsa Batak adalah karena karya terbesar Nommensen yakni membuka tanah Batak yang tadinya relatif tertutup bagi Injil, lalu menciptakan model masyarakat baru di Huta Dame (Silindung) berbasiskan nilai-nilai kasih, kemudian memulai pengorganisasian umat hingga menjadi gereja, lengkap dengan sistem ibadah dan tata pemerintahannya.

    “Dia juga mewariskan pengaturan pasar yang hingga kini berlaku di sekitar Tapanuli. Nama Nommensen begitu melekat karena dia memenangkan dan memimpin langsung jemaat-jemaat sesudah dia berdirikan sejak Silindung hingga ke Toba. Dan jangan lupa, dia menghabiskan masa pelayanannya hanya untuk tanah Batak, sampai dia meninggal.”

    Sedangkan yang membedakan Nommensen dengan penginjil-penginjil lain sebelum dia di tanah Batak adalah karena Nommensen mengkristenkan atau membaptis orang secara massal. Menurut Gomar, Nommensen punya prinsip, kristenkan dulu, nanti sesudah Kristen baru diajari dasar-dasar iman Kristen.

    “Para pendahulunya, ajari dulu dasar-dasar kekristenan, dan kalau sudah qatam, baru dibaptis jadi Kristen,” tambah Gomar. (Jenda Munthe)