Nitisemito Raja Kretek Nusantara

Perusahaan rokok Tjap Bal Tiga turut mendanai perjuangan di masa perang kemerdekaan

  • Nitisemito. Ist
    Nitisemito. Ist

    JAKARTA- “Harga puntung rokoknya menurut panjang dan pendek ukurannya. Ada yang dua real sebatang, ada juga yang dua setengah real, tiga real dan empat real. …. Mau tahu sebabnya? Tentu saja, karena puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum”

    Begitulah strategi dagang Roro Mendut memancing masyarakat datang membeli rokok ke warungnya, sebagaimana ditulis Amen Budiman & Onghokham Rokok dalam buku Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara.

    Seperti dilukiskan di dalam Babat Tanah Jawi, Roro Mendut adalah seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa dan menjadi rebutan pejabat-pejabat di wilayah Kesultanan Mataram untuk dijadikan selir.

    Pada tahun 1927, Sultan Agung Raja Mataram berhasil memadamkan pemberontakan Pati. Adalah panglima perang Kesultanan Mataram Tumenggung Wiraguna yang ditunjuk menumpas pemberontakan yang dilakukan Adipati Pragolo II itu. Kemenangan itu sekaligus membawa pulang berbagai hasil rampasan, termasuk Roro Mendut sebagai tawanan.

    Sultan Agung girang bukan kepalang atas keberhasilan Tumenggung Wiraguna menumpas pemberontakan yang bisa mengancam tahtanya. Sebagai ucapan terimakasih Sultan Agung menyerahkan tawanan cantik jelita itu kepada Tumenggung Wiraguna yang memang sejak awal menginginkannya.

    Tak hanya memiliki paras yang rupawan, Roro Mendut adalah perempuan yang memiliki pendirian teguh. Ia menolak lamaran sang panglima perang yang disampaikan langsung oleh Nyai Agung Wiraguna.

    Sontak Tumenggung Wiraguna Murka dan menjatuhkan hukuman bagi Rara Mendut. Gadis ini diwajibkan membayar pajak tiga real sehari. Kalau tak sanggup, Rara Mendut harus bersedia menjadi istri Wiraguna, seperti dikisahkan dalam buku berjudul MEMBUNUH INDONESIA Konspirasi Global Penghancuran Kretek Penyelaras karya Abhisam DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan.

    Singkat kisah, demi menghindari perkawinan Roro Mendut memilih menerima hukuman tersebut. Terinspirasi dari kebiasaan merokok para petinggi di kesultanan Roro Mendut memutuskan membuat dan menjual rokok klobot lintingan kepada mayarakat. Dari hasil jualan itu uangnya ia gunakan membayar pajak sebagaimana ditetapkan Tumenggung Wiraguna.

    Komposisi kandungan rokok klobot buatan Roro Mendut terdiri dari tembakau sompok dari Imogiri, daun klobot, serta bumbu-bumbu. Kelobot lntingan itu kemudian dipajang rapi di atas bokor perak dan dijual dengan harga setengah rupiah sebatang.

    Begitu istimewanya Roro Mendut di mata masyarakat sehingga puntungan rokok buatannya pun dianggap berharga. Dan hal itu disadari betul olehnya.

    “...karena puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum” begitulah alasan puntungan kelobot itu tetap dijual.

    Alhasil, pembeli justru berebut mendapatkan klobotnya. Bahkan, jika tak ada uang, barang seperti kain, ikat pinggang, ikat kepala, keris, pedang, mereka berikan asal mendapatkan klobot bekas Roro Mendut.

    Mengacu pada kisah Babat Tanah Jawi itu, bisa dikatakan Roro Mendut-lah orang pertama yang memperjual-belikan rokok di nusantara. Ia juga menciptakan kebiasaan masyarakat jelata pada masa itu, khususnya laki-laki, dari mengunyah sirih menjadi menghisap klobot atau merokok. Kebiasaan ini kemudian menjadi bagian dari keseharian puluhan juta manusia Indonesia berabad-abad berikutnya.

    Rokok kretek Bal Tiga. Ist

    “Kumretek”
    Benar saja, rokok klobot menjadi bagian yang sangat vital di masyarakat nusantara, khususnya jawa, dua abad setelah Roro Mendut memperkenalkannya kepada rakyat jelata. Ini diperkuat oleh tulisan J.W. Winter, “Beknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta In 1824”, yang memuat catatan tentang cara hidup orang Jawa kebanyakan yang tidak bisa lepas dari klobot.

    “Seorang laki-laki yang tidak mempunyai istri bisa hidup dengan dua belas ‘duit’ sehari. Tanpa perlu memperhatikan makan daging dan ikan, ia menggunakan dua belas duit itu untuk keperluan sebagai berikut: tiga duit untuk membeli sirih dan tembakau. Tiga duit lagi untuk membeli nasi, garam dan tempe, yang digoreng dan dimakan seperti ikan. Enam duit selebihnya untuk membeli beras”

    “Jika orang yang bersangkutan tidak makan sirih, ia menggunakan tiga duit dari uang belanjanya semata-mata untuk membeli tembakau, yang dipakai sebagai bahan untuk merokok dengan menggunakan selembar kulit jagung yang telah dikupas dan dikeringkan. Dengan demikian jatah uang rokok seorang bujangan pada waktu itu lebih kurang dua puluh lima persen dari jumlah keseluruhan uang belanja sehari-hari yang dikeluarkannya.”

    Demikian Winter menggambarkan betapa masyarakat jawa kala itu, khususnya laki-laki, sangat gandrung menghisap klobot. Klobot ibarat “Candu Jawa” yang sulit lepas dari keseharian masyarakatnya.

    Sekitar enam puluh tahun pasca catatan Winter, sebuah temuan besar terhadap bahan dasar rokok klobot ditemukan pada tahun 1880 di Kudus, Jawa Tengah. Temuan tak sengaja yang kelak menjadi industri rokok raksasa asli nusantra.  

    Adalah Djamari si penemunya. Djamari saat itu mengusapkan minyak cengkeh ke dadanya yang sakit. Setelah diolesi minyak, sakit yang dirasakannya pun mereda. Manfaat cengkeh ini menjadi inspirasi bagi Djamari yang kemudian bereksperiman merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok.

    Sejak itu sang penemu terbiasa merokok klobot yang berisi rajangan cengkeh. Ternyata kebiasaannya itu membuat sakit di dadanya tak pernah kambuh lagi. Apalagi, selain memberi manfaat rokok klobot teryata memberi kenikmatan saat menghisapnya.

    Kenikmatan itu tak ingin dirasakannya sendiri. Djamari menyebarluaskan kabar itu sembari memproduksi klobot kecil-kecilan yang kemudian diberi nama kretek dan dijual ke masyarakat.  

    Nama ‘kretek’ diambil dari bunyi yang timbul ketika ia diisap. Sebelum dieja sebagaimana lazimnya sekarang, mula-mula ia disebut ‘keretek’ atau kumréték dalam bahasa Jawa, layaknya bunyi keréték-keréték yang terdengar ketika serpihan cengkeh dalam rajangan tembakau bertemu dengan api. Tak jarang, kandungan cengkeh dalam kretek juga membuat bara api dari ujung kretek meletik (meloncat) dan melubangi pakaian. Dari bunyi yang khas itulah nama ‘kretek’ berasal (onomatopeic).

    Segera saja rokok kretek cengkeh buatan Djamari diminati masyarakat. Rasa dan sensasi baru yang nikmat saat menghisap kebulan asap cengkeh membuat permintaan membludak dari masyarakat.

    Tingginya permintaan masyarakat membuat Djamari mendirikan sebuah usaha rokok tanpa label dengan metode linting dhewe (tingwe), dimana salah satu ujungnya berbentuk lancip. Djamari menjualnya dalam bentuk satu ikatan yang berisi 10 linting rokok klobot kretek.

    Usaha itu tidak berlangsung lama karena Djamari meninggal dunia pada 1890, dua tahun setelah ia menemukan rasa dan sensasi baru dari rokok keretek yang bersumber dari cengkeh.

    Raja Kretek
    Kematian Djamari tak membuat rokok kretek mati bersama penemunya. Satu sosok yang tak bisa dilupakan adalah seoarang perempuan bernama Mbok Nasilah. Kebiasaan nyirih atau nginang sebagaian masyarakat Kudus dirubahnya dengan menghisap klobot kretek.

    Mbok Nasilah yang seorang pedagang kerap menyuguhkan rokok racikan tembakau-cengkehnya kepada setiap kusir dokar yang mengunjungi warungnya. Salah satu kusir yang menikmatinya adalah seorang pria muda bernama Nitisemito, anak seorang kepala Desa Janggalan, Kudus.

    Selain seorang kusir dokar Nitisemito mahir menjahit layaknya perantau-perantau dari Kudus. Kemahiran itu pula yang sempat membawanya merantau ke Malang, Jawa Timur pada usia 17 tahun. Namun persaingat yang ketat membuatnya memutuskan kembali ke kampung halamannya.

    Berbagai usaha dirintis Nitisemito di Kudus, mulai dari bisnis minyak kelapa, pengusaha dokar, maupun berdagang kerbau, namun semuanya gagal.

    Di tengah keputusasaannya Nitisemito diingatkan oleh memori wanginya aroma asap kretek yang sering dinikmatinya di warung Mbok Nasilah. Terlebih pada saat itu fenomena pembuatan rokok klobot kretek tumbuh subur di Kudus.

    Melihat potensi itu Nitisemito kemudian mendirikan sebuah warung yang dijadikan sebagai tempat berkumpul para kusir, seperti di warung Mbok Nasilah yang kemudian dinikahinya. Usaha warung ini lambat laun berkembang menjadi pabrik rokok yang sangat terkenal dengan merek Tjab Bal Tiga. Kelak M. Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek karena usahanya ini.

    Nitisemito kemudian mendaftarkan merek rokok buatannya pada tahun 1908. Saat itu, rokok Bal Tiga sangat popular, tidak hanya di Kudus, namun juga daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Selain itu, pada tahun-tahun berikutnya, dia juga melebarkan sayap penjualan rokok Bal Tiga ke luar Pulau Jawa, bahkan hingga ke Singapura.

    Pembukaan sebuah bioskop yang disponsori oleh Bal Tiga. Ist

    Kisah sukses ini menjadikan Tjab Bal Tiga menjadi salah satu perusahaan bumiputera terbesar, tertua dan paling awal yang pernah didirikan di Hindia Belanda. Perusahaanya dikabarkan mampu membayar seorang akuntan Belanda HJ Voren di perusahaannya dan akuntan dari pemerintah kolonial bernama Poolman2 dalam menjalankan bisnisnya. Nitisemito pada tahun 1924 bahkan mempekerjakan lebih dari lima belas ribu orang pegawai.

    Sebagai pengusaha rokok kretek tersukses di Kudus Nitisemito juga ikut serta dalam perjuangan pergerakan nasional. Kemampuan ekonominya yang tumbuh pesat menjadi salah satu sumber dana perjuangan kala itu. Maka tak ayal ia dan Soekarno kerap bertemu secara diam-diam di Villa miliknya di Salatiga.

    Kedekatan sang Proklamator dengan Nitisemito tercermin dari pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang menyebut nama sang Raja Kretek asal Kudus itu.

     Kedekatakan Soekarno dan M. Nitisemito, juga terlihat dari isi pidato Soekarno pada 1 Juni 1945, yang menyebut nama M. Nitisemito.

    …Kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia –semua buat semua!(Rafael Sebayang)