Niat DKI Kibarkan Layar Tontonan Rakyat

Tebar bioskop di fasilitas pasar tradisional untuk tujuan mulia, agar makin banyak warga belanja ke pasar tradisional

  • Pasar Kenari, Jakarta Pusat. Ist
    Pasar Kenari, Jakarta Pusat. Ist

    JAKARTA – Perlahan namun belum banyak jadi kenyataan, janji–janji  kampanye Anies Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno saat menjadi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta mulai mereka rangkai.

    Satu yang teranyar adalah, setelah Lebaran 2018, atau sekitar Juli 2018, akan dibangun bioskop yang berada di pasar-pasar tradisional milik Perusahaan Daerah Pasar Jaya. Bioskop itu dijamin bisa dijangkau oleh penduduk Jakarta yang tidak mampu. Harga tiket masuk untuk menonton film berkualitas, hanya dibandrol Rp15.000.

    "Konsep bioskop rakyat kita ingin membawa tontonan bermutu yang mayoritas film Indonesia ke masyarakat kelas menengah ke bawah di tempat pasar tradisional akan di mulai tiga lokasi awal di lingkungan PD Pasar Jaya," ujar Sandi di Balai Kota, Jakarta, Kamis (21/6).

    Tak sekadar janji tiket murah. Sandi menuturkan penonton akan menemui kuliner tertentu. Begitu pula film yang disajikan, Wagub Jakarta jamin film terbaru.

    Sandi juga menebar janji, bioskop rakyat ini dapat membuka lapangan kerja. Tumbuh pula di bioskop rakyat itu industri kreatif di kalangan masyarakat menengah ke bawah di Jakarta.

    "Bioskop seperti layaknya studio biasa tapi tentunya kita ingin fokuskan untuk mendorong ekonomi kreatif, industri kreatif, dan ini kemitraan antara pemerintah dengan PD pasar jaya, BUMD dan investor, dan kita juga ingin membuka lapangan kerja antara 15 sampai 20 per layar," jelas Sandi.

    Janji pemimpin Jakarta saat ini bisa ditelusuri saat mereka mencalonkan diri sebagai calon pemimpin ibu kota negara. Mereka ingin menghidupkan kembali Jakarta International Film Festival (Jiffest) dan bioskop rakyat, seperti tertuang dalam situs jakartamajubersama.com. Berdasarkan situs tersebut, bioskop rakyat yang dimaksud adalah mengadakan layar tancap keliling.

    Mengacu situs tersebut, selain membuat Jiffest, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengadakan layar tancap keliling untuk menghadirkan bioskop rakyat.  Tertulis secara tegas, bioskop rakyat yang akan diwujudkan adalah layar tancap keliling.

    Rencana Pemprov Jakarta ini bersama-sama PD Pasar Jaya ini gencar diberitakan sejak Desember 2018, setelah Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin, melakukan rapat bersama Sandiaga dan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Marcella Zalianty.

    Usai membahas Bioskop Rakyat dengan beberapa pihak, Arief menjelaskan setidaknya ada delapan lokasi pasar tradisional milik PD Pasar Jaya yang akan dibangun bioskop. Namun sebagai permulaan, hanya tiga lokasi pasar yang akan dibangun lebih dulu. Lokasi dimaksud adalah Pasar Kenari Lama, Pasar Baru Metro Atom, dan Pasar Teluk Gong.

    Diberitakan, berdasar pemetaan PD Pasar Jaya, operasional bioskop rakyat di Pasar Teluk Gong akan dijalankan PARFI. Sedangkan bioskop rakyat di Pasar Kenari dan Metro Atom masing-masing dioperasikan oleh 21 Cineplex dan Platinum.

    “Ini kan ada tiga juga pengelola bioskop yang memang saat ini sudah cukup berpengalaman. Ada dari Platinum, XXI, kemudian PARFI. Mereka menjadi salat satu role mode kita,” kata Arief saat ditemui Validnews di Jakarta Pusat, Kamis (7/6).

    Film Nasional
    Arief memasang target, satu pasar mampu berisi tiga sampai empat studio, yang masing-masing berkapasitas 50 orang. Dengan target audiensi penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU).

    Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasruddin mengatakan, transaksi pemegang KJP di pasar tradisional pada 2017 mencapai Rp127 Miliar. Dengan pencapaian tersebut Arif memuji program pemerintah yang mampu meningkatkan daya beli.

    Lalu, ada sekitar 10.200 pasukan oranye yang bekerja di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta. Gaji per pegawai PPSU mencapai Rp3,87 juta.

    “Penting sebenarnya kita melihat masyarakat kecil yang termarjinalkan, yang memang minim sama entertainment. Jadi kita buat sebuah edu-entertainment nanti,” ujar Arief.

    Dirut PD Pasar Jaya ini menargetkan, tanda masuk bioskop rakyat dijual seharga Rp15 ribu. Dibuat se-ekonomis mungkin agar mampu dijangkau masyarakat yang tingkat ekonominya rendah. Ia optimis, harga tiket murah bisa dicapai dengan adanya kerja sama antara pengusaha bioskop dan PARFI.

    Selain itu, bioskop rakyat akan lebih banyak menayangkan film-film Indonesia dibanding film Hollywood dan film dari negara lain. Lantaran, memajukan perfilman Indonesia merupakan salah satu pertimbangan penting dalam rencana pembangunan ini.

    “Porsi film Indonesia lebih besar. Perbandingannya 60:40,” ucap Arief.

    Pembangunan bioskop rakyat yang bertujuan meramaikan kembali pasar tradisional, dijelaskan Arief, menggunakan sistem kerja sama B to B (business to business). Porsi PD Pasar Jaya dalam skema ini adalah menyediakan lahan pasar yang kosong untuk dijadikan bioskop, dan mendapat income dari situ. Lantaran ada sekitar 17 ribu tempat usaha yang kosong dari total 115 ribu tempat usaha yang ada.

    “Kami tidak hanya memanfaatkan lantai kosong, tapi kita juga melihat ada rooftop yang memang tidak terpakai. Karena kalau lantai kosong itu ada partisinya. Kadang ketinggiannya atapnya tidak sesuai,” papar Arief.

    Sedangkan pembangunannya akan dibiayai oleh investor dan pengelolaanya dipegang oleh pihak berpengalaman dengan bisnis bioskop. “Yang penting yang harus dipastikan itu ketika kerja sama dengan pihak ketiga jangan sampai termonopoli. Nah, itu bagaimana kita pintar-pintar menyiasati negosiasi itu,” lanjut Arief.

    Anggaran
    Mantan Direktur L&D PT Hero Supermarket Tbk ini menjelaskan, anggaran pembangunan bioskop per satu lokasi membutuhkan dana sekitar Rp5 miliar.

    “Saya bilang lima miliar sebenarnya ketinggian. Tapi salah satu calon pengelola, Platinum ingin menjaga kualitas sound-nya tetap bagus walaupun itu bioskop rakyat. Ini standar yang mereka mau seperti itu, mereka tidak mau mengurangi kualitas,” imbuh Arief.

    Keuntungan dari pembangunan yang juga bertujuan menciptakan one stop shopping ini diperkirakan akan mencapai Rp100 juta per bulan per lokasi. PD Pasar Jaya memproyeksikan, bioskop rakyat  sudah dapat dinikmati masyarakat antara bulan Oktober dan November 2018.

    Sandiaga menyampaikan, upaya pembangunan bioskop rakyat merupakan impian Pemprov Jakarta menyajikan film-film Indonesia bermutu bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan pilihan lokasi di pasar-pasar tradisional.

    “Rencananya awal Juli ini. Pak Arief memberikan laporan ke saya bahwa mulai awal Juli ini akan di-fix-kan mitra-mitranya siapa saja,” kata Sandiaga.

    Pada kesempatan tersebut Sandiaga menjelaskan, rencana pembangunan bioskop rakyat sejak awal sudah ada desain berbentuk studio seperti bioskop pada umumnya. Berdiri di lingkungan pasar, berkonsep sederhana dan bertarif murah atau terjangkau bagi masyarakat.

    Selain membangun bioskop untuk masyarakat menengah ke bawah, Pemprov DKI Jakarta juga memproyeksikan kerja sama dengan ‘Oke Oce’ untuk penjualan makanan dan minuman. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru serta menambah pemasukan bioskop untuk proyeksi pendapatan yang lebih baik lagi bagi PD Pasar Jaya.

    “Kita ingin membuka lapangan kerja hingga 20 orang per layar bioskop. Jadi kalau di dalam satu tempat ada tiga layar, itu bisa sekitar 100 yang dibuka lapangan kerjanya. Mudah-mudahan ini bisa dibawa lebih mendekat kepada masyarakat yang ada di akar rumput,” ungkap Sandiaga.

    Untuk pembangunan bioskop rakyat ini, baik PD Pasar Jaya maupun Sandiaga tegas menyampaikan, tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Melainkan menggunakan dana dari investor.

    Sandiaga menjelaskan, investor untuk pembangunan ini sudah ada. Namun belum ada penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU).

    Tarik Pengunjung
    Sandiaga berujar, harga tiket bioskop yang dibandrol murah tak sekadar bertujuan agar bisa dijangkau masyarakat. Wagub berharap, ada bioskop rakyat dengan tiket murah akan mengembalikan animo masyarakat berbelanja di pasar tradisional.

    Pertengahan tahun 2017, PD Pasar Jaya membuat target untuk revitalisasi 47 pasar kategori rusak berat. Menurut Arief, sejak 2014 hingga 2018, revitalisasi difokuskan terhadap 35 pasar. Pada 2014, terhitung 15 pasar yang sudah direvitalisasi. Sedangkan 2016, ada tujuh pasar yang telah selesai direvitalisasi. Setelah 35 pasar selesai, PD Pasar Jaya menyebutkan masih ada 12 pasar lagi yang rusak. “Kami targetkan 2019 semua selesai," ujar Arief.

    Rencana tersebut sejalan dengan target pemerintah pusat. Sepanjang 2017, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah melakukan pembangunan dan revitalisasi 909 pasar rakyat.‎ Dan pada 2018, jumlah pasar yang dibangun dan direvitalisasi sebanyak 1.592 unit pasar.

    Kemendag menargetkan, selama lima tahun, pemerintah menargetkan 5.000 pasar rakyat dibangun dan direvitalisasi. Namun sejak 2015 hingga 2017, baru sebanyak 2.715 unit pasar yang dibangun dan direvitalisasi.

    Pada 2015, untuk pasar rakyat sebanyak 1.023 unit, kemudian 2016 sebanyak 783 unit. Selanjutnya pada 2017 sebanyak 909 unit. Pada 2018 sebanyak 1.592 unit, dan 2019 sebanyak 693 unit. Target pemerintah revitalisasi 5.000 unit pasar dalam lima tahun.

    Mengamati rencana Pemprov dan PD Pasar Jaya membangun bioskop rakyat, Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin menilai, rencana Pemprov DKI tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut Djonny, karakteristik masyarakat Jakarta yang sudah lebih maju di berbagai aspek kehidupan, tidak akan tertarik dengan konsep bioskop sederhana dibangun di pasar.

    Meski mengaku mendukung rencana pemprov tersebut, Djonny merasa akan sulit membuat bioskop tersebut ramai seperti bioskop konvensional yang ada di pusat perbelanjaan.

    “Harus dibahas yang komprehensif. Bikin bioskop itu bagaimana ukurannya, kursinya,  layarnya, projector-nya, sound system-nya. Kalau nanti sound-nya jelek, tempatnya panas, kok malah jadi mundur kita acara berpikirnya,” kata Djonny kepada Validnews, Jumat (22/6).

    Djonny mengaku belum pernah dihubungi pihak PD Pasar Jaya maupun Pemprov Jakarta terkait rencana pembangunan bioskop rakyat. Namun pihaknya menegaskan, siap memberi konsultasi petunjuk pembuatan bioskop jika diminta.

    Mengenai harga terjangkau yang ditargetkan PD Pasar Jaya dan Pemprov DKI, Djonny memprediksi bioskop bisa tutup setelah enam bulan beroperasi. Ia memberi contoh perhitungan jika harga tiket bioskop hanya Rp15 ribu dengan jumlah kursi 150 per lokasi, maka per bulannya bioskop mendapat Rp234 juta per bulan setelah dipotong pajak. Belum termasuk bayar film sekitar Rp120 juta per film, dan listrik sekitar Rp60 juta. Sisanya kemudian dialokasikan untuk membayar karyawan.

    “Saya bilang tidak fleksibel harga segitu. Belum lagi membayar karyawan. Udah pakai nama Bioskop Rakyat lagi. Siapa yang mau datang. Orang Jakarta kan sekarang sudah keren-keren,” ujar Djonny.

    Djonny menambahkan, pembuatan bioskop juga membutuhkan modal yang besar seperti projector dan sound system yang harganya bisa mencapai 1,5 miliar per studio. Kalau tidak menggunakan projector tersebut, pengelola tidak bisa memutar film Hollywood karena kualitas alat dimaksud sudah teregistrasi di Amerika.

    Belum lagi Pemprov Jakarta mesti memikirkan mengenai pajak. Sesuai dengan Peraturan Daerah DKI Jakata Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pajak Hiburan, tertulis pada Pasal 7 berisi tentang tarif pajak untuk pertunjukan film di bioskop yang ditetapkan sebesar 10% serentak untuk bioskop di Indonesia.

    Belum lagi, Pengertian dari hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan atau keramaian yang dinikmati dengan masyarakat dan dipungut biaya.

    Cara menghitung pajak yaitu, besaran pokok pajak hiburan dihitung dengan cara mengalihkan tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak yaitu jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan.

    Dasar mengenai pajak hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima adalah penyelenggara hiburan. Perlu diketahui jumlah uang yang seharusnya diterima sebagaimana dimaksud pada angka, termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa hiburan. (Zsazsya Senorita, Annisa Dewi Meifira)