NUDGING: MEMBAWA ALAM BAWAH SADAR KE DALAM KEBIJAKAN

Turunnya jumlah kecelakaan hingga peningkatan pembayaran pajak hanyalah sedikit contoh dari keberhasilan nudging dalam kebijakan publik.

  • Konsumen membawa barang yang telah dibeli menggunakan kantong plastik di salah satu mini market di Pasar baru, Jakarta, Minggu (21/2). Pemerintah mulai menguji coba penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern secara serentak di 17 kota Indonesia dengan pembayaran Rp 200 per kantong plastik. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
    Konsumen membawa barang yang telah dibeli menggunakan kantong plastik di salah satu mini market di Pasar baru, Jakarta, Minggu (21/2). Pemerintah mulai menguji coba penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern secara serentak di 17 kota Indonesia dengan pembayaran Rp 200 per kantong plastik. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    oleh: Natanael Waraney Gerald Massie*

    Berbagai isu krusial akan menjadi pekerjaan rumah bagi para kandidat kepala daerah yang akan terpilih kelak dalam Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2018. Masalah kemacetan, banjir, pembayaran pajak, penghematan listrik dan air, serta keselamatan lalu lintas hanyalah sedikit dari banyak masalah yang mungkin menyerap miliaran alokasi dana daerah setiap tahunnya untuk penanganan, serta draf-draf regulasi yang melelahkan untuk pengawasan. Namun, bagaimana pendapat Anda jika mendengar bahwa para pengambil kebijakan di berbagai penjuru dunia telah menggunakan cara-cara kreatif yang bersifat persuasif dan manipulatif, dan berhasil?

    Nudging, adalah sebuah istilah yang semakin marak diterapkan di seluruh dunia dalam mendesain perilaku masyarakat untuk menjadi lebih baik. Berbagai hasil menunjukkan bahwa isu-isu krusial berhasil diatasi justru oleh ‘dorongan-dorongan kecil’ dari pemerintah. Turunnya jumlah kecelakaan hingga peningkatan pembayaran pajak hanyalah sedikit contoh dari keberhasilan nudging dalam kebijakan publik. Jadi, apa itu nudge sendiri? Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

    Fenomena Global
    Kemenangan Richard Thaler dalam Hadiah Nobel Ekonomi 2017 akhir tahun lalu seakan menegaskan keberadaan behavioural economics sebagai rumpun ilmu yang relevan dalam dunia ilmu ekonomi dan ilmu pengetahuan secara umum. Terinspirasi dari karya Thaler yang fenomenal, ‘Nudge’, kemenangan tersebut seakan menjadi simbolisme selebrasi dunia akan semakin digunakannya wawasan-wawasan dari bidang tersebut dalam pengambilan kebijakan di berbagai pelosok dunia.

    Sebut saja negara seperti Britania Raya yang memiliki Behavioral Insight Unit yang dinasihati oleh Richard Thaler sendiri, Denmark yang memiliki Danish Nudging Network dengan dibantu oleh nama anyar seperti Pelle Guldborg Hansen, serta Amerika Serikat dengan Nudge Squad-nya di bawah Presiden Obama yang merekrut Cass Sunstein, rekan penulis Thaler dalam buku mereka ‘Nudge’.

    Para pemerintah dalam negara-negara tersebut telah menggunakan kebijakan yang mempertimbangkan faktor psikologis dan perilaku manusia. Kebijakan tersebut menggantikan kebijakan-kebijakan konvensional seperti pembuatan larangan, pemberian hukuman, maupun pemberian subsidi dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat. Faktanya, sudah lebih dari 136 negara yang memiliki kebijakan nudging, dengan 51 di antaranya dikoordinir secara sentral oleh pemerintah – termasuk Indonesia.

     

     

     

    Jadi, apa itu nudging? Nudging secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu cara bagi suatu pihak untuk mengubah perilaku pihak lain tanpa melakukan pelarangan maupun pengubahan insentif ekonomis secara signifikan.

    Artinya, jika saya ingin Anda untuk tidak lagi melakukan sesuatu, saya tidak boleh membuat larangan ataupun mengenakan pajak/hukuman, maupun memberikan hadiah/reward. Sebaliknya, saya harus melakukan suatu cara kreatif yang mengadopsi wawasan dari behavioral economics serta bersifat persuasif sehingga Anda melakukan perubahan tersebut.

    Dalam pengambilan kebijakan dari pemerintah, banyak contoh yang dapat diambil. Pemerintah lokal di Chicago, Amerika Serikat, misalnya, menggunakan sebuah nudge unik untuk mengurangi tingkat kecelakaan pada suatu belokan tajam di daerah Lake Shore Drive dan Oak Street.

    Caranya? Mereka membuat garis putih pembatas lajur di jalanan, yakni semakin pendek semakin dekat dengan belokan. Efeknya, para pengemudi akan terdorong untuk mengurangi kecepatan sekalipun mereka berkendara dengan kecepatan yang konstan, dikarenakan persepsi lebih mengebut yang ditimbulkan. Jumlah kecelakaan di daerah tersebut akhirnya turun 36% dari enam bulan sebelumnya (Damani, 2017).

    Selain itu, pembayaran pajak juga menjadi salah satu isu di mana nudging digunakan oleh pemerintah. Di Inggris, para wajib pajak mobil yang belum membayar dikirimi surat yang mengingatkan bahwa mereka belum membayar, dengan kalimat, “Bayar atau kehilangan mobil Anda.” Bagi beberapa lainnya, dilampirkan serta foto dari mobil yang dimiliki. Efeknya, pembayar pajak kendaraan naik dua kali lipat hanya dengan surat, tiga kali lipat dengan foto kendaraan yang dilampirkan. Kebijakan ini, tanpa melakukan pelarangan atau hukuman, berhasil mengubah keputusan masyarakat dengan menunjukkan bahwa pemerintah memiliki ‘otoritas’, sesuatu yang selama ini dianggap remeh ketika mereka memilih untuk tidak membayar (The Economist, 2012).

    Dalam penggunaan air maupun listrik, berbagai kebijakan pemerintah di beberapa negara telah menggunakan nudging untuk mendorong masyarakat menuju penghematan. Di Inggris, pemerintah mengirimkan surat yang menggambarkan grafik dan diagram yang membandingkan penggunaan listrik rata-rata rumah tangga tersebut dengan tetangganya. Pemerintah Denmark melakukan hal yang serupa dalam hal penggunaan air. Efeknya? Para pengguna air maupun listrik berlebihan akhirnya mengurangi penggunaan mereka karena mereka ingin ‘bergabung dengan masyarakat’, bukan karena larangan maupun hadiah dari pemerintah (August, 2015).

    Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa praktik kebijakan berbasis nudging yang sukses dari berbagai penjuru dunia.

    Potensi Bagi Indonesia?
    Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang telah menerapkan bentuk nudging dalam kebijakan, meskipun masih terhitung jarang. Salah satu kebijakan nudging yang terkenal adalah penerapan kantong plastik berbayar di tempat-tempat perbelanjaan. Meskipun evaluasi masih perlu dilakukan untuk kasus Indonesia, terdapat studi yang menyatakan bahwa kebijakan tersebut efektif di negara lain karena sekalipun harga plastiknya sangat murah (hanya beberapa ratus rupiah di Indonesia), konsumen akan cenderung malas menerima kembalian kecil dan juga terkena rasa malu meminta plastik jika orang-orang lain tidak melakukannya (August, 2015).

    Penggunaan jargon-jargon yang mendorong masyarakat untuk membayar pajak dan membuat NPWP dengan penggunaan bahasa yang lebih ‘gaul’ di media sosial Direktorat Pajak juga telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia – sebuah kebijakan yang jarang disadari masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai nudging. Dalam level lebih mikro, beberapa institusi juga telah melakukan kebijakan nudging. Universitas Indonesia, misalnya, mendorong mahasiswa untuk lebih sering berjalan kaki sepanjang jalanan kampus dengan meletakkan berapa banyak kalori yang dibakar jika berjalan dari suatu fakultas ke fakultas lain. Perlu diingat, hasil yang didapatkan masih bercampur dan memerlukan evaluasi.

    Tentu saja, masih banyak ruang untuk peningkatan yang bisa dicapai oleh pemerintah dalam pembuatan kebijakan yang berbasis perilaku manusia. Meskipun demikian, penerapan aturan-aturan kecil, seperti yang disebutkan sebelumnya setidaknya menunjukkan potensi untuk diterapkannya nudging secara lebih menyeluruh di Indonesia. Harapannya, kebijakan-kebijakan tersebut kelak dapat mengatasi masalah-masalah krusial yang selama ini menghabiskan anggaran miliaran rupiah serta perdebatan undang-undang yang menyita waktu lama.

    Siapa yang tahu, mungkin saja kebijakan-kebijakan yang bisa mengatasi kemacetan di Jakarta, jumlah kecelakaan di jalur tol Cipularang, pengemudi yang mengebut di Margonda, serta pembayaran pajak yang masih minim secara nasional kelak ternyata menggunakan pengetahuan akan alam bawah sadar manusia.

    *Asisten Dosen di FEB UI

    Referensi

    August, A. M. (2015). On Nudging in Public Policy. University of Redlands Theses, Dissertation, and Honors.

    Damani, A. (2017). Behavioural Solutions for Road Safety. Live Mint. Accessible in:  http://www.livemint.com/Opinion/TTSDjGCvEva68sLAREKKSL/Behavioural-solutions-for-road-safety.html

    The Economist (2012). Nudge nudge, think think. The Economist. Accessible in: www.economist.com/node/21551032

    Whitehead, M., Jones, R., Howell, R., Lilley, R., Pykett, J. (2014). Nudging All Over the World: Assessing the Global Impact of the Behavioural Sciences on Public Policy. Economic and Social Research Council.