JALAN BERLIKU MENUJU MANDIRI DAGING

NTB Genjot Program Pakan Ternak

Pada 2017, target lahan tanam pakan seluas 196 hektare tersebar di Kabupaten Lombok Barat 40 ha, Lombok Tengah 70 ha, Lombok Timur 50 ha, dan Lombok Utara 35 ha

  • Dua wisatawan mancanegara merekam gembala kerbau melintas di pinggiran pantai Selong Belanak, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (17/5). Pantai Selong Belanak memiliki potensi panorama yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai lainnya di wilayah Lombok dan cocok dikembangkan sebagai daerah wisata seperti selancar, snorkeling, kano dan aktivitas kebaharian lainnya, namun fasilitas pendukung penginapan di kawasan pantai tersebut masih minim. ANTARA FOTO/Eka Fitriani.
    Dua wisatawan mancanegara merekam gembala kerbau melintas di pinggiran pantai Selong Belanak, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (17/5). Pantai Selong Belanak memiliki potensi panorama yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai lainnya di wilayah Lombok dan cocok dikembangkan sebagai daerah wisata seperti selancar, snorkeling, kano dan aktivitas kebaharian lainnya, namun fasilitas pendukung penginapan di kawasan pantai tersebut masih minim. ANTARA FOTO/Eka Fitriani.

    MATARAM – Musim kemarau jadi tantangan tersendiri bagi usaha peternakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Musim kemarau yang berlangsung lebih lama dibanding kemarau di wilayah barat Indonesia membuat provinsi tersebut rentan mengalami kekeringan.  

    Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat pun menggalakkan penanaman pakan berkualitas agar ketersediaan makanan ternak ruminansia tercukupi, terutama pada musim kemarau.

    "Kami terus melakukan perluasan setiap tahun melalui Program Gerakan Penanaman dan Pengembangan Pakan Berkualitas (Gerbang Patas)," kata Kepala Bidang Pembibitan dan Produksi Pakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Iskandar Zulkarnaen di Mataram seperti dikutip Antara, Jumat (17/11).

    Program Gerbang Patas, kata dia, dilakukan dalam bentuk pemberian bantuan berupa stek batang rumput gajah dan biji lamtoro (legum) yang merupakan pakan berkualitas bagi ternak ruminansia. Ada juga bantuan berupa polybag dan pupuk.

    Kedua jenis tanaman pakan tersebut diberikan kepada kelompok ternak sasaran untuk ditanam di lahan miliknya, kemudian dirawat hingga menghasilkan pakan secara terus menerus.

    Pada 2017, lanjut Iskandar, target lahan tanam pakan seluas 196 hektare tersebar di Kabupaten Lombok Barat 40 ha, Lombok Tengah 70 ha, Lombok Timur 50 ha, dan Lombok Utara 35 ha. Sementara, tidak ada alokasi bantuan Gerbang Patas ini untuk Kota Mataram.

    Di lima kabupaten/kota di Pulau Sumbawa, program tersebut akan dilakukan pada Tahun Anggaran 2018, namun dengan pola memanfaatkan hamparan lahan yang relatif luas. Berbeda dengan di Pulau Lombok, dengan memanfaatkan pematang sawah.

    Nilai anggaran untuk penyediaan stek batang rumput gajah sebesar Rp686 juta atau satu stek senilai Rp350, sedangkan benih legum senilai Rp975 juta dengan nilai satuan Rp7.500 per ons. Adapun bantuan polybag sebesar Rp68,2 juta dengan nilai satuan Rp250 per buah. Juga, bantuan pemberian pupuk senilai Rp195 juta atau Rp82 ribu per kuintal.

    "Perluasan lahan tanam pakan sudah kami lakukan sejak beberapa tahun lalu. Itu dilakukan agar tidak ada lagi peternak mencari pakan hingga lintas kabupaten ketika musim kemarau," ujarnya.

    Musim kemarau memang berpotensi menimbulkan bencana kekeringan di NTB. Untuk tahun ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi  Kediri Lombok Barat, memprediksi musim kemarau akan terjadi di NTB pada Maret Dasarian III atau 10 hari terakhir di bulan Maret.

    Musim kemarau diprediksi normal hingga bulan Mei. Namun, di bulan Juni diprediksi akan terjadi El Nino yang dapat menimbulkan kekeringan di beberapa titik wilayah di NTB.

    Memasuki musim penghujan, berdasarkan data curah hujan hingga dasarian 1 November 2017, masih ada daerah yang belum mengalami hujan selama lebih dari 60 hari (kategori Kekeringan Ekstrem) yaitu di Pos Sape Kab.Bima (207 hari), Pos Labuhan Pandan Kab. Lombok Timur (186 hari), Pos Wawo Kab. Bima (136 hari), Pos Sambelia Kab. Lombok Timur (125 hari).

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan sekitar 105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, dan 2.726 kelurahan/desa di Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan akibat musim kemarau normal 2017.

    Di Nusa Tenggara Barat kekeringan melanda 318 desa di 71 kecamatan yang tersebar di sembilam kabupaten meliputi Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima. Sebanyak 640.048 jiwa atau 127.940 KK masyarakat terdampak kekeringan.

    Kandungan Lamtoro
    Menurut Iskandar, rumput gajah dan lamtoro memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk perkembangan berat badan ternak ruminansia, terutama sapi, kerbau dan kambing yang banyak dipelihara warga NTB.

    Kandungan gizi rumput gajah terdiri atas 19,9% bahan kering, 10,2% protein kasar, 1,6% lemak, 34,2% serat kasar, dan 11,7% abu.

    Daun lamtoro memiliki daya palatabilitas (tingkat kesukaan) yang tinggi dan kandungan nilai protein kasar 38,58%, bahan kering 29,66 persen, lemak 3,50 persen, serat kasar 11,96 persen, BETN 46,01 persen, abu 7,79 persen, mineral 7,98 persen, dan EM 19,67 kkal.

    "Para pakar pakan ternak di Universitas Mataram juga mendorong peternak di NTB, menanam rumput gajah dan lamtoro. Bisa juga di lahan kering," katanya.

    Data BPS menunjukkan pertumbuhan populasi ternak di NTB berjalan lambat. Data BPS yang terangkum dalam NTB Dalam Angka 2016 dan 2017 menyebutkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada populasi kambing yakni sebesar 4,81% dari 613.548 ekor pada 2015 menjadi 643.079 ekor pada 2016.

    Diikuti pertumbuhan populasi sapi sebesar 3,86% menjadi 1.095.719 ekor pada 2016, dari 1.055.013 ekor pada 2015. Populasi kerbau tumbuh 0,25%, yakni dari 124.808 ekor pada 2015 menjadi 125.122 ekor di 2016.

    Sementara itu, jumlah kuda justru menyusut 3,06% dari 62.451 ekor pada 2015 menjadi 60.540 ekor pada 2016. (Fin Harini)