Mochtar Lubis, Pemindai yang Independen

  • Mochtar Lubis. (Wikipedia)
    Mochtar Lubis. (Wikipedia)

    JAKARTA – Sekarang tubuhmu mungkin sudah dimakan tanah. Menyusut ia seperti seutas karet saat terkena api. Tidak ada lagi wajahmu secara fisik, hanya ada lukisan-lukisan, album-album foto dan cerita masa lalu yang kerap diperbincangkan orang-orang pada masa ini.

    Namamu, wahai Putra Kerinci, kerap orang-orang menyebutnya di pelataran jalan, di taman-taman, di setiap panggung, bahkan di kafe-kafe anak muda. Kau seolah seperti pahlawan dan kadang penjahat bagi mereka. Pro-kontra terhadap pemikiranmu selalu berkelahi seolah ia tidak pernah henti.

    Tentunya, orang-orang tidak pernah mengetahui apa yang kerap kau pikirkan sebenarnya. Bagaimana tindak tandukmu dahulu. Yang tergambar hanya sebuah perlawanan terhadap pemerintah. Kau hanya beralasan, bahwa teman-temanmu telah susah payah memperjuangkan kemerdekaan, dan itulah yang menjadikanmu memilih sikap untuk memerdekakan pendapat-pendapat orang lain.

    Mungkin, itulah yang kerap dipandang sebagai bom waktu oleh para penguasa, wahai kau yang juga dikenal sebagai sastrawan ulung. Sikap perlawananmu semakin mencuat ketika kamu mengaku telah mendapat wahyu dari mendiang Adam Malik.

    “Banyak cara untuk berjuang. Tidak hanya dengan senjata, namun bisa juga dengan pena,” kata Adam Malik yang kemudian membuatmu terkesan lantas kau memilih untuk berjuang lewat tulisan terus-menerus.

    Pada akhirnya kau mulai bergabung dengan media Antara pimpinan Adam Malik itu. Di sana, kiprahmu sebagai wartawan mulai tumbuh dan semakin dikenal. Puncaknya saat kau melakukan sebuah investigasi Perang Korea 1951. 

    Seiring berjalannya waktu, kau mulai terlihat serius mendalami dunia jurnalistik. Kau membuktikannya lewat media yang kau dirikan selepas masa belajarmu dengan Adam Malik telah kau rasa usai, media Harian Indonesia Raya.

    Kau, kata seorang penyair Eka Budianta adalah seorang yang memiliki penglihatan terang menderang dan moncong tanpa sensor. Itulah yang membuat kau dicintai dan tentu juga dibenci orang yang tidak sejalan denganmu.

    “Penglihatanya yang terang menderang dan bicaranya yang tanpa sensor membuat ia dikagumi dan ditentang,” tutur Eka.

    Sementara sahabatmu, Rosihan Anwar telah melihat itu semua sebagai sikap kejujuran dan keberanianmu. Kata Rosihan, kau adalah orang yang pandai menelanjangi bangsamu sendiri. Tentunya itu sebagai pandangan positif sahabatmu itu.

    Tapi, naas, kejujuran dan keberanianmu itu pada akhirnya menjadi sebuah peta untuk kau masuk ke dalam sunyinya penjara, dinginnya besi-besi jeruji.

    Ditakuti Penguasa
    Secuplik prosa di atas merupakan sebuah ilustrasi abstrak atas kehidupan tokoh ‘kau’ yang merepresentasikan Mochtar Lubis. Seseorang yang kerap ditakuti hasil goresan-goresannya oleh penguasa dua rezim di tanah air. Seseorang yang dijuluki sebagai sang perantara budaya yang fasih, seorang pengarang pemenang banyak penghargaan, wartawan Indonesia yang cukup terkenal di dunia internasional, dan seorang budayawan tanah air

    “Apa yang bikin orang-orang berkuasa tak senang, atau takut ada tulisan-tulisan saya? Saya sungguh heran. Saya tidak berjuang dalam organisasi massa, saya tidak membina sesuatu massa. Saya hanya mencurahkan isi hati nurani dan pikiran-pikiran saya untuk kemajuan bangsa ini,” tulis Mochtar dalam salah satu catatan yang termaktub dalam buku Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru (2008) yang diterbitkan oleh LSPP dan Penerbit Obor.

    Catatan harian tersebut ia buat dalam pengasingannya di balik jeruji di kamp tahanan Nirbaya yang saat itu berada persis di samping Taman Mini Indonesia Indah pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Mochtar, pada saat itu ia dimasukkan ke kamp tahanan Nirbaya oleh pemerintah atas tuduhan terlibat kasus Malapetaka 19 Januari (Malari) 1974.

    Mochtar menulis catatan tersebut di akhir pekan pada hari Minggu, 9 Februari 1975. Kegiatan tersebut Mochtar lakukan pasca ia menyantap satu piring nasi putih yang hanya berlauk satu tahu goreng di pagi harinya, satu potong telur dadar 3x3 cm dan satu potong tahu goreng dengan nasi berkuah sayur di siang hari, juga nasi tempe di malam hari.

    Dalam catatan ini, ia mempertanyakan mengapa para penguasa selalu takut dengan hasil goresan-goresan tangannya. Padahal, menurut Mochtar, jika hasil goresannya itu tak beralasan atau salah, maka sudah sepatutnya penguasa tak perlu memikirkan. 

    “Seharusnya penguasa tidak perlu takut. Pasti saya akan ditertawakan oleh masyarakat, dan pembaca-pembaca akan kehilangan kepercayaan mereka pada saya. Sebaliknya, jika buah pikiran-pikiran saya benar adanya, mengapa yang berkuasa tidak membuka hati dan pikiran mereka atas itu semua?” tulis Mochtar dalam sambungan catatan itu.

    Sebagai seorang warga negara Indonesia, pemikiran-pemikiran Mochtar memang kerap berseberangan dengan para penguasa. Tidak heran jika ia selalu menjadi orang yang disoroti lebih tindak tanduknya oleh penguasa, agar tidak banyak masyarakat yang terpengaruh. Bahkan, bisa jadi akibat pemikirannya juga, cengkeraman penguasa terhadap dunia pers dan wartawan semakin kuat pada saat itu.

    Seolah tak peduli dengan tekanan-tekanan, Mochtar masih memilih untuk tetap menjalankan prinsip jurnalismenya sebagai pemindai kekuasaan yang independen di masa dua rezim, yakni pada masa Soekarno dengan Orde Lamanya dan Soeharto pada Orde Baru.

    Oleh sebab itulah, pada dua rezim tersebut Mochtar kerap tercebur dalam beberapa kasus tuduhan pidana. Semasa dua rezim tersbut, Mochtar sempat menjadi tahanan rumah atau dipenjarakan, terhitung sebanyak tiga kali dalam waktu terpisah. 

    Padahal, jika saja Mochtar mau berdamai dan berkompromi terhadap penguasa, di masa rezim Orde Baru mungkin media yang ia kelola tidak akan pernah mati dan terus hidup. Ya, akibat sikap Mochtar yang kerap mengkritik penguasa itu, diketahui memang surat kabar harian Indonesia Raya yang ia pimpin telah menemui titik akhir. Indonesia Raya harus ditutup, puncaknya setelah ia dituduh terlibat dalam kasus Malari 1974.

    Setelah dua bulan berada dalam tahanan di masa Orde Baru, berdasarkan wawancaranya kepada media Sinar Harapan, Mochtar pada akhirnya memilih jalan hanya untuk menyeriusi dunia sastra. Sastra dijadikannya instrumen dalam memaknai sebuah kehidupan.

    Kritis Sebagai Wartawan
    David T Hill dalam bukunya yang berjudul Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis menyebutkan, Mochtar Lubis, adalah seorang anak laki-laki yang lahir di Padang, Sumatra Barat pada tanggal 7 Maret 1922. Ia merupakan anak ke 6 dari 12 bersaudara yang lahir dari pasangan Mara Husein Lubis dan Siti Madinah Nasution.

    Kehidupan Mochtar kecil hampir setiap hari dipenuhi oleh cerita-cerita kedua orangtuanya itu mengenai apapun. Barangkali tradisi lisan itulah yang membuat dirinya menjadi seorang yang memiliki pandangan luas. Cerita-cerita unik di masa kecilnya bisa dilihat dari cerpennya yang berjudul Kuli Kontrak.

    Di dalam cerita itu, Mochtar menuliskan pengalaman pribadinya pada masa kecil dan satu cerita mengenai seorang kuli kontrak dan kebijaksanaan sang ayah.

    Bakat menulis Mochtar adalah warisan dari Husein, sang ayah yang juga merupakan seorang demang karena kerap kali mengarahkan anak-anaknya agar gemar membaca dengan cara membuat perpustakaan pribadi di rumah.

    Uniknya, meskipun bekerja sebagai pejabat pemerintah di daerahnya itu, Husein mengarahkan Mochtar dan saudara-saudaranya untuk menekuni profesi di luar pegawai pemerintahan seperti yang ia tekuni. Tak heran, cita-cita Mochtar kecil sebagai dokter pun pada akhirnya padam dengan sendirinya.

    Riwayat pendidikan Mochtar dimulai sedari ia menginjakkan kakinya di sekolah HIS Sungaipenuh selama empat tahun. Kemudian, pada 1936, Mochtar meneruskan pendidikannya di Sekolah Ekonomi INS di Kayutanam samapai 1940an. Pada masa inilah Mochtar mulai berkenalan dengan dunia seni lukis. 

    Mochtar juga pernah sebentar jadi guru sekolah dasar di Pulau Nias sebelum pada akhirnya ia kemudian pindah ke Jakarta. Pada masa kependudukan Jepang, Mochtar bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio sekutu di luar negeri untuk keperluan Gunseikanbu, Kantor Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon. Tahun 1944 dia menikah dengan Halimah, gadis Sunda yang bekerja di sekretariat redaksi harian Asia Raja.

    Pada tahun 1945 dia bergabung dengan kantor berita Antara. Menjelang penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, dia mendirikan media Harian Indonesia Raya. Tatkala pertengahan tahun 1950 pecah Perang Korea, Mochtar meliput kegiatan itu sebagai koresponden perang.

    Sebagai wartawan, Mochtar pernah membuat berita gempar terkait pelbagai hubungan asmara di kalangan pejabat negara. Misalnya pada pelecehan seksual yang dialami Yanti Sulaiman, ahli purbakala, pegawai Bagian Kebudayaan Kementerian P & K. Pada saat itu Mochtar menuliskan bahwa atasan Yanti bukan saja mencoba merayu Yanti, tetapi juga mengeluarkan kata-kata seks. 

    Selanjutnya, tentang hubungan Soekarno dan Hartini.  Akibat tulisannya tentang Hartini yang dikatakan berhubungan dengan Presiden Soekarno itu, Ibu Fatmawati diketahui marah dan meninggalkan istana.

    Selain itu, hubungan Roeslan Abdulgani. Menurut pengakuan Lie Hok Thay, dia memberikan uang satu setengah juta rupiah kepada Roeslan yang berasal dari ongkos mencetak kartu suara pemilu. Akibatnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Roeslan Abdulgani yang hendak pergi menghadiri konferensi internasional mengenai Terusan Suez mau ditahan oleh CPM tanggal 13 Agustus 1956, tetapi akhirnya urung berkat intervensi Perdana Menteri (PM) Ali Sastroamidjojo.

    Setelah Indonesia Raya tidak lagi terbit, tahun 1961, Mochtar dipenjarakan di Madiun bersama mantan PM Sutan Sjahrir, Mohammad Roem, Anak Agung Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio Sastrosatomo, dan lain-lain. Semuanya dinilai sebagai oposan Presiden Soekarno.

    Tahun 1968 Harian Indonesia Raya terbit kembali. Mochtar melancarkan investigasi mengenai korupsi di Pertamina yang dipimpin Letjen Dr Ibnu Sutowo. Utang yang dibikin Ibnu Sutowo di luar negeri mencapai 2,3 miliar dollar AS sehingga pada akhirnya ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto.

    Ketika terjadi peristiwa Malari, Januari 1974, para mahasiswa mendemo PM Jepang Tanaka, Pasar Senen dibakar, disulut oleh anak buah Kepala Opsus Ali Moertopo. Soeharto pada saat itu akhirnya menginstruksikan membredel sejumlah surat kabar, salah satunya Harian Indonesia Raya yang Mochtar pimpin.

    Setelah bebas lagi bergerak pasca-G30S/PKI, Mochtar banyak aktif di berbagai organisasi jurnalistik luar negeri, seperti Press Foundation of Asia. Di dalam negeri dia mendirikan majalah sastra Horison. Ia menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia yang menerbitkan buku-buku yang dinilai bermutu.

    Selain sebagai wartawan, Mochtar juga dikenal juga dikenal sebagai sastrawan, budayawan, seniman, dan terakhir adalah pahlawan.  

    Dalam dunia sastra, pada mulanya dia menulis cerita pendek (cerpen) dengan menampilkan tokoh karikatural Si Djamal. Kemudian dia menulis novel Harimau! Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, dan Berkelana dalam Rimba. Berkat dunia ini juga ia memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan.

    Ketika ditahan di penjara Madiun, dia Mochtar seolah bertranformasi lagi menjadi seorang perupa. Sebagai budayawan, Mochar juga aktif dalam berbagai kegiatan di Taman Ismail Marzuki. Ia termasuk anggota Akademi Jakarta pada awal sejarahnya.

    Mochtar juga dihargai sebagai pahlawan yang berjuang untuk cita-cita dan berani memikul konsekuensinya, seperti mendekam dalam penjara bertahun-tahun. Paling tidak orang-orang di kampung halamannya, di Mandailing, memberikan sebutan kehormatan itu kepadanya. 

    Penamaan lain diberikan oleh Dr Mochtar Pabottingi, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Ketika Mochtar merayakan hari ulang tahun ke-80, seorang pembicara, yaitu Mochtar Pabottingi, menamakan Mochtar Lubis dengan istilah Person of character atau insan yang berwatak. 

    Ketika tahun 1973 diusulkan oleh panitia yang diketuai Jenderal AH Nasution supaya kepada tiga wartawan pejuang dianugerahkan Bintang Mahaputra, Mochtar menjadi salah satunya. Bisa disimpulkan, jika gajah mati meninggalkan gading, dalam hal ini Mochtar telah mati meninggalkan nama dan karya.

    Realitas Sosial
    Mochtar Lubis sudah mulai menulis sastra secara serius pada tahun 1946. Semuanya diawali karena ia tergugah melihat anak-anak muda yang mengikuti perjuangan bersenjata. Mochtar pernah mengikuti Syahrir, perdana menteri RI waktu itu, dan beberapa pejabat Departemen Luar Negeri ke Yogyakarta.

    Di kereta api ikut juga Soebandrio yang kala itu menjadi Sekjen Departemen Penerangan. Kala itu Bung Karno sudah pindah di Yogyakarta, tapi perdana menteri masih di Jakarta.

    Mereka naik kereta api ke Yogyakarta. Ketika mereka menyeberangi batas antara tentara Republik dan tentara Belanda di kali Bekasi, mereka melihat anak-anak Indonesia mulai menembak.

    Mereka jalan terus ke Karawang. Kereta api berhenti. Lalu, mereka dapat laporan, beberapa anak Indonesia terkena tembak. Soebandrio sebagai dokter segera bertindak. Dia mendiagnosa ada yang kakinya harus dipotong. Karena tidak ada alat untuk melakukan operasi, kaki mereka dipotong dengan gergaji.

    Mochtar tak kuat melihatnya. Itulah sebabnya jika Mochtar melihat para politikus Indonesia mempermainkan rakyat, Mochtar sangat marah besar. Mochtar sudah melihat bagaimana rakyat bersedia mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan Indonesia.

    Mochtar tidak ingin terlalu emosional dalam sebuah penulisan jurnalistik, meski yang ia lihat adalah realita. Menyadari keterbatasan jurnalistik, pada akhirnya Mochtar lalu menuangkan hal-hal seperti itu ke dalam sastra. Sebab dalam sastra, menurut Mochtar bisa mengekspresikan persoalan humanitas dan emosi manusia dengan kuat.

    Cerita pendek Mochtar yang pertama dimuat di majalah Siasat. Waktu itu, usia Mochtar sekitar 24 tahun. Lalu cerita pendek berikutnya dimuat di Mimbar Indonesia. Mochtar selalu menulis sebuah kisah fiksi berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi yang ia rasakan dan dilihat.

    Jenis sastra Mochtar adalah realisme sosial berdasarkan kisah masyarakat kehidupan yang nyata. BromocorahHarimau-harimauKuli KontrakSi Djamal, semuanya adalah berdasarkan kisah nyata. Bromocorah diilhami pada saat Mochtar ditahan Bung Karno di Madiun. 

    Bromocorah yang mengilhami Mochtar itu memiliki pekerjaan membelah kayu, dan Mochtar sendiri sering mencari kayu untuk ia ukir. Mereka sering mengobrol dan bromocorah itu menceritakan ketika ia lari ke Riau. Saat itu masih banyak perampok kapal yang datang dari Singapura. Dan Bromocorah itu mengaku sering ikut kapal-kapal untuk merampok.

    Cerita pendek Dara juga adalah sebuah kisah nyata tentang anak putri kawan Mochtar. Sementara Mengembara dalam Rimba adalah pengalaman Mochtar ketika masih muda mengembara dalam hutan-hutan.

    Dalam Si Djamal, Mochtar telah memperlihatkan kenaifan manusia Indonesia. Dia seorang intel di Yogyakarta ditugaskan memata-matai Belanda di Jakarta. Belum apa-apa, yang dilakukannya pertama kali adalah mendatangi Mochtar di kantor, menunjukkan kartu intel yang dimilikinya, dan menceritakan ke seluruh dunia bahwa ia adalah intel. 

    Banyak juga yang merasa bahwa dalam Senja di Djakarta, Mochtar menceritakan sebagian kawan-kawannya. Salah satu temannya, Soedjatmoko bahkan pernah menghampiri Mochtar dan mengatakan bahwa tokoh di dalam novel itu adalah dirinya.

    Kritikus yang paling Mochtar perhatikan di dunia sastra adalah isterinya sendiri. Seperti dalam dunia jurnalistik, Hally pun berperan penting dalam dunia kepenulisan fiksi Mochtar.

    Hally sangat penting bukan hanya dalam karya Mochtar saja, tapi dalam kehidupannya juga. Terkadang, karya Mochtar ia ubah karena kritik Hally, tapi sering juga ia biarkan.

    Perhatian Mochtar terhadap dunia sastra salah satunya adalah melalui Yayasan Obor. Ini adalah satu yayasan yang antara lain bergerak di bidang penerjemahan karya sastra asing ke Indonesia.

    Mochtar menganggap, masyarakat Indonesia patut diperkenalkan dengan karya sastra dunia, yang bukan hanya dunia Barat, tapi juga belahan dunia lainnya, misalnya India, Filipina, Muangthai, Kenya, dan negara dunia ketiga lainnya, misalnya negara Amerika Tengah dan Selatan.

    Tapi itu tak berarti Mochtar tak menghargai sastra Indonesia. Ia menyukai karya-karya Ramadhan KH karena penulis itu dinilainya sangat memperhatikan persoalan sosial. Novelnya Kemelut Hidup dan Keluarga Permana sangat menyentuh perasaan Mochtar.

    Selain itu, Mochtar juga menyukai karya Achdiat Kartamihardja dan Rendra. Ia juga menyukai Sutardji Calzoum Bachri karena ia berhasil membuat inovasi baru dalam dunia kepenyairan Indonesia. Tapi yang Mochtar kenal betul sebagai seorang penyair dan secara pribadi adalah nama Chairil Anwar. Pertemuan pertama mereka di rumah seorang teman dan di rumah Bung Syahrir. 

    Mochtar merasa tertarik dengan semangat Chairil yang selalu berapi-api, matanya selalu merah, dan badannya ceking seperti kekurangan makan. Mungkin karena itu Chairil dikatakan Mochtar selalu datang ke rumahnya tepat jam makan siang.

    Chairil pernah juga menyumbang perpustakaan Mochtar dengan buku-buku curiannya. Setiap hari, ketika Mochtar menuju kantor majalah Mutiara, kantornya sebelum mendirikan Indonesia Raya, Mochtar selalu melewati sebuah toko buku besar yang terkenal, Van Dorp. Ia tahu betul, Chairil sangat ahli mencuri buku di situ. 

    Menurut Mochtar, Chairil juga sering meminjam buku milik perpustakaan USIS (United States Information Service) untuknya dan tidak mengembalikannya lagi. 

    Seringkali kini jika mereka berdebat soal sastra dan kebudayaan, Mochtar teringat Chairil karena pemikiran Chairil tentang budaya sangat tajam. 

    Bagi Mochtar, sebuah karya sastra tidak bisa secara langsung meletupkan revolusi besar. Jika kita menulis sastra dengan mengungkapkan nurani, dengan sendirinya sastra itu sudah menyentuh perasaan manusia, dan mendorong manusia untuk berpikir. Jadi Mochtar lebih percaya, bahwa sastra bisa menggerakkan manusia untuk berpikir. (Berbagai sumber, Fadli Mubarok)